Kepemimpinan Dalam Filsafat Politik Menurut Islam (Al-Farabi) dan Ajaran Hindu

Abstract

While the concept of a democratic state has been adopted by many countries over the centuries, the concept of a democratic state seems to be the ideal state concept for many countries that implement it. In fact, the democratic system itself has many problems. Regardless of the quality of the candidate for leadership, the democratic system that determines the majority of votes to determine the leader is one of the weak points of the democratic system. The ideal country is a country that develops a universal sense of humanity, is not limited to certain ethnic groups and nations, submits itself only to Allah SWT, and does not submit to others. In this article, the author interprets Farabi’s works which are directly related to his political thought and other complementary works written by political thinkers. A leader is a person whose job is to guide and lead the people he leads, the leader has a very important role in leading the community he leads. A good leader is a leader who can fulfill all his duties and responsibilities as a leader and can lead the community he leads. This paper will review Islamic leadership according to Al-Farabi and Leadership in Hinduism.

Keywords: Al-Farabi, Hindu, Leadership.

Abstrak

Sementara konsep negara demokrasi telah diadopsi oleh banyak negara selama berabad-abad, konsep negara demokrasi tampaknya menjadi konsep negara yang ideal bagi banyak negara yang menerapkannya. Padahal, sistem demokrasi itu sendiri memiliki banyak masalah. Terlepas dari kualitas calon pemimpin, sistem demokrasi yang menentukan suara terbanyak untuk menentukan pemimpin merupakan salah satu titik lemah sistem demokrasi. Negara ideal adalah negara yang mengembangkan rasa kemanusiaan yang universal, tidak terbatas pada suku dan bangsa tertentu, berserah diri hanya kepada Allah SWT, dan tidak tunduk kepada yang lain. Dalam artikel ini, penulis menafsirkan karya-karya Farabi yang berkaitan langsung dengan pemikiran politiknya dan karya-karya pelengkap lainnya yang ditulis oleh para ahli pemikiran politik. Seorang pemimpin adalah orang yang tugasnya membimbing dan memimpin orang-orang yang dipimpinnya, pemimpin memiliki peran yang sangat penting dalam memimpin masyarakat yang dipimpinnya. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang dapat menunaikan segala tugas dan tanggung jawabnya sebagai pemimpin serta dapat memimpin masyarakat yang dipimpinnya. Tulisan ini akan mengulas kepemimpinan Islam menurut Al-Farabi dan Kepemimpinan dalam agama Hindu.

Kata Kunci: Al-Farabi, Hindu, Kepemimpinan

Prolog

Konsep negara demokrasi menjadi sebuah konsep yang di dengungkan oleh banyak negara selama beberapa abad terakhir ini, konsep negara demokrasi seakan-akan menjadi sebuah konsep negara yang sangat ideal bagi banyak negara yang menerapkannya, Sedang pada kenyataannya, banyak problematika yang terdapat dalam sistem demokrasi itu sendiri, sistem demokrasi yang menentukan suara terbanyak dalam penentuan seorang pemimpin tanpa melihat kualitas calon pemimpin menjadi salah satu titik kelemahan dalam sistem demokrasi. Penelitian ini akan membahas bagaimana konsep Negara ideal dalam pemikiran al-Farabi. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan, Metode yang digunakan dalam penelitian ini metode deskriptif analisis dan bersifat kualitatif. Al-Farabi mengemukakan teori al-Madīnah al-Fāḍilah untuk mengharmonikan antara agama dan filsafat. Konsep kenegaraan yang terdapat dalam teori al-Farabi ini banyak mencontoh bentuk dan hakikat kepimpinan Rasullullah Saw sebagai seorang Rasul dan khalifah. Disamping itu juga, Konsep negara ideal dalam gagasanya dipengaruhi oleh pemikiran Plato dan juga Aristoteles, khususnya gagasan tentang manusia sebagai makhluk sosial, selain itu juga al-Farabi juga dipengaruhi banyaknya peristiwa sosial politik pada masa khalifah Abbasyiah. Pertentangan politik, pemberontakan, stabilitas politik dan keamanan yang tidak terjamin menjadi faktor utama gagasan tersebut muncul (Said, 2019).

Al-Farabi yang merupakan ahli filsafat Islam mengemukakan teori al-Madīnah al-Fāḍilah untuk mengharmonikan antara agama dan filsafat. Konsep kenegaraan yang terdapat dalam teori al-Farabi ini banyak mencontoh bentuk dan hakikat kepimpinan Rasullullah Saw sebagai seorang Rasul dan khalifah yang agung dimuka bumi ini. Disamping itu juga pemikiran al-Farabi tentang negara utama tersebut banyak deipengaruhi oleh filosof yunani, di antaranya pemikrian Plato dan Aristoteles. Ini bisa terlihat seperti dalam pembagian tiga macam masyarakat sempurna dalam gagasan al-Farabi, yaitu masyarakat sempurna besar, sedang dan kecil. sebagaimana juga sama dengan pendapat kedua filosof dari yunani Plato dan Aristoteles, bahwa masyarakat sempurna kecil merupakan gambaran negara yang ideal (Said, 2019).

Konsep politik Alfarabi merupakan derivasi dari perpaduan antara unsur Platonik, Aristotelian, dan konsep Islam. Negara ideal adalah negara yang mengelaborasi rasa kemanusiaan secara universal, tidak terbatas pada suku dan bangsa tertentu, melaksanakan ketundukan hanya kepada Tuhan, tidak kepada yang lain. Dalam tulisan ini, penulis menginterpretasi karya-karya Alfarabi yang berkaitan langsung dengan pemikiran politiknya, dan karya-karya pendukung lain yang ditulis oleh para pengkaji pemikiran politiknya. Dalam teori politiknya, Alfarabi menekankan bahwa tujuan utama bernegara adalah tercapainya kebahagiaan bagi warga negara. Dengan teori organik, Alfarabi menyatakan bahwa pemerintahan dalam negara itu seperti halnya sistem organisme tubuh manusia, di mana setiap unsur yang ada saling memperkuat untuk mencapai satu tujuan. Negara ideal bagi Alfarabi adalah negara yang bertujuan untuk kesejahteraan warganya, dan yang menjadi pimpinan utama adalah seorang filsuf yang memiliki sifat-sifat Nabi, berpengetahuan luas, dan dapat mengadakan hubungan dengan al ‘aql al fa’al melalui akal mustafad (Sukardi, 2017)

Dalam konsep kepemimpinan negara ideal Alfarabi, pimpinan negara utama adalah seorang filusuf yang memiliki sifat kenabian, dengan ahlak sebagai barometer kepemimpinannya. Karena dia dapat berhubungan dengan akal ke sepuluh. Teori ini dimaksudkan sebagai modifikasi dari teori Plato yang memajukan raja filsuf (king of philosopher) sebagai pimpinan utama di negara idealnya. Pimpinan negara utama berkewajiban mengajari, mengarahkan, dan membina warga masyarakat menuju kepada kebahagiaan sejati sebagai tujuan negara, baik secara persuasif maupun secara paksa. Adapun konsep kepemimpinan Alfarabi, secara umum bermuara kepada pengenalan manusia kepada Allah (Tuhan) dengan emanasi sebagai sarananya. Sedangkan pemikiran politiknya tentang Almadinah Aljama’iyah yang daripadanya dimungkinkan dapat muncul konsep pemerintahan demokratis dalam sistem pemerintahan modern, bisa dijadikan argumen terhadap realitas dan fakta politik untuk mendapatkan ide tentang kesempurnaan tujuan berpolitik yang ideal (Sukardi, 2017)

Pemimpin adalah orang yang bertugas untuk membimbing dan mengarahkan orang-orang yang dipimpinnya, seorang pemimpin memiliki peran yang sangat tugas berat dalam mengarahkan masyarakat yang dipimpinnya. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu melaksanakan segala tugas dan kewajiban sebagai pemimpin serta mampu mengarahkan masyarakat yang dipimpinnya. Di Agama Hindu sendiri memiliki tujuan kepemimpinan Hindu yang bertujuan untuk membentuk masyarakat yang baik, kuat, bersih, dan kepemimpinan negara yang berwibawa dan fungsi kepemimpinan Hindu yang terdiri dari fungsi sebagai faktor motivasi, sebagai faktor kreatif, sebagai faktor integratif, sebagai sublimatif atau transformatif faktor, dan sebagai faktor inspirasi. Kriteria kepemimpinan dalam agama Hindu adalah memiliki dasar prinsip yang menjadi pedoman dalam memimpin (Hemamalini).

Berdasarkan tinjauan terminologis, etimolis dan semantik serta berdasar kutipan-kutipan terjemahan mantra Veda dan terjemahan sloka-sloka kitab Arthasastra maka dapat dirumuskan fungsi-fungsi kepemimpinan dalam Hindu atas dua jenis fungsi, yaitu:

a. Melindungi masyarakat, memberikan rasa aman, bertanggung jawab serta memberikan bimbingan kepada warganya untuk turut mewujudkan rasa aman dan tentram dikalangan mereka (fungsi security).

b. Mewujudkan kemakmuran bersama-sama anggota masyarakat untuk mewujudkan kesejahtraan, kemakmuran dan melepaskan pederitaan masyarakat lahir dan batin/fungsi prosperity (Hemamalini).

Epilog

            Bagaimanapun juga, sikap kepemimpinan dalam Islam menurut Al-Farabi dan dalam Hindu mengutamakan akhlak pemimpin yang membawa rakyatnya pada kebenaran untuk meraih kesejahteraan. Lebih lanjut, kepemimpinan ideal dalam Islam menurut Al-Farabi ialah kecakapan pemimpin dengan memiliki sifat-sifat Nabi; berpengetahuan luas, dan dapat mengadakan hubungan dengan al ‘aql al fa’al melalui akal mustafad.

Bibliography

Hemamalini, K. (n.d.). Nilai-Nilai Kepemimpinan Dalam Perspektif Ajaran Hindu. Dharma Duta, 1-13.

Said, A. (2019). Filsafat Politik Al-Farabi. Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy, 63-78.

Sukardi, I. (2017). Negara dan Kepemimpinan Dalam Pemikiran Al-Farabi. Al-A’raf, 283-306.

Leave a Reply

Your email address will not be published.