Mahasiswi HI UNIDA Gontor Ikuti Simulasi Sidang PBB

Model United Nations…

Model United Nations (MUN) merupakan salah satu ajang bergengsi yang tidak asing bagi para pelajar, khususnya bagi mahasiswa Hubungan Internasional. Ajang ini merupakan salah satu alternatif kita untuk dapat mengembangkan soft skill dalam hal  kepenulisan serta hard skill dalam keterampilan mengutarakan pendapat. MUN, atau yang biasa kita kenal dengan Model Perserikatan Bangsa-bangsa adalah simulasi sidang Majelis Jenderal PBB, atau sidang PBB lainnya.

Dalam Model UN, peserta sidang bertindak sebagai perwakilan suara dari negara anggota di dewan untuk berdebat tentang topik yang ditugaskan. Delegasi akan menyuarakan suaranya dengan berpidato, membuat draft resolusi, dan bernegosiasi dengan delegasi lain sesuai modul yang menjadi prosedur PBB. Hal tersebut tentu dilakukan tidak lain untuk mencapai tujuan akhir dalam diplomasi internasional yakni pencapaian national interest dan kerja sama.

Diskusi

Veteran Conference Festival 2019 | UNSC: The Situation in Ukraine

Model United Nations kali ini, terdapat 4 council PBB yang dapat diwakili oleh peserta yaitu, UN Women, UNHCR, SOSHUM, dan UNSC. Adapun delegasi UNIDA Gontor mendapatkan UNSC dengan  pembahasan utama “Situation in Ukraine” yang diadakan di Universitas Pembangunan Negeri “Veteran” Jakarta. Adapun delegasi UNIDA Gontor yang diutus dalam acara yang diadakan di Pondok Labu UPM Jakarta pada 27-28/09 adalah sejumlah 5 delegasi.

Dalam badan UNSC ini terdapat 26 peserta dari berbagai universitas di Indonesia yang telah dibagi tugaskan ke dalam 13 negara dunia.  Negara-negara tersebut mencakup negara Rusia, China, Perancis, Kerajaan Inggris, Amerika Serikat, Belgia, Polandia, Peru, Kuwait, Afrika Selatan, Indonesia dan Jerman.  Beberapa peserta yang hadir dalam Model UN tersebut datang dari berbagai kampus seperti UI, Universitas Atma Jaya, Universitas Presiden, UNPAD.

Pembahasan Dewan Keamanan  PBB kali ini cukup menarik dan menjadi isu hangat dunia yakni mengenai penanganan situasi konflik yang melanda Ukraina. Konflik ini telah berlangsung sejak tahun 2013 dan telah memupuk perhatian global baik bagi negeri berkembang maupun negeri maju sekalipun. Salah satu hal yang menjadi indikator utama dalam relevansi masalah tersebut adalah keterlibatan berbagai pemangku kebijakan dan kepentingan tiap negara. Beberapa hambatan yang perlu diatasi dalam konflik tersebut yaitu keterlibatan aktor asing dan komplikasi yang saling terkait melalui klaim hukum.

Pengalaman untuk Pengamalan

Dari pengalaman MUN kali ini para delegasi dapat merasakan suasana menjadi perwakilan yang sedang mengemban amanat dari negara yang diwakili. Tidak hanya itu, kegiatan ini juga bermanfaat untuk dapat membuka wawasan, memperluas jaringan pertemanan dan bertukar pikiran ilmu serta pengalaman.

Kita juga akan dibimbing untuk dapat mengasah kemampuan diri baik dalam keberanian berbicara, berbahasa, dan mempertahankan argumen kita sebagai perwakilan. MUN ini sangat bermanfaat tidak hanya untuk mahasiswa Hubungan Internasional sendiri tetapi dapat bermanfaat juga untuk mahasiswa dari Prodi lainnya.

Dari acara ini, para delegasi sangat berharap untuk dapat mengembangkan soft skill dan hard skill sehingga dapat diamalkan di lingkungan almamater tercinta. Salah satu yang dapat dilakukan para delegasi ialah melaksanakan simulasi pelatihan kepada teman-teman yang hendak mengikuti MUN di kampus lain.

Mereka akan membantu calon delegasi UNIDA Gontor agar dapat mempersiapkan diri seoptimal mungkin baik itu dari sisi mental, materi maupun pengetahuan. Hal lain yang dapat mempermudah calon delegasi yaitu membantu segala persiapan apa saja yang dibutuhkan saat MUN tersebut berlangsung.

Esensi terpenting dalam MUN ialah pengembangan kemampuan berbahasa asing, karena bahasa menjadi salah satu instrumen utama untuk menunjang keberlangsungan acara.

(Sarah, Fiani)

Berita Terkait:

Kiprah Delegasi HI UNIDA di Ajang Model United Nations (MUN) | Universitas Katolik Parahyangan Bandung

UNIDA Gontor Utus Delegasi Asia Youth International Model United Nation (AYIMUN) 2019

28 Mahasiswa Hubungan Internasional Mengikuti Pelatihan School of MUN

SEINMUN 2019, Ajang Penyatuan Niat dan Perubahan Lebih Baik di Era Revolusi 4.0

 

 

SEINMUN 2019, Ajang Penyatuan Niat dan Perubahan Lebih Baik di Era Revolusi 4.0

Model United Nations adalah salah satu kegiatan favorit yang saat ini begitu digandrungi bagi generasi muda. Tidak hanya untuk para mahasiswa HI, melainkan juga telah diminati oleh mahasiswa dari berbagai program studi. Disini, para mahasiswa terus diasah kemampuannya terutama ketika dihadapkan sebagai utusan negara pada simulasi sidang PBB. Dari simulasi tersebutlah sang diplomat yang menjadi perwakilan negara dituntut untuk dapat mempertahankan kedaulatan negara dan memperjuangkan national interest-nya.

Selama mengikuti proses penyeleksian, para mahasiswa dituntut untuk jeli dan teliti dalam mencari referensi terpercaya. Hal tersebut dilakukan demi mengetahui isu-isu terbaru sehingga memudahkan mereka dalam pembuatan position paper. Maka dari itu, tidaklah mudah bagi para mahasiswa yang dapat lolos mengikuti ajang bergengsi tersebut.

Adalah Nur Azizah dan Shafa Arif, dua mahasiswi Hubungan Internasional yang turut serta menjadi peserta dalam salah satu kegiatan MUN. Kegiatan ini secara resmi diselenggarakan di Universitas Diponegoro dengan nama SEINMUN 2019 atau Semarang International Model United Nations.

Tentang SEINMUN 2019

Adapun SEINMUN kali ini mengusung tema “Embracing Alteration: Unifying Intentions, Enhancing Awareness Toward Peace and Justice 4.0”. Acara tersebut telah berlangsung tepat di Grand Candi Hotel, Semarang, Jawa Tengah (19-21/09).

SEINMUN adalah simulasi sidang dimana peserta berdiri sebagai delegasi dari negara-negara yang ada di dunia. Salah satu tujuannya adalah untuk menangani berbagai masalah yang ada di dunia dengan politik dan perspektif negaranya masing-masing. Setiap peserta dituntut untuk memikul peran sebagai perwakilan dari negara anggota PBB dan SEINMUN akan mengajarkan setiap pesertanya bagaimana cara berdiplomasi dengan baik. Serta, kegiatan ini berguna untuk menstimulus para millenial dalam berpikir kritis, sehingga mampu menyampaikan gagasan mereka dengan jelas dan ringkas.

Tidak hanya itu, mereka juga dipandu untuk memahami isu kontemporer mengenai masalah council yang telah ditentukan sebelumnya. Adapun council tersebut  ialah UNESCO  dalam Utilizing Education and Local Culture as Means of Peace Building. ILO dalam isu Automation in the Disruption Era| Challenges or Opportunities. UNSC dalam hal Dilemma of Contemporary Security the Usage of Autonomous Weapons System in Modern Warfare. Acara ini diharapkan mampu mencetak generasi yang peka dan tanggap dalam mengatasi isu-isu internasional. Hal ini guna mewujudkan perdamaian dan perubahan dunia ke arah yang lebih baik.

MUN

-MUN-
Tak Hanya Menjadi Delegasi

Shafa, salah satu delegasi mengisahkan bahwa dengan mengikuti MUN, ia dapat membangun jaringan dengan teman-teman baru dengan pengalaman unik dan menarik. Dari sanalah, Shafa semakin termotivasi untuk terus memetik dan menebarkan manfaat yang telah mereka dapatkan dari pengalaman mengikuti MUN.

Lain halnya dengan Shafa, dalam pandangan Azizah, mengikuti kegiatan MUN adalah hal yang tidak sulit untuk digapai jika kita ingin berdoa dan berusaha dengan sebaik-baiknya. Ia juga bercerita bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk dapat meraih apa yang menjadi passion serta mengasah skill yang ada pada jiwanya.

Maka dari itu, semua orang memiliki kesempatan yang sama besar untuk mengikuti kegiatan ini, tidak hanya mahasiswa HI saja. Azizah berharap, keikutsertaannya dalam acara ini dapat terus memotivasi para mahasiswi lainnya untuk terus belajar dan berjelajah di bumi Allah yang luas ini. [Fiani]

Artikel Terkait:

28 Mahasiswa Hubungan Internasional Mengikuti Pelatihan School of MUN

UNIDA Gontor Utus Delegasi Asia Youth International Model United Nation (AYIMUN) 2019

Kiprah Delegasi HI UNIDA di Ajang Model United Nations (MUN) | Universitas Katolik Parahyangan Bandung