Mengenal Centre for Strategic and International Studies

Sebagai akademisi, para mahasiswi Hubungan Internasional UNIDA Gontor tidak hanya berkutat terkait praktisi diplomasi namun juga sebagai seorang ahli strategi. Kesempatan belajar tersebut berlangsung di Kantor Pusat Studi Strategis Internasional Indonesia, Gedung Pakarti Centre, Tanah Abang tepatnya pada Jum’at (14/01). Lembaga yang berdiri sejak September 1971 silam ini adalah sebuah badan pemikir atau think tank yang berfokus pada orientasi kebijakan.

Peran Centre for Strategic and International Studies

CSIS memiliki 3 departemen yakni Departemen Hubungan Internasional, Departemen Politik – Sosial dan Departemen Ekonomi yang masing-masing memiliki tujuh peneliti. Uniknya, lembaga ini mengabdi kepada negara secara mandiri atau independen tanpa terikat dengan salah satu instansi dan kepentingan pihak manapun.

Beberapa peran CSIS adalah menjadi bahan pemikir yang berorientasi pada kebijakan, melaksanakan clearing house bagi cendikiawan dan mengadakan penjabaran pendidikan. Tidak hanya itu, CSIS juga berperan secara langsung dalam menganalisis pemikiran untuk semua kalangan baik masyarakat maupun elit tanpa terkecuali.

Berbagai monograf, jurnal, buku dan publikasi ilmiah karya para peneliti telah diterbitkan CSIS baik kedalam Bahasa Inggris maupun Bahasa Indonesia. Selain kegiatan publikasi jurnal ilmiah, CSIS juga memberikan sumbangsih berupa kliping peristiwa dan juga diskusi ilmiah melalui ceramah, seminar, konferensi.

Pusat strategi tersebut memang memilki kegiatan penelitian dan program yang sangat aktif ditambah dengan kualitas kajian dan kapablitas para penelitinya. Tidak mengherankan bahwa CSIS pernah dinobatkan sebagai lembaga think tank terdepan di regional ASEAN dan Pasifik dalam beberapa tahun terakhir.

Dialog dengan Sang Ahli Peneliti Departemen Hubungan Internasional

Para mahasiswi HI semester 6 disambut langsung oleh Bapak Andrew Mantong dan Bapak Gilang Kembara sebagai peneliti Departemen HI CSIS. Pak Andrew melihat bahwa fokus dunia dewasa ini telah berubah yakni berpindahnya haluan global kepada peperangan atas kepentingan antara negara-negara. ‎

Dahulu, dunia hanya ditandai dengan dominasi unilateral yang dalam perkembangan selanjutnya, kekuasaan ‎bipolar menjadi fenomena persaingan kekuatan terbesar di dunia.‎ Dewasa ini, manusia lebih menerima dengan tangan terbuka kerjasama urusan jangka panjang dan cenderung egois dalam mencapai tujuan jangka pendek.

Dosen HI Universitas Indonesia tersebut menambahkan bahwa saat ini fenomena  globalisasi akan semakin berkembang pesat dan tidak dapat dihindari pergerakannya. Isu globalisasi mampu memengaruhi kegiatan industri yang berakibat rentan terhadap perubahan struktur ekonomi dunia seperti halnya kegiatan industri Amerika Serikat.

Dewasa ini, globalisasi memengaruhi kondisi Amerika yang dibuktikan dengan hampir tidak ada industri besar yang bertempat di tanah Indian tersebut. Sebagian besar pabrik raksasa milik pemerintah dan pengusaha USA tersebut telah ditempatkan di luar kawasan Amerika, seperti di benua Asia.

CSIS

Jika Pak Andrew lebih melihat kondisi dunia dari sisi teoritis, lain halnya dengan Pak Gilang yang condong pada sisi praktikal. Beliau lebih mengedepankan resolusi konflik dengan tiga isu utama yakni terorisme, women peace and security, juga dukungan Indonesia untuk Palestina.

Berbicara soal resolusi konflik, Indonesia lebih condong pada sektor regional yang tidak bisa ‎dilepaskan dari regional Asia Tenggara atau ASEAN. ASEAN diharapkan mampu meredam konflik wilayah dengan cara yang lebih damai ditambah ‎dengan pembinaan kawasan dan pengembangan kerjasama diluar regional.

Tipe pemerintahan setiap negara anggota ASEAN tersebut sangat ‎bervariasi dan secara bersamaan mampu memengaruhi hubungan national interest dengan collective ‎goods. Berangkat dari hal itu, tercerminlah bahwa ASEAN berperan sebagai ‎penengah atas berbagai macam pandangan demi menjaga sentralitas di Asia Tenggara.

Koordinator ASEAN juga  sangat berjasa dalam menyambung hubungan dilomatik dan kerjasama yang baik dengan wilayah regional di belahan dunia lainnya. Oleh karena itu, ASEAN dipercaya mampu meredam konflik dan mengurangi biaya penjagaan perdamian mengingat ongkos perbaikan konflik sangatlah mahal. ‎

Nalar Ajar Terusan Budi

Dilain sisi, lembaga penelitian dan strategi ini juga sangat terbuka bagi mereka yang ingin melaksanakan program magang dan fellownya. Untuk mendukung lancarnya penelitian, CSIS juga menyediakan fasilitas lainnya seperti perpustakaan dengan buku dan publikasi ilmiah yang cukup lengkap.

Perpustakaan yang dibuka untuk umum tersebut sengaja disediakan agar bisa dinikmati tidak hanya untuk para peneliti namun juga untuk masyarakat. Meskipun buku tersebut hanya dapat dibaca langsung oleh para pembaca di tempat, namun CSIS telah menyediakan pelayanan fotokopi sebagai solusinya.

Sebagai lembaga paling berpegaruh di tingkat internasional, CSIS juga sangat mengapresiasi tradisi intelektual yang diperankan oleh peneliti generasi muda Indonesia. Tidak mengherankan jika banyak calon ilmuan yang bekerjasama dengan lembaga penelitian strategi bergengsi ini untuk kemajuan Indonesia yang lebih baik.

 

Mengunjungi Sang Pembela Hak Perempuan

Kamis (13/02/20) Mahasiswi Hubungan Internasional UNIDA Gontor mengunjungi Kantor Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan). Kunjungan tersebut merupakan rentetan dari acara Studi Akademik 2020 bagi Mahasiswi HI Semester 6 dengan tujuan ibukota Jakarta.

Instansi yang beralamat di Jl. Latuharhary No.4B, Menteng, Jakarta Pusat merupakan objek ketiga dari empat institusi tujuan para mahasiswi. Pukul 13.00 WIB rombongan telah disambut oleh Staf Komnas Perempuan, dilanjutkan dengan meeting session di aula Komnas Perempuan.

Meeting session dan perkenalan mengenai Komnas Perempuan disampaikan oleh tiga narasumber utama. Mereka adalah Alimatul Qibtiyah, dari bagain akademisi, Nahe’I MHI, seorang Kyai, dan Olivia Chadidjah Salampessy, seorang politisi mantan walikota Ambon. Komnas Perempuan merupakan lembaga yang menerapkan Paris Principle, yaitu lembaga dengan anggota yang memiliki latar belakang yang beragam. Ketiga narasumber tersebut adalah contoh aktualisasi prinsip tersebut.

Alimah menyampaikan bahwa Komnas Perempuan adalah lembaga negara yang independen untuk menegakkan hak asasi manusia perempuan Indonesia. Lembaga ini sejenis  dengan Komisi Nasional Perlindungan Hak Asasi Manusia, dan Komisi Nasional Perlindungan Anak. Bahkan ketiga lembaga tersebut sering disebut sebagai tiga bersaudara. Lokasi Komnas HAM sendiri bersebelahan dengan Komnas Perempuan.

Sejarah Komnas Perempuan

Komnas Perempuan lahir ketika terjadi diskriminasi perempuan pada masa Reformasi, Oktober 1998. Masyarakat sipil menuntut keadilan dan tanggung jawab negara atas perlakuan terhadap perempuan yang tidak manusiawi. Kasus-kasus kekerasan seksual terjadi di kota-kota besar di Indonesia dengan menjadikan perempuan sebagai korban, khususnya etnis Tionghoa.

Tuntutan masyarakat tersebut akhirnya didengar oleh pemerintah Indonesia, dan terbentuklah Komnas Perempuan melalui Keputusan Presiden No. 181 Tahun 1998. Komnas Perempuan kemudian tumbuh menjadi salah satu Lembaga Nasional Hak Asasi Manusia (LNHAM). Terbentuknya lembaga ini merupakan wujud usaha pemerintah dalam meneguhkan dan mengembangkan HAM terhadap perempuan, serta menghapuskan kekerasan terhadap perempuan.

Peran, Tugas, dan Cara Kerja

Komnas Perempuan memiliki peran sebagai pemantau dan pelapor tentang pelanggaran HAM berbasis gender dan kondisi pemenuhan hak perempuan. Selain itu, lembaga ini juga berperan sebagai pusat pengetahuan (resource centre) tentang hak asasi perempuan. Komnas Perempuan turut andil merumuskan kebijakan negara, serta menjadi negosiator dan mediator antara pemerintah dengan komunitas korban/  pejuang hak perempuan.

Tugas selanjutnya yaitu sebagai fasilitator pengembangan dan penguatan jaringan di tingkat lokal, nasional, regional dan internasional. Hal ini bertujuan untuk kepentingan pencegahan, peningkatan kapasitas penanganan dan penghapusan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan.

Dalam Komnas Perempuan terdapat beberapa mekanisme dalam menjalankan tugasnya. Komnas Perempuan tidak membuka kantor cabang, hanya berada di ibukota. Hal ini dikarenakan lembaga tersebut memiliki peran mengkritik dan memberikan apresiasi kepada pemerintah mengenai hal-hal terkait HAM Perempuan.

Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan
Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan
kiprah Sang Pembela Hak Asasi Perempuan

Tidak hanya itu, lembaga ini juga aktif mengembangkan dan menguatkan jaringan lokal maupun nasional, melalui dukungan berupa finansial dan berbagai aspek lain. Komnas Perempuan memang bertugas membela hak-hak perempuan, namun lembaga ini tidak mendampingi atau melayani keluhan atau pengaduan secara langsung. Segala bentuk pengaduan akan dirujuk kepada mitra Komnas Perempuan (psikolog, pakar hukum, pengacara dll). Pengaduan dapat melalui telepon, email, ataupun mendatangi langsung Kantor Komnas Perempuan

Sebelum pertemuan ditutup, para mahasiswi dipersilahkan bertanya kepada para narasumber. Beberapa mahasiswi melontarkan pertanyaan-pertanyaan seputar penjelasan yang telah disampaikan, dan dijawab bergantian oleh tiga staf Komnas Perempuan tersebut. Salah satu pertanyaan yaitu seputar kontribusi Komnas Perempuan dalam aktifitas pebelaan Hak Asasi Perempuan di tingkat Internasional.

Komnas Perempuan tahun ini telah mengirim tiga delegasi untuk mengikuti acara di New York, yang bertema pembelaan HAM perempuan. Kiprah Komnas Perempuan terbukti melalui berbagai aktifitas tahunan maupun harian. Seperti Kampanye Pundi Perempuan, Mari Bicara Kebenaran, Kampanye Bhineka Tunggal Ika, dan berbagai acara lain di tingkat lokal dan internasional.

Acara ditutup dengan sesi penyerahan cinderamata dan perfotoan bersama. Diharapkan kunjungan ini mampu menyadarkan kita, bahwa perempuan memiliki hak yang perlu dilindungi, aga kekerasan apapun terhadap perempuan dapat terhapuskan. Semoga mahasiswi-mahasiswi di masa yang akan datang mampu memegang tegus dan mewujudkan cita-cita tersebut.

 

Penulis: Salsabila Safri Fitriani (HI-6)

Cerita dari UN Resident Coordinator in Indonesia

Hilir mudik kendaraan pagi hari khas kota megapolitan Jakarta telah mengiringi ‎perjalanan mahasiswi HI ke ‎kantor perwakilan UN di Indonesia. Kali ini, mereka berkesempatan emas untuk menyambangi kantor ‎perwakilan PBB di Indonesia atau the Resident Coordinator Office of United ‎Nations.‎ Mereka banyak memanen ilmu dari staf UNIC atau United Nations Information Centres tepatnya di Gedung Thamrin lantai 7, Kamis (13/02/20).

Sekilas tentang UNDSS

Jika penumpang pesawat mendapatkan sesi safety briefing oleh pramugari, maka ‎para mahasiswi juga mendapatkan sesi tersebut dari staf keamanan Residen PBB. ‎Sosialisasi mengenai “Safety Briefing for UN Visitor in UN Offices at Menara ‎Thamrin” tersebut berlangsung sebelum acara inti kunjungan dimulai. ‎
Sebagai lembaga perwakilan PBB, UNDSS (United Nations Departmen of Safety ‎and Security) selalu menyediakan pelayanan keamanan dan keselamatan secara ‎profesional.

Lembaga ini sengaja ditugaskan untuk mengelola riset dan jaringan ‎koordinator dengan mandatnya untuk melindungi seluruh personel PBB di seluruh ‎dunia. Safety briefing tersebut disampaikan langsung oleh kepala keamanan ‎Kantor PBB demi menghindari keadaan genting seperti halnya gempa bumi dan ‎kebakaran.‎

Mandat Misi Perdamaian Dunia ‎

Perserikatan Bangsa-Bangsa berdiri sebagai tonggak baru pencipta perdamaian ‎dunia dan menggantikan posisi LBB yang dianggap telah gagal melaksanakan ‎mandat perdamiannya. PBB telah berdiri sejak 26 Juni 1945 dan diresmikan pada ‎‎24 Oktober 1945 di San Fransisko, United State of America. ‎

Adapun lima mandat PBB adalah memelihara perdamaian internasional, ‎melindungi keamanan manusia, menyampaikan kemananusiaan, mempromosikan ‎pembangunan berkelanjutan dan mempertegas hukum internasional.‎

Hingga saat ini, sebanyak 193 negara telah tercatat sebagai negara anggota PBB ‎dengan lebih dari 24 perwakilan di beberapa daerah. Tidak hanya itu, UN Office ‎juga telah berada hampir di setiap negara anggota PBB seperti halnya UNIC di ‎Ibukota Jakarta. ‎Staf PBB sendiri telah mencapai angka 44.000 jiwa pegawai dari seluruh ‎penduduk dunia yang tersebar di berbagai negara anggota PBB.

Dilain sisi, ‎sebanyak 97.000 orang telah tercatat sebagai pasukan keamanan yang ‎mengabdikan dirinya sebagai agen peacekeeper demi melindungi stabilisasi dunia. ‎Seluruh kelengkapan UN tersebut dipimpin oleh Antonio Guterres sebagai ‎Secretary General yang mendapatkan amanat besar sebagai aktor utama dan ‎representator.‎

United Nations dan Indonesia

Indonesia yang berpopulasi lebih dari 250 juta jiwa ini telah menjadi anggota UN ‎ke 60 sejak 28 September 1950 silam. Saat ini dan esok, UN dan Indonesia selalu ‎berkomitmen untuk bekerjasama dalam mencapai tujaun Sustainable Development ‎Goals (SDGs) hingga 2030.‎

Sejak tahun 1950 tersebut, Indonesia juga sangat berjasa sebagai kontributor ‎terbesar ke-8 untuk operasi penjaga perdamian dunia atau UN Peacekeeping. ‎Disamping itu, Indonesia juga telah aktif dalam upaya membantu memulihkan ‎keadaan bencana baik di wilayah regional maupun di tingkat internasional.‎

Saat ini, negara dengan lebih dari 17.508 pulau ini telah dimandati dunia sebagai ‎Dewan Keamanan Tidak Tetap PBB tahun 2019-2020. Oleh karena itu, tidak ‎mengherankan bahwa Indonesia selalu berupaya dalam mengaktifkan 23 lembaga ‎PBB di Indonesia dalam mewujudkan mandatnya masing-masing.‎

Shaping Our Future Together

Bagi sebuah negara yang aktif bergerak seperti Indonesia, tentu saja memiliki ‎banyak rintangan dalam mewujudkan 17 sasaran tujuan SDGs 2030. Namun, hal ‎tersebut tentu saja tidak lantas membuat negara Indonesia menjadi pesimis dan ‎berkecil hati dalam mewujudkan cita-cita mulia tersebut. Maka dari itu, marilah ‎kita bergerak bersama dalam mewujudkan komitmen pembangunan berkelanjutan ‎hingga terciptanya dunia bebas kemiskinan di tahun 2030. ‎

‎“We’re counting on you! Karena tanpa kontribusi kita, tujuan SDGs hanyalah ‎mimpi belaka”‎

Kementerian Perdagangan Jadi Sumur Ilmu Mahasiswi UNIDA Gontor

Kementerian Perdagangan menjadi salah satu tujuan utama untuk pelaksanaan Studi Akademik Mahasiswi HI semester 6. Dalam Progam Studi Hubungan Internasional UNIDA Gontor, terdapat dua konsentrasi yang diadopsi, yaitu Studi Keamanan Global dan Bisnis Internasional. Untuk membantu penguasaan kedua konsentrasi tersebut, dilaksanakanlah Studi Akademik (SA) ke berbagai Instansi Pemerintah. Pada kesempatan ini, mahasiswi HI 6 berkesempatan untuk melaksanakan Studi Akademik ke Kementerian Perdagangan Republik Indonesia (Kemendag). Kunjungan pertama ini berlangsung pada 12 Februari 2020.

SA semester 6 yang didampingi oleh Usth. Novi Rizka dan Usth. Afni disambut baik oleh pihak Kemendag. Sambutan diberikan oleh Ibu Sri Nastiti, selaku Sekertaris Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan Internasional (BPPPI). Dalam sambutan tersebut Ibu Nastiti menjelalaskan sedikit mengenai Kementerian Perdagangan. Kemendag merupakan kementerian dalam Pemerintah Indonesia yang membidangi urusan perdagangan. Target sasaran kabinet pada tahun ini ialah menstabilkan harga serta meningkatkan ekspor dan mengamankan/meminimalkan impor. Sementara BPPPI merupakan merupakan pendukung unit-unit yang membantu didalam Kementerian Perdagangan. BPPPI ini tidak merumuskan suatu kebijakan, melainkan pihak yang merekomendasikan/mengusulkan kebijakan.

Setelah sambutan selesai dilanjutkan dengan kuliah umum oleh Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan, Bapak Djatmiko Bris Witjaksono, S.E., MSIE. Beliau disini menyampaikan mengenai kinerja perdagangan luar negeri Indonesia dan kebijakan Kementrian Perdagangan.

Bapak Djatmiko
Bapak Djatmiko
Perkembangan Makro Ekonomi Global

Indonesia merupakan salah satu negara yang mempraktikan ekonomi terbuka, yang mana saling mempengaruhi dan dipengaruhi oleh pihak eksternal dan internal, namun tingkatnya berbeda-beda. Jika membahas mengenai makro ekonomi, maka tak akan jauh-jauh dengan interdependensi yang terjadi antara negara-negara. Tetapi, kenyataannya kinerja ekonomi dan perdagangan global saat ini sedang melambat.

Pertumbuhan ekonomi dunia mengalami perlambatan, di mana pada tahun 2019 diperkirakan hanya tumbuh 2,9%, dari sebelumnya 3,6% pada tahun 2018. Pertumbuhan volume perdagangan dunia yang meliputi barang dan jasa juga mengalami penurunan. Pada tahun 2019 dikoreksi dari 1,1% menjadi 1,0% pada Januari 2020. Namun demikian, di awal 2020 sebelum adanya wabah virus Corona, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia akan mengalami perbaikan menjadi 3,3%. Serta, volume perdagangan dunia menjadi 2,9%.

Selain itu, kinerja perdagangan beberapa negara juga mengalami penurunan. Dengan kata lain, neraca perdagangan di berbagai negara pada tahun 2019 mengalami defisit. Negara tersebut antara lain Amerika Serikat, Inggris, Perancis, India, Spanyol, dan Jepang.  Surplus beberapa negara juga mengalami penurunan dari tahun 2019, seperti surplus Jerman, Belanda, dan Korea Selatan. Sementara kinerja ekspor beberapa negara yang masih tumbuh di tahun 2019, antara lain Australia dan India.

Tantangan Ekonomi dan Perdagangan Global

Tantangan Ekonomi dan Perdagangan Global saat ini semakin berat. Pertama, adanya sentimen terhadap globalisasi, yang mana lebih mementingkan unilateral daripada multilateral, seperti Amerika. Kedua, adanya isu-isu perdagangan bilateral yang berdampak global, seperti masalah Brexit antara UE dan UK. Hal tersebut dikaarenakan keduanya merupakan mitra dagang dan mitra investasi yang bisa mempengaruhi negara diluar dan anggota UE. Ketiga, sistem perdagangan multilateral yang dipertanyakan, yaitu WTO.

Keempat, adanya isu non-perdagangan, seperti wabah corona dan ketegangan geopolitik. Baru-baru ini nama virus corona diubah menjadi covid-19 oleh WHO. Hal tersebut dilakukan untuk mengindari nama virus corona disamakan dengan suatu entitas, nama hewan, dan negara.

Strategi Perdagangan Luar negeri Kementerian Perdagangan

Dalam kuliah umum singkat tersebut, bapak Djatmiko juga memaparkan tentang strategi perdagangan luar negeri kementrian perdagangan.  Diantara strategi-strategi tersebut yaitu pemanfaatan E- Commerce untuk produk domestik. E-Commerce sendri merupakan kegiatan jual beli barang/jasa atau transmisi dana/data melalui jaringan elektronik, terutama internet. Dengan perkembangan teknologi informasi dan software, hal ini membuat transaksi konvensional menjadi mungkin untuk dilakukan secara elektronik.

Selain itu, strategi lainnya adalah menggiatkan promosi ekspor dan penguatan pencitraan Indonesia. Dalam hal ini, kemendag mengadakan kegiatan tahunan, yaitu Trade Expo Indonesia. Expo mendatangkan pelaku usaha dari seluruh Indonesia, serta mnghadirkan pihak asing demi mempromosikan kegiatan ini.

Sesi Pertanyaaan
Sesi Pertanyaaan
Sesi Akhir

Setelah selasai penjelasan dari bapak Djatmiko, peserta dipersilahkan untuk mengutarakan pertanyaan. Farida, salah satu mahasiswi HI 6 dengan konsentrasi Bisnis Internasional menanyakan tentang UKM (Usaha Kecil Menengah). “Apa tantangan terbesar Kemendag dalam mengoptimalisasi seluruh UKM di Indonesia?”

Pertanyaan tersebut dijawab oleh Bapak Djatmiko dengan jelas dan terperinci. Pertama, hal ini mengenai kapasitas dan kapabilitas UKM sendiri, contohnya UKM tersebut masih kalah dibandingkan dengan industri lain yang lebih maju. Kedua, masalah finansial. Masih banyak diantara para pelaku UKM ini yang bermodalkan kecil, akibatnya sulit untuk bersaing. Ketiga, masalah legalitas. Dan terakir adalah masalah pengetahuan dan pendidikan. Pendidikan ini menjadi modal atau basic utama untuk menjalankan sebuah bisnis.

Setelah beberapa pertanyaan yang diajukan terjawab semua, acarapun sampai pada ujungnya. Acara ditutup dengan pemberian kenang-kenangan untuk Kemendag dan perfotoan bersama.

Diharapkan dengan kunjungan HI UNIDA Gontor ke Kemendag dapat menjalin kerjasama antar dua instansi tersebut. Selain itu, harapan terbesar bagi Mahasiswi HI adalah menjadi salah satu aktor yang membangun perekonomian bangsa melalui perdagangan.

Mahasiswi HI UNIDA Gontor Telaah Kesuksesan Alumni Gontor dari Forum Bisnis

Komplektifitas yang dimiliki jurusan Hubungan Internasional membuat bisnis menjadi sasaran empuk untuk memicu berkembangnya perekonomian. Meskipun dunia politik selama ini menjadi kajian disiplin Ilmu Hubungan Internasional, tidak ada salahnya jika bisnis lebih dikaji sebagai terapan soft power untuk pemenuhan interest tiap individu. Hal ini sangat berharga bagi para civitas akademik Hubungan Internasional Gontor. Bahkan menjadi kesempatan bagi mahasiswi dalam mengembangkan potensi kreatifitas ditengah ramainya perpolitikan yang ada.

Kunjungan ke Instansi Alumni Gontor

Rabu, 5/2/2020, setelah menjelajahi dunia sejarah tentang pembangunan Gedung Sate hingga perjuangan pemuda Bandung dalam mempertahankannya pasca proklamasi dari genggaman Belanda, tibalah saat dimana kunjungan Studi Akademik Hubungan Internasional ke instansi terakhir. Instansi ini memberi banyak inspirasi bagi khalayak mahasiswi untuk menekuni banyak hal. Pada kesempatan kali ini, mahasiswi Hubungan Internasional mengenal dunia bisnis oleh salah satu alumni Gontor di Bandung, yakni Ustadz Dadi Purwadi.

Jatuh Bangun Forum Bisnis

Forum Bisnis atau yang disingkat Forbis adalah unit usaha yang dibangun oleh alumni Gontor tahun 1988 ini. Dalam sepak terjangnya, Ustadz Dadi memiliki berbagai rintangan dan cobaan hingga melakukan bisnis.  Hal tersebut terjadi sebelum menekuni bisnis merchandise yang mengantarkan beliau hingga sukses seperti sekarang. Adapun usaha yang dilakukannya adalah berbisnis dengan produk-produk kaos. Namun hal ini memiliki akhir yang tidak ber-feedback positif bagi beliau.

Kegagalan sebelumnya membuat Ustadz Dadi berfikir kembali untuk meneruskan bisnis. Namun hal ini tidak cukup untuk membuat beliau berhenti. Ditengah kegagalannya, beliau mencoba kembali terjun dalam dunia bisnis dengan bidang minimarket. Tetapi, minimarket yang ia coba rintis masih belum menghasilkan sesuai yang ia harapkan. Hingga akhirnya, beliau berfikir dan menemukan ide baru untuk melakukan bisnis di bidang merchandise. Tidak diragukan lagi, bisnis dengan minimnya aktor ini mampu memberi beliau feedback positif bagi beliau hingga sekarang.

Impor Forum Bisnis

Ibarat sedikit menjadi bukit, usaha yang Ustadz Dadi tekuni kini beragam menjadi banyak produk. Mulai dari gantungan kunci, magnet kulkas, name tag, pin, tumbler hingga berbagi pandle organisasi dan institusi. Produk ini tidak hanya dipasarkan ke wilayah nusantara, namun juga manca negara. Adapun negara yang diimpor produk Ustadz Dadi adalah Malaysia, Singapura, Fiipina, Kongo, Jepang, hingga Italia. Negara-negara tersebut telah menyebar produk-produk hasil handmade beliau.

Tidak Mudah Putus Asa adalah Jiwa yang Gontor Ajarkan

Salah satu yang menjiwai Ustadz Dadi untuk tekun adalah segala pelajaran yang telah Gontor ajarkan. Gontor memberi banyak pelajaran yang menjadi dasar untuk terus maju dengan potensi dan semangat yang membara.

Awalnya saya tidak mengira bahwa bisnis ini akan mendatangkan hasil yang besar bagi saya. Karena umumnya, berkecimpung dalam dunia merchandise selalu dipandang sebelah mata di dalam masyarakat. Dan saya melihat peluang yang besar didalamnya seletah analisis saya dengan bisnis di bidang itu” papar beliau didepan mahasiswi jurusan Hubungan Internasional UNIDA Gontor.

Semoga pelajaran yang hadir dari serangkaian instansi kunjungan mahasiswi Hubungan Internasional UNIDA Gontor menjadi bekal dan ilmu bermanfaat. Seperti hal nya ilmu dan tekad yang Ustadz Dadi ajarkan. Ia membuktikan bahwa hasil tidak akan mengkhianati usaha jika dilandasi dengan doa.

Pen: Nabila/Angel