11 Mahasiswa Amerika Studi Banding ke UNIDA Gontor

Sebanyak 11 mahasiswa Amerika yang tergabung dalam program School of International Training (SIT) telah mengunjungi UNIDA Gontor Kampus Mantingan pada 29/09-01/10. Mahasiswa tersebut datang dari berbagai kampus di Amerika dengan tujuan untuk melatih ketrampilan leadership mereka dan mempromosikan berbagai budaya dunia. SIT ini pertama kali dibuka pada tahun 1964 dan merupakan sekolah pertama yang menekankan pengenalan budaya dengan pada pembelajaran internasional.

Kegiatan yang dilakukan selama di UNIDA Gontor

Kegiatan yang berlangsung selama 2 hari di Mantingan ini merupakan kunjungan yang ke tujuh kalinya bagi rombongan mahasiswa/i Amerika Serikat. Selama program berlangsung, para mahasiswa SIT tersebut ditemani oleh Direktur Akademik SIT yang berasal dari Bali, Dr. Ni Wayan Arianti. Beliau mengungkapkan rasa terima kasihnya untuk UNIDA Gontor yang telah memberikan kesempatan belajar mengenai kebudayaan Indonesia dan pengetahuan seputar Agama Islam.

Agenda yang mereka lakukan di Gontor Putri ini ialah mengenal tentang muslimah, Agama Islam dan kepondokmodernan terutama dengan panca jiwanya. Sebelum berdiskusi mengenai tentang Islam, para peserta SIT diajak untuk menghadiri pembekalan mengenai model pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor. Pembekalan dan diskusi tersebut disampaikan oleh Dekan Kulliyyatu-l-Banat, Dr. Nur Hadi Ihsan, MIRKH. di Gedung Pasca Sarjana pada Ahad, 29/09.

Sinar Cahaya dari Agama Islam

Acara pun dilanjutkan dengan diskusi pada pagi harinya mengenai keislaman dan isu kontemporer baik feminism, divorce, poligami, aurat maupun hal lainnya. Mereka sangat antusias untuk mengenal Islam lebih dalam lagi dengan berbagai hal yang ingin mereka ketahui dalam sesi diskusi tersebut. Beberapa hal yang mereka tanyakan ialah mengapa wanita mengenakan hijab/ niqab/ burqa, bagaimanakah pandangan Islam terhadap feminisme dan lain sebagainya.

Alhamdulillah, dari hasil diskusi bersama ini, mahasiswi UNIDA Gontor mampu membuat para peserta SIT terbuka secara pandangan terhadap Agama Islam. Islam yang sebelumnya diisukan sebagai agama yang keras, tabu, radikal dan teroris telah tergantikan dengan pandangan positif setelah diskusi berlangsung.
Gontor dan School of International Training (SIT).

 

Selanjutnya para peserta SIT diajak berkeliling Kampus Mantingan dan olahraga bersama pada sore harinya ditemani oleh para mahasiswi UNIDA Gontor. Adapun di malam hari, beberapa mahasiswi mengikuti kegiatan simposium yang disampaikan oleh tiga mahasiswi SIT dan satu mahasiswi UNIDA Gontor.

Acara yang telah menginjak angkatan ketujuh ini sejatinya merupakan kerja sama yang telah dibangun lama antara UNIDA Gontor dengan lembaga SIT. Adapun selama 3 bulan para mahasiswi Internasional tersebut melakukan kunjungannya di Indonesia, hanya Gontorlah yang menjadi tempat mereka mengenal Islam. Setelah rampungnya acara di UNIDA Gontor Kampus Mantingan ini, para tamu SIT melanjutkan kunjungannya ke kampus Pusat UNIDA Gontor, Siman, Ponorogo.
(Darmelia, Fiani)

Artikel Terkait:

WISDOM SPEECH: ISLAM IN UNITED STATES OF AMERICA

WISDOM SPEECH: ISLAM IN UNITED STATES OF AMERICA

Amerika Serikat dan Indonesia merupakan dua negara dengan banyak kesamaan. Kesamaan tersebut diantaranya adalah menganut asas demokrasi, serta memberikan kebebasan dalam hal beragama. Selain itu, Amerika Serikat dan Indonesia juga bekerjasama dalam berbagai bidang, salah satunya ialah bidang education. Melihat hal tersebut, pemerintah Amerika dan Indonesia sepakat untuk membangun Konsulat Jenderal (KONJEN) Amerika Serikat di Indonesia yang bernama EducationUSA.

Islam in United States of America

Pada kesempatan kali ini, salah satu staf Konjen AS, Maryia Kelly berkenan untuk hadir pada acara Wisdom Speech (WS). WS ini merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh Prodi HI UNIDA Putri, bertepatan pada tanggal 23/09/19 bertempat di Main Hall Pascasarjana. Wisdom Speech kali ini mengangakat tema “Islam in the United States of America” sebagai negara yang memberikan kebebasan dalam hal beragama. Acara ini dihadiri oleh beberapa dosen HI putra dan putri serta seluruh peserta seminar dari berbagai progam studi.

Acara yang dimoderatori oleh Al-Ustadzah Ida Susilowati ini dimulai dengan perkenalan Mrs.Maryia didepan para hadirin. Mrs.Maryia bercerita bahwa ia adalah seorang imigran dari Belarus yang menjadi salah satu diplomat AS  “…Iam an immigrant, but then I became one of US diplomats”, begitu katanya. Dari AS inilah, ia mulai mengenal agama-agama, terutama islam dari teman semasa kuliahnya.

Islam in United States of America
Islam in United States of America
Islam di Amerika

Acara dilanjutkan dengan sesi dimana ia menjelaskan tentang Islam di Amerika. AS memberikan kebebasan kepada rakyatnya untuk menentukan agama yang akan ia peluk. Hal ini terbukti dengan banyaknya kelompok agama di AS, yaitu sekitar 3000 kelompok.

Keinginan untuk melindungi kebebasan beragama membimbing para pendiri Amerika Serikat untuk menciptakan negara yang memisahkan agama dan negara. Hal itu sebagai jaminan kebebasan untuk mempraktikkan keyakinan seseorang tanpa takut akan penganiayaan. Jaminan itu dinyatakan dalam Amandemen Pertama Konstitusi AS, “Congress shall make no law respecting an establishment of religion, or prohibiting the free exercise thereof…”

Mayoritas dari masyarakat Amerika Serikat merupakan pemeluk  agama kristiani, yaitu sekitar 70.6 %. Sementara untuk agama non-kristiani adalah 5.9 %, dan pemeluk agama islam sendiri hanya 0.9 %. Pemeluk agama Islam mayoritasnya adalah Imigran dari berbagai negara. Pew Research Center’s 2017 menyebukan bahwa terdapat 75 negara imigran dengan ras dan etnis yang berbeda pula.

Dalam bidang Edukasi, terdapat beberapa agenda yang diadakan oleh mahasiswa muslim di Amerika Serikat. Seperti mahasiswa University of Pittsburgh yang membuat komunitas Muslim Student Association (MSA) bagi mahasiswa muslim di universitas tersebut. Selain itu, juga terdapat mahasiswa muslim Georgetown University yang mengadakan buka puasa bersama. Hal itu dilakukan guna membangun ukhuwah islamiyyah serta meningkatkan keimanan.

Pesantren Pertama

Di AS, sekarang juga sudah terdapat Islamic Boarding School (Pesantren). Pesantren pertama ialah Pondok Nusantara Madani USA di Connecticut, yang didirikan oleh Imam Shamsi Ali. Beliau merupakan pelajar Muslim Indonesia yang tinggal di Amerika Serikat. Selain itu juga terdapat ribuan masjid yang tersebar di Amerika Serikat, salah satu yang terluas berada di Dearborn, Michigan.

Demikian merupakan paparan Mrs. Maryia Kelly mengenai Islam di Amerika Serikat. Acara dilanjutkan dengan Question and Answer (QnA) dengan para mahasiswi yang hadir.  Setelah QnA tersebut selesai, acara ditutup dengan do’a dan foto bersama.

Besar harapan setelah  acara Wisdom Speech ini mahasiswi UNIDA bisa membuka mata mengenai Islam di AS, bukan hanya isu tentang Islamophobia. Dari acara ini juga, kita berharap agar senantiasa bersyukur. Bersyukur karena mayoritas rakyat Indonesia beragama islam dan dilahirkan dalam keadaan Islam. Serta, menjaga ukhuwah Islamiyyah antar umat Islam harus selalu diperjuangkan dimanapun tempatnya.