Thomas Kuhn dan Transformasi Pemikirannya Terhadap Paradigma Keilmuan Islam

Thomas Kuhn, seorang filsuf ilmu yang memberikan sumbangan besar dalam perkembangan filsafat ilmu dapat ditransformasikan kedalam paradigma pemikiran Islam. Kuhn dalam karya fenomenalnya, The Scientific Revolution. Menjelaskan bahwa ilmu tidak terjadi secara berangsur-angsur atau sebagai proses akumulasi ilmiah yang ditemukan para ilmuwan. Melainkan datang secara periodik, mengalami revolusi dengan terjadinya pergeseran paradigma. Melalui bukunya, Kuhn menggalakkan istilah dalam sejarah ilmu, yakni “Paradigm Shift”, “Paradigm”, “Normal Science”, “Scientific Revolution”, dan “Incommensurability”.

Kuhn yang merupakan filsuf berkebangsaan yahudi, membagi paradigma kedalam beberapa jenis, yaitu: paradigma metafisik, paradigma sosiologis dan paradigma konstruk. Yang mana ketiga paradigma tersebut memiliki perbedaan perspektif dalam memahami realitas dan kebenaran. Lalu setiap fenomena dikelompokkan dalam klasifikasi tertentu berdasarkan sebab akibat yang terdeteksi dalam pemaknaan sebuah fenomena, sehingga menghasilkan pemaknaan yang berbeda sesuai dengan sebab dan akibat terjadinya sebuah peristiwa. Berdasarkan hal tersebut, analisis paradigma Kuhn diperkuat menjadi dua paradigma utama, yaitu: paradigma ilmiah dan paradigma alamiah.

Scientific Revolution

Normal Science, yaitu situasi ketika sebuah paradigma menjadi sedemikian dominan atau dianggap benar sehingga ia digunakan sebagai indikator utama, serta tidak perlu mempertanyakan ulang prinsip-prinsip utamanya. Pada periode Normal Science inilah, terjadi proses akumulasi ilmu pengetahuan, yang mana para ilmuwan berusaha untuk mengembangkan paradigma mainstream. Kemudian, ketika dalam pengembangannya terjadi kelumpuhan analitik atau ketidakmampuan dalam memberi penjelasan terhadap permasalahan yang muncul, fase inilah yang dinamakan anomali, akibat masifnya anomali yang muncul, maka timbullah crisis. Ketika krisis tersebut terjadi dengan hebatnya maka munculah revolusi. Pada fase revolusi inilah kemudian muncul paradigma dua.

Transformasi Pemikiran Thomas Kuhn Kedalam Keilmuan Islam.

Pemikiran Thomas Kuhn dapat ditransformasikan kedalam paradigma keilmuan Islam, yang dianalisa pada hal-hal berikut:

Pertama, konsep pemikiran Kuhn tentang paradigma dapat difahami sebagai landasan filosofik ilmu pengetahuan. Wacana yang terjadi secara dialektik dan interaktif dalam pembentukan dan penolakannya secara ilmiah. Sehingga, diartikan sebagai progresifitas berdasarkan normatifnya, dinamika pemikirannya, kontinuitasnya, dan sensitifitasnya, didalam kelesuan berfikir yang dirasakan umat Islam sekarang ini. Karena untuk menjawab persoalan-persoalan yang ada didalam masyarakat membutuhkan paradigma yang kuat. Tidak lain arah dan tujuan Islam sebagai rahmatan lil Alamin.

Kedua, normal science dalam studi kajian Islam dapat dianalogikan sebagai teori ajaran Islam menggunakan pendekatan teologis normatif. Normal science yang menggambarkan sebuah kondisi dimana paradigma menjadi semakin dominan dan menjadi indikator utama. Normal science dalam pemikiran Islam dapat diartikan sebagai teori yang terdapat didalam sumber hukum Islam yang mana dalam perkembangannya tetap dapat dijadikan sebuah norma atau kaidah dan tidak terdapat penyimpangan dan kesulitan dalam mengimplemetasikannya kedalam kehidupan praktis.

Ketiga, pemikiran Kuhn tentang anomali yaitu, terjadinya ketidakselarasan antara kenyataan dengan paradigm-paradigma yang digunakan iluwan. Anomali yang terjadi akibat ketidakmampuan paradigm pertama dalam menjawab terhadap persoalan, yang pada akhirnya menimbulkan penyimpangan. Anomali dalam konteks pemikiran Islam terjadi seiring berkembangnya zaman. Dengan ini terjadi kondisi, dimana Islam tidak yang berada dalam ranah teologi normatif tidak seluruhnya dapat menjawab permasalahan umat Islam. Sehingga pada fase ini, Kuhn menyebutnya sebagai crisis.

Pandangan Kuhn membawa kita pada kunci utama revolusi ilmiah, yaitu sebuah metodologi. Alam tidak akan berubah, tetapi metodologi penjelasan akan gejala alam itu yang terkadang revolutif. Begitu juga dalam pemikiran Islam, bukan teks Al-Qur’annya yang dirubah, melainkan metodologi dalam memahami teksnya yang harus dirubah.

Islam sebagai rahmatan lil alamin, memiliki relevansi sepanjang zaman. Karenanya, tidak perlu ada pembaharuan terhadap ajaran Islam, tetapi paradigma manusia terhadap agamalah yang harus diperbaharui, dan bukan Al-Qur’an yang diatur untuk menghadapi perkembangan zaman.

References

Abid, I. U. (2015). Pemikiran Thomas Kuhn dan Relevansinya Terhadap Keilmuan Islam. Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan, 3.

saefuddin, A. M. (1991). “Pembaharuan Pemikiran Islam: Sebuah Pengantar,” dalam Percakapan Cendikiawan Tentang Pembaharuan Pemikiran Islam di Indonesia . Bandung: Mizan.

Disarikan dari Alexander Bird dalam Thomas Kuhn, (http:// plato.stanford.edu/entries/thomas-kuhn), up-date 13/8/2004; diakses 08/17/2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *