Mahasiswi HI UNIDA Gontor Telaah Kesuksesan Alumni Gontor dari Forum Bisnis

Komplektifitas yang dimiliki jurusan Hubungan Internasional membuat bisnis menjadi sasaran empuk untuk memicu berkembangnya perekonomian. Meskipun dunia politik selama ini menjadi kajian disiplin Ilmu Hubungan Internasional, tidak ada salahnya jika bisnis lebih dikaji sebagai terapan soft power untuk pemenuhan interest tiap individu. Hal ini sangat berharga bagi para civitas akademik Hubungan Internasional Gontor. Bahkan menjadi kesempatan bagi mahasiswi dalam mengembangkan potensi kreatifitas ditengah ramainya perpolitikan yang ada.

Kunjungan ke Instansi Alumni Gontor

Rabu, 5/2/2020, setelah menjelajahi dunia sejarah tentang pembangunan Gedung Sate hingga perjuangan pemuda Bandung dalam mempertahankannya pasca proklamasi dari genggaman Belanda, tibalah saat dimana kunjungan Studi Akademik Hubungan Internasional ke instansi terakhir. Instansi ini memberi banyak inspirasi bagi khalayak mahasiswi untuk menekuni banyak hal. Pada kesempatan kali ini, mahasiswi Hubungan Internasional mengenal dunia bisnis oleh salah satu alumni Gontor di Bandung, yakni Ustadz Dadi Purwadi.

Jatuh Bangun Forum Bisnis

Forum Bisnis atau yang disingkat Forbis adalah unit usaha yang dibangun oleh alumni Gontor tahun 1988 ini. Dalam sepak terjangnya, Ustadz Dadi memiliki berbagai rintangan dan cobaan hingga melakukan bisnis.  Hal tersebut terjadi sebelum menekuni bisnis merchandise yang mengantarkan beliau hingga sukses seperti sekarang. Adapun usaha yang dilakukannya adalah berbisnis dengan produk-produk kaos. Namun hal ini memiliki akhir yang tidak ber-feedback positif bagi beliau.

Kegagalan sebelumnya membuat Ustadz Dadi berfikir kembali untuk meneruskan bisnis. Namun hal ini tidak cukup untuk membuat beliau berhenti. Ditengah kegagalannya, beliau mencoba kembali terjun dalam dunia bisnis dengan bidang minimarket. Tetapi, minimarket yang ia coba rintis masih belum menghasilkan sesuai yang ia harapkan. Hingga akhirnya, beliau berfikir dan menemukan ide baru untuk melakukan bisnis di bidang merchandise. Tidak diragukan lagi, bisnis dengan minimnya aktor ini mampu memberi beliau feedback positif bagi beliau hingga sekarang.

Impor Forum Bisnis

Ibarat sedikit menjadi bukit, usaha yang Ustadz Dadi tekuni kini beragam menjadi banyak produk. Mulai dari gantungan kunci, magnet kulkas, name tag, pin, tumbler hingga berbagi pandle organisasi dan institusi. Produk ini tidak hanya dipasarkan ke wilayah nusantara, namun juga manca negara. Adapun negara yang diimpor produk Ustadz Dadi adalah Malaysia, Singapura, Fiipina, Kongo, Jepang, hingga Italia. Negara-negara tersebut telah menyebar produk-produk hasil handmade beliau.

Tidak Mudah Putus Asa adalah Jiwa yang Gontor Ajarkan

Salah satu yang menjiwai Ustadz Dadi untuk tekun adalah segala pelajaran yang telah Gontor ajarkan. Gontor memberi banyak pelajaran yang menjadi dasar untuk terus maju dengan potensi dan semangat yang membara.

Awalnya saya tidak mengira bahwa bisnis ini akan mendatangkan hasil yang besar bagi saya. Karena umumnya, berkecimpung dalam dunia merchandise selalu dipandang sebelah mata di dalam masyarakat. Dan saya melihat peluang yang besar didalamnya seletah analisis saya dengan bisnis di bidang itu” papar beliau didepan mahasiswi jurusan Hubungan Internasional UNIDA Gontor.

Semoga pelajaran yang hadir dari serangkaian instansi kunjungan mahasiswi Hubungan Internasional UNIDA Gontor menjadi bekal dan ilmu bermanfaat. Seperti hal nya ilmu dan tekad yang Ustadz Dadi ajarkan. Ia membuktikan bahwa hasil tidak akan mengkhianati usaha jika dilandasi dengan doa.

Pen: Nabila/Angel

 

Peluang dan Tantangan Dakwah di Era Revolusi Industri 4.0

Tantangan revolusi industri 4.0…

Tahun ini, Program Studi Pendidikan Agama Islam UNIDA Gontor telah sukses menyelenggarakan Seminar Nasional EYOFEST (Education Youth Festival) yang diselenggarakan di Gedung Kulliyyatu-l-Banat Gontor Putri Kampus 1, Ahad pagi (15/9/19).

Seminar nasional yang digelar pertama kalinya oleh para mahasiswi PAI Kampus Mantingan tersebut telah diikuti oleh lebih dari 600 peserta yang datang dari berbagai kalangan. Peserta kegiatan ini berasal dari murid tingkat sekolah dasar dan menengah, mahasiswi, hingga dosen. Adapun tema yang diusung kali ini ialah “Peluang dan Tantangan Dakwah di Era Revolusi Industri 4.0” dengan menghadirkan narasumber yang aktif berdakwah melalui media sosial baik Youtube maupun Intagram.

Narasumber

Perhatian dan antusiasme para peserta dalam menyambut ilmu yang diberikan Kak Fuad Bakh dan al-Ustadz Taufiq Affandi, M.Sc.Fin. mampu menyemarakan suasana yang berlangsung hingga tengah hari tiba. Adapun tujuan dari kegiatan ini ialah untuk menginspirasi para millennial Islamic youth agar lebih kreatif dan aktif untuk berdakwah melalui media sosial yang mendominasi di era modern kali ini.

Sosok Islamic influencer di Instagram dapat mempengaruhi jiwa anak millenial dengan segala kreativitasnya. Selain bekerja sebagai editor di berbagai saluran TV di Indonesia, Kak Fuad Bakh sangat aktif dalam dalam menyajikan konten yang edukatif dan bermanfaat dalam menguak kebenaran sejarah hingga ia mampu mengobarkan kembali semangat pemuda dalam berhijrah dan menjadi lebih baik.

Dengan media yang saat ini dapat dengan mudah diakses, Kak Fuad beserta timnya memiliki inovasi untuk mencari peluang dari tantangan media sosial yang telah berkembang dewasa ini. Ditinjau dari medsos yang sangat mendominasi kalangan millennial, ia beinisiatif untuk memanfaatkan internet sebagai sarana dalam menyebarkan pesan-pesan agama Islam. Di tahun 2015 Kak Fuad mulai merangkul media sosial sebagai sarana berdakwah di era yang didominasi oleh ketergantungan terhadap internet.
“…dahulu orang terkenal dengan prestasinya seperti B.J. Habibie, sekarang orang terkenal dengan sensasinya,“ ujarnya.

Mengingat virus K-POP yang melekat dengan generasi muda, virus tersebut mampu menjadi sumber negatif bagi mereka. Mereka terlena dengan kehadiran entertainment tersebut hingga mampu melupakan jati diri mereka yang sebenarnya. Maka inilah tantangan yang harus dihadapi bagi umat muslim khususnya.

Harus Kreatif

Beliau menambahkan tentang bagaimana kita dapat memanfaatkan mudahnya akses internet dalam menyari dan menyebarkan motivasi positif bukan malah kita yang dimanfaatkan oleh medsos? Hanya ada satu cara yang sangat ampuh dan efektif dalam memanfaatkan media sosial sendiri, yaitu dengan “kreatifitas“.
“Kreatifitas tidak akan mati meskipun dihancurkan, melainkan ia pasti akan mencari cara lain bagaimanapun keadaannya,“ pesannya.

Kalimat tersebut merupakan kalimat yang paling membekas di hati para hadirin. Inilah ramuan ampuh yang dianut oleh Kak Fuad sendiri dalam dakwahnya di media sosial. Ia melanjutkan bahwa “…perkembangan zaman tidak dapat ditahan lagi dan tidak dapat pula dihindari. Siapapun akan menjadi bagian dalam perkembangan zaman dan kita tidak sekadar menerima perubahan yang terjadi, namun juga menghadapinya”

Selain Kak Fuad, al-Ustadz Taufiq Affandi selaku Direktur Gontor TV juga turut diundang untuk berbagi pengalaman dan ilmunya. Adapun tema perbincangan yang dijamu oleh Sekretaris Rektorat UNIDA Gontor ini ialah “Dakwah in the Digital Age”.

Dalam pemaparannya, beliau menyampaikan tentang 7 tips dalam berdakwah, yaitu: “1) get closer Allah and don’t get distracted, 2) understand what the ummah need, 3) state a clear objective, 4) build a network, 5) read more, 6) start from your closer friend and relatives, 7) optimize social media for da’wah,”

Dipenghujung acara, panitia mengumumkan pemenang dari perlombaan yang telah diselenggarakan mulai dari Hari Jum’at s/d Sabtu (13-14/19). Kategori tingkat sekolah dasar sekitar Mantingan yakni lomba Pildacil, selain itu ada juga LKTI, Poster dan Video Maker yang masuk dalam kategori perlombaan nasional.

Acara yang ditutup sedemikian rupa mampu meninggalkan kesan dan pesan tersendiri bagi para hadirin bahwa yang dibutuhkan pemuda Islam saat ini adalah kreatifitas dalam penyampaian pesan-pesan keislaman tidak hanya untuk muslimin melainkan juga bagi seluruh umat manusia di era digital dan revolusi 4.0. (Rahmadina Andini/ HI-3)