Mari Berkontemplasi Sejenak, Guna Menghindari Sesat Pikir (Logical Fallacy)

 

Kesalahan dalam menyusun dasar logika dengan mengabaikan pola-pola penalaran pada bidang disiplin tertentu, tentunya akan memunculkan suatu konklusi yang tidak sesuai dengan kelaziman berpikir pada disiplin ilmu pada umumnya. Pola pikir yang menyimpang tersebut dikenal dengan istilah “kekacauan dalam bernalar” atau “sesat fikir” yang dalam filsafat ilmu disebut sebagai “fallacy”.

Kendati demikian, penalaran premis-premis secara luas mutlak dipatenkan dalam dua termin yang berbeda demi mencapai kebenaran hakiki, Rasional dan Empiris. Apabila bersumberkan pada rasio dan fakta, maka dikenal sebagai paham Rasionalisme. Sedangkan mereka yang menyatakan fakta yang tertangkap lewat pengalaman merupakan kebenaran, maka mereka mengambangkan paham Empirisme. Kedua hal tersebut tak bisa dipisahkan bahkan harus dikolaborasikan agar menjadi dasar para ilmuan untuk berpikir, bernalar, hingga mengambil kesimpulan yang nantinya akan mudah menempatkan unsur subjektivitas dan objektifitas dalam dunia riset.

Permasalahan subjektifitas dan objektifitas dalam kehidupan ilmiah selalu menjadi perhatian para filsuf, professor, hingga para pakar keilmuan tertentu. Tak hanya itu, para kritikus pun sangat teliti dalam manganalisa unsur subjektivitas dan objektivitas argumen lawan bicaranya. Pemikiran-pemikiran tentang subjektifitas dan objektifitas mulai berkembang semenjak kemunculan Rene Descartes dengan bukunya “Diskursus dan Metodologi.” Dengan mengususng konsep cogito ergo sum nya dalam hal tersebut, maka proses penafsiran (interpretasi) harus merumuskan metodologi yang akan digunakan untuk mengukur seberapa jauh kemungkinan masuknya pengaruh subjektivitas terhadap pencapaian objektivitas sebagaimana yang diarapkan.

Lantas apakah kita sering melakukan “fallacy” dalam berpikir tanpa mengetahuinya ? Atau mungkin kita sering terjerumus dalam doktrin seseorang yang salah dalam berlogika? Untuk mengetahui jawabannya, mari kita lihat beberapa contoh dari “logical fallacy” sebagai berikut:

  1. Hasty Generalization (Generalisasi Berlebihan)

Kesalahan berpikir yang pertama adalah adanya upaya menarik kesimpulan dengan mencoba menggeneralisasi suatu kejadian dari skala kecil menuju skala besar dimana terdapat perbandingan yang tidak seimbang antara kedua objek.

Contoh :

Ada seseorang yang melihat berita di media massa tentang aksi kejahatan terorisme yang katanya didominasi oleh sekelompok ekstrimis Islam, lalu seseorang yang melihat berita tersebut baranggapan bahwa semua orang Islam adalah teroris.

Ini adalah salah satu contoh kesesatan dalam berpikir karena terlalu cepat menggeneralisasi apa yang sekilas dilihatnya, sehingga unsur objektivitasnya perlu dipertanyakan.

  1. Circular Reasoning (Penalaran yang Berputar)

Ini merupakan pengambilan keputusan yang penalarannya berputar-putar, tidak secara induktif maupun deduktif. Hingga akhirnya menghasilkan argumen yang sulit dipahami dan terkadang membuat lawan bicaranya ikut terbawa arus putaran dari si lawan tutur katanya.

Contoh : simak percakapan berikut!

A             : “Kera sakti itu ada”

B             : “Dari mana anda tahu bahwa kera sakti itu ada ?”

A             :  “Dari kitab suci”

B             :  “Kenapa anda mengetahuinya dari kitab ?”

A             :  “Karena kitab tersebut ditulis oleh kera sakti pada 70 tahun sebelum masehi, dan disitu tertulis bahwa dirinya (kera sakti) itu benar-benar ada.”

Contoh percakapan di atas jelas termasuk sesat pikir dan menyesatkan pikiran si penutur kata. Penalaran yang berputar-putar membuat khayalak kebingungan akan kebenaran suatu argumen yang tersampaikan.

  1. Slippery Slope (Lereng Licin)

Kategori ketiga ini adalah langkah kejadian yang mengakibatkan kejadian langkah berikutnya yang sangat panjang. A mengakibatkan B, B mengakibatkan C dan seterusnya. Sehingga pada akhirnya si pembicara membuat kesimpulan akhir bahwa A = C. Langkahnya terlalu panjang dan merujuk pada kesimpulan yang sifatnya simplistik.

Contoh :

Sering tidur > membuat pikiran jadi rileks

Pikiran rileks > mudah menghafal pelajaran

Mudah menghafal > menjadi rangking 1

Rangking 1 > membanggakan orang tua

Sering tidur = membanggakan orang tua

Sejak kapan A berbanding lurus dengan Z? Argumen di atas jelas tidak benar. Alasannya, hasil akhir tidak sama dengan kejadian di awal, kemudian membuat lawan bicaranya kebingungan akan penarikan kesimpulan yang begitu sederhana, dan lain sebagainya.

  1. Strawman (Orang-Orangan Sawah)

Merupakan argumen palsu sebagai pemutar balik pendapat lawan si (A) yang sebenarnya tidak disampaikan, tapi dibalas oleh lawan tutur (B) untuk menyerang dengan mengambil beberapa poin lawan dan memutar balikkannya dengan mengadopsi beberapa kelemahan tertentu.

Contoh :

Pemerintah berkata        : “kami akan memperbesar anggaran infrastruktur pembangunan jalan Trans Jawa”.

Lalu pembicara lainnya berkomentar terkait ungkapan pemerintah di atas

Rakyat                                 : “pemerintah tidak peduli pendidikan di daerah kita, anggaran infrastruktur yang besar adalah tanda tak kepeduliannya.”

Argumen komentar dari salah satu rakyat ini akan menipu orang-orang karena seakan-akan argumen pemerintah telah dipatahkan secara telak.

  1. Ad Hominem

Argumen yang ditujukan untuk lawan bicara namun balasan argumen tersebut tidak menyentuh argumen si lawan bicaranya melainkan mengandung unsur kepribadian / menyentuh ranah pribadinya.

Contoh :

Seseorang mengkritik temannya yang hobi main game.

A             : “tidak usah main game ! main game itu dapat merusak mental.”

B             : “kalau tidak bisa main game lebih baik kamu diam saja!” 

  1. False Dichotomy

Hal ini terjadi jika seseorang berpendapat hanya stagnan pada dua pilihan. Antara positif dan negatif, antonim dan sinonim, baik dan buruk, rajin dan malas, dan lain sebagainya.

Contoh sederhana :

“untuk menjadikan murid pintar, maka diperlukan murid bodoh.”

  1. Complex Cause

Hal ini berararti bahwa suatu kejadian yang bersifat kompleks hanya disebabkan oleh satu kejadian, dan satu sebab kejadian itu benar-benar dianggap sebagai akar permasalahan. Artinya, cara pandang seseorang terhadap sesuatu tidak open-minded.

Contoh :

“kekalahan tim kita disebabkan oleh pemain sayap kanan yang ceroboh pada menit ke 72 yang telah membiarkan bola dari arah lawan melewatinya”.

  1. Equivocation (Pengelakan)

Pengunaan kata yang sama untuk 2 arti yang berbeda dalam 1 atau 2 kalimat baku.

Contoh :

 “How can you face your problem that your problem is your face?

Kesimpulan, dari 8 contoh diatas ada beberapa faktor yang menyebabkan pikiran atau logika seseorang terindikasi sebagai logical fallacy, yaitu (1) dimana argumen memiliki kesan menipu, (2) terdapat kesalahan dalam berlogika, dalam artian tak bernalar secara induktif ataupun deduktif, dan (3) apa yang diutarakan dapat menyatu terhadap argumen.

Dengan adanya pengelompokan variabel logical fallacy, kita sebagai makhluk sosial nan komunikatif dapat berpendapat secara realistis dan mengedepankan objektifitas, dan tidak dapat terpengaruh oleh pendapat orang lain. Hal ini dimaksudkan agar dapat mencerna kalimat informatif dan persuasif dari lawan tutur kata. Dari sini khayalak dapat menentukan keputusan yang baik untuk berkomentar, memberi tanggapan, berorasi, serta bernegosiasi. Inilah aset intangible (insight) atau soft skill yang harus dimiliki oleh para negosiator guna mencapai kepentingan yang ia bawa dalam forum lobbying.

Pen: Fitrah Alfiansyah

Ed: Wildi Adila

HI UNIDA Raih Juara 2 Lomba Story Telling Bahasa Prancis di Yogyakarta

UNIDA Gontor adalah lembaga perguruan tinggi yang terkenal dengan standar bahasa Inggris dan Arabnya yang baik. Dua bahasa internasional tersebut secara aktif digunakan di beberapa kegiatan kampus, seperti proses belajar mengajar di kelas, seminar nasional dan internasional, bimbingan, hingga pengasuhan. Penguasaan bahasa Arab dan Inggris yang baik ini diharapkan dapat memudahkan para mahasantri untuk membuka tabir ilmu di berbagai belahan dunia Timur dan Barat.

Modal Bahasa Arab dan Inggris ini ternyara mampu menjadi stepping-stone para mahasiswa UNIDA Gontor untuk menguasai bahasa asing lain, Prancis contohnya. Tak tanggung-tanggung, beberapa mahasantri inipun berani unjuk kebolehan dengan mengikuti kompetisi Bahasa Prancis di luar UNIDA.

Beberapa waktu lalu, 5 mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional semester 1 menjadi delegasi Universitas Darussalam Gontor dalam lomba yang diadakan oleh Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Perlombaan yang diadakan pada tanggal 19 September sampai 21 September ini mendapat antusias dari berbagai kalangan pelajar, baik dari SMA/sederajat hingga mahasiswa. Tercatat ada 4 macam cabang yang dilombakan, yaitu Debat, Pidato, Story Telling, dan Puisi.

Lomba yang menggunakan tema “Budaya” dan “Bahasa” ini menjadikan seluruh perlombaannya sarat akan bahasa dan budaya lintas negara. Hal ini terlihat dari atribut dan pakaian yang bervariasi, hingga kegiatan yang seluruhnya dilaksanakan dengan bahasa Arab, Inggris, dan Prancis.

story telling -
story telling –

Pada perlombaan ini, kelima mahasiswa HI UNIDA Gontor mengikuti cabang Story Telling berbahasa Prancis. Mereka membawakan sebuah cerita klasik karya Charles Perrault. Judulnya adalah “Le Chat Botte” atau dalam versi inggris “Puss in Boots”. Cerita ini mengisahkan tentang anak bungsu dari seorang petani tua. Ketika ayahnya meninggal, ia hanya meninggalkan seekor kucing untuk si bungsu. Ternyata kucing itu bukan sembarang kucing. Dia adalah seekor kucing yg bisa berbicara dan cerdas (licik). Atas bantuan si kucing, si anak ini mampu merubah kehidupannya 180 derajat. Yang sebelumnya hidup serba kekurangan, akhirnya anak bungsu tersebut dapat hidup bahagia dan mendapatkan semua keinginannya.

Alhamdulillah, delegasi Universitas Darussalam Gontor berhasil menjadi juara 2.  Zakir, Zulfadhillah, Ragil, Aditya, dan Arif berhasil mengalahkan beberapa delegasi yang juga ikut serta dalam cabang lomba ini. Keberhasilan ini tak lepas dari kedisiplinan dalam latihan, usaha yang tak kenal lelah, hingga do’a dan support dari semua dosen HI yang tak pernah putus.

Sang ketua delegasi, Zakir, mengaku bahwa proses latihan timnya memang tidak bisa dikatakan mudah. “Tim kami hampir semua personelnya belum lancar berbahasa Prancis. Jadi kita mulai dari paling dasar, yaitu pengucapan alfabet dan kata. Syukurnnya, kami diuntungkan dengan kemampuan bahasa Inggris teman-teman yang lumayan baik. Banyak kosa kata bahasa Prancis yg memiliki kesamaan dengan bahasa Inggris. Yang membedakan hanya pengucapannya saja. Alhamdulillah, dalam waktu seminggu kami sudah cukup menguasai cerita yang kami tampilkan untuk lomba kemarin, tegas Zakir.

Harapannya, keberhasilan mereka ini dapat menjadi sebuah pengalaman beharga. Pengalaman yang dapat melecut semangat mahasiswa lainnya untuk terus berprestasi dan aktif di dalam kegiatan masing-masing, baik itu kegiatan akademik ataupun non-akademik. [Haekal/Ed.Wildi]

 

Berita terkait:

Beasiswa Santri LPDP, Beasiswanya Mahasiswa UNIDA

LoA, Surat Sakti Para Pemburu Beasiswa

Beberapa Contoh Teks MC Bahasa Inggris

Mengenali Kebudayaan Turki bersama Mahasiswi Universitas Zaim Sabahattin Turki

Ketika mendengar nama negara satu ini, hal pertama yang mungkin akan terlintas di benak kita adalah kebab. Turki juga erat dengaan presidennya, Erdogan, yang terkenal sebagai pemimpin Islam yang dengan gagahnya mengecam dan menentang zionisme Israel. Namun, jika menelisik lebih jauh lagi, ternyata banyak hal yang menarik untuk dibahas, terutama mengenai kebudayaan mereka. Beberapa diantaranya adalah kuliner, fesyen, sampai dengan tempat-tempat traveling yang bisa dijadikan rujukan para sobat traveler.

Forum diskusi dengan tema religion
Joint Forum Sebagai Wadah Bertukar Pendapat

Mahasiswa Hubungan Internasional UNIDA bersama mahasiswi Universitas Zaim, Sahabattin Istanbul mengadakan Joint Forum atau diskusi bersama pada Selasa, (07/13) yang bertempat di hal pertemuan Sirah Nabawi. Kegiatan ini diadakan dalam rangka memperluas wawasan ilmu pengetahuan dan jaringan pertemanan antara mahasiswa UNIDA dengan mahasiswi Istanbul Zaim University (IZU). Acara ini dibagi menjadi tiga rentetan yaitu kuliah umum yang dibawakan langsung oleh dua perwakilan mahasiswi Turki, diskusi bersama dengan tema utama: agama, pendidikan, budaya, kemudian diakhiri dengan penyampaian hasil diskusi.

Kota Pariwisata

Pada sesi kebudayaan kali ini terdapat tiga narasumber utama yakni Azra Gul Orekici, Irem Sena, dan Edanur Gun. Irem memulai berjalannya diskusi dengan memaparkan banyaknya destinasi pariwisata yang dapat dikunjungi. Utamanya yaitu di Istanbul sebagai ibukota mulai dari spot pemandian air panas, snowboard dikala musim dingin, hingga bangunan ikonik Turki peninggalan zaman kekhilafahan Turki Utsmani.

Hal yang menarik lagi dari Istanbul adalah banyaknya populasi kucing di kota tersebut. Karena jumlahnya yang masif, Istanbul terkenal dengan sebutan the city of cats. Bahkan, konon setiap kucing di Istanbul memiliki rumah sendiri. Meskipun begitu, berdasarkan penjelasan Azra, ternyata tidak semua orang di Istanbul menyukai kucing.

Pemandangan di salah satu sudut kota di Istanbul

Selanjutnya, Edanur menambahkan jika Anatlya ( Anatolia ) juga memilki tempat-tempat wisata alam yang tidak kalah indah jika dibandingkan dengan Indonesia. Kemudian ada juga ada kota Izmir yang mempunyai sejarah cukup erat dengan bangsa Yunani karena memang pada awalnya kota ini dibangun oleh bangsa Yunani hingga akhirnya dibebaskan oleh Dinasti Turki Usmani.

Selain itu, Turki ternyata memiliki kuliner khas yang tak kalah terkenal dari kebab. Makanan tersebut disebut Lokma, yaitu berupa kue kering yang dibuat dari ragi dan gorengan berbentuk bulat yang biasanya disajikan dengan madu, sirup dan kayu manis.

Lokma
Saling Lempar Pertanyaan

Dalam diskusi ini, kedua belah pihak baik mahasiswa UNIDA maupun mahasiswi IZU saling bertukar cerita dan pengalaman sehingga keduanya memiliki kesempatan untuk bertanya mengenai kebudayaan negara masing-masing.

Ada hal unik ketika mereka membahas salah satu kota pariwisata teramai di Indonesia, Bali. Menurut para mahasiswi Turki ini, Bali ternyata lebih familiar di telinga mereka dibandingkan ibukota Jakarta, bahkan, dari Indonesia itu sendiri. Hal ini sangat masuk akal mengingat Bali merupakan destinasi utama turis mancanegara yang berkunjung di Indonesia khusunya bagi mereka yang ingin menikmati suasana pantai dan berolahraga selancar. Bali memiliki kriteria spot yang sesuai bagi mereka, tutur salah satu mahasiswi  Turki.

Acara ini diakhiri dengan pemaparan intisari/closing statement dari masing-masing cluster  yang dibimbing oleh pengampu matakuliah studi kawasan Eropa HI UNIDA, Belly Rahmon, MA. [Reyhan/Ed.Wildi]

Berbakti kepada Masyarakat untuk Mewujudkan Negeri yang Madani

Tridharma Perguruan Tinggi

Mahasiswa Universitas Darussalam Gontor mengimplementasikan satu nilai dari tridarma perguruan tinggi yaitu pengabdian masyarakat. Sebagai civitas akademika, mahasiswa mempunyai peran penting dalam membina bangsa dan mempertahankan peradaban umat. Idealnya, seorang mahasiswa tidak boleh hanya menyerap apa yang mereka lihat selama di jenjang pendidikan, akan tetapi mereka juga hendaknya go public untuk mengamalkan apa yang telah mereka serap sebagai bentuk kesadaran sosial-intelektual.

Bakti Sosial

Kali ini, Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat (LPKM) UNIDA Gontor mengadakan kegiatan bakti sosial sebagai wadah bagi mahasiswa untuk memberikan pengalaman dibidang pendidikan dan pengajaran. Hal ini juga bertujuan sebagai serta sebagai problem solver terhadap permasalahan kontemporer di kalangan masyarakat pedesaan.

Bakti sosial berlangsung sejak tanggal 9 Agustus 2019 – 12 Agustus 2019 dan melibatkan 142 mahasiswa semester 1 (peserta) dan 56 mahasiswa semester 3 (panitia pelaksana). Aktivitas yang kaya akan syarat sosial ini diadakan sebagai sarana dakwah jahriyyah dan membumikan nilai-nilai Islam berbasis amr ma’ruf nahi munkar.

Antusiasme Warga

Desa Wates Kec. Jenangan merupakan tempat terlaksananya kegiatan bakti sosial yang terdiri dari Dusun Galuh dan Dusun Krajan. Sesampainya tiba di lokasi, para peserta yang tediri dari mahasiswa UNIDA Gontor lintas prodi disambut meriah oleh para warga. Hal ini dibuktikan dengan antusiasme 12 warga yang menawarkan rumahnya sebagai posko para peserta. Tak hanya itu, di hari pertamanya para mahasantri UNIDA sudah diminta untuk mengajar di madrasah, menghidupkan kembali bi’ah TPA, hingga inisiasi pelatihan penggunaan pupuk organik oleh mahasiswa program studi Agroteknologi.

 

Rangkaian Kegiatan Bakti Sosial

Adapun serangkaian kegiatan sosial yang telah terlaksana di bumi Galuh dan Krajan terdiri dari pelatihan penyembelihan hewan kurban oleh Ust. Noor Syahid, M.Pd, pelatihan penggunaan pupuk organik dan pemasaran hasil panen oleh mahasiswa Agroteknologi, layanan bekam gratis oleh UKM thibbun nabawi, pengajaran ilmu fikih di madrasah, kultum selepas sholat subuh, hingga memeriahkan suasana idul adha dengan mengadakan perlombaan menarik untuk seluruh kalangan masyarakat desa Wates.

Ditutup dengan Serangkaian Pentas Seni

Sebagai akhir atas selesainya acara tersebut, panitia mengadakan pagelaran pentas seni yang dimeriahkan oleh mahasiswa dan masyarakat setempat. Beberapa diantaranya adalah Reog Ponorogo, jatilan, pencak silat SH terate, dan beberapa tarian kombinasi dari teman-teman panitia. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembagian hadiah oleh Pak Suwaji selaku Kepala Desa Wates dan diakhiri dengan sepatah kata terimakasih dari Ust. Hasib Amrullah (kepala staf direktorat kepengasuhan) kepada masyarakat desa setempat.

Memilih Lapar: Diplomasi dan Islam era Kemerdekaan

Hari Bersejarah Bagi Perjuangan Diplomasi Indonesia

Pagi itu, sekira pukul 9 waktu Kairo, delegasi Indonesia yang dipimpin oleh Agus Salim tampak tegang dan cemas menunggu peristiwa maha penting bagi masa depan Republik Indonesia yang baru lahir. Keheningan menyelimuti ruangan depan kantor Perdana Menteri Norkrasyi Pasha, yang telah menyanggupi pertemuan penandatanganan kerjasama internasional pertama Indonesia dengan Mesir. Namun, pintu ruang kerja Perdana Menteri tak kunjung terbuka. Kondisi itu membuat suasana semakin tak karuan.

Tiba-tiba, pintu terbuka dan muncul seorang pria berwajah Eropa keluar tergesa-gesa dengan wajah pucat dan lesu. Rupa-rupanya, ia adalah Graaf van Rechteren, Duta Besar Belanda untuk Mesir yang telah gagal dengan misinya. Menjegal kerjasama Indonesia-Mesir, yang berarti mengakhiri klaim kekuasaan mereka atas Indonesia.

“Menyesal sekali kami harus menolak protes tuan, sebab Mesir selaku negara berdaulat dan sebagai negara yang berdasarkan Islam tidak bisa tidak mendukung perjuangan bangsa Indonesia yang beragama Islam. Ini adalah tradisi bangsa Mesir dan tidak dapat diabaikan!”.

Lugas dan tegas. Rentetan kata-kata yang keluar dari Perdana Menteri Mesir Nokrasyi Pasha kepada Duta Besar Belanda membuat Rechteren tak bisa berbuat apa-apa. Saat itu, tanggal 10 Juni 1947 adalah hari bersejarah bagi perjuangan diplomasi Indonesia. Kerjasama kedua negara sebagai pertanda pengakuan internasional de jure pertama bagi kemerdekaan Indonesia, diteken.

A.R. Baswedan, saksi sekaligus penutur cerita tentang situasi tersebut mengungkapkan perasaan yang menggelora dan tak terlupakan. Betapa perjuangan panjang ini akhirnya mendapat jawaban. Hanya ungkapan syukur kepada Allah yang bisa ia panjatkan atas karunia-Nya dan berkat-Nya.

Perjuangan Pemuda Indonesia di Mesir

Perjuangan pengakuan ini panjang ceritanya. Mesir masa itu, dengan pelajar dan mahasiswa Indonesia di sana adalah salah satu poros penting gerakan kemerdekaan Indonesia di luar negeri, selain di Belanda dengan Indische Vereeniging yang lebih tenar itu tentunya. Gerakan itu telah dimulai bahkan pada awal tahun 1920-an. Ia bergerak sangat agresif. Masif. Tak terbendung. Bahkan, menurut Dr. Sutomo yang berkunjung ke Kairo tahun 1931, “pemuda-pemuda Indonesia yang berada di Kairo terlalu panas dan perlu didinginkan”.

Tak cukup disitu, pelajar dan mahasiswa Indonesia yang kala itu belajar dengan beasiswa dari pemerintah Belanda dengan tegas menolak mengambil hak tunjangan mereka demi memurnikan perjuangan juga sebagai tirakat gerakan kemerdekaan Indonesia di Mesir. Dalam salah satu paragraf petisi yang dikeluarkan oleh warga Indonesia di Mesir kala itu menyatakan dengan keras dan menggetarkan: Menolak secara serentak untuk menandatangani tanda terima tunjangan dan memilih lapar daripada harus mengkhianati Tanah Air dan dikeluarkan dari kebangsaan (Indonesia).

Para pemuda itu rupanya tidak hanya mempromosikan Indonesia kepada masyarakat umum lewat kawat-kawat yang dikirim ke berbagai media nasional di Mesir, gerakan ini bahkan menyentuh elit-elit politik negeri itu. Tak hanya elit Mesir, pertemuan Pan Arab (sekarang Liga Arab) pada 6 September 1944 yang dihadiri oleh para menteri luar negeri negara-negara arab di Alexandria, Mesir pun dibajak dengan beberapa permintaan yang salah satunya adalah dukungan atas kemerdekaan Indonesia. Imbasnya, muncul simpati dari negara-negara Arab atas nasib perjuangan Indonesia.

Sampai-sampai, Abdurrahman Azzam Pasha, Sekjen Liga Arab saat itu, menjadi juru diplomasi utama perjuangan pengakuan kemerdekaan, lewat lobi-lobinya kepada para elit politik di Timur Tengah. Dengan satu kata kunci: Indonesia, yang Islam, membutuhkan bantuan! Maka tak heran, atas dasar persaudaraan Islam, seperti yang dinyatakan oleh Raja Farouq, Mesir mengakui kemerdekaan Indonesia yang kemudian diikuti oleh beberapa negara arab lain seperti Suriah, Lebanon, Yaman dan Arab Saudi. Merdeka! [Sofi Mubarok]

Artikel terkait:

Beasiswa Santri LPDP, Beasiswanya Mahasiswa UNIDA

 

http://hi.unida.gontor.ac.id/2019/09/05/biografi-abu-bakar-assidiq-dan-gaya-diplomasinya/

MEMAKNAI “SDM UNGGUL INDONESIA MAJU” DALAM KONTEKS IDEOLOGI PANCASILA

KEBEBASAN YANG DINANTI-NANTI GUNA MEWUJUDKAN CITA-CITA BANGSA

Budaya Membaca dan Menulis, Ibarat Tanaman yang Tak Terawat