Webinar Nasional IRC 2022: Menelaah Bersama Peluang dan Tantangan OKI dalam Dunia Diplomasi Organisasi Islam Internasional.

Mantingan, UNIDA Gontor – Senin (07/02/2022)  Program Studi Hubungan Internasional bersama Panitia International Relations Competition 2022 sukses menyelenggarakan agenda Webinar Nasional yang bertajuk “The Opportunities and Challenges of Organization of Islamic Cooperation in Islamic International Organization Diplomacy” yang dimoderatori oleh Al-Ustadz Rudi Chandra, Lc., M.A. Webinar ini diselenggarakan sekaligus sebagai agenda akhir dari rentetan kegiatan National International Relations Competition 2022. Dengan menghadirkan seorang narasumber luar biasa, seorang Duta Besar Indonesia untuk Lebanon, Drs. H. Hajriyanto Y Thohari, M.A. mengajak mahasiswi dan para peserta webinar untuk menelaah bersama mengenai peluang dan tantangan OKI (Organisasi Kerjasama Islam) dalam diplomasi Organisasi Internasional Islam. Turut hadir pula dalam webinar ini Wakil Duta Besar Republik Indonesia untuk Mesir,  Drs. M. Aji Surya, S.H. M.Si.

Keberadaan Organisasi Kerjasama Islam (eng: Organization of Islamic Cooperation) sebagai organisasi pemerintahan terbesar kedua setelah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengundang harapan besar umat Islam disamping juga mengundang sindirian dan tantangan dari para orientalis, sarjana dan pakar pemikir Barat serta bahkan sinisme dari kalangan umat Islam sendiri. Berdasarkan sejarahnya, OKI didirikan setelah peristiwa pembakaran Masjid Al-Aqhsa sebagai platform bersama untuk menggalang suara atas peristiwa tragis yang menimpa Palestina. Sebagai sebuah organisasi, OKI mengalami sepak terjang dan pasang surut serta berbagai tantangan namun disamping itu OKI masih memiliki peluang di berbagai aspek.

Dalam paparannya, Al-Ustadz H. Hajriyanto selaku narasumber menjelaskan bahwa OKI menghadapi tantangan-tantangan yang beragam, salah satunya adalah keragaman sistem politik dan pemerintahan serta tingkat stabilitas politik dan ekonomi yang berbeda di setiap negara anggota. Tingkat stabilitas ekonomi dan politik yang tumpang tindih ini membuat negara anggota mengalami ketergantungan ekonomi dan keuangan yang tinggi dan menjadikannya rentan terhadap kebijakan luar negeri Eropa dan AS.

Walau demikian, OKI masih memiliki peluang di berbagai aspek, sebagaimana yang telah disampaikan Al-Ustadz H. Hajriyanto. Sesuai dengan fitrah manusia yang menginginkan persatuan dan perdamaian, OKI harus meningkatkan dan mengkonsolidasi nilai-nilai kolektif politik, ekonomi, strategis dan budaya. Hal ini dikarenakan peran OKI tidak hanya berdasarkan alasan politik melainkan juga karena adanya perasaan terasing dan tidak aman diantara umat Islam saat ini. Maka, diperlukan adanya pendekatan multidimensi sebagaiaman yang telah tercantum dalam Piagam OKI.

Di penghujung webinar, Duta Besar Indonesia untuk Lebanon tersebut juga memaparkan peran Indonesia untuk OKI. Sebagai negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia memiliki peran penting dalam OKI dan menjadi negara muslim yang dapat dicontoh dalam pelaksanaan demokrasi di kawasan negara. Disamping itu, Indonesia menjadi negara OKI pertama yang mengakui kemerdekaan Banglades pada 1971, dan pernah menjadi mediator perundingan anatar Moro National Liberation Front (MNLF) dan Filiphina. Indonesia sendiri juga turut berpartisipasi aktif dalam mendukung reformasi OKI untuk menjawab tantangan umat Islam di abad 21.

Leave a Reply

Your email address will not be published.