Studi Keamanan Manusia

Keamanan menjadi salah satu focus perhatian yang ingin dicapai oleh semua pihak, baik entitas negara maupun individu. Hal ini membuat kajian tentang keamanan menjadi dominan dalam studi HI. Pada era Perang Dingin, masyarakat internasional belum mengenal konsep Human Security atau keamanan manusia. Karena aliran realisme yang mendominasi pada saat itu membuat kajian keamanan hanya berkaitan dengan keamanan negara, seperti BoP (Balance of Power), security dilemma, deterrence, dan sebagainya. Akan tetapi, seiring dengan berakhirnya Perang Dingin pada tahun 1991, kondisi keamanan dunia mengalami perubahan signifikan yang berimplikasi pada transformasi isu dan aktor dalam hubungan internasional.

A.    Pengertian Keamanan Tradisional dan Non-Tradisional

Meskipun konsep keamanan telah mengalami pergeseran dan pengembangan konseptual yang cukup drastic, human security tidak terlepas dari konsep keamanan itu sendiri. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami pengertian keamanan secara umum terlebih dahulu. Dalam studi HI, konsep keamanan yang sering menjadi rujukan adalah formulasi konsep Barry Buzan (1991) dalam bukunya yang berjudul People, State and Fear, yaitu: “security, in any object sense, measures the absence of threat to acquired values, insubjective sense, the absence of fear that such values will be attacked”

Booth (1991) mengatakan bahwa studi keamanan mengalami transformasi, jika pada awalnya konsep keamanan dimaksudkan sebagai kajian tradisional tentang keamanan nasional yang bersifat militeristik maka dalam perkembangannya studi keamanan juga mulai memasukkan isu-isu non-tradisional seperti demokrasi, HAM, lingkungan, kekerasan structural, dan konflik sosial budaya.

Kemudian kajian mengenai keamanan dibagi menjadi 2 yaitu, keamanan tradisional (traditional security) dan keamanan non-tradisional (non-traditional security). Dalam pengertian tradisional, keamanan hanya mencakup keamanan yang berkaitan dengan negara  dan usaha untuk menghadapi kekuatan militer negara lain. Sedangkan dalam pengertian yang lebih modern, menurut Buzan, Waver, dan Wilde studi keamanan berfokus pada aktor-aktor non-negara dan ancaman non-militer.

Konsep keamanan tradisional cenderung bersifat high politics karena didominasi oleh pemikiran-pemikiran yang berdimensi militer. Adapun isu-isu yang dikaji seperti:

ü  Perang dan konflik kekerasan

ü  Security dilemma

ü  Deterrence

ü  Arm race

ü  Arm control

ü  Disarmament, dll.

Berbeda dengan konsep keamanan tradisional, konsep keamanan non-tradisional (non-traditional security/ NTS) bersifat low politics, karena masalah keamanan lebih diperluas kepada isu-isu yang bersifat multidimensional. Konsepsi keamanan non-tradisional lebih ditenkan pada kepentingan keamanan non-state actors. Konsepsi ini menilai bahwa keamanan tidak bisa hanya berfokus dalam perspekstif kedaulatan negara dan kekuatan militer saja, melainkan ditujukan kepada upaya menjamin keamanan warga negara atau keamanan manusianya.

Isu keamanan non-tradisional mulai mengemuka pada akhir dekade 1990an ketika sekelompok pakar yang dikenal dengan sebutan mazhab Kopenhagen seperti Barry Buzan, Ole Waever, dan Jaap de Wilde mencoba memasukkan aspek-aspek di luar kajian keamanan tradisional- seperti misalnya masalah kerawanan pangan, kemiskinan, kesehatan, lingkungan hidup, perdagangan manusia, terorisme, bencana alam, dan sebagainya-sebagai bagian dari studi keamanan.

Diantara isu-isu yang diangkat oleh keamanan non-tradisional yaitu sebagai berikut:

ü  Money laundering

ü  Drugs trafficking

ü  Child abuse

ü  Gender

ü  Terrorism

ü  Lingkungan, ekonomi, dll.

Keamanan manusia adalah konsep yang membongkar arti ‘keamanan’ dari konsep tradisionalnya, yaitu pengamanan negara dari ancaman-ancaman militer menjadi pengamanan individu dan komunitas. Konsep dan definisi tentang keamanan manusia datang dari berbagai kalangan dan kelompok seperti OI, Lembaga regional, dan aktor negara yang mendiskusikannya di berbagai forum dan konferensi internasional. Oleh karena itu, hingga saat ini belum ada definisi tunggal yang disepakati sebagai pengertian konsep human security. Akan tetapi, konsepsi ini telah memberikan kontribusi terhadap perkembangan studi keamanan. Adapun premis yang ditawarkan dalam konsepsi keamanan manusia berfokus pada eksistensi individual, dan secara lebih luas juga mencakup hal-hal yang berkaitan dengan nilai dan tujuan yang ingin dicapai seperti perlindungan terhadap martabat, persamaan, dan solidaritas individu.

B.     Elemen Keamanan Manusia

Gagasan tentang keamanan manusia pertama kali diperkenalkan melalui publikasi Human Development Report UNDP tahun 1994. Dalam laporan tersebut UNDP menyatakan, “the concept of security must change-from an exclusive stress on national security to a much greater stress on people security, from security through armaments to security through human development, from territorial to food, employment and environmental security”. Keamanan manusia didefinisikan secara umum sebagai “freedom from fear (bebas dari rasa takut) & freedom from want (bebas dari ketidakmampuan untuk memiliki)” dan ditandai sebagai keamanan dari ancaman kronis seperti kelaparan, penyakit, dan penindasan serta perlindungan dari ancaman tiba-tiba dan berbahaya dalam pola kehidupan sehari-hari- baik di rumah, dalam pekerjaan, atau dalam masyarakat.

UNDP (2004) membagi 7 komponen atau elemen universal tentang keamanan manusia yang menjadi tanggung jawab pemerintah setiap negara. Ketujuh komponen tersebut adalah:

a)      Keamanan ekonomi (economic security) → bebas dari kemiskinan dan jaminan pemenuhan kebutuhan hidup

b)      Keamanan pangan (food security) → kemudahan akses terhadap kebutuhan pangan

c)      Keamanan kesehatan (health security) → kemudahan mendapatkan layanan Kesehatan dan proteksi dari penyakit

d)      Keamanan lingkungan (environment security) → proteksi dari polusi udara dan pencemaran lingkungan, serta akses terhadap air dan udara bersih

e)      Keamanan pribadi/personal (personal security) → keselamatan dari ancaman fisik yang diakibatkan oleh perang, kekerasan domestic, kriminalitas, penggunaan obat-obatan terlarang, dan bahkan kecelakaan lalu lintas

f)       Keamanan komunitas (community security) → kelestarian identitas kultural dan tradisi budaya

g)      Keamanan politik (political security)→ perlindungan terhadap hak asasi manusia dan kebebasan dari tekanan politik

UNDP mentransformasikan konsep keamanan manusia dari ide tradisional tentang keamanan yang berfokus pada keseimbangan dan kapabilitas militer menuju konsep yang lebih luas yaitu ide tentang keselamatan dari ancaman kronis seperti: kelaparan, penyakit, dan penindasan sebagaimana halnya perlindungan dari gangguan yang sifatnya mengejutkan atau tiba-tiba yang terjadi dalam pola kehidupan manusia sehari-hari. Akibat dari focus keamanan manusia yang terlalu luas, konsep ini mendapatkan kritik nyata karena dianggap tidak memiliki prioritas.

Secara konsepetual, terdapat dua pendekatan tentang definisi keamanan manusia yaitu:

a)      Basic Human Right, dalam hak dasar manusia terdapat dua hal yang harus terpenuhi yaitu Natural Right (hak untuk hidup, hak untuk kebebasan, dan hak untuk bahagia) dan Humanitarian (menjaga manusia dari ancaman perang, genosida, nuklir, ethnic cleansing, dll).

b)     Social Justice, berdasarkan Konvensi ECOSOB/ECOSOC, selain menjaga hak dasar manusia, manusia juga harus dilindingi dan dijamin dalam hal ekonomi, sosial, dan budaya.

Adapun 4 karakter Human Security, yaitu:

a)      Universal Concern

b)      Interdependence

c)      Prevention

d)      Social-centered

DAFTAR PUSTAKA

Booth, K. (1991). Security and Emancipation. Review of International Studies.

Buzan, B. W. (1998). Security: A New Framework For Analysis. Colorado: Lynner Rienner Publishers Inc.

Tadjbakhsh, S. &. (2007). Human Security: Concept and Implications. New York: Routledge.

UNDP. (1994). Human Development Report 1994: New Dimension of Human Security.