Table Manner di Hotel Majapahit Sembari Napak Tilas Sejarah Indonesia

Hari yang cerah menyambut mahasiswi UNIDA Gontor Kampus Putri di kota pahlawan, Surabaya. Suasana dingin di pagi hari tidak menyusutkan niat para mahasiswi untuk menimba ilmu baru di tempat yang baru pula. Table manner adalah salah satu rentetan acara studi akademik dari semester 2 Universitas Darussalam Gontor Kampus Putri, Mantingan. Tujuan dari pelaksanaan kegiatan ini adalah untuk mengetahui etika dan tata cara bersantap bersama-sama di sebuah acara penjamuan resmi. Acara dilaksanakan pada Kamis 30/01/20.

Sekitar jam 9 pagi mahasiswi Unida tiba di Hotel Majapahit. Dulunya, hotel ini bernama LMS, lalu Hotel Oranje dan kemudian Hotel Yamato dan juga Hotel Hoteru. Hingga pada akhirnya hotel ini resmi bernama Hotel Majapahit. Setibanya mahasiswi UNIDA di Hotel Majapahit, para peserta langsung dimanjakan oleh arsitektur menawan khas bangsa Eropa dengan pernak-pernik yang bernuansa klasik.

Meniti Sejarah Hotel Majapahit

Hotel Majapahit adalah hotel mewah berbintang lima berlokasi di Jalan Tunjungan, Surabaya, Jawa Timur, Indonesia. Didirikan pada tahun 1910 oleh Lukas Martin Sarkies. Sebagai saksi bisu peristiwa bersejarah dalam mempertahankan harkat dan martabat bangsa Indonesia menjadikan hotel Majapahit sebagai cagar budaya bangsa Indonesia.

Setelah masuk lobi utama Hotel Majapahit, mata langsung dimanjakan oleh arsitektur menawan khas era 90-an. Lalu dilanjutkan dengan menyusuri jalan menuju aula tempat pelaksanaan table manner. Seluruh ruangan dihiasi ukiran khas zaman dulu dengan dinding yang dibalut oleh kayu-kayu jati yang mempercantik suasana.

Salah satu sejarah bangsa Indonesia yang terjadi di tanah Surabaya adalah sejarah perobekan bendera Belanda di Hotel Majapahit ini. Peristiwa heroik ini dilakukan bangsa Indonesia setelah gagal bernegosiasi dengan Mr. Ploegman dalam penurunan bendera Belanda dipucuk menara hotel. Sikap provokatif dari Belanda itulah yang akhirnya mamicu masyarakat Surabaya merobek warna biru pada bendera yang sedang berkibar. Setelah warna biru pada bendera berhasil dirobek oleh Koesno Wibowo, terjadi baku tembak antara bangsa Indonesia dengan tentara sekutu. Dalam peristiwa tersebut, Sidik selaku pengawal residen Soedirman meregang nyawa dalam perjalanan menuju rumah sakit setelah mengalami luka tembak dengan pengawal Mr. Ploegman.

Table Manner yang bertema klasik
tema klasik

Table manner adalah etika makan yang merupakan aturan standar dalam menyantap makanan pada acara penjamuan resmi. Etika yang diperkenalkan oleh bangsa Eropa ini mengatur banyak hal ketika berada di meja makan dalam acara jamuan resmi. Aturan yang diberlakukan dalam table manner adalah menyangkut posisi duduk hingga penggunaan peralatan makan diatas meja.

Kegiatan table manner di Hotel Majapahit dibuka oleh Pak Untung selaku moderator acara table manner. Normalnya, terdapat dua metode yang digunakan dalam table manner. Metode pertama berasal dari Amerika dan metode kedua datang dari selain Amerika atau klasik. Adapun metode yang digunakan pada pelatihan kali ini adalah metode klasik. Antara dua metode ini memiliki perbedaan mencolok pada peletakan alat makan setelah selesai menyantap hidangan.

sajian Khas Hotel Majapahit

Mahasiswi UNIDA Gontor begitu antusias mengikuti serangkaian proses table manner yang dilaksanakan. Ada empat jenis makanan yang dihidangkan selama pelaksanaan table manner, yakni hidangan appetizer (pembuka) , soup, main course (utama), dan dessert (penutup). 

Makanan pembuka diawali dengan roti dan butter yang disediakan disebelah kiri dengan minuman yang terletak di sebelah kanan. Selanjutnya disajikan Grilled Water Melon Salad with Fruit Yogurt, yakni perpaduan antara melon dan semangka dengan siraman yogurt buah di atasnya. Adapun cara menikmati salad adalah dengan menggunakan garpu dan pisau yang diletakkan pada susunan terluar dari tatanan alat makan yang disediakan di meja. Pelayan yang berdiri disekitar meja makan akan terus siap siaga menjaga gelas minuman agar tetap terisi penuh.

menu utama

Menu kedua datang setelah seluruh mahasiswi UNIDA menghabiskan hidangannya. Hidangan kedua berupa sup berwarna merah dengan sedikit warna jingga dan terdapat roti kering di samping mangkuknya. Cara menikmatinya adalah dengan menyendokkan sup dari arah jam 6 kearah jam 12.

Akhirnya, kini tiba hidangan yang ditunggu-tunggu, main course. Makanan utama yaitu berupa ayam dan kentang dengan kombinasi dua saus di atasnya. Menyantapnya pun juga harus menggunakan garpu dan pisau yang terletak pada barisan terdekat dengan piring. Adapun cara menikmati hidangannya adalah dengan memotong sedikit bagian makanan dengan pisau dan ditusuk dengan garpu, lalu diarahkan ke arah mulut. Artinya, bukan mulut yang mengejar arah makanan tetapi makananlah yang harus diarahkan ke arah mulut.

Makanan terakhir yang menjadi ciri khas dari Hotel Majapahit adalah Majapahit Cream Brule. Makanan penutup ini disantap menggunakan sendok berdiameter kecil, terletak di bagian atas meja makan. Setelah selesai menyantap makanan penutup, lalu dilanjutkan dengan pembagian doorprize.

Doorprize Sebagai Penutup Acara Table Manner

Setelah melaksanakan seluruh rentetan dan aturan table manner yang berlaku, moderator memberikan doorprize khas Hotel Majapahit kepada salah satu mahasiswi teraktif selama pelaksanaan acara. Karena antusiasme dari seluruh mahasiswi UNIDA, suasana acara menjadi semakin meriah. Pak Untung selaku moderator acara table manner berpesan bahwa ilmu ini akan sangat berguna bagi mahasiswi sekalian di kemudian hari.

Table manner selesai pada jam 12.30, setelah penyerahan cinderamata khas Universitas Darussalam Gontor dan kesan pesan dari dosen UNIDA Gontor, yaitu Al-Ustadzah Dini Septiana Rahayu S,ip M, Hub. Int. Seluruh mahasiswi UNIDA lalu bergegas meninggalkan Hotel Majapahit menuju destinasi studi akademik selanjutnya, yaitu Konsulat Jendral Amerika yang berjarak sekitar 2 jam.

Mari Berkontemplasi Sejenak, Guna Menghindari Sesat Pikir (Logical Fallacy)

 

Kesalahan dalam menyusun dasar logika dengan mengabaikan pola-pola penalaran pada bidang disiplin tertentu, tentunya akan memunculkan suatu konklusi yang tidak sesuai dengan kelaziman berpikir pada disiplin ilmu pada umumnya. Pola pikir yang menyimpang tersebut dikenal dengan istilah “kekacauan dalam bernalar” atau “sesat fikir” yang dalam filsafat ilmu disebut sebagai “fallacy”.

Kendati demikian, penalaran premis-premis secara luas mutlak dipatenkan dalam dua termin yang berbeda demi mencapai kebenaran hakiki, Rasional dan Empiris. Apabila bersumberkan pada rasio dan fakta, maka dikenal sebagai paham Rasionalisme. Sedangkan mereka yang menyatakan fakta yang tertangkap lewat pengalaman merupakan kebenaran, maka mereka mengambangkan paham Empirisme. Kedua hal tersebut tak bisa dipisahkan bahkan harus dikolaborasikan agar menjadi dasar para ilmuan untuk berpikir, bernalar, hingga mengambil kesimpulan yang nantinya akan mudah menempatkan unsur subjektivitas dan objektifitas dalam dunia riset.

Permasalahan subjektifitas dan objektifitas dalam kehidupan ilmiah selalu menjadi perhatian para filsuf, professor, hingga para pakar keilmuan tertentu. Tak hanya itu, para kritikus pun sangat teliti dalam manganalisa unsur subjektivitas dan objektivitas argumen lawan bicaranya. Pemikiran-pemikiran tentang subjektifitas dan objektifitas mulai berkembang semenjak kemunculan Rene Descartes dengan bukunya “Diskursus dan Metodologi.” Dengan mengususng konsep cogito ergo sum nya dalam hal tersebut, maka proses penafsiran (interpretasi) harus merumuskan metodologi yang akan digunakan untuk mengukur seberapa jauh kemungkinan masuknya pengaruh subjektivitas terhadap pencapaian objektivitas sebagaimana yang diarapkan.

Lantas apakah kita sering melakukan “fallacy” dalam berpikir tanpa mengetahuinya ? Atau mungkin kita sering terjerumus dalam doktrin seseorang yang salah dalam berlogika? Untuk mengetahui jawabannya, mari kita lihat beberapa contoh dari “logical fallacy” sebagai berikut:

  1. Hasty Generalization (Generalisasi Berlebihan)

Kesalahan berpikir yang pertama adalah adanya upaya menarik kesimpulan dengan mencoba menggeneralisasi suatu kejadian dari skala kecil menuju skala besar dimana terdapat perbandingan yang tidak seimbang antara kedua objek.

Contoh :

Ada seseorang yang melihat berita di media massa tentang aksi kejahatan terorisme yang katanya didominasi oleh sekelompok ekstrimis Islam, lalu seseorang yang melihat berita tersebut baranggapan bahwa semua orang Islam adalah teroris.

Ini adalah salah satu contoh kesesatan dalam berpikir karena terlalu cepat menggeneralisasi apa yang sekilas dilihatnya, sehingga unsur objektivitasnya perlu dipertanyakan.

  1. Circular Reasoning (Penalaran yang Berputar)

Ini merupakan pengambilan keputusan yang penalarannya berputar-putar, tidak secara induktif maupun deduktif. Hingga akhirnya menghasilkan argumen yang sulit dipahami dan terkadang membuat lawan bicaranya ikut terbawa arus putaran dari si lawan tutur katanya.

Contoh : simak percakapan berikut!

A             : “Kera sakti itu ada”

B             : “Dari mana anda tahu bahwa kera sakti itu ada ?”

A             :  “Dari kitab suci”

B             :  “Kenapa anda mengetahuinya dari kitab ?”

A             :  “Karena kitab tersebut ditulis oleh kera sakti pada 70 tahun sebelum masehi, dan disitu tertulis bahwa dirinya (kera sakti) itu benar-benar ada.”

Contoh percakapan di atas jelas termasuk sesat pikir dan menyesatkan pikiran si penutur kata. Penalaran yang berputar-putar membuat khayalak kebingungan akan kebenaran suatu argumen yang tersampaikan.

  1. Slippery Slope (Lereng Licin)

Kategori ketiga ini adalah langkah kejadian yang mengakibatkan kejadian langkah berikutnya yang sangat panjang. A mengakibatkan B, B mengakibatkan C dan seterusnya. Sehingga pada akhirnya si pembicara membuat kesimpulan akhir bahwa A = C. Langkahnya terlalu panjang dan merujuk pada kesimpulan yang sifatnya simplistik.

Contoh :

Sering tidur > membuat pikiran jadi rileks

Pikiran rileks > mudah menghafal pelajaran

Mudah menghafal > menjadi rangking 1

Rangking 1 > membanggakan orang tua

Sering tidur = membanggakan orang tua

Sejak kapan A berbanding lurus dengan Z? Argumen di atas jelas tidak benar. Alasannya, hasil akhir tidak sama dengan kejadian di awal, kemudian membuat lawan bicaranya kebingungan akan penarikan kesimpulan yang begitu sederhana, dan lain sebagainya.

  1. Strawman (Orang-Orangan Sawah)

Merupakan argumen palsu sebagai pemutar balik pendapat lawan si (A) yang sebenarnya tidak disampaikan, tapi dibalas oleh lawan tutur (B) untuk menyerang dengan mengambil beberapa poin lawan dan memutar balikkannya dengan mengadopsi beberapa kelemahan tertentu.

Contoh :

Pemerintah berkata        : “kami akan memperbesar anggaran infrastruktur pembangunan jalan Trans Jawa”.

Lalu pembicara lainnya berkomentar terkait ungkapan pemerintah di atas

Rakyat                                 : “pemerintah tidak peduli pendidikan di daerah kita, anggaran infrastruktur yang besar adalah tanda tak kepeduliannya.”

Argumen komentar dari salah satu rakyat ini akan menipu orang-orang karena seakan-akan argumen pemerintah telah dipatahkan secara telak.

  1. Ad Hominem

Argumen yang ditujukan untuk lawan bicara namun balasan argumen tersebut tidak menyentuh argumen si lawan bicaranya melainkan mengandung unsur kepribadian / menyentuh ranah pribadinya.

Contoh :

Seseorang mengkritik temannya yang hobi main game.

A             : “tidak usah main game ! main game itu dapat merusak mental.”

B             : “kalau tidak bisa main game lebih baik kamu diam saja!” 

  1. False Dichotomy

Hal ini terjadi jika seseorang berpendapat hanya stagnan pada dua pilihan. Antara positif dan negatif, antonim dan sinonim, baik dan buruk, rajin dan malas, dan lain sebagainya.

Contoh sederhana :

“untuk menjadikan murid pintar, maka diperlukan murid bodoh.”

  1. Complex Cause

Hal ini berararti bahwa suatu kejadian yang bersifat kompleks hanya disebabkan oleh satu kejadian, dan satu sebab kejadian itu benar-benar dianggap sebagai akar permasalahan. Artinya, cara pandang seseorang terhadap sesuatu tidak open-minded.

Contoh :

“kekalahan tim kita disebabkan oleh pemain sayap kanan yang ceroboh pada menit ke 72 yang telah membiarkan bola dari arah lawan melewatinya”.

  1. Equivocation (Pengelakan)

Pengunaan kata yang sama untuk 2 arti yang berbeda dalam 1 atau 2 kalimat baku.

Contoh :

 “How can you face your problem that your problem is your face?

Kesimpulan, dari 8 contoh diatas ada beberapa faktor yang menyebabkan pikiran atau logika seseorang terindikasi sebagai logical fallacy, yaitu (1) dimana argumen memiliki kesan menipu, (2) terdapat kesalahan dalam berlogika, dalam artian tak bernalar secara induktif ataupun deduktif, dan (3) apa yang diutarakan dapat menyatu terhadap argumen.

Dengan adanya pengelompokan variabel logical fallacy, kita sebagai makhluk sosial nan komunikatif dapat berpendapat secara realistis dan mengedepankan objektifitas, dan tidak dapat terpengaruh oleh pendapat orang lain. Hal ini dimaksudkan agar dapat mencerna kalimat informatif dan persuasif dari lawan tutur kata. Dari sini khayalak dapat menentukan keputusan yang baik untuk berkomentar, memberi tanggapan, berorasi, serta bernegosiasi. Inilah aset intangible (insight) atau soft skill yang harus dimiliki oleh para negosiator guna mencapai kepentingan yang ia bawa dalam forum lobbying.

Pen: Fitrah Alfiansyah

Ed: Wildi Adila