Belajar Sejarah: Konstruktivisme dalam Hubungan Internasional | Bag. 3

Tokoh terakhir yang mendasari pemikiran konstruktivisme dalam hubungan internasional adalah seorang  sosiolog bernama Antony Giddens (1984). Ia mengemukakan konsep strukturasi sebagai media analisis hubungan antara struktur dan aktor. Baginya, struktur yang merupakan aturan dan kondisi yang memandu tindakan sosial, tidak menentukan secara mekanis (sebab-akibat) apa yang dilakukan oleh aktor. Artinya aktor bukanlah fihak yang secara pasif menerima struktur apa adanya, namun struktur tumbuh dari pemahaman dan makna intersubjektif aktor.

 

Dalam hal ini ia menambahkan bahwa sejatinya struktur benar-benar membatasi aktor, namun di sisi lain aktor dengan ide dan tindakannya memiliki kemungkinan untuk merubah struktur dengan bentuk yang baru. Artinya hubungan antara struktur dan aktor bukanlah sebuah ikatan yang rigid nan kaku, namun korelasi antar-keduanya bersifat sangat dinamis. Pandangan ini kemudian oleh banyak tokoh konstruktivis dalam hubungan internasional dijadikan sebagai pijakan tatkala menjelaskan pandangan realisme tentang anarki.

Kemunculan konstruktivisme tahun 1980an adalah reaksi terhadap Realisme dan Liberalisme serta dominasi metodologi saintifik dalam kajian hubungan internasional. Reaksi tersebut memunculkan anggapan bahwa apa yang terjadi dalam Perang Dingin saat itu didekte oleh logika kaum Neorealis yang menegaskan terjadinya perimbangan kekuatan antara AS dan Uni Soviet yang mewakili dua blok besar, Barat dan Timur adalah fakta yang tak terbantahkan. Maka, kemunculan teori ini pada saat itu kurang mendapat perhatian dari akademisi hubungan internasional.

Perlu juga ditekankan bahwa Konstruktivisme mewakili gerakan besar penentang pembatasan empirisme yang mengabaikan kenyataan adanya norma dan nilai. Artinya ia melawan saintifikasi total hubungan internasional yang kering dan kaku dalam menganggap pola hubungan antar negara. Namun di sisi yang lain, ia menganggap dirinya sebagai via media antara HI yang saintifik dan HI yang normatif. Dalam bahasa sederhana, Konstruktivisme adalah pendekatan empiris untuk meneliti hubungan internasional –empiris dalam hal fokus pada ide inter-subjektif yang mendefinisikan hubungan internasional (Robert Jackson & Georg Sorensen, 2013, hal. 374).

Gerakan penentangan ini sebenarnya lebih didominasi oleh mereka yang menyebut dirinya postpositivis dan reflektivis yang menolak gagasan empirisme atau positivisme. Pandangan ini secara epistemologis lebih menganggap refleksi dan reason sebagai dasar berfikirnya. Tak cukup disitu, salah satu yang paling ekstrim dari gerakan ini yaitu posmodernisme bahkan menyatakan bahwa “kita tidak penah akan mampu mengetahui dengan pasti apa yang sebenarnya terjadi”, karena menurut mereka bahasa tidaklah objektif dan selalu merefleksikan realitas sesuai versi pembicara.

Dalam tradisi hubungan internasional, kemunculan poros ini dan penentangannya terhadap pandangan positivis dikenal dengan debat ketiga atau third debate dalam Hubungan Internasional. Debat ke tiga ini memanas pada tahun 1990an dimana terjadi saling serang antar-kedua kubu. Dari perdebatan epistemologis ini, Konstruktivisme muncul sebagai satu usaha untuk mempersempit gap antara Positivisme dan Post-positivisme.


Penulis: Sofi Mubarok

Belajar Sejarah: Konstruktivisme dalam Hubungan Internasional | Bag. 2

Selain Giambattista Vico, Immanuel Kant dianggap sebagai pelopor pemikiran lain dari Konstruktivisme. Immanuel Kant hidup dalam suasana perdebatan sengit antar aliran filsafat empirisme dan rasionalisme. Pada saat yang sama, ia juga mengalami masa renaisans saat terjadinya perselisihan seru antara paham sekularisme dan agama katolik di Barat. Secara sadar ia merasa perdebatan yang terjadi khususnya antara pandangan empirisme dan rasionalisme tersebut tidaklah begitu penting. Pasalnya, keduanya, dalam mencapai kebenaran hakiki memiliki kekurangan yang mampu dijawab oleh yang lain.

Misalnya saja akal budi sebagai basis dari rasionalisme. Ia, menurut Kant, tidak bisa dipercaya begitu saja. Ia sangat terbatas. Begitu juga dengan indera sebagai dasar pengetahuan bagi empirisme. Indera terbukti banyak menipu, seperti saat kita melihat matahari sebagai benda langit bercahaya yang begitu kecil. Padahal sesungguhnya ia adalah benda angkasa yang amat sangat besar bila dibandingkan dengan bumi yang kita huni dan pijak.

Dari dasar kenyataan di atas, Kant berusaha mendamaikan pandangan rasionalisme dan empirisme. Menurutnya, peran rasio dan indera/ pengalaman sama pentingnya dalam mencapai kebenaran sejati. Bagi Kant, hasil dari pengamatan indera harus diteguhkan oleh akal budi untuk mencapai kebenaran paripurna. Dalam hal ini ia menyimpulkan bahwa, seorang manusia mampu memperoleh pengetahuan tentang dunia, tetapi pengetahuan tersebut akan selalu merupakan pengetahuan yang subjektif dalam arti bahwa ia akan selalu disaring melalui kesadaran manusia (subjektivitas manusia).

Senada dengan Vico dan Kant tentang pentingnya peran ide, Max Weber seorang terpelajar abad pertengaahan berpendapat bahwa dunia sosial yang di dalamnya adalah interaksi antar-manusia, secara mendasar berbeda dari dunia fisik alamiah. Menurutnya, dunia sosial oleh manusia dilihat dengan cara ‘memahami’ tindakan satu sama lain dan kemudian memberikan ‘makna’ untuk tindakan tersebut. Artinya, cara pandang kita terhadap realitas sosial harus berbeda dengan realitas fisik alamiah. Seperti misalnya ketika kita melihat durian jatuh dari pohon, maka dengan cepat kita bisa menyimpulkan bahwa itu adalah contoh dari adanya gravitasi bumi. Berbeda dengan cara pandang tentang realitas fisik di atas, realitas sosial tidak bisa disederhanakan hanya dengan melihat apa yang tampak saja. Sebagai contoh, pertanyaan tentang tindakan seseorang petani durian yang membagi duriannya dengan cuma-cuma kepada tetangganya apakah merupakan tindakan sukarela? Kita baru bisa menentukan makna dari tindakan tersebut setelah melakukan pemahaman interpretatif yang berbeda atau dalam istilah Weber disebut sebagai verstehen.

Weber menyimpulkan bahwa ‘pemahaman subjektif adalah karakteristik spesifik pengetahuan sosiologis’ (Weber, 1977, hal. 15). Artinya individu menempati posisi sentral dan menentukan dalam proses mencapai pengetahuan tentang dunia sosial. Di sini, para konstruktivis menyandarkan pada pandangan tersebut untuk menekankan pentingnya ‘makna’ dan ‘pemahaman’ atau dalam bahasa Weber disebut verstehen (Fierke dan Jorgensen, 2001).


Penulis: Sofi Mubarok

 

Bersambung ke bag. 2:

Belajar Sejarah: Konstruktivisme dalam Hubungan Internasional | Bag. 3

Belajar Sejarah: Konstruktivisme dalam Hubungan Internasional | Bag. 1

Dalam ilmu hubungan internasional dikenal beberapa perspektif atau pendekatan. Salah satu yang paling dilirik dewasa ini, terutama paska runtuhnya Soviet tahun 1989 adalah Konstruktivisme. Ia mendapat tempat usai para ilmuan bermadzhab Realisme (yang kala itu sangat dominan) tidak bisa menjelaskan secara baik, runtuhnya perang dingin yang begitu mendadak. Tidak untuk menjelaskan gagasannya, tulisan ini hanya ingin sedikit mengelaborasi sejarah pemikiran yang memunculkan ide perspektif ini dalam khazanah ilmu hubungan internasional. Layaknya kripik singkong lah.

Sejarah perspektif konstruktivisme tak bisa dilepaskan dari dua hal pokok: pertama, embrio dari perspektif ini dalam filsafat dan sosiologi, sebagai peletak dasarnya; dan kedua, kemunculannya pada perdebatan hubungan internasional pada akhir tahun 1980an yang ditandai dengan berakhirnya Perang Dingin antara dua adidaya: Amerika Serikat dan Uni Soviet. Tulisan ini membeberkan sekilas sejarah ilmu terbentuknya kelompok konstruktivis dalam khazanah ilmu hubungan internasional.

Konstruktivisme tidaklah lahir dari rahim ilmu Hubungan Internasional sebagaimana perspektif Realisme. Ia adalah refleksi para ilmuan Hubungan Internasional tentang situasi dunia yang didasarkan pada pemikiran-pemikiran atau teori sosial yang telah dulu ada. Ia adalah pengembangan dari gagasan dalam ilmu sosial yang lebih luas. Oleh karena itu, perlu kiranya menelusuri jejak konstruktivisme dalam histori perkembangan pemikirannya baik dalam sejarah filsafat maupun sosiologi.

Tokoh yang pertama kali memperkenalkan konstruktivisme adalah Giambattista Vico, seorang filsuf sejarah dari Italia. Ia memiliki pandangan bahwa sejarah tidaklah berjalan berputar seperti roda, yang memungkinkan seorang filsuf mampu meramalkan apa yang terjadi di masa depan. Sejarah bagi Vico berjalan spiral, ia bagaikan proses seorang mendaki gunung secara melingkar, semakin tinggi pendakian semakin tinggi dan gegas pula pencapaiannya. Hal ini mengikuti bentuk gunung yang mengerucut.

Baginya, sejarah bukanlah proses yang berulang-ulang secara simultan. Ia merupakan putaran pengulangan yang diiringi oleh proses perkembangan dan perubahan. Karenanya pergerakan sejarah tidak hanya melingkar, tapi juga menanjak. Ia bukanlah alam yang hanya bisa tunduk kepada hukumnya, ia memiliki dimensi kreativitas manusia yang mampu mengembangkan itu menjadi lebih baik. Oleh karenanya ia berkesimpulan bahwa dunia alam dibuat oleh Tuhan, tetapi sejarah dunia dibuat oleh manusia. Ketika masyarakat menjadi lebih berkembang secara sosial, sifat manusia juga berkembang, dan keduanya dalam perkembangannya mewujudkan perubahan dalam bahasa, mitos, cerita rakyat, ekonomi, dll .; singkatnya, perubahan sosial menghasilkan perubahan budaya (Hamilton, 1974, hal. 5).

Misalnya saja, suatu peradaban muncul, berkembang, maju dan akhirnya runtuh. Ia tidak hanya berjalan dengan proses yang kaku, yang berproses di luar kesadaran manusia, namun ia terbentuk dari apa yang dibuat oleh laki-laki dan perempuan sebagai manusia. Tak hanya itu, mereka juga membuat negara yang merupakan konsturksi dari ide-ide tersebut. Lebih lanjut, jika mereka menginginkannya mereka dapat mengubahnya dan mengembangkannya dengan cara-cara baru.

Dari sini terlihat, bagaimana kemudian seorang Vico mampu menjelaskan peran ide dalam sebuah perjalanan sejarah. Selain itu tentunya, ia juga berhasil membedakan apa yang kemudian berjalan alamiah dan apa yang mampu diintervensi oleh manusia sebagai subjek dan objek sejarah yang kreatif.


Penulis: Sofi Mubarok

 

Bersambung ke bag. 2:

Belajar Sejarah: Konstruktivisme dalam Hubungan Internasional | Bag. 2