Aliansi Teh Susu: dari Kuliner ke Simbol Aktivisme

Nama Aliansi Teh Susu dan Awal Mulanya

Aliansi Teh Susu atau Milk Tea Alliance merupakan jejaring aktivis pendukung demokrasi yang bermula di kawasan Asia. Teh susu mengacu pada minuman umumnya ditemukan di antara tiga anggota pendiri pertama yaitu antara lain Hong Kong dan Thailand.

Selain itu dalam Milk Tea biasanya ada tambahan Boba, yaitu makanan yang terbuat dari tapioka yang berasal dari Taiwan.

Nama Aliansi Teh Susu bermula dari perdebatan yang terjadi di situs twitter ketika pada pertengahan 2020 salah satu akun anonim mengkritik perilaku keluarga kerajaan Thailand yang terkesan tidak memerhatikan nasib rakyat di masa pandemi.

Perang twit antara pendukung pemerintah dengan pihak oposisi meluas tidak hanya di dalam negeri, namun juga di luar Thailand. Golongan pro-demokrasi Hong Kong pada saat yang sama tengah melakukan perang twit dengan beberapa pengguna Twitter dari RRT (Republik Rakyat Tiongkok).

Warganet Thailand dan Hong Kong yang didukung oleh warganet Taiwan kemudian saling mendukung satu sama lain. Namun, berbeda dari insiden serupa di masa lalu, aliansi pengguna Twitter dari Thailand, Hong Kong, dan Taiwan muncul, melawan serangan, dan mengalahkan warganet Tiongkok melalui meme yang sangat ironis, jenaka, dan politis. 

Di bawah tagar #MilkTeaAlliance – dan juga di bawah tagar dalam bahasa Thai dan Mandarin: #ชานมข้นกว่าเลือด (teh susu lebih kental dari darah), #奶茶聯盟 (aliansi teh susu) – kumpulan warganet yang didominasi oleh anak muda tersebut mulai menyuarakan berbagai isu tabu seperti pertanyaan tentang kedaulatan Taiwan dan Hong Kong, proyek bendungan pembangkit listrik tenaga air China di sungai Mekong, dan penumpasan protes Tian’anmen tahun 1989.

Mereka bahkan secara terbuka mengkritik monarki Thailand dan pemerintah Thailand. Fenomena ini adalah salah satu akar dari gerakan demokratisasi Thailand, yang meningkat pesat pada Juli 2020, dan membuka pintu bagi diskusi kritis dan eksplisit tentang monarki untuk pertama kalinya sejak 1932.

From bbc.com

Tagar ini mendapat trending di Twitter selama beberapa pekan dan menarik beberapa media Internasional. Beberapa ahli menyebut gerakan ini sebagai aksi solidaritas regional.

Bahkan situs Twitter pada April 2021, Twitter membuat emoji untuk mendukung Milk Tea Alliance menyusul protes anti-Beijing di seluruh Hong Kong dan kudeta Myanmar 2021 dan menandai peringatan satu tahun Milk Tea Alliance.

Masyarakat yang Tergabung dalam Aliansi Teh Susu

Pada beberapa bulan berikutnya, Milk Tea Alliance berkembang dari meme anti-Tiongkok menjadi gerakan protes non-struktural yang mendorong perubahan di kawasan Asia.

Setelah konflik antara Tiongkok dan India pada tahun 2020, India juga telah dimasukkan dalam beberapa perumusan Aliansi dengan minuman masala chai sebagai varietas teh susu yang mewakili mereka.

Politisi di Taiwan dan India telah menyoroti keberadaan Aliansi Teh Susu termasuk duta Taiwan untuk AS Hsiao Bi-khim yang menggunakan tagar dalam tweet yang berterima kasih kepada orang India atas dukungan mereka. 

Meskipun tuntutan mereka mungkin berbeda, solidaritas antar gerakan telah terbangun selama berbulan-bulan. Secara singkat aliansi ini terdiri atas masyarakat pendirinya yaitu Thailand, Hong Kong, dan Taiwan.

Kemudian pasca kudeta Militer Myanmar dan konfrontasi RRT dan India yang menimbulkan korban dari masyarakat sipil menjadikan negara ini sebagai anggota aliansi solidaritas yang disimbolkan dengan minuman varian minuman teh susu masing-masing.

Gerakan yang berawal dari perang meme dan twit ini telah berkembang menjadi gerakan protes multinasional yang dinamis melawan otoritarianisme dan mendukung demokrasi.

Selain empat negara utama yang disebutkan, gerakan ini juga telah memiliki kehadiran yang signifikan di Korea Selatan, Filipina, India, Malaysia, Indonesia, Belarusia, dan Iran.

Para aktivis demokrasi Thailand dalam berbagai forum diskusi secara khas menarik kesejajaran antara otoritarianisme Cina dan pemerintah Thailand dan dengan demikian mengartikulasikan tuntutan umum untuk demokrasi.

Gerakan ini juga melampaui insiden asli yang terkait dengan kebijakan Satu-China atau One China Policy, dan mencakup masalah ekologi dan ekonomi serta masalah hak asasi manusia.

Perkembangan teknologi juga berperan besar dalam terbentuknya aliansi ini. Warganet yang umumnya terdiri dari anak muda secara massif menyerukan dn menyebarkan ide demokrasi, kebebasan dalam berpendapat, dan pentingnya perlindungan hak asasi manusia.

Fenomena ini juga menyanggah pendapat bahwa anak muda di era digital cenderung apatis terhadap permasalahan sosial dan politik. Namun sebaliknya, gerakan seperti ini didominasi oleh generasi muda yang terbiasa dan mahir dalam memanfaatkan teknologi.

Referensi:

Wongratanawin, W. S. (2020). The #MilkTeaAlliance: A New Transnational Pro-Democracy Movement Against Chinese-Centered Globalization? ASEAS 14(1).

Baca juga tulisan menarik lainnya!

Perbandingan Kontrak Sosial John Locke Dan Thomas Hobbes

Membaca Rusia lewat ‘Teori Peradaban Rusia

Kepemimpinan Dalam Filsafat Politik Menurut Islam (Al-Farabi) dan Ajaran Hindu

Leave a Reply

Your email address will not be published.