Sengketa Antara Malaysia dan Singapura Dalam Menentukan Kepemilikan Pulau Batu Puteh (Pedra Branca)

A. Kronologi Kasus Sengketa Pulau Batu Puteh (Pedra Branca)


Sengketa yang terjadi antara Malaysia dan Singapura atas Pulau Batu Puteh (Pedra Branca) dimulai ketika Singapura mengajukan protes terhadap Malaysia pada tahun 1980 atas peta yang dikeluarkan oleh Malaysia. Singapura menambah klaimnya pada tahun 1993, Singapura mengklaim Middle Rocks dan South Ledge adalah milik singapura.
Dalam penyelesaian masalah ini Singapura dan Malaysia sepakat menempuh jalur litigasi ke Mahkamah Internasional pada tahun 2003. Terdapat mercusuar Horsburgh yang telah dioperasikan Singapura sejak Inggris menguasai kawasan tersebut pada tahun 1851. Selama proses pengadilan di Mahkamah Internasional, Malaysia dan Singapura sama-sama berargumen atas kepemilikan pulau tersebut.
Singapura menganggap adanya mercusuar yang dikelola adalah indikasi adanya pengelolaan efektif dari pihak Singapura. Akan tetapi menurut pihak Malaysia, keberadaan mercusuar tidak ada hubungannya dengan kedaulatan Singapura melainkan murni kepentingan navigasi. Malaysia menganggap bahwa Pulau Batu Puteh (Pedra Branca) adalah bagian dari kedaulatannya, sedangkan Singapura yang membangun dan mengelola mercusuar tidaklah menghapus kedaulatan Malaysia. Singapura memperkuat klaim tersebut berdasarkan pada surat yang ditulis dan dikirim oleh Pejabat Sekretaris Negara Johor yang tidak mengklaim atas kepemilikan Pulau Batu Puteh (Pedra Branca).


B. Keputusan Mahkamah Internasional dan Peran ASEAN dalam Permasalahan Sengketa Pulau Batu Puteh (Pedra Branca)


Keberadaan Mahkamah Internasional merupakan salah satu cara penyelesaian sengketa yang terjadi antar negara terkait dengan perbatasan, kepemilikan pulau. Malaysia dan Singapura yang sepakat persengketaan dua negra tersebut atas Pulau Batu Puteh dibawa pada jalur litigasi yaitu ke Mahkamah Internasional.
Dengan bukti-bukti yang dikemukakan oleh Malaysia dan Singapura atas kepemilikan Pulau Batu Puteh, lalu kemudian diputuskan oleh 16 hakim (14 memilih Singapura dan 4 memilih Malaysia) bahwa kepemilikan atas Pulau Batu Puteh (Pedra Branca) adalah milik Singapura dan Middle Rocks diberikan kepada Malaysia. Singapura telah mengelola dan memelihara pulau ini yang ditandai oleh adanya mercusuar yang berada di dalam Pulau Batu Puteh (Pedra Branca).
Pada awalnya, mahkamah internasional mengakui kepemilikan atas Pulau Batu Puteh adalah milik Malaysia, tapi Singapura bisa menunjukkan bukti surat yang ditulis dan dikirim Pejabat Sekretaris Kesultanan Johor, sehingga membuat para hakim menentukan kepemilikan atas pulau Batu Puteh menjadi milik Singapura.
Putusan mahkamah internasional sudah tepat karena mempunyai dasar hukum yang jelas. Mahkamah Internasional tersebut bersifat mengikat, final dan tidak ada banding bagi negara yang merasa keberatan dengan putusan yang ada. Apabila negara yang bersengketa tidak menjalankan kewajiban tersebut, negara lawan sengketa dapat mengajukan permohonan kepada Dewan Keamanan PBB yang memiliki kewenangan untuk merekomendasikan agar keputusan itu dilaksanakan.

Kesimpulan


Walaupun Malaysia kecewa dengan keputusan yang diputuskan Mahkamah Internasional, Malaysia harus menerima apa yang telah menjadi keputusan bersama. Adanya keputusan Mahkamah Internasional berdampak pada perbatasan kedua negara. Malaysia harus mengubah peta yang telah dibuatnya. Kedua negara yaitu Malaysia dan Singapura telah menyepakati batas maritim disekitar Pulau Batu Puteh dan Middle Rocks.
Sengketa Pulau Batu Puteh antara Malaysia dan Singapura akhirnya dimenangkan oleh Singapura. Sengketa yang melibatkan Malaysia dan Singapura atas Pulau Batu Puteh telah berlangsung selama 28 tahun. Oleh ICJ, Singapura akhirnya dinyatakan berdaulat atas sebuah pulau kecil yang bernama Pulau Batu Puteh. Itulah putusan Mahkamah Internasional yang berbasis di Den Haag, Belanda. Pada tanggal 23 Mei 2008, ICJ memutuskan bahwa Singapura berdaulat atas kepemilikan pulau Batu Puteh. Sebagai konsekuensi dari keputusan tersebut, Malaysia akan menghapus klaim kepemilikan pulau Batu Puteh dari petanya.

Daftar Pustaka

Adolf, H. (2008). Hukum Penyelesaian Sengketa Internasional. Jakarta: Sinar Grafika.
Borotoding, M. (2013). Putusan Mahkamah Internasional Tentang Sengketa Pulau Batu Puteh (Pedra Branca) Antara Malaysia Dan Singapura Ditinjau Dari Aspek Hukum Internasional. Universitas Hasanuddin.
Sovereignty over Pedra Branca/Pulau Batu Puteh, Middle Rocks and South Ledge (Malaysia/Singapore). (2008, Mei 23). Retrieved from International court of justice: https://www.icj-cij.org/en/case/130
Tantowi, I. P. (2009). Hukum Internasional Kontemporer. Bandung: PT Refika Aditama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *