Para Pelajar Amerika Diajak Santap Malam dengan Tajammu’

Sebagai upaya memberikan pelayanan maksimal kepada 22 pelajar Amerika dalam School for International Training (SIT), tentunya panitia yang terdiri dari para mahasiswa lintas jurusan UNIDA Gontor ingin memberikan kesan yang tak terlupakan. Salah satu hal menarik dalam memberi kesan baik tersebut adalah dengan mengajak para peserta SIT untuk bersantap malam bersama dengan tajammu’.

Tajammu’ merupakan sebuah tradisi makan ala santri tidak ditemui ditempat lainnya. Biasanya, para santri hanya membutuhkan beberapa lembar kertas atau daun pisang untuk dijadikan alas makanan. Cara memakan hidangannya pun juga sangat khas, yakni menggunakan tangan alias tanpa bantuan sendok dan garpu.

Pelajar SIT bertajammu'
Pelajar SIT bertajammu’

Inilah yang coba disuguhkan atau diperkenalkan UNIDA Gontor dengan identitas kepesantrenannya dalam menjamu makan malam para peserta SIT tersebut. Para peserta diajarkan bagaimana hidup ala pesantren dengan nilai kesederhaan yang tinggi, pastinya suatu hal yang tidak akan pernah mereka temui di negeri Paman Sam.

SIT Unida Gontor
SIT Unida Gontor

Meskipun awalnya terlihat sedikit canggung, namun setelah beberapa saat para pelajar Amerika tersebut mulai mahir memainkan jarinya dalam menjumput nasi, tanpa sendok. Mereka pun pada akhirnya nampak begitu menikmati jamuan makan malam tersebut, dengan alas daun pisang dan nasi di atasnya yang berpadu dengan tempe, tahu, telur setengah matang, dan sayur mayur.

International Symposium

Setelah selesai makan malam ala santri (tajammu’), kegiatan dilanjutkan dengan International Symposium. Kegiatan ini  bertemakan “Critical Global Issues” yang bertempat di Hall Utama lantai 4. Dua orang perwakilan dari peserta SIT dan juga seorang mahasiswa dari UNIDA Gontor diminta untuk menyampaikan makalahnya dihadapan para mahasiswa dan segenap civitas akademika sebagai bentuk upaya dalam memahami lebih jauh isu-isu global yang sering diperbincangkan.

Dalam sambutannya, Rektor UNIDA Gontor merasa senang dengan kehadiran para peserta Delegasi SIT di kampus Darussalam Gontor. Menurut beliau kegiatan semacam ini menjadi suatu kegiatan yang berharga bagi UNIDA Gontor.  Ini sebagai bentuk edukasi untuk salin bertukar pikiran dan juga pengalaman. Dan yang lebih jauh antara keduanya, terlebih dengan tema yang dibawakan pada malam symposium tersebut begitu menarik untuk dibicarakan.

Masih dari pidato beliau. Acara ini tentunya juga menjadi suatu keberuntungan bagi para delegasi SIT untuk mengenal lebih jauh kehidupan Kepondokmodernan. Dengan filosofi Islam sebagai dasar keyakinannya. “Sejujurnya kami sangat mengharapkan kedatangan kalian kemari, karena kami dapat belajar lebih banyak tentang bahasa inggris, dan budaya kalian,”. ujar Beliau.  “Sebaliknya kalian juga butuh kami dalam mempelajari lebih dalam budaya islam moderat di sini”, imbuh beliau dihadapan para peserta symposium.

Diskusi Bersama Peserta SIT “Critical Global Issues”

Dalam kesempatan kali ini, salah satu mahasiswa hubungan Internasional UNIDA Gontor, Ahmad Rivaldo, berkesempatan untuk mengisi salah satu materi bersama dua teman dari SIT yaitu Marcus Blumenfeld dari Occidental College,USA dan Kelly Sandoval dari University Of Redland, USA. Menurut mereka banyak sekali isu-isu global yang saat perlu menjadi perhatian bersama untuk terus didiskusikan. Ini adalah sebagai upaya pembentukan solusi, seperti isu lingkungan, politik, sosial bahkan isu agama yang saat ini masih hangat diperbincangkan.

SIT Unida Gontor
SIT Unida Gontor

Dalam sambutan lain, Director SIT (School For International Training) Abroad to Indonesia- Ibu Ni Wayan Ariati Pasek, Phd, merasa senang dengan sambutan yang diberikan Universitas Darussalam Gontor kepada para peserta SIT. Beliau berharap kerja sama yang baik antara SIT dengan UNIDA Gontor dapat terus terjalin hingga waktu yang akan datang.

“Saya merasa berterima kasih kepada Prof. Amal dan UNIDA Gontor yang telah mengizinkan kami untuk mempelajari lebih dalam nilai-nilai kepesantrenan dan juga moderate Islam seperti yang Prof. Amal sampaikan,” ujar Ibu Ary.

Symposium Internasional tersebut berlangsung cukup meriah. Ini ditandai dengan begitu antusiasnya para audience dalam mengutarakan pendapat maupun pertanyaannya kepada keynote speaker. Kegiatan pada malam itu berakhir pada pukul 22.30 WIB dan ditutup dengan sesi perfotoan bersama.

 

Pembentukan Mental Mahasiswa HI UNIDA Gontor di Akademi Militer Magelang

Magelang- Rabu Pagi 5 Februari pukul 06.00 WIB, mahasiswa Universitas Darussalam Gontor tiba di Akademi Militer (AKMIL) Magelang dalam rentetan kegiatan studi akademik mahasiswa semester 2 Universitas Darussalam Gontor Program Studi Hubungan Internasional. Rombongan yang berisikan 45 mahasiswa beserta 3 pembimbing begitu antusias seketika mendarat di tempat tujuan. Kedatangan delegasi HI UNIDA Gontor di AKMIL pun disambut hangat oleh segenap perwakilan prajurit kebanggaan Lembah Tidar.

Lembah Tidar, nama legendaris Akademi Militer Magelang, menjadi kawah candradimuka strategis dalam rangka membentuk perwira militer tangguh, tegas, dan professional. Lembah Tidar terletak di lembah dan bukit berhawa sejuk di bagian selatan Kota Magelang, Jawa Tengah. Di Lembah Tidar inilah letak kompleks Akademi Militer, atau terkenal sebagai paku Pulau Jawa. AKMIL telah meluluskan ribuan alumninya yang kini telah menjadi para pemimpin bangsa di berbagai penjuru tanah air.

Di sini, para calon perwira nantinya akan ditempa dan dididik selama 4 tahun. Lulusan AKMIL secara langsung berhak mendapatkan pangkat Letnan Dua, pangkat terendah dalam jenjang karir perwira. Selama menjalani proses pendidikan sebagai Taruna Akademi Militer, segala keperluan akan disediakan oleh negara, mulai perlengkapan dari kepala sampai ujung kaki sudah tersedia dan seluruh fasilitas dibiayai oleh negara. Para taruna hanya fokus untuk belajar dan berlatih.

Dengan melakukan kunjungan ke AKMIL, para mahasiswa HI UNIDA diharapkan dapat mengambil nilai positif dari lingkungan pendidikan para calon prajurit Indonesia ini. Diantara nilai-nilai yang ingin dipetik adalah bela negara, rasa kepemilikan terhadap negara, disiplin, dan jiwa kepemimpinan.

Sesi pertama dalam kegiatan ini adalah pengenalan tentang sejarah AKMIL  Magelang. Sesi ini dipandu oleh Pak Mustafa yang menyampaikan materi terkait sejarah AKMIL dan bela negara. Di sesi ini, beliau banyak mengulas tentang perkembangan konflik di dunia hingga ancaman terorisme bagi tatanan dunia global.

Sejarah Museum Abdul Jalil AKMIL Magelang

Setelah sesi pertama, delegasi HI UNIDA Gontor lalu diajak berkeliling Museum Abdul Jalil. Adapun nama Abdul Jalil sendiri diambil dari seorang alumni AKMIL yang gugur di medan perang saat agresi militer kedua. Beliau adalah seorang prajurit yang penuh dengan dedikasi dan keahlian yang tak hanya di bidang militer, namun juga seni.

Di museum ini pula, seekor macan tidar jantan yang telah diawetkan di dalam kotak berkaca seakan menyambut setiap pengunjung yang akan masuk. Macan tersebut merupakan macan liar yang saat itu hidup disekitar Gunung Tidar yang akhirnya dijadikan simbol semangat juang para taruna.

Mahasiswa HI Magelang sedang dibariskan oleh Bapak TNI
Mahasiswa HI Magelang sedang dibariskan oleh Bapak TNI

Sesi Terakhir Pemberian Motivasi dan Arti Bela Negara

Setelah puas menjelajah museum dan komplek AKMIL, para mahasiswa mendapat materi leadership dan motivasi. Pak Mustafa, selaku pemateri sesi ini, nampak begitu antusias dalam menyampaikan materinya hingga menyulut api semangat para mahasiswa.

Setelah sesi terakhir ini, acara lalu ditutup dengan sesi perfotoan bersama. Besar harapannya dari kunjungan yang singkat ini mampu menyadarkan arti penting bela negara,  rasa kepemilikan bangsa, dan leadership bagi seluruh pemuda di Indonesia, khususnya mahasiswa HI UNIDA Gontor.  (Jahhid/HI-2)

Hukum Humaniter dalam Perspektif Islam

Humaniter atau Humanitarian Law dipopulerkan dengan sebutan International Humanitarian Law dan dalam terminologi Bahasa Indonesia disingkat dengan HHI (Hukum Humaniter Internasional), sesungguhnya berakar dari istilah hukum perang (laws of war) atau hukum konflik bersenjata (laws of armed conflict). Walaupun beberapa pakar bidang humaniter mengatakan bahwa konflik bersenjata tidak dapat disamakan dengan perang, akan tetapi kedua istilah tersebut hampir mempunyai pengertian serupa dan sama tak berbeda.

Akan tetapi fokus kajian Hukum Humaniter tidak membahas persoalan-persoalan mengapa terjadi konflik dan perang? Atau siapa yang salah dan benar? Tapi Hukum Humaniter akan condong fokus terhadap perihal pengaturan konflik bersenjata dengan tujuan utama memberikan pertolongan kepada orang2 yang menderita karena berperan sebagai korban dalam suatu perang atau konflik. Korban-korban tersebut diutamakan adalah korban yang tidak ikut terlibat dalam permusuhan kedua belah pihak secara langsung atau penduduk sipil

Mengatur perilaku permusuhan yang didasarkan harmonisasi antara kepentingan militer dan kepentingan kemanusiaan adalah tujuan utama Hukum Humaniter Internasional atau HHI. Maka fokus utama dalam kajian HHI adalah hal-hal seputar keamanan manusia dari dampak-dampak konflik bersenjata atau bahkan perang sekalipun.

Apa itu Konflik atau Perang didalam Islam?

Islam adalah agama, ajaran bahkan gaya hidup yang dipenuhi dengan moralitas dan etika; etika dalam perang salah satunya. Peperangan dalam Islam tidak bertujuan kepada hal-hal yang bersifat pembunuhan yang didasari oleh nafsu balas dendam. Akan tetapi Peperangan adalah sikap perlawanan terhadap musuh dalam hal pembelaan keimanan dan dakwah tentang ajaran-ajaran. Maka, peperangan didalam Islam dibenarkan dalam konteks kebutuhan-kebutuhan Syar’i.Islam memperkenalkan konsep perang dalam hal menentang ketidakadilan dan menolak permusuhan, ketika target itu sudah terpenuhi maka peperangan harus diakhiri.

Humaniter dalam perspektif islam
Humaniter dalam perspektif islam

Menurut Muhammad Amin didalam bukunya Islam dan urusan kemanusiaan menegaskan bahwa peperangan didalam Islam tidak pernah terjadi selagi Islam belum menawarkan perdamaikan. Maka hal ini menjelaskan bahwa Islam melakukan segala usaha dalam pencegahan-pencegahan terjadinya perang sedemikian rupa. Bahkan, dalam beberapa riwayat Nabi Muhammad lebih dahulu menawarkan dan mengajak perdamaian kepada pihak lawan atau musuh.

Tidak berhenti dalam ajakannya berdamai, Rasullulah menawarkan dengan pembayaran jizyah jika menolak dengan ajakan perdamaian. Apabila pihak lawan menerima tawaran ini, maka kaum Muslim menerimanya dan berkewajiban untuk melindungi mereka. Akan tetapi jika kedua tawaran ini ditolak, maka Rasulullah meminta kepada umatnya untuk memohon perintah Allah dan barulah memerangi pihak musuh atau lawan.

Bukan hanya akhlak sebelum berperang, Islam sebagai tuntunan mengajarkan akhlak dalam peperangan. Islam mengharamkan pembunuhan anak-anak kecil dalam suku dan etnik apapun. Maka, anak-anak orang yang tidak bergama atau musyrik sekalipun haram hukumnya dibunuh. Tidak diperbolehkan juga memerangi orang-orang yang tidak terlibat permusuhan, terutama dari kalangan kaum wanita, anak-anak, orangtua dan orang sakit. Bahkan, Islam tidak memperkenankan merusak lingkungan; seperti penebangan pohon, pembakaran Hutan atau mencemari laut. Berlebihan atau melampau batas adalah salah satu aspek penting didalam akhlak berperang. Misalnya, melanjutkan peperangan sementara pihak lawan sudah menyerah dan kalah.

Hal-hal yang bersifat nilai-nilai atau moralitas tersebut adalah landasan dari Hukum Humaniter Internasional. Dimana Akhlak adalah hal terpenting dalam penegakan keadilan dan kebenaran. Namun disini menjelaskan tentang Hukum Humaniter dalam Perspektif Islam.

Interpretasi Hukum Humaniter dan Fiqih Al Siyar

Sebelumnya telah dijelaskan bahwa Hukum Humaniter adalah pergeseran dari law of admed conflict yang notabene sebelumnya adalah law of war. Hukum perang sebagian besarnya adalah hukum tertua dari hukum internasional tertulis. Hukum ini mengalami beberapa modifikadi dan perubahan dengan seiring berkembangnya zaman. Konvesi Jenewa tahun 1949 telah memuatnya dalam 427 pasalnya. Konvesi yang telah melakukan pembukuan dan membakukan hukum ini dipelopori oleh International Commite of The Red Cross atau Red Cross Convention.

Prof. Dr. Mukhtar Kusumaatmaja dalam salah satu karyanya mengatakan bahwa hukum islam telah memberi sumbangan atau andil yang cukup besar didalam dunia Internasional. Maka hal ini yang menjadikan Fiqih Al Siyar klasik yang umumnya membahas hukum humaniter dalam perspektif Islam dapat ditemui essensinya dalam hukum yang kini ditemui dalam Hukum Humaniter Internasional.

Akan tetapi peperangan yang terjadi kini sifatnya lebih komplek dengan apa yang terjadi ketika zaman Rasulullah. Ketika zaman Rasul hampir semua peperangan disebabkan dengan permasalahan-permasalahan yang sifatnya adalah agama; agama Islam dan non Islan dipihak lain. Akan tetapi kompleksitas peperangan yang terjadi kini bisa jadi terjadi diantara dua pihak yang mayoritas penduduknya sama. Agama tidak menjadi sebab utamanya, hal-hal lain seperti ekonomi, sosial, budaya bahkan harga diri bisa menjadi sebab munculnya peperangan.

Maka, hal ini cukup menarik dan mengundang para akademisi untuk mengembangkan hukum-hukum yang bentuknya terbatas dengan internal madzhab. Melakukan perbandingan antara sistem hukum internasional dan hukum islam pada khususnya bisa dijadikan objek kajian menarik yang mampu melahirkan teori atau disiplin ilmu yang baru. Wallalu alam bisshawab

 

Pen : Nabila Huringiin

INTERNATIONAL RELATIONS DAY: PERAN SANTRI SEBAGAI AGEN DIPLOMASI

Diplomat, sebuah istilah yang identik dengan seseorang yang ditunjuk oleh negara untuk melakukan diplomasi dengan negara lain atau organisasi internasional. Ia mengemban amanat besar untuk mempresentasikan citra tanah airnya dan melindungi kepentingan warga negaranya yang berada di teritori negara lain. Hal terpenting sebagai diplomat adalah bagaimana wujud pengabdiannya kepada negara yang mewajibkannya untuk memiliki mental kuat dalam menghadapai tantangan apapun.

Salah satu kemampuan yang harus dimiliki diplomat adalah pandai bercakap-cakap dengan berbagai macam bahasa internasional terutama 5 bahasa Perserikatan Bangsa-Bangsa. Hal inilah yang telah memotivasi santri yang sudah mendalami belajar bahasa asing dan  pengetahuan dalam negeri dan luar negeri.

Hal tersebut menunjukkan bahwa diplomat memiliki benang merah dengan seorang santri terutama dalam hal tempaan akhlak, mental, pendidikan dan pengalamannya.  Diplomat dan santri telah menjelma sebagai salah satu harapan bangsa untuk dapat membawa perubahan negara ke arah yang lebih baik.

Oleh karena itu, seorang alumni Pondok Modern Darussalam Gontor, al-Ustadz Muhammad Aji Surya telah berkenan untuk berbagi ilmu dan pengalamannya. IRD 2020 merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh HMP-HI UNIDA Gontor di Aula Kulliyyatu-l-Banat Gontor Putri Kampus 1, Rabu (26/01/20).

Kuliah Umum International Relations Day tahun 2020 kali ini telah mengangakat tema “Peluang dan Tantangan Santri Sebagai Agen Diplomasi Internasional”. Acara ini dihadiri oleh para dosen Hubungan Internasional UNIDA Gontor serta peserta kuliah umum yang hadir dari berbagai program studi.

Adapun al-Ustadzah Ida Susilowati, M.A. merupakan moderator pada kuliah umum ini dan mengenalkan Ustadz Aji kepada para peserta sebagai permulaan. Beliau mengawali karir sebagai seorang jurnalis di Koran Tempo dilanjutkan dengan amanat sebagai seorang Dubes perwakilan RI di berbagai negara. Adapun negara yang beliau lindungi WNI-nya ialah Jerman, Perancis, Rusia, Korea Selatan dan saat ini beliau tengah bertugas di Mesir.

Menjadi diplomat dan TKI itu sama-sama berjasanya untuk negara, bukanlah menjadi sesuatu yang wah namun tidak juga bisa dibilang sederhana. Banyak perspektif yang salah bahwa diplomat identik dengan hal jalan-jalan, namun lebih dari itu, diplomat memiliki banyak tantangan besar tersendiri.

Pakde Aji
Pakde Aji
Memahami Pekerjaan Diplomasi

Seorang diplomat diharapkan mampu memahami daerah yang menjadi tugasnya, memahami negara yang diwakilinya, memiliki inisiatif untuk menjalankan tugas dengan baik. Tidak hanya itu, ia juga dituntut untuk menyelesaikan konflik dan menjembatani peran negara di bidang sosial, ekonomi, politik, dan keamanan.

Beberapa tugas utama pekerjaan diplomasi menurut Pasal 3 Konvensi Wina tahun 1961 yakni protecting, negotiating, representing, reporting dan juga promoting. Adapun persyaratan umum internasional yang harus dipenuhi untuk menjadi seorang diplomat papan atas yakni smart, suka membaca dan terakhir, fleksibel.

Tidak hanya itu, beberapa proses menjadi diplomat Indonesia yakni seleksi administrasi, kompetensi dasar, kompetensi bidang, tes kesehatan juga tes psikologi. Adapun untuk seleksi tahap ketiga yaitu seleksi kompetensi bidang meliputi lulus tes Bahasa, ujian tulis substansi, ujian essay dan wawancara. Tidak sedikit dari calon diplomat yang gagal untuk melewati seleksi tahap 4 dan ternyata lebih cocok untuk menjadi seorang dosen.

Kekuatan Santri Diplomat

Santri memiliki banyak kekuatan yang bersemayam dalam jiwa raganya seperti dalam hal protecting yakni ikhlas, loyal, berbadan sehat dan tangguh. Adapun dari sisi reporting yang dimiliki oleh seorang santri yakni selalu berakhlak jujur, amanah, memiliki kecepatan, ketepatan dan juga ketekunan.

Demikian merupakan paparan dari Pakde Aji, sapaan akrab Ustadz Aji Surya mengenai pengalaman, tips dan trik beliau untuk menjadi diplomat. Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi Question and Answer (QnA) antara narasumber, dosen dan mahasiswi yang hadir dilanjutkan dengan perfotoan bersama.

Masih yakin mau jadi diplomat? Tentukan pilihanmu dan persiapkan dari sekarang!

Besar harapan setelah IRD ini, mahasiswi UNIDA Gontor bisa lebih percaya diri untuk  menentukan pilihan hidupnya tanpa melupakan tugas utamanya. Maka untuk menggapai cita-cita tersebut dibutuhkan persiapan yang matang dan harus selalu mengutamakan kewajibannya baik sebagai seorang perempuan maupun muslimah.

Maka dari itu, al-Ustadzah Ida Susilowati menyimpulkan bahwa apapun sesuatu yang kita pilih harus selalu diniatkan untuk ibadah dan dakwah. Oleh karena itu, tidak diragukan lagi bahwa kehidupan pesantren telah memberikan santri hikmah besar yang bisa diamalkan untuk kemaslahatan bangsa.

Seorang perempuan dibolehkan untuk menjadi ahli sosial-ekonomi dengan syarat tanpa melupakan kewajiban utamanya dalam hal natural duty dan domestic duty. Beliau juga menambahkan bahwa diplomat memiliki peran yang tidak berbeda dengan tentara karena sama-sama mengabdi dan mewujudkan kepentingan tanah air.

 

Delegasi HI UNIDA Gontor untuk USA Higher Education Fair 2020

Selasa (11/2/2020) HI UNIDA Gontor mengirimkan delegasinya sebanyak 23 orang yang terdiri dari 12 mahasiswi semester 8, 5 mahasiswi semester 4, dan 6 mahasiswi semester 2 untuk mengikuti acara USA Higher Education Fair 2020 di Surabaya. Acara ini diselanggarakan oleh Konsulat Jendral USA yang berada di Surabaya dengan tujuan memberikan informasi sebanyak-banyaknya mengenai mengenai sistem pembelajaran di USA. Melalui program ini, Konsulat Jendral USA di Indonesia bermaksud untuk memberikan informasi kepada para pelajar Indonesia yang akan melanjutkan studinya mengenai langkah-langkah dan tips yang dapat dilakukan jika ingin melanjutkan pendidikan di Negeri Paman Sam ini.

Acara ini dihadiri oleh kurang lebih 700 pelajar dan dimulai dari pukul 14:00 hingga 18:00 yang bertempat di hotel JW Mariot. Di dalam acara ini terdapat booth-booth beberapa Universitas USA dimana kita bisa menanyakan berbagai hal mengenai bagaimana cara untuk dapat belajar dan tinggal di Negeri Paman Sam tersebut. Terdapat juga banyak sekali booth yang menyediakan informasi mengenai beasiswa kuliah di USA dan dijelaskan secara langsung oleh alumni universitas tersebut. Selain itu disana kita juga dapat menemukan booth mengenai informasi beasiswa yang dapat kita ambil untuk melancarkan belajar kita di USA seperti Fulbright scholarship.

Informasi Untuk belajar di USA

Setelah puas mencari informasi seputar universitas yang akan kita tuju nantinya, tiba saatnya para pelajar dan pengunjung lainya memasuki sesi kedua dari acara edufair ini, yaitu seminar mengenai hal-hal apa sajakah yang harus kita persiapkan sebelum belajar di USA. Dalam sesi ini para pengunjung berkumpul di meeting room untuk mendengarkan presentasi dari bagian konseler. Adapun hal-hal yang harus kita persiapkan antara lain Visa pelajar yang digunakan untuk mengajukan permohonan masuk ke Amerika dengan maksimal waktu pengajuan 120 hari sebelum keberangkatan. Untuk mengajuakan visa ini ada beberapa hal-hal yang harus kita persiapkan, seperti foto, DS-160, DS-2019, dan bukti pembayaran visa.

 

Selain mebahas mengenai Visa yang harus kita ambil, para konsuler juga menjelaskan mengenai cara pembuatan CV / Resume yang baik untuk Universitas yang ada di Amerika. Tujuan dari pembuatan CV/ Resume ini menggambarkan kemampuan yang kita miliki untuk menjamin kita dapat bertahan di USA. Isi dari CV/Resume yang biasanya diminta Universitas yang ada di USA meliputi: education experience, professional experience, dan other experience seperti pengalaman dalam berorganisasi ketika beradi di Universitas ataupun sekolah sebelumnya dan juga jangan lupa untuk menuliskan Skill, Activities and Interest pada point terakhir.

Tak hanya itu para pengunjung juga beritahu mengenai informasi beasiswa yang dapat diambil ketika ingin belajar di USA. Pada sesi ini pembicara merupakan salah seorang penerima beasiswa Fulbright yang berhasil menuntaskan studinya di USA, beliau menjelaskan langkah-langkah apa saja yang harus dipersiapkan ketika kita ingin mendapatkan beasiswa Fulbright ini seperti persiapan informasi yang lengkap mengenai pemberi beasiswa, penulisan resume yang spesifik dan sesuai dengan pemberi beasiswa, mencari latarbelakang universitas yang kita tuju hingga persiapan wawancara.

Adanya Pertukaran Akademik antara Amerika dan Indonesia ini juga sangat penting untuk memperkuat kemitraan antara dua Negara tersebut. Dengan meningkatkan pertukaran dua arah ini, tidak hanya dapat membangun koneksi jangka panjang, tetapi juga mempersiapkan pelajar untuk bisa ambil bagian menjadi pemimpin global abad ke-21. Selain itu acara ini juga dapat memberikan informasi dan peluang yang besar bagi pelajar Indonesia yang akan melanjutkan studi di USA. (Darmelia Puspita)