Telaah Konsep Moderasi Islam dalam Perspektif Human Security | Bag. 2

Dalam memahami security, Islam memiliki konsep yang lebih dulu mapan. Konsep yang serupa dengan human security ini sudah dikenalkan Islam sekitar 1400 tahun yang lalu. Hanya saja, human security dalam konsep Islam nyaris tidak dikembangkan dan cenderung disalahartikan. Konsep human security Islam terlahir begitu saja sebagai ajaran agama (wahyu Tuhan). Berbeda dengan human security dalam kajian keamanan internasional yang dicipta akibat traumatik perang dan paksaan globalisasi.

Dalam agama Islam, kita mengenal sebuah konsep yang sering menimbulkan perdebatan, yaitu jihad. Konsep jihad itu sendiri dibagi ke dalam dua fokus, yakni Jihad Ashgor dan Jihad Akbar. Jihad Ashgor yang dimaksud adalah isu high politic di dalam konsep keamanan tradisional. Secara spesifik, hal tersebut berarti perang fisik atau penggunaan kekuatan militer. Namun, berbeda dengan konsep keamanan tradisional, perang dalam konsep jihad bukan perang yang bertujuan untuk meraih kepentingan nasional semata (ofensif)[1]. Perang di dalam konsep Islam merupakan pilihan terakhir yang terpaksa dilakukan negara untuk mempertahankan diri. Artinya, di dalam ajaran Islam justru perang fisik sebisa mungkin harus dihindari oleh negara. Oleh karena itu, dalam konsep ini peluang negara melakukan penyalahgunaan militer harusnya sangat kecil.

Sedangkan Jihad Akbar adalah konsep yang dimaksud dengan human security di dalam Islam. Tidak untuk memerangi musuh secara fisik, Jihad Akbar justru dapat menjadi titik tersulit manusia dimana mereka harus melawan hawa nafsunya, menghindari segala potensi negatif manusia yang merugikan dirinya, orang lain, serta lingkungan[2]. Jihad Akbar lebih jauh mengatur keamanan individu manusia. Selain mengatur agar seorang manusia tidak menjadi ancaman manusia lainnya, konsep ini juga memperhitungkan bagimana individu manusia tidak membahayakan dirinya sendiri. Jihad akbar sangat berperan sebagai benteng pertama dan terkuat manusia untuk tehindar dari peperangan.

Misconseption Jihad

Dalam artikelnya, Holtmann menjelaskan perbedaan yang paling mendasar bagaimana Barat dan Islam memandang terorisme; antara kriminal dan jihad. Barat memahami jihad dalam budaya Islam sebagai perang yang digambarkan sebagai tindakan untuk bertarung dan membunuh. Artinya, terorisme memang dipandang Barat memiliki legitimasi hukum dalam ajaran Islam. Pandangan ini berseberangan dengan fakta sejarah bahwa munculnya terorisme hanya bisa dilacak sejak Revolusi Perancis pada tahun 1793 atau dalam kata lain baru muncul sekitar 200 tahun yang lalu. Sedangkan jihad sudah diperkenalkan Islam sejak sekitar 1400 tahun silam sebagai pondasi ajaran agama[3].

Jihad dalam ajaran Islam tidak selalu berarti perang. Apalagi tindak kekerasan atas nama ajaran agama. Setidaknya ada dua makna inti jihad dalam ajaran Islam selain perang sebagai pilihan terakhir. Pertama, jihad dalam pengertian moral. Mengenai hal ini Yusuf al-Qaradhawi memandang jihad dalam artian moral meliputi jihad terhadap hawa nafsu tadi. Sehingga perang fisik tidak termasuk dalam pengertian ini. Kedua, jihad dalam makna perjuangan melaksanakan ajaran Islam. Al-Qaradhawi menjelaskan bahwa jihad lainnya adalah menanggung penderitaan dan kepayahan menjalankan kewajiban agama[4]. Maka maksud dari konsep jihad yang sesungguhnya bukanlah perang fisik apalagi terorisme sebagaimana yang dituduhkan.

Ironi Realita

Seperti halnya keamanan internasional dipahami dalam dua pengertian, sempit (Keamanan Tradisional) dan luas (Keamanan Non-Tradisional), konsep jihad pun demikian. Diartikan secara sempit sebagai perang (Jihad Ashgor) dan secara luas mencakup semua upaya sungguh-sungguh memperbaiki kualitas kehidupan manusia (Jihad Akbar). Sebagaimana dalam konsep human security yang mencakup beberapa aspek pokok keamanan, setidaknya, Islam menggariskan lima pokok jihad untuk kebaikan seluruh umat manusia. Kelima aspek pokok tersebut adalah jihad dengan ucapan, jihad dengan pendidikan, jihad dengan kuasa pemerintahan, jihad dengan politik dan jihad dengan harta benda. Jihad-jihad tersebut merupakan bentuk kontribusi yang dapat dilakukan oleh seorang manusia untuk kebaikan semua.

Hanya saja sangat disayangkan, bukan hanya disalahartikan oleh Barat, jihad juga seringkali diselewengkan pemeluk Islam sendiri. Ironisnya, jika masyarakat Barat sampai hari ini memahami jihad sebagai terorisme, sebagian pemeluk Islam juga berpikir demikian. Adapun sebagaian pemeluk Islam lainnya menerjemahkan secara buta bahwa jihad adalah restu untuk menumpas pemeluk agama lain. Hal ini merupakan salah satu yang semakin menguatkan pandangan negatif dunia mengenai jihad.

Hal mengherankan lainnya mengenai gonjang-ganjing pemahaman dan pengaplikasian jihad adalah fakta konflik di Timur Tengah yang hingga detik ini tiada pernah usai. Akibatnya, ratusan ribu jiwa manusia tak bersalah menjadi korban. Penggunaan militer secara berlebih memang hanya akan berujung pada kesengsaraan umat manusia, seperti yang gemar dilakukan negara-negara Islam dalam sepuluh tahun terakhir. Inilah yang menjadikan semangat perdamaian ajaran Islam menjadi kian meredup.

Penulis: Ahmad Mina Ruhul Amin

Editor: Wildi A

 

Berita terkait:

Telaah Konsep Moderasi Islam dalam Perspektif Human Security | Bag. 1

 Referensi:

[1] Perang dengan syarat jika diserang dalam Tafsir Al Maraghi, Vol 1, hlm. 132.

[2] Hadist tentang jihad akbar dalam Kanzul Ummal, No. 11260.

[3] Philiph Holtmann, Terrorism and Jihad: Differences and Similiarities, Vol 8, No. 3, 2014. Hlm. 2.

[4] Yusuf Qardhawi, Fiqih Jihad: Sebuah Karya Monumental Terlengkap Tentang Jihad Menurut Al-Qur’an dan Sunnah, (Bandung: Mizan, Cetakan I, 2010), hlm. lX.

Telaah Konsep Moderasi Islam dalam Perspektif Human Security | Bag. 1

Kajian tentang Keamanan Internasional dalam disiplin Ilmu Hubungan Internasional terus mengalami perkembangan mengikuti dinamika dunia yang semakin kompleks. Globalisasi membuat manusia semakin rentan mengalami berbagai ancaman baru, seperti kemunculan isu terorisme, pengungsi, peredaran narkoba, kelaparan, wabah penyakit, pelanggaran HAM, kerusakan lingkungan dan hal lainnya.

Dengan demikian, konsep keamanan dari yang semula hanya dipahami dalam konteks militer dan aktor negara saja (keamanan tradisional), kini semakin meluas hingga menyentuh dimensi-dimensi non-milliter, aktor-aktor non-negara, individu manusia, hingga lingkungan hidup. Selanjutnya, konsep mutakhir ini dikenal dengan istilah keamanan non-tradisional atau human security yang mencakup mulai dari dimensi keamanan politik, keamanan ekonomi, keamanan pangan, keamanan kesehatan, keamanan lingkungan, keamanan masyarakat, hingga keamanan personal[1].

Konsep human security sejatinya bertujuan untuk memberikan keamanan secara menyeluruh kepada manusia, melindungi manusia dari ketakutan (freedom from fear), dan juga menyejahterakan manusia (freedom from want)[2]. Caroline Thomas menyatakan bahwa konsep human security sejatinya mengacu pada istilah kebutuhan dasar, merealisasikan martabat manusia, termasuk bebas dari tekanan struktur kekuatan, baik kekuatan global, nasional atau kekuatan lokal[3]. Dengan kata lain, inti dari pemahaman  konsep ini mencakup rasa aman dalam arti luas dan tidak terbatas pada kehidupan bernegara saja.

Pergeseran mendasar makna keamanan disebabkan paling tidak oleh dua hal. Pertama, perang atau penggunaan militer untuk mencapai kepentingan nasional yang terbukti berdampak kepada kerugian yang tak terkira besarnya. Contoh kongkritnya adalah Perang Dunia II yang berakhir dengan kematian 24 juta personel militer dan 50 juta warga sipil. Jumlah korban tewas ini diperkirakan mencapai tiga persen dari populasi manusia (2,3 miliar jiwa pada saat itu). Perang ini juga memporak-porandakan benua Eropa serta negara lainnya yang terlibat seperti Jepang. Harga yang terlalu mahal untuk dipertaruhkan hanya untuk mencapai kepentingan nasional[4].

Sebab kedua adalah pemahaman damai yang berlaku selama ini hanya sebatas ketiadaan perang. Berdasarkan sebab ini, issu-isu pelanggaran HAM seringkali belum mendapat tempat yang layak dalam bahasan internasional. HAM hanya sebatas menjadi isu domestik yang diselesaikan justru oleh negara pelaku pelanggaran HAM itu sendiri. Oleh karenanya, tidak sedikit warga sipil di negara-negara tertentu di dunia yang terenggut hak-hak dasarnya bahkan mengalami penindasan fisik.

Lantas, bagaimana konsep human security dalam perspektif Islam?

 

Penulis: Ahmad Mina Ruhul Amin

Editor: Wildi A

Simak kelanjutannya di bagian 2.

Telaah Konsep Moderasi Islam dalam Perspektif Human Security | Bag. 2

SAMPAH PLASTIK DI INDONESIA

NUKLIR DALAM PERSPEKTIF KESEJAHTERAAN SOSIAL DI INDONESIA

TELAAH KONSEP MODERASI ISLAM DALAM PERSPEKTIF HUMAN SECURITY | BAG. 2

Referensi:

[1] Budi Winarno, Dinamika Isu-Isu Global Kontemporer (Yogyakarta: Center of Academic Publishing Service, 2014), hlm. 9.

[2] Ibid. Hlm. 11.

[3] Caroline Thomas, Global Governence, Development, and Human Security: Exploring the Links, dalam Third World Quarterly, Vol. 22, No. 2, hlm. 159-175.

[4] Perang Dunia II Resmi Berakhir (www.internasional.kompas.com)