Game of Thrones dan Asumsi Dasar Teori Realisme Klasik

Game of Thrones merupakan serial TV terkenal yang diproduksi oleh David Benioff dan D. B. Weiss dan ditayangkan melalui kanal siaran HBO. Musim pertama serial ini tayang tahun 2011 dan diakhiri dengan musim kedelapan yang tayang tahun 2019.

Serial ini merupakan adaptasi dari kumpulan novel A Song of Ice and Fire yang ditulis oleh novelis Amerika Serikat yang terkenal bernama George R. R. Martin. Nama serial TV ini diambil dari judul buku yang pertama yaitu Game of Thrones yang terbit tahun 1996.

Game of Thrones dibintangi oleh aktor Hollywood terkenal seperti Emilia Clarke (Daenerys Targaryen), Peter Dinklage (Tyrion Lannister), Kit Harington (Jon Snow), Lena Headey (Cersei Lannister), dan Sophie Turner (Sansa Stark).

Cerita dalam serial TV mengisahkan intrik politik di sebuah benua imaginer bernama Westeros atau juga dikenal sebagai The Seven Kingdoms. Benua ini terdiri dari tujuh kerajaan yaitu the North, Mountain and Vale, the Isles and the Rivers, the Rock, the Stormlands, the Reach, dan the Dorne dan masing-masing dikuasai oleh klan tertentu.

Beberapa Klan yang berkuasa di benua Westero

Beberapa klan diatas memperebutkan tahta tertinggi Westeros yang dinamakan the Iron Throne dan dari sini semua permasalahan dimulai.

Penampakan Iron Throne

Selain kita akan disuguhkan dengan cerita yang menegangkan dan penuh plot twist dalam serial ini, ada sisi lain yang dapat kita pahami sebagai mahasiswa apalagi yang sedang mengambil Ilmu Hubungan Internasional.

Di bangku kuliah kita mempelajari teori Realisme Klasik yang beberapa pemikirannya diadopsi dari filsafat politik klasik yang menekankan sifat dasar manusia yang negatif.

Ternyata beberapa asumsi dasar Realisme Klasik dapat kita temukan dalam serial TV ini.

Sistem Internasional Bersifat Anarki

Meskipun Iron Throne dipegang oleh keluarga Baratheon, tidak membuat klan-klan yang tinggal di Westeros dapat hidup dengan akur. Tidak ada hukum yang mengikat untuk membuat tatanan hidup klan-klan tersebut menadi damai.

Ini lah yang disebut sebagai anarkisme dalam Teori Realisme Klasik. Tidak ada entitas di atas negara yang kuat untuk menjaga stabilitas politik.

Satu-satunya jalan adalah adanya satu kekuatan adidaya yang ditakuti sehingga menicptakan perdamaian negatif. Kekuatan adidaya ini sebelumnya dipegang oleh keluaga Targaryen yang memelihara naga sebagai senata pemusnah masal.

Namun dengan terbunuhnya kepala klan Targaryen yaitu Mad King menyebabkan keadaan di Westeros semakin tidak terprediksi.

Negara Merupakan Aktor Utama

Dalam serial Game of Thrones, semua keputusan ditentukan oleh kepala klan atau disebut Lord. Beberapa Lord juga berperan sebagai Raja dan membuat kebijakan seperti pembentukan aliansi dengan negara lain, program yang sifatnya militeristik, dan ekonomi.

Sejalan dengan Teori Realisme, aktor non-negara cenderung dikesampingkan. Aktor non-negara dipandang tidak terlalu memiliki pengaruh dalam dinamika hubungan internasional.

Negara Adalah Aktor Tunggal yang Rasional

Masing-masing klan berperang satu sama lain tidak lain hanya untuk mengejar kebutuhan pribadinya masing-masing. Seperti yang dierlihatkan oleh keluarga Stark yang mendklarasikan perang dengan klan Lannister dan Baratheon karena dendam pribadi.

Robb Stark berencana menyerang KIng’s Landing setelah ayahnya dibunuh oleh klan Lannister dan Baratheon

Hal serupa juga dierlihatkan oleh klan Targeryen yang berusaha menguasai Kota King’s Landing karena mengklaim bahwa penguasa asli Westeros adalah mereka.

Dari sini kita dapat melihat bahwa aktor-aktor tersebut hanya menekankan ada egoisme dalam menentukan keputusan besar. Mereka berlomba dalam meningkatkan kekuatan untuk mencapai kepentingan mereka.

Hal ini juga yang dijelaskan oleh Realisme klasik sebagai Keunggulan Relatif atau Relative Advantage. Negara cenderung mengembangkan kekuatan militer sebesar mungkin untuk memperbesar pengaruh mereka dalam hubungan internasional dan mengesampingkan faktor lain.

Keberlangsungan Hidup Sebagai Kepentingan Nasional

Menurut Realisme Klasik, Keberlangsungan Hidup atau survival merupakan permasalahan tiap negara.

Tiap-tiap klan dalam Game of Thrones mengembangkan kekuatan mereka agar dapat selamat jika ada ancaman dari klan lain.

Hal ini kemudian melahirkan suatu kondisi yang mana oleh kaum Realis disebut sebagai Dilema Keamanan atau Security Dilemma. Upaya dari suatu kerajaan untuk meningkatkan kekuatannya akan dianggap rivalnya sebagai ancaman.

Faktor ini lah yang mendorong taip aktor untuk menjadi kekuatan adidaya di semenjanung Westeros.

Ternyata selain disuguhkan dengan tontonan yang menghibur, banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari serial TV ini.

Melihat kesuksesan Game of Thrones, HBO menggarap serial baru berudul House of Dragon yang mengambil latar waktu 172 tahun sebelum Game of Thrones. Jadi apakah kalian penasaran dengan Game of Thrones atau House of Dragon setelah membaca artikel ini? Apabila iya maka selamat menonton!

Jangan lupa untuk membaca artikel menarik kami lainnya!

Bantu Afghanistan, UNHCR Bangun 2.300 Rumah Anti-Gempa

Aliansi Teh Susu: dari Kuliner ke Simbol Aktivisme

Kepemimpinan Dalam Filsafat Politik Menurut Islam (Al-Farabi) dan Ajaran Hindu

Lima Drama Korea yang Wajib Ditonton Mahasiswa Hubungan Internasional

(1) Comment

  • Dika A September 1, 2022 @ 3:54 am

    I like IT, usefull

Leave a Reply

Your email address will not be published.