Meneladani Diplomasi Rasulullah SAW

Diplomasi Rasulullah SAW sangat menarik untuk kita kaji. Karena Rasulullah SAW diutus oleh Allah SWT bukan hanya sebagai penutup para rasul dan nabi, beliau juga merupakan teladan bagi umat manusia.

Salah satu aspek yang patut diteladani oleh manusia modern adalah praktik diplomasi Rasulullah SAW baik pada pada periode Makkah maupun Madinah.

Beliau merupakan pemimpin yang selalu memberi kebijakan strategis dan bijaksana bagi kaum Muslimin pada masa itu. Beliau juga memberi keteladanan mengenai bagaimana menjalin komunikasi dengan kelompok atau entitas lain.

Pentingnya Citra Personal Bagi Pempimpin

Sebagai Nabi dan Rasul, Rasulullah SAW memiliki sifat empat wajib yakni, Shidiq (Jujur), Amanah (dapat dipercaya), Tabligh (Menyampaikan perntah Allah Swt), dan Fathanah (cerdas). Keempat sifat ini telah melekat pada Rasulullah sejak dini.

Rasulullah pada era pra Islam mendapatkan kesan sebagai sosok yang dapat dipercaya sehingga beliau mendapatkan gelar Al-Amin oleh masyarakat Makkah. Al-Amin dapat dimaknai sebagai sosok yang dapat dipercaya.

Rasulullah mulai dikenal publik akan kejujurannya sewaktu beliau bekerja untuk menjual dagangan Siti Khadijah. Citra positif yang melekat pada sosok Rasulullah menjadi pondasi penting untuk mendakwahkan ajaran Islam.

Personal Branding sangat penting bagi negosiator ataupun diplomat yang hendak melaksanan proses lobbying. Rasulullah sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rasul telah memiliki citra positif di mata masyarakat Makkah.

Citra ini yang kemudian menjadi pendukung dakwah Islam serta kegiatan diplomasi Rasulullah saw pada masa kenabiannya.

Diplomasi Rasulullah era Makkah

Pada masa Pra-Islam, penduduk Makkah diberkati oleh kemakmuran yang didukung oleh praktik merkantilisme dan adanya Ka’bah sebagai simbol spiritualitas.

Namun, Ka’bah pada era itu merupakan simbol politeisme sehingga dakwah atau diplomasi publik Rasulullah SAW di Makkah bertujuan untuk mengajak masyarakat Arab untuk kembali ke ajaran tauhid.

Awalnya, proses dakwah dilaksanakan secara sembunyi-sembunyi yang berpusat di kediaman Arqam bin Abi Arqam.

Strategi dakwah secara rahasia ini kemudian mampu menarik hati beberapa orang yang kemudian dikenal sebagai As-sabiqun Al-awwaluni yang terdiri dari: Abu Ubaidillah bin Jarrah, Arqam bin Abi Arqam, Fatimah binti Khattab bersama suaminya Said bin Zaid, dan beberapa orang lainnya.

Setelah berjalan kurang lebih tiga tahun, dakwah disampaikan secara terbuka dan tidak hanya menargetkan kerabat dekat tapi juga masyarakat dari berbagai kalangan meliputi saudagar, petinggi suku, dan budak.

Namun, metode dakwah yang baru ini memunculkan penolakan yang keras terutama dari pembesar paganis Quraisy. Para paganis Quraisy banyak melakukan aksi teror dan perundungan kepada kaum Muslimin dan Rasulullah saw sendiri.

Faktor tersebut kemudian melatarbelakangi peristiwa Hijrah oleh Rasulullah dan Muslimin dari Kota Makkah ke kota Yastrib yang kemudian namanya diganti oleh Rasulullah dengan nama Madinah Al-Munawwarah.

Kebijakan yang Mempersatukan

Pemandangan kota Madinah Al-munawwarah

Saat pertamakali tiba di Madinah, Rasulullah langsung memprakarsai persatuan masyarakat Madinah melalui Piagam Madinah dan mempersaudarakan kaum Muhajirin yang datang dari Makkah dengan kaum Anshar yang merupakan penduduk asli Madinah.

Piagam Madinah merupakan tonggak diplomasi pertama Rasulullah di Madinah. Pembentukan Piagam Madinah sebagai konstitusi merupakan langkah yang sangat penting.

Pasalnya, penduduk Madinah bersifat pluralistik, maka Piagam Madinah mampu menciptakan nuansa harmonis dan mencegah konflik antar kelompok masyarakat.

Piagam Madinah terdiri dari 47 pasal dimana 23 klausa di antaranya berisi mengenai hubungan antara umat Islam dengan sesama umat Islam yaitu antara Ansar dan Muhajirin. Kemudian, 24 pasal selanjutnya berisi bahasan mengenai relasi umat Islam dengan umat non Islam yang dalam hal ini adalah kaum Yahudi dan Nasrani.

Diplomasi Menuju Perjanjian Hudaibiyah

Momentum krusial selanjutnya dalam sejarah diplomasi Rasulullah adalah perjanjian Hudaibiyah. Perjanjian ini diprakarsai sebagai upaya Rasulullah untuk mengurangi intensitas konflik dengan pembesar Quraisy pada waktu itu.

Rasulullah mengutus Ustman bin Affan sebagai negosiator dari kaum Muslimin kepada pembesar Quraisy di Makkah.

Sahabat Ustman dipilih karena ia berasal dari keluarga yang sangat berpengaruh di Makkah. Kesepakatan kemudian dilaksanakan di tempat bernama Hudaibiyah dan ditandatanagani oleh Rasulullah dan para pembesar suku Quraisy.

Perjanjian ini merupakan hasil diplomasi Rasulullah kepada pembesar Quraisy agar kaum Muslimin dapat memasuki kota Makkah dan melaksanakan ibadah Haji dengan aman.

Kesepakatan Hudaibiyah tidak hanya memberi jalan umat Muslim untuk melaksanakan ibadah Haji, tapi juga berdampak besar besar bagi penyebaran agama Islam tanpa harus melakukan kekerasan.

Hal tersebut karena Muslimin berpeluang untuk memperluas agama Islam bukan hanya di seputar kota Madinah tapi juga ke wilayah lain seperti kota Makkah tanpa perlu mengalami ancaman teror dari kelompok paganis Quraisy.

Perjanjian Hudaibiyah merupakan salah satu Uswah atau keteladanan yang ditunjukan oleh Rasulullah dalam bidang diplomasi untuk upaya resolusi konflik di mana beliau dalam bernegosiasi mengedepankan etika serta nilai-nilai mulia yang terdapat dalam Al-Qur’an.


Referensi

Husin, G. I. (2017). “Pemikiran Tentang Sistem dan Kelembagaan Pendidikan Islam di Masa Rasulullah Pada Periode Mekkah dan Periode Madinah” dalam Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan. Vol. 11, No. 24.

Ifendi, M. (2020). “Masa Pembinaan Pendidikan Islam: Telaah Kritis Pendidikan Rasulullah SAW Pada Periode Makkah” dalam  Jurnal Al-Rabwah, Vol. 14, No. 01.

Rustandi, R., & Sahidin, S. (2019). “Analisis Historis Manajemen Dakwah Rosulullah Saw dalam Piagam Madinah” dalam Jurnal Tamaddun: Jurnal Sejarah Dan Kebudayaan Islam, Vol. 7, No. 2.

Baca juga artikel menarik lainnya!

Hubungan Internasional: Launching Buku Perdana ”Review Globalization on Perspective Islam”

Mengenal Peran UNESCO Dalam Mengatasi Buta Aksara

Semarak Festifal Diplomasi Budaya Reinforcement 2.0: Uji Pengetahuan Mahasiswi UNIDA Gontor Mantingan

(1) Comment

  • Ziyad Safirul Auliya September 21, 2021 @ 4:39 am

    Masyaallah. Rasulullah adalah panutan kita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *