Aksi Kemanusiaan ICIC Ditinjau Melalui Konsep Adab al-Attas

Konsep Adab al-Attas

Konsep Adab al-Attas – Ilmu Hubungan Internasional merupakan suatu ilmu yang multidisipliner. Ilmu ini berjalan dinamis mengikuti perkembangan isu-isu global sejak awal terbentuknya konsep kebangsaan dengan memandang seluruh aspek yang relevan seperti politik, hukum, sosial, budaya, dan ekonomi. Berawal dari isu-isu yang telah terjadi, para pemikir mulai mencetuskan teori baru yang digunakan untuk menganalisa kejadian yang sama kedepannya. Keberagaman teori ini nampaknya mengadopsi ilmu-ilmu dari perspektif barat, yang secara selalu bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Sebagai tanggapan atas Ilmu HI perspektif barat, HI Islam muncul dalam bentuk metodologi yang berdasarkan Al-Qur’an dan Hukum Syari’at Islam. ditambah dengan praktek hubungan diplomatik yang sudah dilakukan oleh Rasulullah SAW hijrah dari Mekkah ke Madinah. 

Pergerakan dinamika isu hubungan internasional terus berjalan menembus regional negara kawasan tanpa mengikat dimensi waktu. Seiring berkembangnya zaman, suatu negara independen membutuhkan kerjasama dengan negara lainnya demi bertahan menghadapi tatanan internasional yang bersifat anarkis. Dari unsur ketergantungan tersebut maka diperlukan sebuah wadah untuk saling bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama. Wadah yang dimaksud adalah sebuah organisasi internasional. Organisasi internasional hingga kini tetap bertahan secara formal dan subtansial, karena dengan dalih bahwa suatu negara tidak bisa sendirian menghadapi tatanan internasional.

Setiap organisasi internasional tentunya memiliki tujuan sesuai kepentingan yang ingin dicapai. Tujuan tersebut tak lepas dari asas fundamental yang berfungsi sebagai rujukan dalam menjalankan gerakan secara operasional. Umumnya, asas fundamental tersebut berupa ideologi, dogma, doktrin, norma, dan lain sebagainya. Sebagai bentuk pedomannya, organisasi internasional menggunakan landasan idill untuk tindak operasional dan tolak ukur pencapaian dalam jangka panjang. 

Islamic Committee of the Interntional Crescent (ICIC)

Organisasi internasional memiliki peranannya masing-masing seperti pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan semua isu-isu sosial yang dihadapi oleh masyarakat. Salah satu contoh organisasi internasional yang bergerak di bidang keamanan adalah Islamic Committee of the Interntional Crescent (ICIC). ICIC ialah organisasi internasional dibawah naungan Organization of islamic Conference (OIC) yang bergerak atas dasar kemanusiaan. Perjuangan ICIC terhadap masalah kemanusiaan yang terjadi di dunia sangat aplikatif. Beberapa hasil pencapaiannya telah terbukti dengan program bantuan bela sungkawa terhadap masyarakat internasional yang mengalami krisis keamanan. Sebagai himpunan negara-negara mayoritas berpenduduk di dunia, para perwakilan negara telah bersatu berdasarkan satu tali persaudaraan yaitu “Ukhuwwah Islamiyyah”

ICIC ialah organisasi internasional dibawah naungan Organization of islamic Conference OIC yang bergerak atas dasar manusiawi. Beberapa prinsip dasarnya adalah sebagai berikut; Pertama, Harga Diri Kemanusiaan, ICIC akan menjunjung tinggi martabat kemanusiaan untuk hubungan manusia yang lebih baik. Kedua, Keadilan, ICIC bernggapan bahwa keadilan sosial adalah tujuan mulia. Ketiga, Kesetaraan, ICIC berupaya untuk menciptakan stabilitas manusiawi dan kesejahteraan. Keempat, Ketidakberpihakan, ICIC menekankan keadaan netralitas dalam berurusan dengan pihak-pihak yang berselisih demi membangun kebijaksanaan yang benar. Kelima, Kebebasan, dalam artian bekerja independent ketika melaksanakan tugas dalam perjanjian. Keenam, Perdamaian, adalah bentuk pemberhentian terhadap penderitaan dan kehancuran yang disebabkan oleh konflik bersenjata dan perang. Dari keenam prinsip dasar ICIC terdapat satu titik temu antara konsep adab Syed Muhammad Naquib al-Attas dengan landasan idill ICIC. Relevansinya tak lepas dari keyakinan asasi yang akan membentuk sistem kehidupan.

Worldview Islam

Teori Worldview Islam menerangkan bahwa sistem kehidupan di bentuk oleh keyakinan asasi dari tiap-tiap individu dalam suatu kelompok sosial. Berdasarkan satu keyakinan mutlak, sebuah pandangan hidup, prinsip, pencapaian, dan lain sebagainya akan terbentuk senada dengan keyakinan asasi yang dianut oleh seseorang. Apabila keyakinan asasi tersebut terkumpul menjadi satu regional secara masif, maka akan terciptanya satu sistem kehidupan yang paten. Sama halnya jika intensitas regional tersebut meluas hingga melintasi batas negara, yang terjadi adalah beberapa negara yang menganut keyakinan selaras dengan negara lainnya akan membetuk satu aliansi dengan dalih mencapai tujuan bersama hingga menciptakan satu ekosistem kehidupan yang sama. Itu adalah bagian kecil dari konsep terbentuknya organisasi internasional (Rudi 2009).

Teori Worldview Islam menurut Hamid Fahmy Zarkasyi (Mushlih, et al. 2019) adalah; bermula dari tauhid, kemudian dari tauhid tersebut membentuk keyakinan di dalam jiwa seorang muslim. Keyakinan asasi inilah yang akan menjadi landasan operasional atau bentuk tindakan yang bersifat arsitektonik. Hasil dari tiga tahapan di atas akan menjadi sebuah cara pandang seseorang atau visi yang bersangkutan dengan realitas kebenaran. Pada keyakinan asasi tersebut berubah menjadi asas perilaku manusia dalam bersosial. Akhirnya, keyakinan asasi tersebut akan menjadi sistem aturan yang lebih kompleks hingga membentuk sistem kehidupan di tingkat regional kawasan dan dapat mempengaruhi sistem tatanan internasional. semuanya akan berjalan secara sistematis jika keyakinan asasi diaplikasikan kepada masyarakat internasional, negara, dan organisasi internasional. 

Aplikasi teori Worldview Islam dapat dilihat dari segi mayoritas masyarakat yang terlibat dalam suatu kelompok, seperti negara, organisasi internasional atau institusi internasional. Dari worldview ini nantinya akan menciptakan suatu sistem kehidupan harmonis yang berbasis pada landasan hikmatis dan filosofis dalam memaknai pentingnya tatanan internasional yang Islami. Hal ini lah yang menggerakkan penulis kepada penelitian ini, dengan menggunakan teori islamisasi sebagai analisa landasan idill organiasi internasional dan upayanya dalam menangani masalah kemanusiaan.

Konsep Adab al-Attas

Definisi tentang adab telah dijelaskan oleh Syed Muhammad Naquib Al-Attas dalam bukunya “Risalah untuk kaum muslimin” (al-Attas 1979). Beliau menjelaskan bahwa makna adab lahir pengertian Islam yang bukan saja ditujukan kepada bangsa-bangsa pada zaman dahulu kala, tetapi harus dikenakan pada alam; (1) alam tabi’i, (2) alam ruhani, dan (3) alam ilmi. Dari ketiga asumsi dasar ini, maka kita dapat berspekulasi tentang definisi adab yaitu kelakuan yang harus diamalkan terhadap diri, dan yang berdasarkanpada ilmu, maka kelakuan itu bukan saja ditujukan kepada sesama insani, tapi juga harus kepada benda mati.

Setiap sesuatu dan seseorang memiliki hak yang meletakkannya pada keadaan yang sesuai bagi keperluannya, maka ilmulah yang membawanya kepada pengetahuan sehingga setara tentang hak yang mensifatkan sesuatu atau seseorang; 

  1. Apabila adab dirujukkan kepada sesama insan maka adab ditujukan kepada aspek kesusilaan akhlakiyah yang menuntut seseorang untuk terlibat dalam struktur sosial, umpamanya dalam keluarga, musyarakat, majlis syuro, bahkan keterlibatan sesorang atau sesuatu (negara) yang terlibat dalam organisasi internasional. Sama halnya dengan ICIC, perannya dalam aksi kemanusiaan di kancah internasional tak lepas dari tanggung jawab manusia terhadap manusia lainnya. 
  2. Apabila adab dirujukkan kepada alam ilmi maka ia bermaksud pada ketertiban budi yang menyesuaikan haknya kepada peringkat martabat yang mensifatkan ilmu. Umpamanya pengenalan serta pengakuan kepada ilmu bahwa ia merupakan ketertiban budi yang bermanifestasi kepada taraf keleluhuran serta nilai-nilai terencana dari esensi ilmu itu sendiri. Bermula pada penyesuaian pada martabat yang mensifatkan ilmu, pensifatan landasan idill ICIC akan menggunakan sudut pandang adab ilmi, karena bersifat gagasan tersurat nantinya akan mempermudah pembaca dalam menyimpulkan korelasi antara konsep adab terhadap hal-hal yang bersifat abstrak. (Husaini 2015)

Keyakinan asasi digambarkan dalam bentuk konsep adab Syed Muhammad Naquib al-Attas (al-Attas 1979), terbagi menjadi dua; yaitu Adab Ilmi dan Adab Akhlakiyah terhadap manusia. Keduanya diimplementasikan kepada landasan idill ICIC sebagai tujuan menjunjung tinggi hak-hak kemanusiaan. The Basic Priciples of ICIC yang berbasis pada Al-Qur’an dan Hukum Syari’at Islam. Terbentuknya The Basic Priciples of ICIC dan aksi kemanusiaan merupakan hasil dari implementasi konsep Adab Akhlakiyah. Hal ini dapat dibuktikan dengan keenam poin prinsip dasar ICIC yang berorientasi pada aspek kesusilaan akhlakiyah (mu’amalah ma’annas).

ICIC menggalakkan aksi kemanusiaan di kontestasi perpolitikan internasional. Segala bentuk bantuan dan resolusi konflik telah menggambarkan nilai-nilai ukhuwwah Islamiyah. Upaya dipomasi preventif dengan merangkul negara anggota di dalam forum juga berhasil dilakukan sehingga menghasilkan kegiatan berupa,

  • Proyek distribusi pangan dan seperangkat alat kesehatan di negara Republik Kosovo di bulan Ramadhan 1441 H
  • Buka puasa bersama di jalur gaza yang melibatkan Bahrain Humanitarian Alliance
  • Bantuan ICIC berupa 4000 keranjang makanan pokok dan alat kebersihan kepada pengungsi Rohingnya di Bangladesh pada tanggal 16 – 18 October 2018.
  • Diplomasi preventif ICIC dalam menangani kasus krisis pangan pengungsi Rohingnya di Tumbro Camp pada tanggal 12 Desember 2017.
  • Berkontribusi dalam membangun medical center di Islamic University di Uganda dan Niger.
  • Merealisasikan gagasan OIC Pusat mengenai bantuan terhadap pengungsi dan migran dalam bentuk guiding.

Dari beberapa aksi kemanusiaan yang digalakkan oleh ICIC merupakan bentuk nyata dari premis dasar teori Worldview Islam. Kemudian, teori ini dispesifikasikan oleh konsep adab Syed Muhammad Naquib al-Attas dan diimplementasikan kepada 6 prinsip dasar ICIC. Prinsip dasar tersebut bermakna landasan idill yang berfungsi sebagai landasan operasional sehingga terciptanya kerangka kerja konseptual ICIC yang sedemikian rupa.

Kesimpulan

Konsep adab Syed Muhammad Naquib al-Attas merupakan kritik atas permasalahan umat Islam pada saat ini. Beliau berpendapat bahwa masalah masalah umat islam terbagi menjadi dua yaitu eksternal dan internal. Pertama ialah pengaruh-pengaruh pola pikir barat yang memisahkan urusan agama dari perkara duniawi dan yang kedua adalah permasalahan dari umat islam itu sendiri yaitu hilangnya adab. Maka implementasi konsep adab Syed Muhammad Naquib al-Attas ini sebagai upaya untuk menanggulangi hilangnya adab seorang muslimin. Berawal dari mengubah stigma, paradigma, dan spekulasi dasar dalam memandang segala sesuatu, khususnya pembahasan landasan idill ICIC yang telah dijelaskan di bab sebelumnya.

Implementasi konsep adab dapat menentukan tindakan operasional suatu kelompok masyarakat bahkan kelompok negara yang terhimpun dalam organisasi internasional. Hal ini kemudian didukung oleh teori worldview Islam yang menyatakan bahwa sistem kehidupan Islami dapat ditentukan oleh keyakinan asasi (Tauhid). Segala bentuk aksi kemanusiaan ICIC merupakan hasil dari 6 prinsip dasar yang diambil dari Al-Qur’an dan Hukum Syari’at Islam. Demikian ICIC ini terbentuk, karena aktor yang terlibat dalam aksi kemanusiaan ICIC adalah mereka yang memiliki keyakinan asasi tauhid dan berupaya mengaplikasikan adab dalam aspek kesusilaan akhlakiyyah.

Baca Juga:

(1) Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.