Kajian HI Islam Berseri #2: ISLAM IN THE WEST

Kajian Hubungan Internasional berseri #2 merupakan sebuah program rutin yang diadakan oleh program studi Hubungan Internasional (HI) setiap bulannya. Awalnya program ini hanya diadakan untuk memenuhi salah satu mata kuliah HI. Akan tetapi, kami menyadari pentingnya kajian-kajian seputar keislaman. Program melibatkan seluruh mahasiswa prodi HI dan mahasiswa lain dari berbagai program studi di UNIDA Gontor kampus putri maupun putra. Acara ini dilaksanakan, Selasa (02/03/21) yang dimulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 11.00 WIB. Kajian HI berseri #2 ini bertujuan untuk menambah wawasan dan pemahaman para mahasiswa dalam memahami arti islam itu sendiri. Dalam kesempatan ini Al-Ustadz Dr..Muhammad Latief selaku Dekan Fakultas Humaniora UNIDA Gontor. Juga Al-Ustadz Dr. L.Zulkifli Mahadli selaku Rektor Universitas Cordova berkesempatan menjadi narasumber.

“Dengan mengikuti kajian beseri #2 ini diharapkan mahasiswa Hubungan Internasional menambah khazanah keilmuan serta dapat memetik berbagai pelajaran yang akan di paparkan oleh kedua narasumber”. Ujar Al-Ustadz Fadhlan Nur Hakiem selaku dosen sekaligus Kaprodi HI Universitas Darussalam Gontor dalam memberikan sambutan.

Dr.Muhammad Latief : Islamophobia

Pada kesempatan ini Al-Ustadz Dr.Muhammad Latief memaparkan materi yang berkaitan dengan IslamphobiaPhobia itu sendiri berarti ketakutan atau kekhawatiran. Kekhawatiran ini dialami apabila seseorang menghadapi objek atau situasi yang ditakuti atau dalam antisipasi akan menghadapi kondisi tersebut. Islamphobia merupakan istilah baru yang muncul pada tahun 1990-an. Tetapi mulai populer sejak peristiwa WTC (World Trade Center) 11 September 2001 meskipun hakikatnya Islamphobia sudah ada sejak Islam muncul. Selama Islam masih berpijak dimuka bumi ini kita tidak dapat menghindari fenomena IslamopobhiaIslamphobia juga muncul karena ada rasa kekhawatiran dan ketakutan terhadap umat muslim. Menurut Runnymede Trust 1997, mengartikan Islamophobia sebagai rasa takut atau benci terhadap Islam.

Inggris berasumsi bahwa Islam merupakan ancaman domestic juga kancah internasional. Islam dikatakan sebagai pengganti kekuatan komunis ataupun Nazi yang mengandung gambaran tentang invasi dan infiltrasi. Hal ini merujuk pada kebencian dan ketakutan terhadap Islam dan berlanjut pada ketakutan serta rasa tidak suka kepada sebagian besar muslim. Kebencian ini terus berlangsung di beberapa negara barat dan bahkan menjadi budaya di beberapa negara. Dua puluh tahun terakhir ini, rasa kebencian jelas terlihat dan lebih berbahaya bagi umat Muslim. Hal tersebut juga mengacu pada praktik diskriminasi terhadap Muslim dengan memisahkan mereka dari kehidupan ekonomi, kegiatan sosial, dan kemasyarakatan bangsa. Sebagai contoh umat muslim tidak boleh mengumandangkan azan dan tidak boleh terjun ke politik. Islam juga sering kali dipandang sebagai agama yang berasal dari negara timur. Islam juga dinilai terbelakang, tidak menghormati wanita, melanggar hak azasi manusia (HAM) dan sederet atribut negatif lainnya. Berbeda dengan peradaban barat yang dianggap lebih maju, menghargai wanita dan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia.

Al-Ustadz Dr.L.Zulkifli Muhadli : Islam In the West

Al-Ustadz Dr. L.Zulkifli Muhadli sebagai pembicara ke dua berkesempatan memaparkan materi mengenai “Islam In The West”. Menurut Ibnu Abbas, Allah yang memberi pelindung apa yang ada di langit dan di bumi. Allah pemilik Timur dan Barat, maksudnya yaitu pemilik peradaban, pemikiran, ajaran-ajarannya dan islam berada di tengah-tengahnya. Islam yang akan memberikan cahaya bagi barat dan timur. Barat merupakan Negara-negara yang ada di Eropa Barat sedangkan Timur yaitu Negara-negara Asia. Awalnya islam lebih dominan berada di negeri barat. Akan tetapi sebagian masyarakat muslim berpindah ke eropa untuk kehidupan yang lebih baik. Feomena ini berdampak pada politik serta kehidupan sosial di Eropa. Semakin banyak imigran muslim mereka khawatir Kristen akan tersingkirkan. Islam masuk ke barat 1711 di Spanyol.

“Barat yang dimaksud bukan letak geografis melainkan alam pemikiran pandangan hidup sedangkan Islam disini berada ditengah. Islam tidak memihak Barat dan tidak memihak Timur karena islam sendiri merupakansebuah sistem. Dimana ciri Barat yang sangat dikenal dengan empiris dan rasionalitasnya. Orang-orang Barat tidak membaca al-Qur’an melainkan melihat muslim. Sehingga, umat muslim haruslah berprilaku dengan bercermin kepada Al-Qur’an dan Sunnah.” ujar moderator sembari menutup kajian berseri HI #2.