Birokrasi Berbelit, Covid-19 Semakin Melilit

“Entah apa yang merasuki dunia”, mungkin itu menjadi salah satu kalimat yang tepat akan situasi pandemi corona virus atau Covid-19 yang kian mewabah saat ini. Kepanikan, rasa takut terus menghantui masyarakat dunia akan penyebaran virus corona yang kian lama tak terkendali. Dari sumber terbaru yang dilansir dari https://www.worldometers.info/ (12/5) dikonfirmasi bahwa Covid-19 sudah menjangkiti sekitar 4.270.846 orang, dengan jumlah kematian 287.543 orang dengan 1.534.574 dinyatakan sembuh melalui data global.

Persebaran virus tersebut telah menjangkit sekitar 203 negara dan wilayah di seluruh dunia termasuk Indonesia. Hal ini tentunya menjadi yang terbesar diantara kasus-kasus virus yang mewabah sebelumnya seperti virus Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Dengan ini, pada tanggal 11 Maret 2020 lalu WHO (World Health Organization) telah menetapkan virus ini sebagai pandemi global atau suatu wabah penyakit global. Status maupun kondisi ini jelas tidak boleh diremehkan jika kita merujuk ganasnya beberapa penyakit dunia yang juga digolongkan sebagai pandemi global.

Awal penemuan virus Covid-19

Corona virus disease 2019 atau disingkat COVID-19 ini diyakini merupakan salah satu virus corona jenis baru yang menyerang sistem pernapasan manusia. Dari informasi yang paling terkenal dan paling banyak diangkat di media-media, Covid-19 ini pertama kali di deteksi di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok pada 1 Desember 2019 dan ditetapkan pandemic oleh WHO pada 11 Maret 2020. Adapun penyebaran virus ini melalui orang ke orang terutama melalui percikan pernapasan (droplet) ketika penderita batuk, bersin ataupun menyebar melalui permukaan benda yang terkontaminasi Covid-19 dan kemudian menyentuh wajah seseorang.

Wu Wenjuan, seorang dokter senior di rumah sakit Jinyintan, Wuhan dan salah seorang penulis jurnal mengaku kepada pihak BBC Chinese Service bahwa pasien pertamanya adalah seorang pria lanjut usia yang menderita penyakit Alzhemier. Para peneliti juga menemukan bahwa 27 orang dari sampel pasien yang dirawat di rumah sakit pada awal penyebaran wabah “telah berhubungan dengan kawasan pasar.” Melalui data-data tersebut, WHO berhipotesa  bahwa wabah ini dimulai di pasar hewan Wuhan dan ditularkan dari hewan hidup ke inang manusia sebelum menyebar dari manusia ke manusia.

Lalu bagaimana dengan penanganan yang di lakukan oleh pemerintah Indonesia?

Di negara-negara Asia Tenggara, penyebaran virus Covid-19 sudah tergolong pada level yang membahayakan. Banyak sekali kasus-kasus baru dari pasien positif corona hingga angka kematian yang terus meningkat. Hal yang tidak jauh berbeda juga terjadi di Indonesia.

Per 30/3, Indonesia masuk ke dalam daftar kematian kasus Covid-19 tertinggi ke-2 di dunia sekitar 8,9% di bawah Italia. Hal ini tentunya membuat para ilmuan terus menyoroti keadaan Indonesia dalam menangani wabah tersebut, terlebih Indonesia menjadi negara yang memiliki tingkat kepadatan penduduk yang tinggi serta penanganan kesehatan yang masih tergolong minim.

Lemahnya birokrasi Indonesia yang tak kunjung membaik juga menjadi salah satu penyebab kenapa Indonesia terlihat begitu kewalahan dalam melawan penyebaran virus corona yang kian hari kian masif. Perlu diingat, jika Indonesia dengan berbagai kelemahan birokrasinya yang tak kunjung sehat, bukan tidak mungkin Covid-19 menjadi momok tersendiri yang menghantarkan negara Indonesia menuju fase-fase yang lebih buruk dan tidak diinginkan.

birokrasi

Pengertian oleh Max Weber-seorang sosiolog Jerman mengenai birokrasi seolah menjadi sindiran serius bagi Indonesia dalam mengolah dan mengatur negaranya. Menurut Weber, birokrasi dalam mengatur organisasi pemerintahan perlu ada prinsip-prinsip yang baik, seperti; adanya struktur hirearkis formal pada setiap tingkat; manajemen dengan aturan yang jelasorganisasi dengan fungsional yang khusus yang berarti pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh mereka yang benar-benar ahli dalam bidangnya; mempunyai sebuah misi target yang akan dituju; perlakuan impersonal ide agar memperlakukan semua pelaksanaan dan kepentingan diperlakukan sama-sama dan tidak boleh dipengaruhi oleh perbedaan individu; hingga pemberlakuan bekerja berdasarkan kualifikasi teknis sebagai bentuk perlindungan baik pelaksana agar dapat terhindar dari pemecatan sewenang-wenang saat menjalankan tugas.

Melalui penjelasan poin-poin diatas, tentunya kita bisa memberi gambaran dan memberikan sorotan akan bagaimana perkembangan birokrasi yang ada di Indonesia yang cenderung begitu berbelit-belit ditambah lagi banyak kepentingan-kepentingan pihak-pihak lain yang semakin memperburuk jalannya birokrasi di Indonesia.

Sikap ragu-ragunya pemerintah dalam mengambil keputusan, kurang maksimalnya pelayanan publik, serta ketersediaan alat bantu medis yang serba menipis, ini bisa diindikasikan sebagai akibat dari lemahnya birokrasi pemerintahan Indonesia yang selama ini dibangun. Mirisnya, hal ini diperparah dengan semakin banyaknya tenaga medis yang tertular virus hingga gugur.

early warning

Dilansir dari majalah harian Tempo, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melalui direktur jenderalnya yaitu Tedros Adhanom Ghebreyesus mengirim surat tertanggal 10 Maret 2020 tertuju kepada Presiden Joko Widodo yang dibenarkan oleh juru bicara Kemenlu, Teuku Faizasyah. Dalam surat ini, Tedros secara tersirat mempertanyakan keterbukaan pemerintahan dalam menangani kasus Covid-19 ini. Selain itu, WHO juga menyoroti pendekatan Indonesia dalam melacak dan mendeteksi kasus corona, serta menyarankan pemerintah mendesentralisasikan laboratorium untuk memantau kluster penyebaran virus tersebut.

Sebenarnya, WHO tidak hanya sekali mempertanyakan sikap Indonesia dalam menangani dan melakukan transparansi untuk menampilkan penyebaran virus corona kepada publik. Bahkan sebelum diumumkannya pasien pertama positif corona di Indonesia, pihak WHO sudah mengultimatum Indonesia mengenai kasus Covid-19 tersebut.

Sikap pemerintah dalam menangani kasus corona kian hari kian banyak menuai kritik, baik dari dalam maupun luar negeri. Kritik ini kian gencar setelah Presiden Jokowi mengakui pemerintah tidak membuka semua data mengenai penyebaran virus corona kepada publik, dengan alasan agar tidak menimbulkan keresahan dan kepanikan masyarakat.

Ada beberapa poin penting, yang menjadi sorotan publik mengenai kebijakan pemerintah Indonesia dalam penanganan Covid-19, diantaranya: sulitnya penanganan corona melalui alat pengadaan pengujian atau test kit, terbatasnya Alat Pelindung Diri (APD) bagi tenaga medis yang tersedia, belum siapnya rumah sakit dan segala fasilitasnya dalam melayani pasien yang semakin membludak, tidak siapnya system perekonomian  nasional, adanya perbedaan persepsi antara Pemerintah Nasional dan Pemerintah Daerah dalam menanggapi kasus, kurangnya laboratorium kesehatan yang memadai, dan minimnya edukasi serta tranparansi informasi dari pemerintah terhadap masyarakat dalam menyikapi virus corona dan lain sebagainya.

Berkaca kepada Taiwan dalam menyikapi virus Corona

Sepertinya, Indonesia perlu berkaca dan belajar pada negara Taiwan dalam  menanggulangi kasus Corona. Pasalnya, meskipun Taiwan berjarak sekitar 130 Kilometer dari China, sebagai pusat penyebaran virus, nyatanya Taiwanmemiliki rasio penyebaran terendah di Dunia sekitar 1 banding 500.000 orang. Padahal negara ini memiliki lokasi yang sangat berdekatan dengan China dan warganya sering keluar masuk negara tersebut.

Untuk itu apa saja yang dilakukan oleh Taiwan dalam mengatasi penyebaran virus Corona? Pertama, melakukan tindakan proaktif dengan mengidentifikasi orang-orang secara masif di pintu-pintu negara khususnya perjalanan dari Wuhan ke Taiwan, mengikuti jejak mereka yang dalam pengawasan, dan mengisolasi semua yang melakukan kontak dengan penderita;

Kedua, Taiwan mempersiapkan komando pusat dengan menginvestigasi kasus positif maupun terduga corona dengan bekerja sama dengan pemerintahan local;

Ketiga, mengambil langkah cepat dan tegas seperti melarang kedatangan wisatawan Wuhan sejak awal dikonfirmasinya pasien pertama corona;

Keempat, memastikan ketersedian barang dengan meningkatkan produksi dengan membuka garis produksi baru dan mempekerjakan tentara di pabrik-pabrik dan mengedukasi publik sedini mungkin; dan terakhir melibatkan publik dalam penanganan serta belajar dari kasus virus sebelumnya.

kerja sama semua elemen masyarakat

Untuk itu sebagai kesimpulan, jika Indonesia sejak awal sudah lengah dalam menyikapi virus ini, ditambah lagi dengan masih lambatnya pergerakan serta penanganan akibat birokrasi yang masih saja berbelit, tidak mustahil jika nanti kasus Covid-19 di Indonesia akan sejajar dengan yang ada di Italia. Untuk itu pemerintah harus bekerja cepat dalam menangani virus ini bila ingin kehidupan negara kembali stabil dan normal.

Dengan langkah-langkah pemerintah yang terkoordinasi dengan baik, masyarakat bisa bersikap lebih tenang. Pada titik ini, solidaritas sosial masyarakat diharapkan juga terjaga. Semua warga secara sadar harus mengutakaman kepentingan bersama, tidak hanya mementingkan keselamatan masing-masing. Tanpa itu semua, Indonesia akan menjadi pusat ledakan baru kasus corona, justru ketika wabah di negara lain berangsur mereda.

Tulisan ini adalah tugas kelompok dari mata kuliah Sistem Politik dan Pemerintah Indonesia, HI semester 2.

Pen; Farhan Riswandha Jhuswanto, Haves Al-Assad, Ragil Tri Sambodo

Ed: Wildi

 

Referensi

Ayobandung.com (2020), “Belajar Tanggulangi Virus Corona dari Taiwan”. Diambil dari : https://www.ayobandung.com/read/2020/03/11/82250/belajar-tanggulangi-virus-corona-dari-taiwan

Bbc.com (2020), “Virus corona: Perburuan mencari orang pertama yang memicu wabah Covid-19”. Diambil dari : https://www.bbc.com/indonesia/majalah-519995500

Bbc.com (2020), “Virus Corona dalam Teori Konspirasi dan Hoaks: Video Sup Kelelawar, Senjata Biologi Rahasia, hingga Tim Mata-mata”. Diambil dari : https://www.bbc.com/indonesia/dunia-513206888

Beritasatu.com (2020), “Enam Penyakit Birokrasi di Indonesia”. Diambil dari : https://www.beritasatu.com/nasional/485766-ini-enam-penyakit-birokrasi-di-indonesia.html

Dpr.go.id (2020), “Sikap Pemerintah Belum Jelas Atasi Covid-19”. Diambil dari: http://dpr.go.id/berita/detail/id/28186/t/Sikap+Pemerintah+Belum+Jelas+Atasi+Covid-19

Kemkes.go.id (2020), Diambil dari: https://covid19.kemkes.go.id/

Kompas.com (2020), “Update Corona 1 April”. Diambil dari : https://www.kompas.com/sains/read/2020/04/01/122600523/update-corona-1-april-861113-kasus-di-203-negara-178560-sembuh

Mediaindonesia.com (2020), “Tantangan dan Strategi Reformasi Birokrasi”. Diambil dari : https://mediaindonesia.com/read/detail/278422-tantangan-dan-strategi-reformasi-birokrasi-2020

Pinterpolitik.com (2020), “Menyoal Kebijakan Jokowi atasi Corona”. Diambil dari : https://www.pinterpolitik.com/menyoal-kebijakan-jokowi-atasi-corona/