Paradigma Merkantilisme Terhadap Perjanjian Dagang Multilateral RCEP

Paradigma Merkantilisme Terhadap Perjanjian Dagang RCEP

Interaksi antara sistem internasional dengan negara terletak pada dua kutub yang saling bertentangan, yaitu kerja sama dan konflik. Keduanya terus berkembang secara dinamis mengikuti kepentingan aktor yang terlibat di dalamnya. Hal ini menyebabkan ambisi kohesivitas kolektif berdasarkan kepentingan bersama yang ingin dicapai. Akibatnya, negara-negara di dunia membentuk pola hubungan aliansi dalam konteks konflik antar negara dan kerja sama perdagangan dalam kepentingan ekonomi. Ibnu Khaldun dalam kitabnya Muqoddimah mendefinisikan aliansi ini dengan istilah ‘Ashabiyyah, yakni sebuah kesadaran jiwa dalam kelompok yang dapat mempersatukan kelompok bertentangan, sehingga menjadi kelompok yang lebih besar dan utuh (Rabie’, 1967). 

Dalam kajian Hubungan Internasional, pengelompokan kohesivitas kolektif disebut sebagai Regionalisme. Menurut (Mansbach, 1973), region atau kawasan adalah pengelompokan regional yang diidentifikasi dari basis kedekatan geografi, budaya, perdagangan, dan saling ketergantungan ekonomi yang menguntungkan, serta keikutsertaan dalam organisasi internasional. Definisi mengenai regional/kawasan berbeda dengan regionalisme. Regional secara umum diperhitungkan melalui batasan geografis, sedangkan regionalisme terlepas dari batasan geografis. Parameternya terletak pada kerja sama regional antar negara, kohesi regional, dan integrasi regional yang didukung oleh negara. (Hurrel, 1995)

New Regionalism

Penelitian mengenai regionalisme sangat identik dengan unit analisa tingkat sistem internasional. Dengan rasionalisasi bahwa regionalisme akan menganalisis norma-norma perilaku sistem internasional, serta hubungan ekonomi yang akan membentuk sebuah kawasan struktural. Pada level sistem internasional, pendekatan teoritis akan dinaungi oleh teori neorealisme, neoliberalisme, dan konstruktivisme (Nuraeni, Silvya, & Sudirman, 2010). Ketiga landasan cara pandang ini dipengaruhi oleh tuntutan zaman yang silih berganti. Neo-realisme yang berorientasi pada old-regionalism menekankan pentingnya sistem internasional yang anarki serta pentingnya persaingan power secara politis dan ekonomis. Beda halnya dengan neoliberalisme dan konstruktivisme yang menekankan pada perubahan sistem internasional, dan pengaruh perubahan secara ekonomi dan teknologi. Satu bidang Kerja sama juga dapat mempengaruhi regionalisme dalam pembahasan ini (new-regionalism).

New regionalism atau regionalisme baru lebih cenderung melibatkan aktor-aktor non negara dan sifatnya melintasi batasan sistem kenegaraan. Sebabnya adalah pengaruh konstruksi proses globalisasi yang mempunyai ciri khasnya tersendiri dalam upaya pembentukan regionalisme baru (Hettne, 2005). Sifat regionalisme baru tidak memusatkan negara sebagai satu-satunya aktor pelaksana saja, tetapi juga aktor swasta seperti MNC dan TNC. pengejawantahan aktor non-negara dalam konteks regionalisme baru dapat ditinjau melalui beberapa pakta perjanjian perdagangan bebas di suatu kawasan. Mulanya, kemunculan regionalisme baru dapat dilihat dari proses terbentuknya European Coal and Steel Community (ECSC) pada tahun 1951 yang merupakan cikal bakal terbentuknya Uni Eropa.[1] Sejak era perang dingin hingga era globalisasi, regionalisme baru berkembang pesat, sehingga fenomena ini menjadi fokus utama pembelajaran bagi penstudi HI. Seperti munculnya Asean Free Trade Area (AFTA), North America Free Trade Agreement (NAFTA), Asia Pacific Economic Cooperation (APEC), dan sampai pada fenomena terbaru yaitu terbentuknya pakta perdagangan bebas di kawasan Asia-Pasifik; (RCEP) Regional Comprehensive Economic Partnership[2].

Pada tanggal 15 Desember 2020, 15 negara yang terdiri dari 10 negara ASEAN, China, Jepang, Korea Selatan, Australian, dan New Zealand menandatangani pakta perjanjian RCEP secara virtual.[3] Negosiasi tersebut meliputi perdagangan barang, perdagangan jasa, investasi, kekayaan intelektual, e-commerence, dan pengembangan Usaha Kecil Menengah (UKM).[4] RCEP merupakan kerangka kerja sama yang diajukan oleh ASEAN atas kemajuan ASEAN+1 FTAs[5]. RCEP mewakili hampir setengah dari populasi di dunia, yang menunjukkan angka 30%dari PDB global dan diperkirakan akan mencapai seperempat aktivitas ekspor-impor di dunia.[6] Sejalan dengan pendapat (Keohane, 1992) yang mengedepankan aspek institusi internasional dalam memandang regionalisme. Institusi diharapkan mampu menjaga stabilitas ekonomi antar negara yang telah menyepakati perjanjian. Dengan demikian, peran institusi internasional dalam bidang perekonomian sangat berpengaruh terhadap pembentukan regionalisme. 

Bagaimana Merkantilis memandang isu ini ?

Dalam disiplin ilmu EPI (Ekonomi Politik Internasional), merkantilisme memandang forum kerja sama perdagangan sebagai sebagai instrumen dasar bagi kekuatan politik. Menurut Alexander Hamilton[7], kebijakan negara dalam perdagangan internasional harus mengedepankan manufaktur daripada komoditi barang mentah (Brown, 2001). Secara hierarki internasional, merkantilisme akan menciptakan klasifikasi negara produsen dan negara market akibat permainan Zero-Sum. Relevansinya terhadap RCEP adalah titik nemu antara negara-negara market dengan satu negara dominan yaitu Tiongkok. Tiongkok merupakan inisiator konsep pembentukan RCEP selama berlangsungnya negosiasi 2012-2016.[8] Di tengah perseteruan dengan negara super power AS, Tiongkok mengambil kesempatan untuk bergabung dengan RCEP guna memperluas pasar serta mengurangi hambatan tarif ekspor-impor.[9] Hal ini sejalan dengan megaproyek geoekonomi Tiongkok, Belt Road Initiative (BRI)[10]. (Beeson, 2018)  

Perjalanan Tiongkok bersama RCEP telah berlangsung lama sejak RCEP masih dalam tahap negosiasi. Tiongkok telah memiliki perjanjian bilateral dengan negara anggota RCEP, terlebih hubungannya dengan ASEAN telah dibuka sejak 2002 dalam pakta China-ASEAN FTA. RCEP sendiri pertama kali dibentuk dalam KTT ASEAN ke-19 pada tahun 2011,[11] dengan tema The ASEAN Framework for Regional Comprehensive Economic Partnership. (Wilson, 2015). Besarnya ketertarikan Tiongkok dibuktikan dengan upaya penyelesaian negosiasi RCEP dari tahun 2015 hingga tahap akhir pada akhir tahun 2019.[12]

RCEP sejatinya digagas oleh ASEAN, namun Tiongkok mempunyai peranan penting dalam perdagangan internasional di kawasan tersebut. Dalam perkembangannya, Tiongkok telah menandatangani beberapa kerjasama bilateral dengan negara-negara di Asia Pasifik yang terlibat dalam RCEP.[13] Banyaknya perjanjian bilateral Tiongkok telah mengakibatkan kebijakan ekonomi internasional yang saling tumpang tindih, hal ini dikenal sebagai Noodle Bowl Effect.[14] RCEP diharapkan oleh negara-negara anggota, terkhusus Tiongkok sebagai negara superpower untuk mengatasi permasalahan birokrasi akibat noodle bowl effect. RCEP akan menyumbang sekitar 30% dari populasi PDB di dunia. Bermula dari perjanjian bilateral hingga ke multilateral, Tiongkok dengan politik luar negeri BRI-nya akan memudahkan upaya pengayoman negara-negara dalam rezim ekonomi politik internasional.


[1] Hendra Pasuhuk, Sejarah Terbentuknya Cikal Bakal Uni Eropa 70 tahun Lalu, https://www.dw.com/id/sejarah-terbentuknya-cikal-bakal-uni-eropa-70-tahun-lalu/a-48861327

[2] Guiding Principles and Objectives for Negotiating the RCEP, https://asean.org/asean-economic-community/

[3] https://www.aljazeera.com/economy/2020/11/15/rcep-15-asia-pacific-nations-set-worlds-biggest-trade-pact

[4] Official RCEP Information, asean.org, https://asean.org/?static_post=rcep-regional-comprehensive-economic-partnership

[5] ASEAN-Australia and New Zealand Free Trade Area (AANZFTA), ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA), ASEAN-India Free Trade Area (AIFTA), ASEAN-Japan Free Trade Area (AJCEP), dan ASEAN-Republic of Korea Free Trade Area (AKFTA).

[6] Official RCEP Information, https://asean.org/?static_post=rcep-regional-comprehensive-economic-partnership

[7] Bapak Pendiri Amerika Serikat sekaligus bapak teori Merkantilisme

[8] ASEAN RCEP, Indonesia for Global Justice, 30 November 2016, https://igj.or.id/asean-rcep/

[9] Nadia Zuraya, Senjata baru China Melawan AS Bernama RCEP, Republika.id, https://www.republika.co.id/berita/qk1bow318/senjata-baru-china-melawan-as-bernama-rcep

[10] Belt Road Initiative (BRI); bukan hanya megaproyek konektivitas darat, melainkan upaya menaungi negara-negara dalam suatu rezim ekonomi politik internasional. (Cai, 2017)

[11] ASEAN Framework for Regional Comprehensive Economic Partnership, https://asean.org/?static_post=asean-framework-for-regional-comprehensive-economic-partnership

[12] Aljazeera, How Asia’s giant trade pact took shape as global tensions grew, 4 November 2019, https://www.aljazeera.com/economy/2019/11/4/how-asias-giant-trade-pact-took-shape-as-global-tensions-grew

[13] China-Australia Free Trade Agreements (2015), China-Korea FTA (2006), China-ASEAN FTA (2002), China-Singapore FTA (2008), dan China-New Zealand FTA (2008). (Mofcom.gov.cn, 2019) 

[14] Noodle Bowl Effect merupakan fenomena tumpeng tindih kebijakan ekonomi internasional di mana meningkatnya perjanjian perdagangan bebas di suatu negara. Istilah ini merupakan deskripsi atas jalinan FTA di suatu wilayah. (Kang, 2015)

(5) Comments

  • idn poker 88 April 9, 2021 @ 10:40 pm

    I loved as much as you will receive carried out right here.
    The sketch is tasteful, your authored subject
    matter stylish. nonetheless, you command get got an shakiness
    over that you wish be delivering the following. unwell
    unquestionably come further formerly again since exactly the same nearly a lot often inside case you shield this increase.

  • More about this April 9, 2021 @ 10:54 pm

    Good post. I learn something new and challenging on websites I stumbleupon everyday.
    It will always be exciting to read through content from other authors and use a little
    something from other sites.

  • belajar seo April 9, 2021 @ 11:12 pm

    Hello it’s me, I am also visiting this site on a regular basis,
    this web site is truly pleasant and the people are truly sharing nice thoughts.

  • lcd screen manufacturer April 10, 2021 @ 1:43 am

    Have you ever considered writing an ebook or guest authoring on other blogs?
    I have a blog based upon on the same information you discuss
    and would love to have you share some stories/information. I know my readers would
    appreciate your work. If you’re even remotely interested, feel free to send me an e mail.

  • Delhi Model Escorts April 10, 2021 @ 3:06 am

    You really make it seem so easy with your presentation but I find this
    topic to be actually something which I think I would never understand.
    It seems too complex and very broad for me.
    I am looking forward for your next post, I will try to get the hang
    of it!

    My website – Delhi Model Escorts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *