Mahasiswi HI UNIDA Gontor Ikuti ASEAN Youth General Forum 4.0

Sebanyak 9 mahasiswi HI Unida Gontor mengikuti kegiatan ASEAN Youth General Forum 4.0 di Yogyakarta pada November lalu. ASEAN Youth General Forum ini merupakan merupakan program rutin Hubungan Internasional, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Event ini merupakan sebuah wadah yang dibentuk untuk menumbuhkan minat pemuda ASEAN terhadap isu-isu global yang sedang marak terjadi serta menjadi sarana pembelajaran bagi delegasi untuk menemukan solusi.

Di dalam acara ini, delegasi mengikuti seminar Internasional dengan pembahasan mengenai isu global yang sedang terjadi dan disampaikan oleh seorang pakar. Kegiatan selanjutnya adalah simulasi sidang PBB atau MUN, yaitu kegiatan akademik dimana delegasi belajar tentang diplomasi, hubungan internasional dan lainnya. MUN mengajarkan keterampilan public speaking, debat, menulis, berpikir kritis, kerja sama tim, dan kepemimpinan. Setelah menemukan solusi, para delegasi akan diajak untuk merehatkan pikiran dengan mengunjungi situs bersejarah yang terdapat di kota Yogyakarta.

SEMINAR INTERNASIONAL

Pembawa acara dalam ASEAN Youth General Forum 4.0

Acara ASEAN Youth General Forum 4.0 dibuka dengan seminar internasional dengan mendatangkan pembicara yang kredibel. Adapun pembicara yang hadir dalam seminar internasional ini adalah Mrs. Nguyen Tuong Van selaku General Secretary of ASEAN Inter-parlementary Assembly. Beliau menyampaikan materi mengenai keamanan berkelanjutan serta kesadaran internasional terhadap isu-isu yang berkembang di ASEAN, dan sedikit membahas mengenai AIPA.

Pembicara selanjutnya ialah Mr Riaz J.P Saehu selaku Director of ASEAN Culture and Social Cooperation Ministry of Foreign Affair. Dalam seminarnya, beliau menjelaskan mengenai peran Indonesia dalam menjaga perdamaian serta langkah ASEAN menghadapi masalah yang dihadapi oleh Negara anggotanya.

Pemateri yang terakhir ialah Mrs. Putri Arie Hendra Murti selaku Environment Officer of Environmental Education and Youth Engagement of ASEAN Secretary. Beliau menyampaikan bagaimana cara menjaga lingkungan dan peran anak muda dalam pelestarian lingkungan di ASEAN.

MUN (Model United Nations) AYGF 4.0

Delegasi HI UNIDA menyampaikan argumen nya dalam AGYF 4.0

MUN adalah simulasi sidang atau kegiatan akademik dimana delegasi belajar mengenai diplomasi, hubungan internasional dan lainnya. MUN melibatkan dan mengajarkan dalam meneliti, public speaking, debat, dan keterampilan menulis, berpikir kritis, kerja sama tim, dan kepemimpinan. Partisipasi dalam MUN ini dimaksudkan untuk berlatih negosiasi, berbicara dan keterampilan komunikasi.

MUN ini dibagi menjadi 2 council, yaitu UNSC (United Nation of Security Council) & UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change). Pembahasan yang dijadikan topic dalam MUN kali ini sangat menarik kerena menyangkut isu-isu global yang ada di sekitar kita. UNSC bertemakan “Combating Terrorist Movement in Southeast Asia” dan UNFCCC “Climate Change Mitigation: Building Resilient Agriculture to Ensure Food Security”.

Site Visit ASEAN Youth General Forum 4.0

Pertunjukan wayang golek di Yogyakarta

Site visit atau berkunjung ke situs sejarah di daerah Yogyakarta merupakan rangkaian kegiatan akhir sebelum penutupan. Pada kegiatan ini para delegasi diajak untuk mengunjungi situs bersejarah seperti batik Yogya serta penampilan wayang golek. Para delegasi di kenalakan dengan sejarah batik dan motif batik, serta cara pembuatan pola batik hingga pada tahapan pengeringannya.

Selain itu, delegasi diperkenalkan kepada wayang sebagai salah satu warisan budaya Indonesia yang harus dilestarikan keberadaannya di zaman modern ini. Pada sesi ini para delegasi diceritakan tentang sejarah wayang serta bagaimana silsilah wayang itu sendiri.

Sepenggal harapan pemuda ASEAN

Dari berbagai kegiatan yang kami ikuti, kami berharap dapat meningkatkan kepemimpinan, pemikiran analitis, diplomasi, dan keterampilan berbicara di depan umum. Serta dapat menjadi motivasi bagi teman-teman yang lain untuk dapat berlomba-lomba berpartisipasi dalam membangun dunia yang damai.

“The youths of today are the leader of tomorrow”-Nelson Mandela

(Darmelia Puspita Sari, HI 2018)

 

MAHASISWI HUBUNGAN INTERNASIONAL JUARA III LOMBA ESSAI DI AJANG PADJADJARAN FEST & CONFERENCE (PFC) 2020

Pada tanggal 11-13 November 2019, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, Bandung menyelenggarakan sebuah kegiatan prestise di kampus tersebut. Adapun kegiatan yang mereka selenggarakan bernama Padjadjaran Fest and Conference 2020 dan bertajuk “Memperkuat Perbatasan untuk Perkembangan Indonesia.”

Tiga mahasiswi semester 3 yang cukup aktif dari Prodi Hubungan Internasional Universitas Darussalam Gontor tergerak untuk mengikuti acara selama 3 hari ini. Mereka ialah Dita Nur Safitri, Arya Rahmania dan Zahra Fariha yang pada akhirnya berhasil mengharumkan nama besar UNIDA Gontor dengan menjadi pemenang dalam perlombaan berskala nasional tersebut.

Debat dan Konferensi Esai merupakan dua kategori lomba yang diadakan pada acara Padjadjaran Fest and Conference. Meski perlombaan ini diikuti banyak peserta dari universitas bergengsi di Indonesia, delegasi UNIDA membuktikan bahwa mereka juga bisa, jika ada kemauan yang kuat. Jiwa bersaing dan mental untuk maju menjadi acuan membara mahasiswi HI UNIDA ini.

Seminar Nasional

Hari pertama diawali dengan pembukaan dan technical meeting bagi peserta lomba PFC 2020 di Balai Kusumaatmadja, Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran. Sambutan dari ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran mengawali acara ini. Selain itu, pembukaan juga diadakan secara meriah dengan ditampilkannya tari Jaipong oleh dua mahasiswi Fakultas Kesehatan Unpad. Acara dilanjutkan dengan diadakan seminar nasional dengan tema “Memperkuat Perbatasan untuk Perkembangan Indonesia”.

Kompetisi Debat dan Presentasi Esai

conference
presentasi essai PFC

Di hari kedua, perlombaan berupa debat dan presentasi esai mulai dilakukan. Dalam kompetisi debat, terdapat 14 tim yang merupakan delegasi dari berbagai universitas di Indonesia. Kompetisi presentasi esai dengan 19 tim kemudian dikategorikan menjadi 5 sub-tema; ekonomi, sosia budaya, pertahanan dan keamanan, infrastruktur dan pariwisata.

Delegasi dari Universitas Darussalam Gontor, dengan nama kelompok Depositum Roses menjadi salah satu finalis dalam kompetisi presentasi esai. Sub-tema infrastruktur mereka tentukan sebagai pembahasan dalam perlombaan ini. Dalam membahas infrastuktur, delegasi membahas mengenai “Isu Pemindahan Ibukota: Upaya Pemerintah Dalam Pengembangan Daerah Perbatasan Indonesia”.

Field Trip

Pada hari ketiga, field trip diadakan untuk seluruh peserta lomba Padjadjaran Fest & Conference. Tempat-tempat yang dikunjungi adalah Gedung Konferensi Asia Afrika, Jalan Braga, Alun-Alun Bandung dan Museum Gedung Sate.

Field trip yang dilaksanakan di beberapa tempat bersejarah di Bandung bertujuan untuk memperkenalkan kota Bandung dari segi sejarah karena tidak semua peserta PFC 2020 berasal dari Bandung. Adapun destinasinya adalah Gedung Konferensi Asia Afrika, Museum Gedung Sate, Alun-alun Bandung dan Jalan Braga dipilih untuk kunjungan field trip acara ini.

Penutupan dan Pengumuman Pemenang PFC 2020

Penutupan acara yang disingkat PFC 2020 ini berlangsung mulai pukul 16.00 WIB sampai dengan selesai. Penutupan diisi dengan berbagai macam jenis penampilan seperti Paduan Suara Angklung dan Band dari Unit Kegiatan Mahasiswa Universitas Padjadjaran Bandung.

Di penghujung waktu, tibalah pengumuman para pemenang lomba debat dan konferensi esai. Khusus untuk perlombaan konferensi esai, pemenang juara satu, dua dan tiga ditentukan berdasarkan sub-tema masing-masing.

Adapun untuk sub-tema infrastruktur, delegasi UNIDA Gontor berhasil memboyong gelar Juara III atas perlombaan konferensi esai dengan nama kelompok Depositum Roses. Semoga ini menjadi batu loncatan bagi mahasiswa lainnya.

(Zahra Fariha Artyasa/HI-4)

SEINMUN 2019, Ajang Penyatuan Niat dan Perubahan Lebih Baik di Era Revolusi 4.0

Model United Nations adalah salah satu kegiatan favorit yang saat ini begitu digandrungi bagi generasi muda. Tidak hanya untuk para mahasiswa HI, melainkan juga telah diminati oleh mahasiswa dari berbagai program studi. Disini, para mahasiswa terus diasah kemampuannya terutama ketika dihadapkan sebagai utusan negara pada simulasi sidang PBB. Dari simulasi tersebutlah sang diplomat yang menjadi perwakilan negara dituntut untuk dapat mempertahankan kedaulatan negara dan memperjuangkan national interest-nya.

Selama mengikuti proses penyeleksian, para mahasiswa dituntut untuk jeli dan teliti dalam mencari referensi terpercaya. Hal tersebut dilakukan demi mengetahui isu-isu terbaru sehingga memudahkan mereka dalam pembuatan position paper. Maka dari itu, tidaklah mudah bagi para mahasiswa yang dapat lolos mengikuti ajang bergengsi tersebut.

Adalah Nur Azizah dan Shafa Arif, dua mahasiswi Hubungan Internasional yang turut serta menjadi peserta dalam salah satu kegiatan MUN. Kegiatan ini secara resmi diselenggarakan di Universitas Diponegoro dengan nama SEINMUN 2019 atau Semarang International Model United Nations.

Tentang SEINMUN 2019

Adapun SEINMUN kali ini mengusung tema “Embracing Alteration: Unifying Intentions, Enhancing Awareness Toward Peace and Justice 4.0”. Acara tersebut telah berlangsung tepat di Grand Candi Hotel, Semarang, Jawa Tengah (19-21/09).

SEINMUN adalah simulasi sidang dimana peserta berdiri sebagai delegasi dari negara-negara yang ada di dunia. Salah satu tujuannya adalah untuk menangani berbagai masalah yang ada di dunia dengan politik dan perspektif negaranya masing-masing. Setiap peserta dituntut untuk memikul peran sebagai perwakilan dari negara anggota PBB dan SEINMUN akan mengajarkan setiap pesertanya bagaimana cara berdiplomasi dengan baik. Serta, kegiatan ini berguna untuk menstimulus para millenial dalam berpikir kritis, sehingga mampu menyampaikan gagasan mereka dengan jelas dan ringkas.

Tidak hanya itu, mereka juga dipandu untuk memahami isu kontemporer mengenai masalah council yang telah ditentukan sebelumnya. Adapun council tersebut  ialah UNESCO  dalam Utilizing Education and Local Culture as Means of Peace Building. ILO dalam isu Automation in the Disruption Era| Challenges or Opportunities. UNSC dalam hal Dilemma of Contemporary Security the Usage of Autonomous Weapons System in Modern Warfare. Acara ini diharapkan mampu mencetak generasi yang peka dan tanggap dalam mengatasi isu-isu internasional. Hal ini guna mewujudkan perdamaian dan perubahan dunia ke arah yang lebih baik.

MUN

-MUN-
Tak Hanya Menjadi Delegasi

Shafa, salah satu delegasi mengisahkan bahwa dengan mengikuti MUN, ia dapat membangun jaringan dengan teman-teman baru dengan pengalaman unik dan menarik. Dari sanalah, Shafa semakin termotivasi untuk terus memetik dan menebarkan manfaat yang telah mereka dapatkan dari pengalaman mengikuti MUN.

Lain halnya dengan Shafa, dalam pandangan Azizah, mengikuti kegiatan MUN adalah hal yang tidak sulit untuk digapai jika kita ingin berdoa dan berusaha dengan sebaik-baiknya. Ia juga bercerita bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk dapat meraih apa yang menjadi passion serta mengasah skill yang ada pada jiwanya.

Maka dari itu, semua orang memiliki kesempatan yang sama besar untuk mengikuti kegiatan ini, tidak hanya mahasiswa HI saja. Azizah berharap, keikutsertaannya dalam acara ini dapat terus memotivasi para mahasiswi lainnya untuk terus belajar dan berjelajah di bumi Allah yang luas ini. [Fiani]

Artikel Terkait:

28 Mahasiswa Hubungan Internasional Mengikuti Pelatihan School of MUN

UNIDA Gontor Utus Delegasi Asia Youth International Model United Nation (AYIMUN) 2019

Kiprah Delegasi HI UNIDA di Ajang Model United Nations (MUN) | Universitas Katolik Parahyangan Bandung

Peluang dan Tantangan Dakwah di Era Revolusi Industri 4.0

Tantangan revolusi industri 4.0…

Tahun ini, Program Studi Pendidikan Agama Islam UNIDA Gontor telah sukses menyelenggarakan Seminar Nasional EYOFEST (Education Youth Festival) yang diselenggarakan di Gedung Kulliyyatu-l-Banat Gontor Putri Kampus 1, Ahad pagi (15/9/19).

Seminar nasional yang digelar pertama kalinya oleh para mahasiswi PAI Kampus Mantingan tersebut telah diikuti oleh lebih dari 600 peserta yang datang dari berbagai kalangan. Peserta kegiatan ini berasal dari murid tingkat sekolah dasar dan menengah, mahasiswi, hingga dosen. Adapun tema yang diusung kali ini ialah “Peluang dan Tantangan Dakwah di Era Revolusi Industri 4.0” dengan menghadirkan narasumber yang aktif berdakwah melalui media sosial baik Youtube maupun Intagram.

Narasumber

Perhatian dan antusiasme para peserta dalam menyambut ilmu yang diberikan Kak Fuad Bakh dan al-Ustadz Taufiq Affandi, M.Sc.Fin. mampu menyemarakan suasana yang berlangsung hingga tengah hari tiba. Adapun tujuan dari kegiatan ini ialah untuk menginspirasi para millennial Islamic youth agar lebih kreatif dan aktif untuk berdakwah melalui media sosial yang mendominasi di era modern kali ini.

Sosok Islamic influencer di Instagram dapat mempengaruhi jiwa anak millenial dengan segala kreativitasnya. Selain bekerja sebagai editor di berbagai saluran TV di Indonesia, Kak Fuad Bakh sangat aktif dalam dalam menyajikan konten yang edukatif dan bermanfaat dalam menguak kebenaran sejarah hingga ia mampu mengobarkan kembali semangat pemuda dalam berhijrah dan menjadi lebih baik.

Dengan media yang saat ini dapat dengan mudah diakses, Kak Fuad beserta timnya memiliki inovasi untuk mencari peluang dari tantangan media sosial yang telah berkembang dewasa ini. Ditinjau dari medsos yang sangat mendominasi kalangan millennial, ia beinisiatif untuk memanfaatkan internet sebagai sarana dalam menyebarkan pesan-pesan agama Islam. Di tahun 2015 Kak Fuad mulai merangkul media sosial sebagai sarana berdakwah di era yang didominasi oleh ketergantungan terhadap internet.
“…dahulu orang terkenal dengan prestasinya seperti B.J. Habibie, sekarang orang terkenal dengan sensasinya,“ ujarnya.

Mengingat virus K-POP yang melekat dengan generasi muda, virus tersebut mampu menjadi sumber negatif bagi mereka. Mereka terlena dengan kehadiran entertainment tersebut hingga mampu melupakan jati diri mereka yang sebenarnya. Maka inilah tantangan yang harus dihadapi bagi umat muslim khususnya.

Harus Kreatif

Beliau menambahkan tentang bagaimana kita dapat memanfaatkan mudahnya akses internet dalam menyari dan menyebarkan motivasi positif bukan malah kita yang dimanfaatkan oleh medsos? Hanya ada satu cara yang sangat ampuh dan efektif dalam memanfaatkan media sosial sendiri, yaitu dengan “kreatifitas“.
“Kreatifitas tidak akan mati meskipun dihancurkan, melainkan ia pasti akan mencari cara lain bagaimanapun keadaannya,“ pesannya.

Kalimat tersebut merupakan kalimat yang paling membekas di hati para hadirin. Inilah ramuan ampuh yang dianut oleh Kak Fuad sendiri dalam dakwahnya di media sosial. Ia melanjutkan bahwa “…perkembangan zaman tidak dapat ditahan lagi dan tidak dapat pula dihindari. Siapapun akan menjadi bagian dalam perkembangan zaman dan kita tidak sekadar menerima perubahan yang terjadi, namun juga menghadapinya”

Selain Kak Fuad, al-Ustadz Taufiq Affandi selaku Direktur Gontor TV juga turut diundang untuk berbagi pengalaman dan ilmunya. Adapun tema perbincangan yang dijamu oleh Sekretaris Rektorat UNIDA Gontor ini ialah “Dakwah in the Digital Age”.

Dalam pemaparannya, beliau menyampaikan tentang 7 tips dalam berdakwah, yaitu: “1) get closer Allah and don’t get distracted, 2) understand what the ummah need, 3) state a clear objective, 4) build a network, 5) read more, 6) start from your closer friend and relatives, 7) optimize social media for da’wah,”

Dipenghujung acara, panitia mengumumkan pemenang dari perlombaan yang telah diselenggarakan mulai dari Hari Jum’at s/d Sabtu (13-14/19). Kategori tingkat sekolah dasar sekitar Mantingan yakni lomba Pildacil, selain itu ada juga LKTI, Poster dan Video Maker yang masuk dalam kategori perlombaan nasional.

Acara yang ditutup sedemikian rupa mampu meninggalkan kesan dan pesan tersendiri bagi para hadirin bahwa yang dibutuhkan pemuda Islam saat ini adalah kreatifitas dalam penyampaian pesan-pesan keislaman tidak hanya untuk muslimin melainkan juga bagi seluruh umat manusia di era digital dan revolusi 4.0. (Rahmadina Andini/ HI-3)