Wibu: Bukti Kesuksesan Diplomasi Budaya Jepang

Wibu adalah sebutan gaul untuk orang yang menjadi pecandu budaya Jepang seperti film, musik, anime, dan manga. Namun pecinta Jepang ini seringkali mendapat stigma negatif dalam pergaulan.

Hal ini karena mereka seringkali memiliki obsesi berlebih terhadap Jepang. Contohnya dalam percakapan mereka sering menyisipi kosakata Jepang seperi watashi, nani, yamette, ikuzo minna dan sebagainya.

Mereka kadang juga dijuluki sebagai ras terkuat di muka bumi. Ini sebenarnya merupakan sindiran karena tidak sedikit wibu yang memilik prestasi meskipun hari-harinya disibukan dengan menonton anime.

Fenomena penggila budaya jepang ini tidak lepas dari strategi politik luar negeri Jepang Pasca Perang Dunia II. Jepang selain harus memaksimalkan Marshall Plan, mereka juga berupaya memperbaiki citra nasional di mata dunia.

Sentimen Anti-Jepang Pasca PD II

Petualangan militer Jepang selama Perang Dunia II tentu sangat memberi trauma bagi korbannya. Fakta ini menimbulkan sentimen anti Jepang.

Alhasil, sentimen buruk ini mempersulit pemerintah negeri sakura untuk menjalin kerjasama luar negeri.

Penolakan terhadap Jepang pernah terjadi di Indonesia pada era 1970-an. Kerusuhan terjadi ketika kunjungan PM (Perdana Menteri) Tanaka Kakuei di Jakarta dihadang oleh ribuan mahasiswa.

Sumber: nasional.kompas.com

Aksi masa besar-besaran ini bertujuan untuk menggagalkan investasi luar negeri oleh Jepang di Indonesia. Insiden ini kemudian dikenal sebagai peristiwa Malari atau Malapetaka Lima Belas Januari.

Malari menyadarkan Jepang untuk membuat strategi baru dalam Politik Luar Negerinya. Diplomasi seharusnya tidak hanya berfokus pada elit Negara tetapi juga pada masyarakat umum.

Pemerintah setelah era Tanaka Kaukei kemudian membentuk konsep politik luar negeri Jepang yang kemudian dikenal oleh ahli politik sebagai Doktrin Fukuda.

Doktrin Fukuda dan Awal Mula Kelahiran Wibu

Doktrin ini bermula dari pidato PM Takeo Fukuda di hadapan delegasi dari negara-negara ASEAN. Fukuda berkomitmen bahwa Jepang tidak lagi memakai hard-power dalam politik luar negerinya.

Fukuda juga berusaha mengenalkan budaya serta nilai-nilai Jepang kepada publik Internasional. Diplomasi budaya tersebut dilakukan mulai dari pertukaran pelajar, pengajaran bahasa jepang dan beberapa program pertukaran budaya lainnya.

Diplomasi Budaya juga dilakukan melalui media hiburan seperti anime. Istilah Anime merupakan serapan dari bahasa Inggris yakni animation.

Anime pertama kali tayang di Indonesia tahun 1970-an. Anime ini berjudul Wanpaku Omukashi Kumu Kumu yang tayang di saluran TVRI dan berjumlah 26 episode.

Poster Wanpaku Omukashi Kumu Kumu, anime pertama yang tayang di Indonesia.

Wanpaku Omukashi Kumu Kumu pada saat itu digemari oleh berbagai kalangan, baik anak-anak maupun orang dewasa. Ini karena alur ceritanya yang menarik dan penggambaran karakternya yang menggemaskan.

Seiring berjalannya waktu, saluran TV baru bermunculan di tanah air dan menayangkan anime terkenal seperti Doraemon, Crayon Shinchan, Hamtaro dan sebagainya.

Seiring pesatnya perkembangan teknologi Jepang membuat kualitas industri hiburan negeri sakura bertambah baik dari masa ke masa. Bukan hanya anime, banyak super hero Jepang yang sangat terkenal secara internasional seperti Ultraman, Kamen Reider, dan Kesatria Baja Hitam.

Efektifitas diplomasi budaya Jepang tentu menjadi faktor kunci semakin pesatnya populasi wibu di muka bumi. Nilai budaya Jepang tersampaikan dengan baik melalui media hiburan dan merubah citra negatif Jepang di mata publik Internasional.

Baca juga artikel menarik lainnya!

Watching Film Interpreter Bersama Reinforcement 2.0 Kampus Mantingan, Kolaborasi Dua Divisi Magang

Reinformance 2.0, Sub-divisi Desain Grafis Menjawab Problem Mahasiswa Hari-hari Ini

(1) Comment

  • Ziyad Safirul Auliya September 21, 2021 @ 4:40 am

    Sering2 nonton anime. Tpi bersikaplah sewajarnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *