Membaca Rusia lewat ‘Teori Peradaban Rusia’

Teori Peradaban Rusia atau Russian Civilizational Theory adalah salah satu teori dalam keilmuan Hubungan Internasional (HI) yang dicetuskan oleh akademisi Rusia Andrey P. Tsygankov.

Andrei Pavlovich Tsygankov, Profesor Ilmu Hubungan Internasional kelahiran Rusia

Pasca berakhirnya Perang Dingin yang ditandai dengan runtuhnya rezim komunis Uni Soviet, akademisi Rusia berupaya membuat formula baru dalam melihat eksistensi Rusia dan implikasinya dalam hubungan internasional.

Lepasnya belenggu Marxisme-Leninisme dalam lingkungan akademis mendorong akademisi Rusia membangun pemikiran alternatif di berbagai disiplin ilmu yang salah satunya adalah HI.

Mereka tidak hanya merekonstruksi pemikiran HI Rusia era Marxisme-Leninisme tapi juga pemikiran yang lebih dulu berkembang di dunia Barat. Meski dalam hal ini belum ada kesepakatan sarjana Rusia mengenai titik perbedaan yang jelas antara corak HI Barat dan Rusia, namun mereka telah berupaya membangun teori HI Rusia yang memiliki kekhasan sendiri dibanding dengan teori Barat.

Asumsi Teori Peradaban Rusia

Teori ini membahas masalah identitas Rusia lalu dampaknya bagi tatanan global. Persepsi Rusia terhadap dirirnya sendiri mengalami inkonsistensi. Dalam hal ini Rusia bisa diibaratkan sebagai pendulum yang terus mengayun dari timur ke barat.

Suatu saat ia menganggap dirinya sebagai bagian dari Eropa. Tapi di saat yang lain, Rusia lebih senang tampil sebagai bagian dari Asia.

Andrei Tsygankov kemudian memandang Rusia memiliki tiga identitas yaitu “Westernisme”, “Statisme”, dan “Sivilisationalisme”.

Penganut Westernisme atau Westenizer berasumsi bahwa Barat adalah peradaban paling ideal dan Rusia dalam hal ini adalah anggota bagian dari peradaban tersebut. Mereka mengambil nilai-nilai Barat untuk dimasukan ke dalam ide politik Rusia. Contohnya adalah Mikhael Gorbachev yang menekankan pentingnya keluar dari belenggu Stalinisme menjadi menjadi demokrasi versi Sosialisme.

Sedangkan Statisme menekankan posisi Rusia sebagai entitas independen. Penganut identitas ini yakin bahwa ancaman bisa datang dari mana saja, baik itu dari Barat maupun Timur. Mereka belajar dari pengalaman kekalahan Rusia melawan bangsa Mongol dan Jepang. Statisme membangun rasa tidak aman yang kompleks dan menekankan pada keamanan nasionalnya.

Sebagai contoh dari eksisnya identitas ini adalah pemimpin Rusia modern seperti Vladmir Putin yang menjadikan kekuatan sekaligus kebesaran negaranya sebagai orientasi utama dalam politik luar negerinya.

Integrasi kembali wilayah bekas kekuasaah Uni Soviet dan manuver politik untuk membendung kekuasaan negara adidaya yang menggurita (Amerika Serikat) juga dianggap sebagai agenda yang sangat penting.

Beberapa sarjana menjuluki penganut identitas Statisme sebagai Neo_Eurasianist sebagai petunjuk bahwa mereka mengharapkan kembalinya Rusia menjadi entitas dominan di wilayah Eurasia.

Berbeda dengan Statisme yang fokus pada aspek ekonomi dan keamanan, Sivilisationalisme lebih condok pada aspek budaya.

Tradisi ini menegaskan bahwa nilai-nilai budaya Rusia berbeda dengan Barat. Kaum Civilizationalist memandang peradaban Rusia lebih kuat dibanding peradaban Barat yang keropos. Meskipun begitu, beberapa memiliki aspirasi bahwa Rusia sesekali perlu melakukan kerjasama terbatas dengan dunia Barat. Namun, ada juga yang tegas menolak aspirasi itu karena memandang budaya Rusia sangat khas dibanding budaya Barat dan Asia.

Perdebatan HI Rusia dan Barat

Runtuhnya Uni Soviet beserta memudarnya hegemoni ideologi Marxisme-Leninisme membuat kajian HI di Rusia menjadi lebih luwes. Sarjana Rusia tidak hanya membangun fondasi baru keilmuan HI bukan hanya yang berkembang sebelumnya di Uni Soviet, namun juga HI yang memang awalnya hadir dari tradisi intelektual Barat.

Ada beberapa konsep baru yang lahir dari wacana keilmuan HI Rusia seperti geopolitics of cooperation, multi-vector foreign policy, dan lain sebagainya.

Namun tradisi Rusia pada hakikatnya tidak terlepas dari ide-ide HI Barat. Misalnya adalah identitas Statisme yang kuat dipengaruhi oleh asumsi-asumsi teori realisme. Begitu juga Sivilisationalisme yang mengadopsi pemikiran konstruktivisme.

Referensi:

Tsygankov, A. P. (2008). Self and Other in International Relations Theory: Learning from Russian Civilizational Debates. International Studies Review, Vol. 10, No. 4, (762–775).

Bakry, U. S. (2017). Perspektif Rusia tentang Hubungan Internasional Pasca Perang Dingin. Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional, Vol. 13, No. 1, (75-89).

Rosyidin, M. (2020). Teori Hubungan Internasional: Dari Perspektif Klasik Sampai Non-Barat. Depok: Rajagrafindo.

Baca tulisan menarik lainnya!

Webinar Nasional IRC 2022: Menelaah Bersama Peluang dan Tantangan OKI dalam Dunia Diplomasi Organisasi Islam Internasional

Studium Generale: Permasalahan Perbatasan Indonesia (Diplomasi dan Keamanan)

Public Discussion on China’s Politic and Culture

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *