HMP HI UNIDA Puteri Raih 2 Penghargaan di UNIDA Award 2020

Mantingan, Jumat (27/12/2019), UNIDA Kampus Puteri mengadakan UNIDA AWARD 2020. Acara ini merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh Dewan Mahasiswi. Pada kesempatan kali ini, UNIDA Award 2020 diselenggarakan di Meeting Hall UNIDA Puteri dan diikuti oleh seluruh mahasiswi reguler UNIDA Puteri Kampus Mantingan.

Acara Dimulai

Agenda yang berlangsung kali ini berkesempatan menghadirkan Dekan Kulliyatul Banat dan beberapa dosen lainnya. Acara ini dimulai pukul 20.00 dan dibuka langsung oleh Dekan Kulliyatul Banat, Al-Ustadz Nurhadi Ihsan, MIRKH. Dalam sambutannya beliau berharap mahasiswi reguler UNIDA Puteri terus aktif, produktif dan mengasah kemampuan yang dimiliki. Mahasiswi dituntut untuk aktif dalam segala kegiatan, baik nasional maupun internasional. Menjadi singa betina yang mampu bertahan dan berjuang dimanapun, baik dalam akademik maupun non-akademik.

Awards

Apresiasi yang pertama diberikan kepada HMP HI UNIDA Puteri sebagai kategori HMP Teraktif. HMP HI UNIDA Puteri memang terbilang sangat aktif sekali mengikuti kegiatan dan memenangkan perlombaan, baik yang didalam kampus maupun mengirimkan delegasinya keluar kampus. Penghargaan diberikan langsung oleh Kepala Direktorat Pengasuhan UNIDA Puteri, Al-Ustadz Suyanto, M.A

Apresiasi selanjutnya diberikan kepada Fiani Nurmalasari (HI 2017) sebagai mahasiswi teladan UNIDA Gontor kampus Puteri 2020. Pada kali ini, Bapak Dekan Kulliyatul Banat, Al-Ustadz Nurhadi Ihsan, MIRKH berkesempatan memberikan penghargaan ini secara langsung kepada Fiani Nurmalasari.

“Saya bukan yang terbaik untuk berdiri di depan, saya hanya mencoba menjadi yang terbaik, karena yang terbaik hanya Allah SWT. Tiada kata yang dapat saya ucapkan sebagai ungkapan rasa maaf dan terimakasih untuk semuanya. Mahasiswi harus tetap semangat, gunakan waktu dengan sebijak mungkin dan jangan sia-siakan masa muda hanya untuk kebahagiaan semata,” ungkap Fiani.

Harapan

Double awards yang disematkan ke HMP dan seorang mahasiswi HI UNIDA Gontor ini  mampu menjadi  kado manis di awal tahun 2020 sekaligus sebagai pengingat bagi kepengurusaan HMP berikutnya untuk mempertahankan prestasi bergengsi ini. Selain itu, penghargaan ini diharapkan mampu menjadi pengobar api semangat bagi mahasiswi lainnya untuk berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan di dalam maupun luar UNIDA Gontor.

Tidak lupa, seluruh kegiatan dan sikap aktif para mahasiswi ini harus diniati untuk li i’lai kalimatillah.

Pen: Dinah Alifia Ainaya/HI 2018

Ed: Wildi A

Mahasiswi HI UNIDA Gontor Ikuti ASEAN Youth General Forum 4.0

Sebanyak 9 mahasiswi HI Unida Gontor mengikuti kegiatan ASEAN Youth General Forum 4.0 di Yogyakarta pada November lalu. ASEAN Youth General Forum ini merupakan merupakan program rutin Hubungan Internasional, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Event ini merupakan sebuah wadah yang dibentuk untuk menumbuhkan minat pemuda ASEAN terhadap isu-isu global yang sedang marak terjadi serta menjadi sarana pembelajaran bagi delegasi untuk menemukan solusi.

Di dalam acara ini, delegasi mengikuti seminar Internasional dengan pembahasan mengenai isu global yang sedang terjadi dan disampaikan oleh seorang pakar. Kegiatan selanjutnya adalah simulasi sidang PBB atau MUN, yaitu kegiatan akademik dimana delegasi belajar tentang diplomasi, hubungan internasional dan lainnya. MUN mengajarkan keterampilan public speaking, debat, menulis, berpikir kritis, kerja sama tim, dan kepemimpinan. Setelah menemukan solusi, para delegasi akan diajak untuk merehatkan pikiran dengan mengunjungi situs bersejarah yang terdapat di kota Yogyakarta.

SEMINAR INTERNASIONAL

Pembawa acara dalam ASEAN Youth General Forum 4.0

Acara ASEAN Youth General Forum 4.0 dibuka dengan seminar internasional dengan mendatangkan pembicara yang kredibel. Adapun pembicara yang hadir dalam seminar internasional ini adalah Mrs. Nguyen Tuong Van selaku General Secretary of ASEAN Inter-parlementary Assembly. Beliau menyampaikan materi mengenai keamanan berkelanjutan serta kesadaran internasional terhadap isu-isu yang berkembang di ASEAN, dan sedikit membahas mengenai AIPA.

Pembicara selanjutnya ialah Mr Riaz J.P Saehu selaku Director of ASEAN Culture and Social Cooperation Ministry of Foreign Affair. Dalam seminarnya, beliau menjelaskan mengenai peran Indonesia dalam menjaga perdamaian serta langkah ASEAN menghadapi masalah yang dihadapi oleh Negara anggotanya.

Pemateri yang terakhir ialah Mrs. Putri Arie Hendra Murti selaku Environment Officer of Environmental Education and Youth Engagement of ASEAN Secretary. Beliau menyampaikan bagaimana cara menjaga lingkungan dan peran anak muda dalam pelestarian lingkungan di ASEAN.

MUN (Model United Nations) AYGF 4.0

Delegasi HI UNIDA menyampaikan argumen nya dalam AGYF 4.0

MUN adalah simulasi sidang atau kegiatan akademik dimana delegasi belajar mengenai diplomasi, hubungan internasional dan lainnya. MUN melibatkan dan mengajarkan dalam meneliti, public speaking, debat, dan keterampilan menulis, berpikir kritis, kerja sama tim, dan kepemimpinan. Partisipasi dalam MUN ini dimaksudkan untuk berlatih negosiasi, berbicara dan keterampilan komunikasi.

MUN ini dibagi menjadi 2 council, yaitu UNSC (United Nation of Security Council) & UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change). Pembahasan yang dijadikan topic dalam MUN kali ini sangat menarik kerena menyangkut isu-isu global yang ada di sekitar kita. UNSC bertemakan “Combating Terrorist Movement in Southeast Asia” dan UNFCCC “Climate Change Mitigation: Building Resilient Agriculture to Ensure Food Security”.

Site Visit ASEAN Youth General Forum 4.0

Pertunjukan wayang golek di Yogyakarta

Site visit atau berkunjung ke situs sejarah di daerah Yogyakarta merupakan rangkaian kegiatan akhir sebelum penutupan. Pada kegiatan ini para delegasi diajak untuk mengunjungi situs bersejarah seperti batik Yogya serta penampilan wayang golek. Para delegasi di kenalakan dengan sejarah batik dan motif batik, serta cara pembuatan pola batik hingga pada tahapan pengeringannya.

Selain itu, delegasi diperkenalkan kepada wayang sebagai salah satu warisan budaya Indonesia yang harus dilestarikan keberadaannya di zaman modern ini. Pada sesi ini para delegasi diceritakan tentang sejarah wayang serta bagaimana silsilah wayang itu sendiri.

Sepenggal harapan pemuda ASEAN

Dari berbagai kegiatan yang kami ikuti, kami berharap dapat meningkatkan kepemimpinan, pemikiran analitis, diplomasi, dan keterampilan berbicara di depan umum. Serta dapat menjadi motivasi bagi teman-teman yang lain untuk dapat berlomba-lomba berpartisipasi dalam membangun dunia yang damai.

“The youths of today are the leader of tomorrow”-Nelson Mandela

(Darmelia Puspita Sari, HI 2018)

 

MAHASISWI HUBUNGAN INTERNASIONAL JUARA III LOMBA ESSAI DI AJANG PADJADJARAN FEST & CONFERENCE (PFC) 2020

Pada tanggal 11-13 November 2019, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, Bandung menyelenggarakan sebuah kegiatan prestise di kampus tersebut. Adapun kegiatan yang mereka selenggarakan bernama Padjadjaran Fest and Conference 2020 dan bertajuk “Memperkuat Perbatasan untuk Perkembangan Indonesia.”

Tiga mahasiswi semester 3 yang cukup aktif dari Prodi Hubungan Internasional Universitas Darussalam Gontor tergerak untuk mengikuti acara selama 3 hari ini. Mereka ialah Dita Nur Safitri, Arya Rahmania dan Zahra Fariha yang pada akhirnya berhasil mengharumkan nama besar UNIDA Gontor dengan menjadi pemenang dalam perlombaan berskala nasional tersebut.

Debat dan Konferensi Esai merupakan dua kategori lomba yang diadakan pada acara Padjadjaran Fest and Conference. Meski perlombaan ini diikuti banyak peserta dari universitas bergengsi di Indonesia, delegasi UNIDA membuktikan bahwa mereka juga bisa, jika ada kemauan yang kuat. Jiwa bersaing dan mental untuk maju menjadi acuan membara mahasiswi HI UNIDA ini.

Seminar Nasional

Hari pertama diawali dengan pembukaan dan technical meeting bagi peserta lomba PFC 2020 di Balai Kusumaatmadja, Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran. Sambutan dari ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran mengawali acara ini. Selain itu, pembukaan juga diadakan secara meriah dengan ditampilkannya tari Jaipong oleh dua mahasiswi Fakultas Kesehatan Unpad. Acara dilanjutkan dengan diadakan seminar nasional dengan tema “Memperkuat Perbatasan untuk Perkembangan Indonesia”.

Kompetisi Debat dan Presentasi Esai

conference
presentasi essai PFC

Di hari kedua, perlombaan berupa debat dan presentasi esai mulai dilakukan. Dalam kompetisi debat, terdapat 14 tim yang merupakan delegasi dari berbagai universitas di Indonesia. Kompetisi presentasi esai dengan 19 tim kemudian dikategorikan menjadi 5 sub-tema; ekonomi, sosia budaya, pertahanan dan keamanan, infrastruktur dan pariwisata.

Delegasi dari Universitas Darussalam Gontor, dengan nama kelompok Depositum Roses menjadi salah satu finalis dalam kompetisi presentasi esai. Sub-tema infrastruktur mereka tentukan sebagai pembahasan dalam perlombaan ini. Dalam membahas infrastuktur, delegasi membahas mengenai “Isu Pemindahan Ibukota: Upaya Pemerintah Dalam Pengembangan Daerah Perbatasan Indonesia”.

Field Trip

Pada hari ketiga, field trip diadakan untuk seluruh peserta lomba Padjadjaran Fest & Conference. Tempat-tempat yang dikunjungi adalah Gedung Konferensi Asia Afrika, Jalan Braga, Alun-Alun Bandung dan Museum Gedung Sate.

Field trip yang dilaksanakan di beberapa tempat bersejarah di Bandung bertujuan untuk memperkenalkan kota Bandung dari segi sejarah karena tidak semua peserta PFC 2020 berasal dari Bandung. Adapun destinasinya adalah Gedung Konferensi Asia Afrika, Museum Gedung Sate, Alun-alun Bandung dan Jalan Braga dipilih untuk kunjungan field trip acara ini.

Penutupan dan Pengumuman Pemenang PFC 2020

Penutupan acara yang disingkat PFC 2020 ini berlangsung mulai pukul 16.00 WIB sampai dengan selesai. Penutupan diisi dengan berbagai macam jenis penampilan seperti Paduan Suara Angklung dan Band dari Unit Kegiatan Mahasiswa Universitas Padjadjaran Bandung.

Di penghujung waktu, tibalah pengumuman para pemenang lomba debat dan konferensi esai. Khusus untuk perlombaan konferensi esai, pemenang juara satu, dua dan tiga ditentukan berdasarkan sub-tema masing-masing.

Adapun untuk sub-tema infrastruktur, delegasi UNIDA Gontor berhasil memboyong gelar Juara III atas perlombaan konferensi esai dengan nama kelompok Depositum Roses. Semoga ini menjadi batu loncatan bagi mahasiswa lainnya.

(Zahra Fariha Artyasa/HI-4)

SEINMUN 2019, Ajang Penyatuan Niat dan Perubahan Lebih Baik di Era Revolusi 4.0

Model United Nations adalah salah satu kegiatan favorit yang saat ini begitu digandrungi bagi generasi muda. Tidak hanya untuk para mahasiswa HI, melainkan juga telah diminati oleh mahasiswa dari berbagai program studi. Disini, para mahasiswa terus diasah kemampuannya terutama ketika dihadapkan sebagai utusan negara pada simulasi sidang PBB. Dari simulasi tersebutlah sang diplomat yang menjadi perwakilan negara dituntut untuk dapat mempertahankan kedaulatan negara dan memperjuangkan national interest-nya.

Selama mengikuti proses penyeleksian, para mahasiswa dituntut untuk jeli dan teliti dalam mencari referensi terpercaya. Hal tersebut dilakukan demi mengetahui isu-isu terbaru sehingga memudahkan mereka dalam pembuatan position paper. Maka dari itu, tidaklah mudah bagi para mahasiswa yang dapat lolos mengikuti ajang bergengsi tersebut.

Adalah Nur Azizah dan Shafa Arif, dua mahasiswi Hubungan Internasional yang turut serta menjadi peserta dalam salah satu kegiatan MUN. Kegiatan ini secara resmi diselenggarakan di Universitas Diponegoro dengan nama SEINMUN 2019 atau Semarang International Model United Nations.

Tentang SEINMUN 2019

Adapun SEINMUN kali ini mengusung tema “Embracing Alteration: Unifying Intentions, Enhancing Awareness Toward Peace and Justice 4.0”. Acara tersebut telah berlangsung tepat di Grand Candi Hotel, Semarang, Jawa Tengah (19-21/09).

SEINMUN adalah simulasi sidang dimana peserta berdiri sebagai delegasi dari negara-negara yang ada di dunia. Salah satu tujuannya adalah untuk menangani berbagai masalah yang ada di dunia dengan politik dan perspektif negaranya masing-masing. Setiap peserta dituntut untuk memikul peran sebagai perwakilan dari negara anggota PBB dan SEINMUN akan mengajarkan setiap pesertanya bagaimana cara berdiplomasi dengan baik. Serta, kegiatan ini berguna untuk menstimulus para millenial dalam berpikir kritis, sehingga mampu menyampaikan gagasan mereka dengan jelas dan ringkas.

Tidak hanya itu, mereka juga dipandu untuk memahami isu kontemporer mengenai masalah council yang telah ditentukan sebelumnya. Adapun council tersebut  ialah UNESCO  dalam Utilizing Education and Local Culture as Means of Peace Building. ILO dalam isu Automation in the Disruption Era| Challenges or Opportunities. UNSC dalam hal Dilemma of Contemporary Security the Usage of Autonomous Weapons System in Modern Warfare. Acara ini diharapkan mampu mencetak generasi yang peka dan tanggap dalam mengatasi isu-isu internasional. Hal ini guna mewujudkan perdamaian dan perubahan dunia ke arah yang lebih baik.

MUN

-MUN-
Tak Hanya Menjadi Delegasi

Shafa, salah satu delegasi mengisahkan bahwa dengan mengikuti MUN, ia dapat membangun jaringan dengan teman-teman baru dengan pengalaman unik dan menarik. Dari sanalah, Shafa semakin termotivasi untuk terus memetik dan menebarkan manfaat yang telah mereka dapatkan dari pengalaman mengikuti MUN.

Lain halnya dengan Shafa, dalam pandangan Azizah, mengikuti kegiatan MUN adalah hal yang tidak sulit untuk digapai jika kita ingin berdoa dan berusaha dengan sebaik-baiknya. Ia juga bercerita bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk dapat meraih apa yang menjadi passion serta mengasah skill yang ada pada jiwanya.

Maka dari itu, semua orang memiliki kesempatan yang sama besar untuk mengikuti kegiatan ini, tidak hanya mahasiswa HI saja. Azizah berharap, keikutsertaannya dalam acara ini dapat terus memotivasi para mahasiswi lainnya untuk terus belajar dan berjelajah di bumi Allah yang luas ini. [Fiani]

Artikel Terkait:

28 Mahasiswa Hubungan Internasional Mengikuti Pelatihan School of MUN

UNIDA Gontor Utus Delegasi Asia Youth International Model United Nation (AYIMUN) 2019

Kiprah Delegasi HI UNIDA di Ajang Model United Nations (MUN) | Universitas Katolik Parahyangan Bandung

Memilih Lapar: Diplomasi dan Islam era Kemerdekaan

Hari Bersejarah Bagi Perjuangan Diplomasi Indonesia

Pagi itu, sekira pukul 9 waktu Kairo, delegasi Indonesia yang dipimpin oleh Agus Salim tampak tegang dan cemas menunggu peristiwa maha penting bagi masa depan Republik Indonesia yang baru lahir. Keheningan menyelimuti ruangan depan kantor Perdana Menteri Norkrasyi Pasha, yang telah menyanggupi pertemuan penandatanganan kerjasama internasional pertama Indonesia dengan Mesir. Namun, pintu ruang kerja Perdana Menteri tak kunjung terbuka. Kondisi itu membuat suasana semakin tak karuan.

Tiba-tiba, pintu terbuka dan muncul seorang pria berwajah Eropa keluar tergesa-gesa dengan wajah pucat dan lesu. Rupa-rupanya, ia adalah Graaf van Rechteren, Duta Besar Belanda untuk Mesir yang telah gagal dengan misinya. Menjegal kerjasama Indonesia-Mesir, yang berarti mengakhiri klaim kekuasaan mereka atas Indonesia.

“Menyesal sekali kami harus menolak protes tuan, sebab Mesir selaku negara berdaulat dan sebagai negara yang berdasarkan Islam tidak bisa tidak mendukung perjuangan bangsa Indonesia yang beragama Islam. Ini adalah tradisi bangsa Mesir dan tidak dapat diabaikan!”.

Lugas dan tegas. Rentetan kata-kata yang keluar dari Perdana Menteri Mesir Nokrasyi Pasha kepada Duta Besar Belanda membuat Rechteren tak bisa berbuat apa-apa. Saat itu, tanggal 10 Juni 1947 adalah hari bersejarah bagi perjuangan diplomasi Indonesia. Kerjasama kedua negara sebagai pertanda pengakuan internasional de jure pertama bagi kemerdekaan Indonesia, diteken.

A.R. Baswedan, saksi sekaligus penutur cerita tentang situasi tersebut mengungkapkan perasaan yang menggelora dan tak terlupakan. Betapa perjuangan panjang ini akhirnya mendapat jawaban. Hanya ungkapan syukur kepada Allah yang bisa ia panjatkan atas karunia-Nya dan berkat-Nya.

Perjuangan Pemuda Indonesia di Mesir

Perjuangan pengakuan ini panjang ceritanya. Mesir masa itu, dengan pelajar dan mahasiswa Indonesia di sana adalah salah satu poros penting gerakan kemerdekaan Indonesia di luar negeri, selain di Belanda dengan Indische Vereeniging yang lebih tenar itu tentunya. Gerakan itu telah dimulai bahkan pada awal tahun 1920-an. Ia bergerak sangat agresif. Masif. Tak terbendung. Bahkan, menurut Dr. Sutomo yang berkunjung ke Kairo tahun 1931, “pemuda-pemuda Indonesia yang berada di Kairo terlalu panas dan perlu didinginkan”.

Tak cukup disitu, pelajar dan mahasiswa Indonesia yang kala itu belajar dengan beasiswa dari pemerintah Belanda dengan tegas menolak mengambil hak tunjangan mereka demi memurnikan perjuangan juga sebagai tirakat gerakan kemerdekaan Indonesia di Mesir. Dalam salah satu paragraf petisi yang dikeluarkan oleh warga Indonesia di Mesir kala itu menyatakan dengan keras dan menggetarkan: Menolak secara serentak untuk menandatangani tanda terima tunjangan dan memilih lapar daripada harus mengkhianati Tanah Air dan dikeluarkan dari kebangsaan (Indonesia).

Para pemuda itu rupanya tidak hanya mempromosikan Indonesia kepada masyarakat umum lewat kawat-kawat yang dikirim ke berbagai media nasional di Mesir, gerakan ini bahkan menyentuh elit-elit politik negeri itu. Tak hanya elit Mesir, pertemuan Pan Arab (sekarang Liga Arab) pada 6 September 1944 yang dihadiri oleh para menteri luar negeri negara-negara arab di Alexandria, Mesir pun dibajak dengan beberapa permintaan yang salah satunya adalah dukungan atas kemerdekaan Indonesia. Imbasnya, muncul simpati dari negara-negara Arab atas nasib perjuangan Indonesia.

Sampai-sampai, Abdurrahman Azzam Pasha, Sekjen Liga Arab saat itu, menjadi juru diplomasi utama perjuangan pengakuan kemerdekaan, lewat lobi-lobinya kepada para elit politik di Timur Tengah. Dengan satu kata kunci: Indonesia, yang Islam, membutuhkan bantuan! Maka tak heran, atas dasar persaudaraan Islam, seperti yang dinyatakan oleh Raja Farouq, Mesir mengakui kemerdekaan Indonesia yang kemudian diikuti oleh beberapa negara arab lain seperti Suriah, Lebanon, Yaman dan Arab Saudi. Merdeka! [Sofi Mubarok]

Artikel terkait:

Beasiswa Santri LPDP, Beasiswanya Mahasiswa UNIDA

 

http://hi.unida.gontor.ac.id/2019/09/05/biografi-abu-bakar-assidiq-dan-gaya-diplomasinya/

MEMAKNAI “SDM UNGGUL INDONESIA MAJU” DALAM KONTEKS IDEOLOGI PANCASILA

KEBEBASAN YANG DINANTI-NANTI GUNA MEWUJUDKAN CITA-CITA BANGSA

Budaya Membaca dan Menulis, Ibarat Tanaman yang Tak Terawat