Diplomasi Islam

Halo Sobat Dunia…

Mata Kuliah diplomasi Islam merupakan salah satu mata kuliah wajib yang diambil mahasiswa/i Hubungan Internasional Universitas Darussalam Gontor pada semster 5. Dalam mata kuliah ini para mahasiswa tidak hanya mempelajari tentang konsep diplomasi, tapi tentang bagaimana praktek diplomasi islam pada era Rasulullah dan para sahabat. Dalam mata kuliah ini seluruh mahasiswa diarahkan untuk mempelajari tentang praktek diplomasi pada zaman Rasulullah berdasarkan kelompok yang telah ditentukan.

Untuk itu, mari kita pahami mengenai diplomasi Islam…

Dalam hubungan internasional terdapat pembahasan mengenai diplomasi, sehubungan dengan visi dan misi UNIDA yang tidak terlepas dari Islamisasi maka diadakan mata kuliah Diplomasi Islam. Dalam mata kuliah ini membahas definisi diplomasi Islam, sumber, dan juga prakteknya. Berikut penjabaran materinya.

A.    Definisi

Kajian tentang diplomasi berkembang pesat pasca konvensi Wina tahun 1961 yang menjelaskan bahwa tujuan-tujuan hak-hak istimewa dan kekebalan hukum tidaklah untuk keuntungan individu akan tetapi untuk menjamin pelaksanaan yang efisien fungsi-fungsi misi-misi diplomatik dalam mewakili Negara-Negara.[1] Untuk mengetahui definisi diplomasi Islam, kita harus tahu terlebih dahulu mengenai definisi masing-masing kata. Menurut KBBI, terdapat beberapa definisi diplomasi, yaitu sebagai berikut:

1.      Diplomasi merupakan urusan atau penyelenggaraan hubungan resmi antara satu negara dengan negara lain

2.      Urusan kepentingan sebuah negara dengan negara lain melalui perantara wakil-wakilnya

3.      Kecakapan hubungan antara satu negara dengan negara lain

4.      Kemampuan atau kecakapan untuk menilih kata atau strategi yang tepat untuk sebuah negara yang besar.

Selanjutnya definisi Islam. Islam adalah agama yang dibawa oleh Rasulullah dan berpedoman pada kitab suci Al-Qur’an yang diturunkan melalui wahyu Allah SWT dengan perantara malaikat Jibril. Maka Diplomasi Islam dapat didefinisikan sebagai hubungan resmi antara satu negara dengan negara lain yang bersumber dari al-Qur’an dengan contoh-contoh yang dilakukan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Diplomasi Islam bersumber pada al-Qur’an, Hadis, dan tarikh dengan Rasulullah sebagai panutan dalam prakteknya.

Fungsi diplomasi: reporting, representating, negotiating, protecting, and promoting. Tujuan dari diplomasi adalah sebagai berikut:

1.      Memperoleh informasi sebagai bahan untuk dijadikan keputusan untuk mempertimbangkan kebijakan.

2.      Memelihara hubungan baik dan kerjasama antara kedua belah pihak

3.      Meningkatkan kesejahteraan kedua negara yang saling bekerjasama

4.      Pembagian atau keseimbangan keuntungan

Untuk mengimplementasikan nilai-nilai Islam dalam praktek diplomasi, diplomat muslim sebaiknya memiliki karakter sebagai berikut:

a.       Senantiasa melaksanakan segala tugasnya dengan niat ibadah

b.      Senantiasa melaksanakan segala tugasnya dengan baik dan benar

c.       Senantiasa melaksanakan segala tugasnya sesuai syariat Islam.

Diplomat muslim juga seharusnya memiliki sifat seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah, yaitu: shidiq, Amanah, tabligh, dan fatanah.

B.     Praktek Diplomasi Islam

          Diplomasi Nabi Sulaiman terhadap Ratu Balqis dengan menunjukkan kebesaran Allah

          Diplomasi Nabi Ibrahim terhadap Raja Namrud dengan keberanian dan kecerdasannya.

          Diplomasi Nabi Musa dan Nabi Harun terhadap Raja Fir’aun. Nabi Harun sebagai juru bicara Nabi Musa.

          Diplomasi Nabi Muhammad di Mekkah yaitu mendamaikan suku-suku yang berebutan dalam peletakkan hajar aswad

          Diplomasi Nabi Muhammad di Madinah melalui Perjanjian Hudaibiyah, lalu malakukan fathu Makkah, dan Piagam Madinah.

          Diplomasi Abu Bakar As-Siddiq terhadap orang-orang murtad dan nabi-nabi palsu.

          Diplomasi Umar Bin Khattab dalam menaklukkan Palestina

          Diplomasi Utsman Bin Affan terhadap kaum Quraisy, yaitu sebagai utusan Nabi Muhammad dalam negosiasi perjanjian Hudaibiyah

          Diplomasi Ali Bin Abi Thalib dengan metode Tahkim agar tidak ada pertumpahan darah.

          Diplomasi Umar bin Abdul Aziz yang merupakan khalifah pada dinasti Umayah, yaitu dengan menerapkan siste daulah yang baik dengan pengelolaan administrasi keuangan, khalifah sebagai pusat utama, gubernur di setiap negara, dan terdapat hakim.

          Diplomasi Harun Ar-Rasyid yang merupakan khalifah pada dinasti abasiyah yaitu dengan mengirim surat ke Raja Romawi.

          Diplomasi Salahuddin Al-Ayyubi dengan menaklukkan Baitul Maqdis, menutup daulah Fatimiyah, membuat daulah Ayubiyah, dan menyatukan kuasa Islam.

          Diplomasi Ja’far bin Abi Thalib terhadap Raja Habasayah.

REFERENCES

Prayuda, R., & Sundari, R. (-). Diplomasi dan Power: Sebuah Kajian Analisis. Journal of Diplomacy and International Studies, 80-93.



[1] Prayuda, R., & Sundari, R. (-). Diplomasi dan Power: Sebuah Kajian Analisis. Journal of Diplomacy and International Studies, 80-93.