Kunjungan 19 Mahasiswi Amerika ke UNIDA Gontor Kampus Putri dalam rangka School for International Training (SIT) 2020

Pada Senin 24//2/2020, UNIDA Gontor Putri kampus Mantingan kedatangan mahasiswi dan mahasiswa dari Negeri Paman Sam, Amerika. Rombongan tersebut terdiri dari 19 orang mahasiswi dan 3 orang mahasiswa.

Kehadiran pelajar-pelajar dari Negeri Patung Liberty tersebut ditemani beberapa penanggungjawab program SIT dan juga sayyid dari UNIDA Gontor kampus Siman.  Kedatangan mereka disambut hangat oleh segenap panitia yang sudah menunggu sejak awal pemberitahuan kedatangan.

Adapun kepanitiaan guna menyambut para peserta School for International Training atau SIT tahun 2020 ini diketuai oleh Salsabila. Ia merupakan mahasiswi program studi Hubungan Internasional dari semester 6.  Acara tersebut berlangsung selama 2 hari dan diisi dengan banyak agenda serta diskusi pengenalan Pondok Modern Gontor kepada para peserta SIT tahun 2020.

Diskusi dan Berkeliling Pondok Modern Gontor Kampus Putri 1

“Diskusi ialah nyawanya mahasiswi”, pesan Al-Ustadz Nur Hadi Ihsan mengingatkan pentingnya diskusi. Diskusi merupakan agenda yang dapat memperluas pengetahuan dengan prosedur tanya jawab. Begitu pula yang dilakukan para panitia dan mahasiswi Amerika di selingan acara.

Usai wejengan pembukaan tentang Kepondokmodernan yang disampaikan oleh Ustadz Nur Hadi Ihsan, tibalah saat diskusi. Para peserta SIT dibagi ke dalam empat kelompok dan ditemani dengan panita untuk mendiskusikan beberapa hal mengenai Pondok Modern Gontor. Tidak sedikit yang heran sebelumnya bagaimana di sebuah sekolah terdapat pemisahan antara laki-laki dan perempuan. Berbagai hal yang ternilai “jarang” ada di Amerika mereka tanyakan saat sesi diskusi.

Di penghujung diskusi, setiap peserta SIT diberikan waktu untuk menceritakan sub bab yang menjadi topic diskusi. Tidak sedikit yang menyatakan kekagumannya terhadap Pondok Modern Gontor. Bahkan ada yang mengatakan appreciate mereka terhadap konseling antara guru dan murid serta konseling antara murid (mudabbiroh). Bagi mereka mudabbiroh memiliki sistem yang unik dan sangat berdampak baik jika diberlakukan.

Diskusi hangat dengan partisipan SIT
Diskusi hangat dengan partisipan SIT

Hari selanjutnya para peserta SIT diajak berkeliling ke dalam kampus Gontor Puteri 1. Jika ketika diskusi peserta SIT hanya mendengar klimaks tentang pendidikan Gontor. Maka dengan berkeliling pondok, mereka dapat menyaksikan sendiri bagaimana aktivitas-aktivitas yang dilakukan para santri. Dinamika yang berjalan di Gontor mebuat mereka tercengang. Ditambah saat panitia menjelaskan Aula Gontor Putri 1 yang biasa digunakan untuk ujian akhir kelas 6 dengan 30 materi. Menurut mereka hal tersebut sangat luar biasa dilakukan oleh anak seumuran junior high school.

Pelajar Amerika berkeliling UNIDA Kampus Putri
Pelajar Amerika berkeliling UNIDA Kampus Putri

Kesan peserta SIT 2020

Banyak hal yang membuat mahasiswi Amerika tersebut terkagum dengan jawaban panitia mengenai sistem yang berlaku di Gontor. Salah satunya ialah kemandirian ekonomi Gontor yang jarang ada di institusi pendidikan lainya. Menurut mereka hal tersebut sangat impressive mengingat Pondok Modern Gontor telah menjadi besar karena kerapian administrasinya.

Baca juga:

11 Mahasiswa Amerika Studi Banding ke UNIDA Gontor

Besar harapan agar ini tidak menjadi kunjungan terakhir. Tidak jarang dari mahasiwi Negeri Paman Sam itu menginginkan kedatangan mahasiswi UNIDA Gontor ke Amerika. Semoga kunjungan ini menghasilkan banyak manfaat. Serta memberi kesemangatan agar kelak dapat melangkah jauh hingga ke negeri Patung Liberty tersebut.

Pen: Angelia Islamiati Talo

Ed: Wildi

Peluang dan Tantangan Dakwah di Era Revolusi Industri 4.0

Tantangan revolusi industri 4.0…

Tahun ini, Program Studi Pendidikan Agama Islam UNIDA Gontor telah sukses menyelenggarakan Seminar Nasional EYOFEST (Education Youth Festival) yang diselenggarakan di Gedung Kulliyyatu-l-Banat Gontor Putri Kampus 1, Ahad pagi (15/9/19).

Seminar nasional yang digelar pertama kalinya oleh para mahasiswi PAI Kampus Mantingan tersebut telah diikuti oleh lebih dari 600 peserta yang datang dari berbagai kalangan. Peserta kegiatan ini berasal dari murid tingkat sekolah dasar dan menengah, mahasiswi, hingga dosen. Adapun tema yang diusung kali ini ialah “Peluang dan Tantangan Dakwah di Era Revolusi Industri 4.0” dengan menghadirkan narasumber yang aktif berdakwah melalui media sosial baik Youtube maupun Intagram.

Narasumber

Perhatian dan antusiasme para peserta dalam menyambut ilmu yang diberikan Kak Fuad Bakh dan al-Ustadz Taufiq Affandi, M.Sc.Fin. mampu menyemarakan suasana yang berlangsung hingga tengah hari tiba. Adapun tujuan dari kegiatan ini ialah untuk menginspirasi para millennial Islamic youth agar lebih kreatif dan aktif untuk berdakwah melalui media sosial yang mendominasi di era modern kali ini.

Sosok Islamic influencer di Instagram dapat mempengaruhi jiwa anak millenial dengan segala kreativitasnya. Selain bekerja sebagai editor di berbagai saluran TV di Indonesia, Kak Fuad Bakh sangat aktif dalam dalam menyajikan konten yang edukatif dan bermanfaat dalam menguak kebenaran sejarah hingga ia mampu mengobarkan kembali semangat pemuda dalam berhijrah dan menjadi lebih baik.

Dengan media yang saat ini dapat dengan mudah diakses, Kak Fuad beserta timnya memiliki inovasi untuk mencari peluang dari tantangan media sosial yang telah berkembang dewasa ini. Ditinjau dari medsos yang sangat mendominasi kalangan millennial, ia beinisiatif untuk memanfaatkan internet sebagai sarana dalam menyebarkan pesan-pesan agama Islam. Di tahun 2015 Kak Fuad mulai merangkul media sosial sebagai sarana berdakwah di era yang didominasi oleh ketergantungan terhadap internet.
“…dahulu orang terkenal dengan prestasinya seperti B.J. Habibie, sekarang orang terkenal dengan sensasinya,“ ujarnya.

Mengingat virus K-POP yang melekat dengan generasi muda, virus tersebut mampu menjadi sumber negatif bagi mereka. Mereka terlena dengan kehadiran entertainment tersebut hingga mampu melupakan jati diri mereka yang sebenarnya. Maka inilah tantangan yang harus dihadapi bagi umat muslim khususnya.

Harus Kreatif

Beliau menambahkan tentang bagaimana kita dapat memanfaatkan mudahnya akses internet dalam menyari dan menyebarkan motivasi positif bukan malah kita yang dimanfaatkan oleh medsos? Hanya ada satu cara yang sangat ampuh dan efektif dalam memanfaatkan media sosial sendiri, yaitu dengan “kreatifitas“.
“Kreatifitas tidak akan mati meskipun dihancurkan, melainkan ia pasti akan mencari cara lain bagaimanapun keadaannya,“ pesannya.

Kalimat tersebut merupakan kalimat yang paling membekas di hati para hadirin. Inilah ramuan ampuh yang dianut oleh Kak Fuad sendiri dalam dakwahnya di media sosial. Ia melanjutkan bahwa “…perkembangan zaman tidak dapat ditahan lagi dan tidak dapat pula dihindari. Siapapun akan menjadi bagian dalam perkembangan zaman dan kita tidak sekadar menerima perubahan yang terjadi, namun juga menghadapinya”

Selain Kak Fuad, al-Ustadz Taufiq Affandi selaku Direktur Gontor TV juga turut diundang untuk berbagi pengalaman dan ilmunya. Adapun tema perbincangan yang dijamu oleh Sekretaris Rektorat UNIDA Gontor ini ialah “Dakwah in the Digital Age”.

Dalam pemaparannya, beliau menyampaikan tentang 7 tips dalam berdakwah, yaitu: “1) get closer Allah and don’t get distracted, 2) understand what the ummah need, 3) state a clear objective, 4) build a network, 5) read more, 6) start from your closer friend and relatives, 7) optimize social media for da’wah,”

Dipenghujung acara, panitia mengumumkan pemenang dari perlombaan yang telah diselenggarakan mulai dari Hari Jum’at s/d Sabtu (13-14/19). Kategori tingkat sekolah dasar sekitar Mantingan yakni lomba Pildacil, selain itu ada juga LKTI, Poster dan Video Maker yang masuk dalam kategori perlombaan nasional.

Acara yang ditutup sedemikian rupa mampu meninggalkan kesan dan pesan tersendiri bagi para hadirin bahwa yang dibutuhkan pemuda Islam saat ini adalah kreatifitas dalam penyampaian pesan-pesan keislaman tidak hanya untuk muslimin melainkan juga bagi seluruh umat manusia di era digital dan revolusi 4.0. (Rahmadina Andini/ HI-3)