Menakar Sebab Eskalasi Konflik AS-Iran JCPOA

Pada tahun 2015, Iran bersama dengan negara-negara pemegang Veto (Amerika Serikat, Cina, Russia, Prancis, dan Inggris) dan ditambah dengan Jerman (P5+1), menyepakati kesepakatan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). Kesepakatan tersebut merupakan sebuah perjanjian yang mengatur mengenai pembatasan program nuklir Iran. Pada tahun 2018, Amerika Serikat memutuskan untuk keluar dari kesepakatan tersebut. Setelah mundur dari kesepakatan, Amerika Serikat menambah sanksi ekonomi terhadap Iran. Mundurnya Amerika Serikat dari kesepakatan, dan penambahan sanksi ekonomi, menjadi penanda terjadinya eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. 

Konsep Proses Eskalasi Konflik menurut Louis Krisberg dalam buku yang berjudul “Constructive Conflicts”,[1]menyatakan bahwa dimensi pendekatan konflik politik disebabkan oleh perebutan kekuasaan dan perebutan sumber daya yang langka. Hal ini kemudian dimanifestasikan dalam dua dimensi konflik yaitu, Koersif dan Non-Koersif. Perbedaan antara keduanya terlihat pada parameter penjatuhan sanksi terhadap pesaingnya. Umumnya, dimensi konflik koersif terjadi ketika membuat ancaman yang lebih keras, dan ukuran standarnya dinilai dari aksi tindakan secara langsung. Sebaliknya, dimensi konflik non-koersif bersifat bujukan tanpa kekerasan, seperti pencabutan perjanjian kerja sama, dan penjatuhan sanksi ekonomi. Salah satu contoh kasus konflik non-koersif adalah keluarnya Amerika Serikat dari perjanjian JCPOA (Joint Comprehensive Plan of Action), serta penjatuhan sanksi ekonomi Amerika Serikat terhadap Iran pada tahun 2018. 

JCPOA

JCPOA merupakan perjanjian internasional yang menukar ambisi proyek nuklir Iran dengan keringanan sanksi internasional. Sanksi internasional yang dialami oleh Iran sebelum perjanjian JCPOA menyebabkan ekspor minyak Iran berkurang 1 juta barel per hari, Iran juga kehilangan pendapatan lebih dari 160 miliar USD sejak tahun 2012.[2] Pada 14 Juli 2015, negara-negara veto (Amerika Serikat, Cina, Inggris, Prancis, dan Rusia) ditambah negara Jerman sepakat mencabut sanksi yang diberlakukan terhadap Iran. Iran menyetujui perjanjian tersebut dengan imbalan rela dikekang kemampuannya dalam pembuatan bom nuklir. Sebelumnya, Iran mempunyai sekitar 20.000 alat sentrifugal yang digunakan untuk memperkaya uranium, namun berdasarkan perjanjian tersebut Iran hanya mampu memproyeksikan 6.104 alat sentrifugal di dua lokasi tertentu.[3]

            Pada 2018, Presiden Donald Trump menarik kesepakatan JCPOA karena dianggap tidak sesuai dengan kepentingan AS di Timur Tengah. Donald Trump juga menganggap rezim Iran mendukung penuh aksi terorisme dan kekacauan di Timur Tengah. Alasan lainnya, Trump tidak ingin dalam perjanjian tersebut adanya pembatasan pengayaan Uranium dalam Sentrifugal dan masa kadaluwarsanya. Tindakan Presiden AS demikian telah melahirkan eskalasi konflik baru antara AS dengan Iran.

Mengapa Timbul Eskalasi Konflik antara Amerika Serikat dan Iran ?

            Eskalasi Konflik AS-Iran JCPOA. Tahapan Eskalasi Konflik peristiwa di atas disebabkan oleh faktor Internal Change. Internal Change dapat diartikan sebagai perubahan sikap individu dalam suatu organisasi, kesepakatan, atau perjanjian. Analoginya bisa dikatakan seperti ke-tidaksportif-an dalam suatu permainan olahraga. Perubahan ini tentunya dapat menyebabkan eskalasi konflik terhadap struktur organisasi akibat kekecewaan pihak terkait. Terdapat tiga unsur proses eskalasi dalam Internal Change(1) Social Psychological Process, (2) Calculation of Gain and Loses, (3) Organizational Developments.[4] Ketiga proses ini akan menguraikan sebab-sebab terjadinya eskalasi konflik antara AS dengan Iran.

Social Psychological Process

            Pertama (Social Psychological Process), Cognative Distance Theory memandang suatu negara akan cenderung mencari konsistensi dalam berkomitmen. Di sisi lain, sesuai realitanya negara akan mencari sesuatu yang sesuai dengan harapan mereka, dan meninggalkannya jika sudah saling bertentangan tujuannya (Selective Perception). Kedua indikasi perubahan faktor sosial yang saling bertentangan ini menyebabkan timbulnya eskalasi konflik. Senada dengan kasus AS-Iran, AS menunjukkan perubahan sikapnya di tengah perjanjian karena menganggap JCPOA sudah tidak sesuai dengan kepentingan AS. Sehingga, AS lebih selective perception mencari sesuatu yang sesuai harapan. 

Calculation of Gain and Loses

Kedua (Calculation of Gain and Loses), negara lebih memilih meningkatkan konflik karena dianggap akan lebih menguntungkan, daripada bertahan tetapi merugikan salah satu pihak. Sama halnya dengan permainan Prisoner Dilemma, seseorang terpaksa mengakui kesalahan temannya demi bebas dari penjara, daripada menyembunyikan fakta tetapi nantinya sama-sama dipenjara. Dalam kasus keluarnya Amerika dari JCPOA, AS lebih memilih konflik dengan Iran dalam bentuk menjatuhkan sanksi ekonomi kepada Iran.

organizational Development

Ketiga (organizational Development), menurut Louis perkembangan organisasi pada bagian Raised Expectation/poin ketiga dapat menimbulkan kecenderungan pada strategi konstruktif dan akan berujung pada konflik destruktif. AS sebagai negara veto berambisi untuk menjaga perdamaian dunia, salah satu caranya adalah dengan upaya pembatasan proyek uranium dan nuklir. Sebelum perjanjian JCPOA, Iran mendapatkan sanksi ekonomi dari AS dan Inggris akibat proyek uranium yang dijalankannya, hal ini memicu eskalasi konflik. Pada tahun 2015 Iran membuat perjanjian kepada negara-negara veto untuk menghentikan sanksi ekonominya dengan imbalan mengurangi proyek industri uranium. Namun, dengan tingginya keyakinan AS atas komitmen dan tujuan yang ingin dicapai, karenanya Trump menjadi sensitif atas perjanjian JCPOA. Akhirnya timbul eskalasi konflik dengan Iran akibat anggapannya bahwa Iran membantu aksi terorisme. 

Referensi;

Kriesberg, Louis, and Bruce W. Dayton. K – Constructive Conflicts: From Conflicts to Resolution, 2011.


[1] Louis Kriesberg and Bruce W. Dayton, K – Constructive Conflicts: From Conflicts to Resolution, 2011.

[2] https://www.cnnindonesia.com/internasional/20210219133721-134-608345/as-buka-pintu-perundingan-nuklir-usai-cabut-sanksi-iran

[3] https://www.aljazeera.com/economy/2019/5/8/understanding-the-iran-deal-what-why-and-the-next-steps

[4] Kriesberg and Dayton, K – Constructive Conflicts: From Conflicts to Resolution.

Baca Juga :

Selamat Prodi Manajemen Unida atas Penghargaan Website Prodi Terbaik No 1

Peradaban Barat: Hakikat dan Tantangan

Mengenal Lebih Dekat Ilmu Kimia Dengan Praktikum Kimia Farmasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *