Mengulas ‘Development as Freedom’ Karya Amartya Sen

Amartya Kumar Sen atau lebih familiar dengan nama Amartya Sen merupakan ekonom senior yang berasal dari India. Saat ini beliau merupakan Guru Besar bidang Ekonomi dan Filsafat di Universitas Harvard. Ia dikenal atas kontribusinya terhadap bidang ilmu sosial terutama pada pemikiran ekonomi kontemporer. Bahkan Amartya mendapat penghargaan Nobel dalam bidang ilmu ekonomi tahun 1998.

Salah satu karya tulis Amartya Sen yang sangat terkenal adalah buku Development as Freedom yang terbit pada tahun 1999. Tulisan ini akan memberi ulasan mengenai karya tulis tersebut.

Sampul buku ‘Development as Freedom’

Kisah dari Teks Sansekerta

Pada bab pertama buku ini, Amartya Sen mengawali penjelasannya dengan kisah yang terdapat dalam teks sansekerta yaitu Brihadaranyaka Upanishad. Dalam kitab tersebut terdapat percakapan antara perempuan bernama Maitreyee dan suaminya Yajnavalkya. Pada kitab tersebut Matreyee memberi pertanyaan “Untuk apa semua kekayaan di dunia ini jika tidak menuntuk kita kepada keabadian?”. Pertanyaan retoris dari Matreyee tersebut memberi pengaruh terhadap filsafat dan ajaran agama yang berkembang di India mengenai sikap skeptis terhadap kekayaan materi.

Amartya mencoba memasukan cara pandang ini kepada bagaimana manusia modern memandang pembangunan. Berangkat dari asumsi di atas, Amartya mengkritik tolak ukur pembangunan yang selama ini hanya diukur berdasarkan kekayaan materi. Menurutnya aspek metafisik seperti kebahagiaan, dan kebebasan terhadap diskriminasi juga memiliki relasi dengan aspek materi atau kekayaan.

Kritik Amartya Sen terhadap Otoritarianisme

Selain itu, Amartya juga memberi penjelasan mengenai apa yang ia sebut sebagai ketidakbebasan. Ia menyebutkan bahwa banyak kelompok maupun individu di berbagai penjuru dunia yang masih mengalami berbagai macam ketidakbebasan. Ia juga menambahkan, banyak negara besar di dunia menyangkal adanya hak berpendapat oleh individu, hal ini mereka yakini agar pertumbuhan ekonomi dapat dimonitor dengan baik dan cukup mendorong kesejahteraan masyarakat.

Perenggutan kebebasan tersebut mencakup hak politik dan menyatakan pendapat.  Klaim tersebut salah satunya dinyatakan oleh Lee Kuan Yew, Perdana Menteri pertama Singapura. Namun klaim ini kemudian dibantah oleh Amartya Sen bahwa hanya ada sedikit bukti bahwa otoritarianisme dapat mempercepat laju pertumbuhan ekonomi. Ia kemuda secara khusus mempertanyakan klaim Lee Kuan Yew tersebut pada bab ke 6.

Potret Lee Kuan Yew, Perdana Menteri Singapura antara tahun 1959-1990.

Pada bab pertama buku Development as freedom, Amartya banyak memberi penjelasan mengenai kebebasan sebagai konsep pembangunan. Ia juga banyak memberi kritikan terhadap asumsi yang hanya menilai pembangunan hanya meliputi aspek materi. Amartya dalam pemikirannya memberi berbagai variabel baru yang bersifat non-materi seperti kebabasan individudan dan kualitas hidup manusia secara psikis seperti kebahagiaan.

Amartya Sen berjasa dalam membangun paradigma baru dalam Pemikiran Ekonomi modern. Ia banyak mengkritik pemahaman lama bahwa pembangunan nasional merupakan agenda yang materialistik. Buah pemikirannya hingga saat ini masih hangat untuk dikaji dan menambah khazanah kekayaan intelektual dalam bidang ilmu sosial.

Baca artikel menarik lainnya!

“Turkish Diplomacy Update; Berbagi Pengalaman Bersama Konsul Protokol KJRI Turki”

“Mengulas ‘Public Duties in Islam’ Karya Ibnu Taimiyah”

“Menakar Sebab Eskalasi Konflik AS-Iran JCPOA”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *