Para Pelajar Amerika Diajak Santap Malam dengan Tajammu’

Sebagai upaya memberikan pelayanan maksimal kepada 22 pelajar Amerika dalam School for International Training (SIT), tentunya panitia yang terdiri dari para mahasiswa lintas jurusan UNIDA Gontor ingin memberikan kesan yang tak terlupakan. Salah satu hal menarik dalam memberi kesan baik tersebut adalah dengan mengajak para peserta SIT untuk bersantap malam bersama dengan tajammu’.

Tajammu’ merupakan sebuah tradisi makan ala santri tidak ditemui ditempat lainnya. Biasanya, para santri hanya membutuhkan beberapa lembar kertas atau daun pisang untuk dijadikan alas makanan. Cara memakan hidangannya pun juga sangat khas, yakni menggunakan tangan alias tanpa bantuan sendok dan garpu.

Pelajar SIT bertajammu'
Pelajar SIT bertajammu’

Inilah yang coba disuguhkan atau diperkenalkan UNIDA Gontor dengan identitas kepesantrenannya dalam menjamu makan malam para peserta SIT tersebut. Para peserta diajarkan bagaimana hidup ala pesantren dengan nilai kesederhaan yang tinggi, pastinya suatu hal yang tidak akan pernah mereka temui di negeri Paman Sam.

SIT Unida Gontor
SIT Unida Gontor

Meskipun awalnya terlihat sedikit canggung, namun setelah beberapa saat para pelajar Amerika tersebut mulai mahir memainkan jarinya dalam menjumput nasi, tanpa sendok. Mereka pun pada akhirnya nampak begitu menikmati jamuan makan malam tersebut, dengan alas daun pisang dan nasi di atasnya yang berpadu dengan tempe, tahu, telur setengah matang, dan sayur mayur.

International Symposium

Setelah selesai makan malam ala santri (tajammu’), kegiatan dilanjutkan dengan International Symposium. Kegiatan ini  bertemakan “Critical Global Issues” yang bertempat di Hall Utama lantai 4. Dua orang perwakilan dari peserta SIT dan juga seorang mahasiswa dari UNIDA Gontor diminta untuk menyampaikan makalahnya dihadapan para mahasiswa dan segenap civitas akademika sebagai bentuk upaya dalam memahami lebih jauh isu-isu global yang sering diperbincangkan.

Dalam sambutannya, Rektor UNIDA Gontor merasa senang dengan kehadiran para peserta Delegasi SIT di kampus Darussalam Gontor. Menurut beliau kegiatan semacam ini menjadi suatu kegiatan yang berharga bagi UNIDA Gontor.  Ini sebagai bentuk edukasi untuk salin bertukar pikiran dan juga pengalaman. Dan yang lebih jauh antara keduanya, terlebih dengan tema yang dibawakan pada malam symposium tersebut begitu menarik untuk dibicarakan.

Masih dari pidato beliau. Acara ini tentunya juga menjadi suatu keberuntungan bagi para delegasi SIT untuk mengenal lebih jauh kehidupan Kepondokmodernan. Dengan filosofi Islam sebagai dasar keyakinannya. “Sejujurnya kami sangat mengharapkan kedatangan kalian kemari, karena kami dapat belajar lebih banyak tentang bahasa inggris, dan budaya kalian,”. ujar Beliau.  “Sebaliknya kalian juga butuh kami dalam mempelajari lebih dalam budaya islam moderat di sini”, imbuh beliau dihadapan para peserta symposium.

Diskusi Bersama Peserta SIT “Critical Global Issues”

Dalam kesempatan kali ini, salah satu mahasiswa hubungan Internasional UNIDA Gontor, Ahmad Rivaldo, berkesempatan untuk mengisi salah satu materi bersama dua teman dari SIT yaitu Marcus Blumenfeld dari Occidental College,USA dan Kelly Sandoval dari University Of Redland, USA. Menurut mereka banyak sekali isu-isu global yang saat perlu menjadi perhatian bersama untuk terus didiskusikan. Ini adalah sebagai upaya pembentukan solusi, seperti isu lingkungan, politik, sosial bahkan isu agama yang saat ini masih hangat diperbincangkan.

SIT Unida Gontor
SIT Unida Gontor

Dalam sambutan lain, Director SIT (School For International Training) Abroad to Indonesia- Ibu Ni Wayan Ariati Pasek, Phd, merasa senang dengan sambutan yang diberikan Universitas Darussalam Gontor kepada para peserta SIT. Beliau berharap kerja sama yang baik antara SIT dengan UNIDA Gontor dapat terus terjalin hingga waktu yang akan datang.

“Saya merasa berterima kasih kepada Prof. Amal dan UNIDA Gontor yang telah mengizinkan kami untuk mempelajari lebih dalam nilai-nilai kepesantrenan dan juga moderate Islam seperti yang Prof. Amal sampaikan,” ujar Ibu Ary.

Symposium Internasional tersebut berlangsung cukup meriah. Ini ditandai dengan begitu antusiasnya para audience dalam mengutarakan pendapat maupun pertanyaannya kepada keynote speaker. Kegiatan pada malam itu berakhir pada pukul 22.30 WIB dan ditutup dengan sesi perfotoan bersama.

 

Mahasiswa Universitas Darussalam Gontor Belajar di Kantor Imigrasi Kelas 1 TPI Yogyakarta

Yogyakarta- Kamis 6 Februari, segenap mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Darussalam Gontor mengunjungi Kantor Imigrasi kelas 1 yang terletak di Kota Yogyakarta. Acara studi akademik ini diadakan guna menambah pengetahuan dan wawasan segenap civitas akademika HI UNIDA Gontor. Kantor Imigrasi merupakan salah satu dari 3 instansi yang dituju mahasiswa Hubungan Internasional UNIDA Gontor untuk Studi Akademik tahun 2019.

Tepat pukul 08.00 WIB pagi, rombongan sampai di tempat dan mendapat sambutan hangat dari para pegawai dan staf di Kantor Imigrasi Kelas 1 TPI Yogyakarta. Para mahasiswa langsung diarahkan untuk berkumpul di salah satu meeting room untuk audiensi.

Sesaimpainya di kantor imigrasi, para rombongan disambut hangat oleh pak Yusuf Umar Dhani selaku ketua kantor imigrasi kelas 1 TPI Yogyakarta. Sambil berbincang hangat, para mahasiswa diarahkan untuk memasuki ruangan khusus yang telah disiapkan oleh rekan Pak Yusuf untuk melaksanakan kuliah umum tentang keimigrasian.

Kantor Imigrasi Yogyakarta
Kantor Imigrasi Yogyakarta

Audiensi dimulai dengan sambutan dari Al-Ustadz Ali Musa Harahap, M.H.S selaku pembimbing Studi Akademik dan dilanjutkan sambutan oleh Bp. Yusuf Umar Dani selaku Kepala Kantor Imigrasi. Acara kemudian dipandu oleh 3 analis muda bidang keimigrasian Bu Rini, Bu Tri Widyawati, dan Bu Sintya.

Tujuan utama dari kunjungan ini adalah untuk mengetahui peran kantor imigrasi sebagai lembaga yang berhak memberikan dokumen perjalanan ke/dari Indonesia, izin berangkat, dan izin kembali.

Selain itu, mahasiswa juga diharapkan dapat mengetahui berbagai syarat dan pertimbangan staf imigrasi dalam mengeluarkan paspor untuk masyarakat Indonesia sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan. Tentunya ilmu-ilmu ini sangat berkaitan erat dengan pelajaran Bisnis dan Keamanan Internasional yang akan ditempuh mahasiswa pada semester berikutnya.

Kantor Imigrasi Kelas 1 TPI Yogyakarta

Kantor Imgirasi kelas 1 TPI Yogyakarta merupakan badan pengurus pemerintah yang salah satunya mengurusi keluar masuknya warga negara asing yang datang ke Indonesia. Sesuai dengan Undang undang no 6 tahun 2011 yang isinya tentang hal ikhwal lalu lintas orang yang masuk atau keluar wilayah Indonesia serta pengawasannya dalam rangka menjaga kedaulatan republik Indonesia.

Kantor Imigrasi Yogyakarta berdiri pada tanggal 01 April 1974. Semula kantor imigrasi Yogyakarta ini bernama “Kantor Imigrasi Kelas II Yogyakarta. Pada tanggal 19 Agustus 2004, kantor imigrasi kelas II Yogyakarta berubah nama menjadi Kantor Imigrasi kelas I Yogyakarta sesuai dengan keputusan Menteri Kehakiman RI No. M.05.07.04.2004.

Badan Pengelola Imigrasi mempunyai beberapa tugas dan fungsi yang diantaranya adalah :

  1. Melaksanakan tugas keimigrasian di bidang teknologi informasi dan komunikasi kemigrasian
  2. Melaksanakan tugas keimigrasian di bidang lalu lintas keimigrasian
  3. Melaksanakan tugas keimigrasian di bidang ijin tinggal dan status kimigrasian
  4. Melaksanakan tugas keimigrasian di bidang intelejen dan penindakan keimigrasian
  5. Melaksanakan tugas fasilitatif bidang tata usaha
  6. Membuat paspor untuk ke luar negeri

Penerbitan Paspor dari Kantor Imigrasi

Paspor adalah tanda pengenal yang wajib dimiliki setiap orang tanpa terkecuali ketika hendak bepergian ke luar negeri. Alasan seseorang dalam membuat paspor bisa bermacam-macam, seperti untuk mengenyam pendidikan di luar negeri, bekerja, ibadah haji/umrah, ataupun hanya sekedar liburan.

Bu Rini, dalam sesinya menjelaskan ‘keimigrasian’ dalam UU no. 6 Tahun 2011 tentang keimigrasian sebagai hal ihwal lalu lintas orang yang masuk atau keluar wilayah Indonesia serta pengawasannya. Melalui kantor imigrasi ini, masyarakat baik dari lokal maupun internasional mendapat fasilitas pelayanan seperti pembuatan paspor, kitas, dan lain sebagainya. Selain itu, imigrasi juga mengurusi pengawasan masyarakat asing yang tinggal di dalam negeri, maupun masyarakat Indonesia yang tinggal diluar negeri.

Adanya instansi ini memiliki beberapa tugas dan fungsi sendiri. Antara lain sebagai aparatur pelayanan masyarakat, sebagai pengawas dan penegakan hukum, dan sebagai fasilitator ekonomi nasional.

Kantor yang beralamat di Jl. Solo km. 10 ini mempunyai 5 wilayah kerja yaitu;

  1. Kota Madya Yogyakarta
  2. Kabupaten Sleman
  3. Kabupaten Bantul
  4. Kabupaten Gunung Kidul
  5. Kabupaten Kulon Progo

Setelah mendapatkan beberapa penjelasan tentang keimigrasian oleh Bu Rini, Bu Tri Widyawati, dan Bu Sintya, para mahasiswa pun diajak untuk berkeliling sekitar area perkantoran, dimulai dari ruangan pendaftaran hingga ruangan interview dan foto. Sembari berkeliling, kami diberi penjelasan lebih detail  tentang proses pembuatan paspor dan perpanjangannya.

Sesi Terakhir Berkeliling Kantor Imigrasi

Setelah asyik berkeliling kantor imigrasi, akhirnya tiba di sesi terakhir yaitu kesimpulan tentang peran keimigrasian bagi sistem pemerintahan di Indonesia. Perfotoan bersama menjadi sesi yang mengakhiri perjumpaan di Kantor Imigrasi. Para rombongan selanjutnya melanjutkan ke destinasi berikutnya.
(Jahhid)

Pembentukan Mental Mahasiswa HI UNIDA Gontor di Akademi Militer Magelang

Magelang- Rabu Pagi 5 Februari pukul 06.00 WIB, mahasiswa Universitas Darussalam Gontor tiba di Akademi Militer (AKMIL) Magelang dalam rentetan kegiatan studi akademik mahasiswa semester 2 Universitas Darussalam Gontor Program Studi Hubungan Internasional. Rombongan yang berisikan 45 mahasiswa beserta 3 pembimbing begitu antusias seketika mendarat di tempat tujuan. Kedatangan delegasi HI UNIDA Gontor di AKMIL pun disambut hangat oleh segenap perwakilan prajurit kebanggaan Lembah Tidar.

Lembah Tidar, nama legendaris Akademi Militer Magelang, menjadi kawah candradimuka strategis dalam rangka membentuk perwira militer tangguh, tegas, dan professional. Lembah Tidar terletak di lembah dan bukit berhawa sejuk di bagian selatan Kota Magelang, Jawa Tengah. Di Lembah Tidar inilah letak kompleks Akademi Militer, atau terkenal sebagai paku Pulau Jawa. AKMIL telah meluluskan ribuan alumninya yang kini telah menjadi para pemimpin bangsa di berbagai penjuru tanah air.

Di sini, para calon perwira nantinya akan ditempa dan dididik selama 4 tahun. Lulusan AKMIL secara langsung berhak mendapatkan pangkat Letnan Dua, pangkat terendah dalam jenjang karir perwira. Selama menjalani proses pendidikan sebagai Taruna Akademi Militer, segala keperluan akan disediakan oleh negara, mulai perlengkapan dari kepala sampai ujung kaki sudah tersedia dan seluruh fasilitas dibiayai oleh negara. Para taruna hanya fokus untuk belajar dan berlatih.

Dengan melakukan kunjungan ke AKMIL, para mahasiswa HI UNIDA diharapkan dapat mengambil nilai positif dari lingkungan pendidikan para calon prajurit Indonesia ini. Diantara nilai-nilai yang ingin dipetik adalah bela negara, rasa kepemilikan terhadap negara, disiplin, dan jiwa kepemimpinan.

Sesi pertama dalam kegiatan ini adalah pengenalan tentang sejarah AKMIL  Magelang. Sesi ini dipandu oleh Pak Mustafa yang menyampaikan materi terkait sejarah AKMIL dan bela negara. Di sesi ini, beliau banyak mengulas tentang perkembangan konflik di dunia hingga ancaman terorisme bagi tatanan dunia global.

Sejarah Museum Abdul Jalil AKMIL Magelang

Setelah sesi pertama, delegasi HI UNIDA Gontor lalu diajak berkeliling Museum Abdul Jalil. Adapun nama Abdul Jalil sendiri diambil dari seorang alumni AKMIL yang gugur di medan perang saat agresi militer kedua. Beliau adalah seorang prajurit yang penuh dengan dedikasi dan keahlian yang tak hanya di bidang militer, namun juga seni.

Di museum ini pula, seekor macan tidar jantan yang telah diawetkan di dalam kotak berkaca seakan menyambut setiap pengunjung yang akan masuk. Macan tersebut merupakan macan liar yang saat itu hidup disekitar Gunung Tidar yang akhirnya dijadikan simbol semangat juang para taruna.

Mahasiswa HI Magelang sedang dibariskan oleh Bapak TNI
Mahasiswa HI Magelang sedang dibariskan oleh Bapak TNI

Sesi Terakhir Pemberian Motivasi dan Arti Bela Negara

Setelah puas menjelajah museum dan komplek AKMIL, para mahasiswa mendapat materi leadership dan motivasi. Pak Mustafa, selaku pemateri sesi ini, nampak begitu antusias dalam menyampaikan materinya hingga menyulut api semangat para mahasiswa.

Setelah sesi terakhir ini, acara lalu ditutup dengan sesi perfotoan bersama. Besar harapannya dari kunjungan yang singkat ini mampu menyadarkan arti penting bela negara,  rasa kepemilikan bangsa, dan leadership bagi seluruh pemuda di Indonesia, khususnya mahasiswa HI UNIDA Gontor.  (Jahhid/HI-2)

Mahasiswi HI UNIDA Gontor Jadi Salah Satu Narasumber International Symposium

Sejumlah Mahasiswa dan Mahasiswi dari berbagai Universitas di Amerika kembali mengunjungi UNIDA Gontor kampus Putri Mantingan. Kedatangan mereka ke UNIDA Gontor ini merupakan salah satu kegiatan dalam Program School of International Training.

Program ini dibentuk untuk mengedukasi para perserta program terkait pendidikan, social budaya, dan keagamaan di Indonesia. Universitas Darussalam Gontor sebagai salah satu lembaga pendidikan yang berbasis pesantren turut berkontribusi untuk memperkenalkan pendidikan berbasis Islam dan dari sudut pandang Islam.

Setelah melewati beberapa rangkaian acara selama kurang lebih 2 hari, sampailah program ini pada puncaknya. Adapun malam puncak dari kegiatan SIT di UNIDA Gontor kampus Putri ialah International Symposium pada Senin, 24 Februari 2020. International Symposium ini diselenggarakan di Aula Pascasarjana lantai 3. Acara ini dihadiri oleh seluruh perserta SIT serta sebagaian mahasiswi UNIDA Gontor yang mengirimkan essay-nya untuk syarat mengahadiri International Symposium.

Miavania, salah satu mahasiswi HI Semester 6 berkesempatan untuk menjadi narasumber dalam International Symposium kali ini. Acara ini mengangkat tema The Role of Women in Education and Socio-Economics. Miavania mengambil studi kasus Women’s Contribution for Economic Growth in Indonesia.

Peran Wanita Menurut Islam

Melalui acara ini, Mia mengawali presentasinya dengan menjelaskan peran wanita menurut Islam. Terdapat 3 peran penting wanita dalam islam, yaitu peran natural, peran domestic, dan peran social.

Pertama, peran natural atau natural duty ialah peran yang hanya bisa dilakukan oleh wanita yang bisa disebut kodrat wanita. Kodrat wanita ini seperti mengandung, melahirkan hingga menyusui dan mendidik anaknya.

Kedua, peran domestik atau domestic duty ialah peran seorang wanita sebagai istri dan orang tua. Di sini, Islam mengajarkan seorang istri untuk menaati seorang suami dalam mengamalkan ajaran Islam. Seorang istri boleh untuk tidak menaati suaminya hanya ketika sang suami melanggar ajaran Islam.

Ketiga, peran sosial atau social duty ialah peran di lingkungan sosial kemasyarakatan yang mencakup aktivitas ekonomi, social budaya, dan masyarakat itu sendiri. Jadi, wanita disini bebas beraktivitas untuk meningkatkan kualitasnya dengan syarat tidak meninggalkan dua peran, natural dan domestic.

Baca Juga:

Kunjungan 19 Mahasiswi Amerika ke UNIDA Gontor Kampus Putri dalam rangka School for International Training (SIT) 2020

Kiprah Wanita Indonesia

Di Indonesia, wanita tidak diberi batasan dalam beraktivitas, khususnya dibidang ekonomi, politik dan social budaya. Hal ini dapat di buktikan dengan banyaknya jumlah wanita Indonesia yang berkontribusi aktif dalam membangun Indonesia. Ada Ibu Megawati Soekarno Putri yang menjabat sebagai mantan Presiden ke-5 RI. Sherly Annavita, sebagai Influencer muda berbakat yang berpikir kritis juga ikut menghiasi panggung politik Indonesia. Selain itu, ada juga Elizabeth Diana, diplomat wanita yang merupakan alumni dari Gontor Putri.

Dalam bidang Ekonomi, ada juga peran dari pengusaha besar seperti Blue Bird Corporation untuk meningkatkan peran wanita di dunia kerja. PT. Blue Bird ini berhasil meluncurkan buku dengan judul Kartini Blue Bird: The Spirit of Emak-Emak. Selain itu, PT. Blue Bird juga membentuk program bernama Kartini Blue Bird (KBB). Program ini memberikan kesempatan kepada para wanita untuk memperoleh pelatihan dalam bidang tata-boga, menjahit, serta pendidikan untuk mengembankan bisnis.

Diharapkan dari acara ini bisa memotivasi para mahasiswi, khususnya mahasiswi HI untuk terus berprestasi. Berprestasi dalam bidang akademik dan non-akademik, seperti yang dilakukan oleh saudari Miavania. Kepercayaan diri dan penguasaan Bahasa Inggris yang dimiliki Miavania inilah yang mengantarkannya untuk menjadi narasumber dalam acara International Symposium.

Penulis: Darmelia dan Miavania

Hukum Humaniter dalam Perspektif Islam

Humaniter atau Humanitarian Law dipopulerkan dengan sebutan International Humanitarian Law dan dalam terminologi Bahasa Indonesia disingkat dengan HHI (Hukum Humaniter Internasional), sesungguhnya berakar dari istilah hukum perang (laws of war) atau hukum konflik bersenjata (laws of armed conflict). Walaupun beberapa pakar bidang humaniter mengatakan bahwa konflik bersenjata tidak dapat disamakan dengan perang, akan tetapi kedua istilah tersebut hampir mempunyai pengertian serupa dan sama tak berbeda.

Akan tetapi fokus kajian Hukum Humaniter tidak membahas persoalan-persoalan mengapa terjadi konflik dan perang? Atau siapa yang salah dan benar? Tapi Hukum Humaniter akan condong fokus terhadap perihal pengaturan konflik bersenjata dengan tujuan utama memberikan pertolongan kepada orang2 yang menderita karena berperan sebagai korban dalam suatu perang atau konflik. Korban-korban tersebut diutamakan adalah korban yang tidak ikut terlibat dalam permusuhan kedua belah pihak secara langsung atau penduduk sipil

Mengatur perilaku permusuhan yang didasarkan harmonisasi antara kepentingan militer dan kepentingan kemanusiaan adalah tujuan utama Hukum Humaniter Internasional atau HHI. Maka fokus utama dalam kajian HHI adalah hal-hal seputar keamanan manusia dari dampak-dampak konflik bersenjata atau bahkan perang sekalipun.

Apa itu Konflik atau Perang didalam Islam?

Islam adalah agama, ajaran bahkan gaya hidup yang dipenuhi dengan moralitas dan etika; etika dalam perang salah satunya. Peperangan dalam Islam tidak bertujuan kepada hal-hal yang bersifat pembunuhan yang didasari oleh nafsu balas dendam. Akan tetapi Peperangan adalah sikap perlawanan terhadap musuh dalam hal pembelaan keimanan dan dakwah tentang ajaran-ajaran. Maka, peperangan didalam Islam dibenarkan dalam konteks kebutuhan-kebutuhan Syar’i.Islam memperkenalkan konsep perang dalam hal menentang ketidakadilan dan menolak permusuhan, ketika target itu sudah terpenuhi maka peperangan harus diakhiri.

Humaniter dalam perspektif islam
Humaniter dalam perspektif islam

Menurut Muhammad Amin didalam bukunya Islam dan urusan kemanusiaan menegaskan bahwa peperangan didalam Islam tidak pernah terjadi selagi Islam belum menawarkan perdamaikan. Maka hal ini menjelaskan bahwa Islam melakukan segala usaha dalam pencegahan-pencegahan terjadinya perang sedemikian rupa. Bahkan, dalam beberapa riwayat Nabi Muhammad lebih dahulu menawarkan dan mengajak perdamaian kepada pihak lawan atau musuh.

Tidak berhenti dalam ajakannya berdamai, Rasullulah menawarkan dengan pembayaran jizyah jika menolak dengan ajakan perdamaian. Apabila pihak lawan menerima tawaran ini, maka kaum Muslim menerimanya dan berkewajiban untuk melindungi mereka. Akan tetapi jika kedua tawaran ini ditolak, maka Rasulullah meminta kepada umatnya untuk memohon perintah Allah dan barulah memerangi pihak musuh atau lawan.

Bukan hanya akhlak sebelum berperang, Islam sebagai tuntunan mengajarkan akhlak dalam peperangan. Islam mengharamkan pembunuhan anak-anak kecil dalam suku dan etnik apapun. Maka, anak-anak orang yang tidak bergama atau musyrik sekalipun haram hukumnya dibunuh. Tidak diperbolehkan juga memerangi orang-orang yang tidak terlibat permusuhan, terutama dari kalangan kaum wanita, anak-anak, orangtua dan orang sakit. Bahkan, Islam tidak memperkenankan merusak lingkungan; seperti penebangan pohon, pembakaran Hutan atau mencemari laut. Berlebihan atau melampau batas adalah salah satu aspek penting didalam akhlak berperang. Misalnya, melanjutkan peperangan sementara pihak lawan sudah menyerah dan kalah.

Hal-hal yang bersifat nilai-nilai atau moralitas tersebut adalah landasan dari Hukum Humaniter Internasional. Dimana Akhlak adalah hal terpenting dalam penegakan keadilan dan kebenaran. Namun disini menjelaskan tentang Hukum Humaniter dalam Perspektif Islam.

Interpretasi Hukum Humaniter dan Fiqih Al Siyar

Sebelumnya telah dijelaskan bahwa Hukum Humaniter adalah pergeseran dari law of admed conflict yang notabene sebelumnya adalah law of war. Hukum perang sebagian besarnya adalah hukum tertua dari hukum internasional tertulis. Hukum ini mengalami beberapa modifikadi dan perubahan dengan seiring berkembangnya zaman. Konvesi Jenewa tahun 1949 telah memuatnya dalam 427 pasalnya. Konvesi yang telah melakukan pembukuan dan membakukan hukum ini dipelopori oleh International Commite of The Red Cross atau Red Cross Convention.

Prof. Dr. Mukhtar Kusumaatmaja dalam salah satu karyanya mengatakan bahwa hukum islam telah memberi sumbangan atau andil yang cukup besar didalam dunia Internasional. Maka hal ini yang menjadikan Fiqih Al Siyar klasik yang umumnya membahas hukum humaniter dalam perspektif Islam dapat ditemui essensinya dalam hukum yang kini ditemui dalam Hukum Humaniter Internasional.

Akan tetapi peperangan yang terjadi kini sifatnya lebih komplek dengan apa yang terjadi ketika zaman Rasulullah. Ketika zaman Rasul hampir semua peperangan disebabkan dengan permasalahan-permasalahan yang sifatnya adalah agama; agama Islam dan non Islan dipihak lain. Akan tetapi kompleksitas peperangan yang terjadi kini bisa jadi terjadi diantara dua pihak yang mayoritas penduduknya sama. Agama tidak menjadi sebab utamanya, hal-hal lain seperti ekonomi, sosial, budaya bahkan harga diri bisa menjadi sebab munculnya peperangan.

Maka, hal ini cukup menarik dan mengundang para akademisi untuk mengembangkan hukum-hukum yang bentuknya terbatas dengan internal madzhab. Melakukan perbandingan antara sistem hukum internasional dan hukum islam pada khususnya bisa dijadikan objek kajian menarik yang mampu melahirkan teori atau disiplin ilmu yang baru. Wallalu alam bisshawab

 

Pen : Nabila Huringiin