Beberapa Contoh Teks MC Bahasa Inggris

Universitas Darussalam Gontor adalah salah satu perguruan tinggi berbasis pesantren yang mampu istiqamah dalam membumikan bahasa Arab dan Inggris di setiap aktivitas akademik maupun non-akademiknya. Setiap mahasiswa UNIDA Gontor dituntut untuk tidak hanya menggunakan dua bahasa internasional tersebut di dalam kelas saja, tapi juga di segala aspek kehidupannya di kampus.

Tahukah anda, jika Bahasa Arab dan Inggris ternyata juga selalu konsisten dipakai dalam berbagai even nasional dan internasional yang terselenggara di UNIDA? Dalam hal ini, setiap mahasiswa yang ditunjuk sebagai Master of Ceremony (MC)  harus mampu menunjukkan kemahirannya dalam mempimpin acara menggunakan standar bahasa Arab atau Inggris yang baik.

Berikut kami lampirkan beberapa contoh teks MC berbahasa Inggris yang tentunya akan sangat berguna.

Teks MC Bahasa Inggris pada Afro-Asian Universities Forum (AAUF) 2018

Teks MC Bahasa Inggris pada Bristish Diplomacy Updates

Teks MC Bahasa Inggris pada International Public Lecture  from University of Zagreb, Croatia

Teks MC Bahasa Inggris pada International Relations Day

Semoga bermanfaat [Wildi]

Berita terkait:

Inilah Beberapa Contoh Teks MC Bahasa Arab

Beasiswa Santri LPDP, Beasiswanya Mahasiswa UNIDA

http://hi.unida.gontor.ac.id/2019/08/31/loa-unconditional-adalah/

Pembekalan The International English Language Testing System (IELTS) Course | Memperkenalkan Islam pada Dunia melalui Bahasa Inggris

TENTANG DEMOKRASI DAN CIVIL SOCIETY

 

Beasiswa Santri LPDP, Beasiswanya Mahasiswa UNIDA

Beasiswa Santri…

Ada yang punya impian untuk kuliah di luar negeri? Jika iya, berarti anda termasuk salah satu dari jutaan orang yang menghendaki hal yang sama. Kini mimpi tersebut kian dekat dengan kenyataan melalui berbagai skema beasiswa yang tersedia, salah satunya adalah LPDP. Beasiswa LPDP siap memberikan beasiswa penuh kepada kita semua untuk kuliah di dalam maupun luar negeri, bahkan di kampus-kampus top dunia seperti Harvard, Oxford, dan Cambridge!

Rabu (11/09) salah seorang dosen Hubungan Internasional UNIDA Gontor, Wildi Adila, mendapatkan undangan untuk mengisi seminar beasiswa dan studi lanjut di Gontor Puteri 2 Mantingan. Acara yang bertemakan “Reach Your Dream by LPDP” tersebut bertujuan untuk memberikan informasi terkini seputar beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan). Selain itu, acara yang berlangsung mulai pukul dua hingga empat tersebut membahas hal-hal lain yang lebih spesifik seperti tips mendaftar LPDP, cara mendapatkan LoA (Letter of Acceptance) dari universitas tujuan, menjadi mahasiswa ideal, hingga sharing pengalaman pribadi menjadi seorang pelajar muslim di Inggris.

Sesi Pertama

Pada sesi pertama, narasumber memberikan pengenalan singkat mengenai apa itu LPDP. Secara umum, LPDP adalah sebuah lembaga beasiswa yang diselenggarakan oleh negara melalui Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Tujuannya adalah untuk memberikan bantuan dana pendidikan penuh kepada masyarakat Indonesia yang berminat melanjutkan studi ke jenjang magister atau doktoral.

Beasiswa Santri
Beasiswa Santri

Menurutnya, dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, kategori beasiswa yang ditawarkan LPDP saat ini sangatlah banyak. Jenis beasiswa yang beragam itu terdiri dari tiga tema besar, yaitu Beasiswa Umum, Beasiswa Afirmasi, dan Beasiswa Targeted Group. Beberapa beasiswa yang termasuk dalam kategori Beasiswa Umum adalah Beasiswa Reguler, Beasiswa Dokter Spesialis, Beasiswa Perguruan Tinggi Peringkat Utama Dunia, Beasiswa Disertasi, dan Beasiswa Kerja Sama Pendanaan (Co – Funding).

Beasiswa Afirmasi kali ini hadir dengan jenis beasiswa yang paling banyak. Diantara beasiswa-beasiswa yang masuk dalam kategori Afirmasi adalah Beasiswa Daerah Afirmasi, Beasiswa Alumni Bidikmisi, Beasiswa Prasejahtera Berprestasi, Beasiswa Santri, Beasiswa Prestasi Olahraga Internasional, Beasiswa Prestasi Seni Internasional, Beasiswa Penyandang Disabilitas, dan Beasiswa Indonesia Timur. Sedangkan Beasiswa Targeted Group hanya terdiri dari 3 macam saja, yaitu Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia (BUDI), Beasiswa PNS/TNI/POLRI, Beasiswa Olimpiade Internasional.

Beasiswa Afirmasi

Pembahasan sang narasumber kala itu lebih dititikberatkan pada Beasiswa Afirmasi, khususnya Beasiswa Santri. Hal ini bukannya tanpa alasan. Pasalnya, tipe beasiswa ini sangat sesuai dengan latar belakang para audience yang merupakan seorang pendidik di Pondok Modern Darussalam Gontor, Kampus Puteri 2. Beasiswa Santri adalah sebuah program beasiswa yang dikhususkan bagi santri yang ingin melanjutkan kuliah pada jenjang magister ataupun doktoral. Adapun salah satu ketentuannya adalah aktif sebagai pendidik, dan atau tenaga kependidikan di Pondok Pesantren atau satuan-satuan Pendidikan keagamaan yang diselenggarakan oleh pesantren sekurang-kurangnya 3 tahun terakhir.

Beasiswa Santri ini adalah beasiswanya Antunna-Antunna sekalian, para mahasiswa-mahasiswi UNIDA. Kalau sampai tidak mau mengambil kesempatan emas ini, sungguh betapa meruginya kalian. Syaratnya cenderung ringan jika dibandingkan jenis beasiswa LPDP lain. Kalau di Beasiswa Reguler, persyaratan bahasanya  harus dengan IELTS 6.5. Nggak bisa ditawar-tawar. Sedangkan di Beasiswa Santri, Antunna bisa mendaftar hanya dengan nilai IELTS 6.0. Bahkan, khusus beasiswa ini, TOEFL ITP dengan skor 500 masih diperbolehkan. Tak hanya itu, setelah lolos LPDP, kalian akan diberikan kursus bahasa gratis untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris kalian, lanjut Wildi.

Selain Beasiswa Santri, ada dua jenis beasiswa lagi yang cocok dengan mahasiswa UNIDA. Persyaratannya pun juga tak sesulit Beasiswa Reguler. Dua beasiswa itu adalah Beasiswa Daerah Afirmasi dan Beasiswa Prasejahtera Berprestasi. Yang pertama adalah jenis beasiswa yang dikhususkan bagi para pemuda-pemudi yang berasal dari 125 kota yang masuk dalam kategori 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal). Untuk mengetahui daftar daerah afirmasi LPDP tahun 2019 bisa klik link ini. Sedangkan Beasiswa Prasejahtera, adalah program beasiswa bagi mereka yang berasal dari keluarga miskin, tapi memiliki IPK sekurang-kurangnya 3,5 dari skala 4,0 dan lulus strata satu pada dua tahun teakhir. Untuk cek ketentuannya bisa klik link ini.

Minder

Meskipun kesempatan untuk mendapatkan beasiswa ini sangat terbuka lebar, ternyata masih banyak ditemukan mahasiswa-mahasiswi UNIDA yang minder karena bahasa Inggrisnya masih pas-pasan. Untuk masalah ini, Wildi memberikan beberapa tips yang bermanfaat.

Mahasiswa UNIDA harus mampu menambah exposure bahasa Inggris dalam kehidupannya sehari-hari, pesan Wildi. Exposure ini lalu dibagi menjadi 4 bagian, sesuai jumlah skill berbahasa yang terdiri dari listening, speaking, reading, and writing. Untuk listening, mahasiswa dapat membiasakan diri untuk mendengarkan podcast dengan tema yang disukai di platform gratis seperti spotify dan anchor. Sementara reading bisa ditingkatkan dengan cara rajin membaca artikel ilmiah, novel, atau berita dari warta luar negeri yang berbahasa Inggris.

Meningkatkan speaking exposure bisa dimulai dengan cara imitate frasa-frasa bahasa Inggris yang terdapat pada film, vlog, reality show, dan lainnya. Selain itu, aktif dalam kegiatan akademik seperti student exchange, international conference and seminar tentunya akan sangat bermanfaat dalam meningkatkan kepercayaan diri para mahasiswa dalam berbicara di depan publik. Yang terakhir, writing skill, bisa dikembangkan dengan cara merangkum berita yang menjadi headline. Membuat tulisan untuk mengungkapkan sebuah pendapat atau mengomentari fenomena yang sedang hangat dibicarakan dalam bahasa Inggris juga sangat membantu.

Sesi Kedua

Di sesi kedua, alumni SOAS tersebut berbagi tentang kebiasaan baik yang dapat mendekatkan diri pada kesempatan kuliah di luar negeri. Menurutnya, penting sekali untuk menjadi “mahasiswa ideal” yang baik secara akademik, organisasi, pengabdian, prestasi, hingga agamanya. 

Akademik yang baik bisa dibuktikan dengan menunjukkan nilai IPK yang tidak pas-pasan. Meskipun tidak dapat menjadi patokan untuk mengukur kesuksesan seseorang, IPK nyatanya menjadi salah satu instrumen paling penting untuk kuliah S2 dan S3. Hal penting lainnya, organisasi dan pengabdian, dapat menjadi sebuah wadah bagi para mahasiswa untuk menjadi lebih kritis, peka terhadap permasalahan yang ada di sekitar, membangun relasi, dan memperluas koneksi.

Prestasi bisa diartikan sebagai bagian dari pengejawantahan proses belajar di kelas. Menjadi mahasiswa paling pintar di kelas rasanya kurang paripurna jika tidak menjajal berbagai kompetisi di bidang akademik maupun non-akademik. Jika keempat unsur untuk menjadi “mahasiswa ideal” di atas sudah dikantongi, ini (harusnya) dapat menjadi momentum baginya untuk lebih agamis. Bila mau merenung, maka seorang mahasiswa pasti akan sampai pada sebuah kesimpulan bahwa semua pencapaian cemerlangnya tidak akan pernah terwujud tanpa bantuan dan kemudahan dari Allah SWT.

Hakikat Studi Lanjut

Pria asal Ponorogo tersebut juga menjelaskan tentang hakikat studi lanjut yang sering salah ditafsirkan oleh banyak orang. Wildi dengan tegas mengatakan bahwa studi lanjut, terlebih dengan beasiswa, bukanlah sebuah kegiatan aji mumpung. Mumpung belum diterima kerja, maka mendaftar beasiswa. Mumpung pas sedang kerja serabutan, maka mau studi lanjut. Bukan seperti itu cara mainnya. Studi lanjut adalah sebuah usaha yang harus dipersiapkan dengan matang, didukung oleh serangkaian aktivitas yang konsisten. Ia juga perlu ditindaklanjuti dengan kontribusi nyata bagi bangsa.

Maka dari itu, penting bagi mahasiswa untuk menyiapkan segala sesuatunya sedari dini. Ini bisa ditindaklanjuti dengan konkrit salah satunya dengan cara memiliki paspor. Mengapa seorang mahasiswa harus mempunyai paspor? Hal ini karena paspor menjadi syarat wajib bagi seseorang bila hendak berkunjung ke sebuah negara. Dengan kata lain, mahasiswa harus didorong memiliki kunci untuk melihat dunia yang sangat luas. Jika mahasiswa terbiasa keluar masuk negara orang, mata dan pikirannya akan terbuka, keputusannya menjadi lebih bijak, inisiatifnya akan tumbuh, pengalamannya akan bertambah, dan visi hidupnya akan terbentuk.

Penutup

Sebelum menutup sesinya, Wildi tak lupa mengingatkan hal yang krusial kepada para peserta yang hadir. “Walaupun kesempatan emas kuliah di luar negeri menganga di depan mata, hal ini semoga tak lantas menggoyahkan niatan ikhas Antunna, para guru-guru untuk tetap istiqamah dalam mendidik santri, mengurus bagian, membantu pondok, sekaligus menjalankan kuliah.” Acara itu pun ditutup dengan sesi foto bersama antara narasumber, peserta, dan panitia. [Adil]

Beasiswa Santri
Beasiswa Santri

Berita terkait:

http://hi.unida.gontor.ac.id/2019/08/31/loa-unconditional-adalah/

S2 di Inggris dengan Beasiswa Chevening? Mengapa Tidak

Memilih Lapar: Diplomasi dan Islam era Kemerdekaan

Internship , We Love It – Kiat-kiat Persiapan Magang

British Diplomacy | Sister City Liverpool-Surabaya dan Chevening Programs

TENTANG DEMOKRASI DAN CIVIL SOCIETY

Civil society (masyarakat madani) merupakan sebuah konsep sistemik atau struktur kemasyarakatan yang menjamin keadilan sosial bagi seluruh manusia. Konsep masyarakat ideal ini selalu menjadi diskursus paling menarik ditengah-tengah pertarungan sengit bermacam ideologi politik, ekonomi, dan sosial  yang ditawarkan oleh para pemikir sebagai sebuah formulasi teoritis paling urgen dalam upaya pencapaian masyarakat adil dan sejahtera.

Sebagai titik tolak perbincangan, civil society dianggap sebagai kondisi kesempurnaan yang merefleksikan cita-cita dan harapan tertinggi seluruh umat. Hal ini kemudian dihadapkan pada bermacam jalur atau aturan (baik teoritis maupun praktis) sehingga menyemarakkan proses kompetisi ideologis berupa varian-varian alternatif model pencarian yang layak untuk dipertimbangkan. Wacana yang ingin diketengahkan adalah konsep demokrasi Barat serta korelasinya dengan civil society.

Desakralisasi Struktur Nilai

Proses desakralisasi (disenchantment) pada domain perpolitikan masyarakat Barat merupakan imbas konflik historis antara kaum agamawan (church) dan ilmuan (science). Institusi gereja ini merupakan struktur hierarki kependetaan yang merefleksikan kekuasaan Tuhan di bumi dan mengidentikkan diri dengan sikap pemisahan diri dari identitas sosial sebagaimana lazimnya diasosiasikan terhadap masyarakat biasa. Akibatnya, institusi gereja ini mendapatkan banyak sekali perlawanan yang kebanyakan mengusung isu pembebasan dari belenggu ajaran-ajaran gereja yang dogmatis, tradisional, irasional dan bahkan kontradiktif terhadap bermacam pembuktian-pembuktian yang diinduksikan oleh ilmu pengetahuan modern.

Gelombang desakralisasi ini juga dirasakan pada wilayah politik, utamanya sekitar ide-ide tentang upaya pembentukan civil society dengan menunjuk kepada bermacam aliran-aliran ideologis. Beberapa diantara aliran itu adalah Demokrasi, Sosialisme, Marxisme, Komunisme, Kapitalisme dan lain-lain, yang kemudian mengerucut pada perdebatan seputar diskursus korelasi agama dan politik.

Bermacam ideologi tersebut diatas menawarkan bermacam sistem kemasyarakatan (sosial, ekonomi dan politik) yang, meskipun pada tataran tertentu memiliki kompleksitas konsep dan teori-teori yang kontradiktif antara satu dengan lainnya, bertujuan menciptakan sebuah kemapanan masyarakat (civil society). Bahwa kesempurnaan yang dicapai melalui bermacam metode dan jalur, telah melahirkan heterogenitas ideologi kemasyarakatan yang variatif dan meskipun sebenarnya sangat problematis.

Sekularisasi

Dampak yang ditimbulkan oleh proses desakralisasi pada tataran ini berupa sekularisasi atau pemisahan agama dari politik. Hal ini kemudian berimbas pada, diantaranya, munculnya model-model pendekatan perpolitikan yang kosong akan nilai-nilai religi serta struktur kemasyarakatan yang pluralis, sekuler, dikotomis dan menafikan pretensi-pretensi transenden. Diantara model pendekatan tersebut adalah Realisme dan Idealisme.

Model pendekatan perpolitikan realisme secara eksplisit menyatakan bahwa power (kekuatan/ kekuasaan) adalah faktor paling esensial dalam setiap aktifitas perpolitikan. Oleh karena itu politik dianggap sebagai sebuah instrumen menuju kekuasaan. Ideologi kedua yakni Idealisme merupakan bahan rujukan (frame of reference) Amerika Serikat selama terjadi perang dunia I hingga perang dingin. Ideologi ini menekankan moralitas manusiawi, bahwa manusia memiliki kecenderungan alamiah terhadap nilai-nilai kebaikan. Pertanyaannya kemudian adalah, sejauh manakah akuntabilitas moral manusia (Barat) dapat dipertanggungjawabkan sedangkan mereka sama sekali tidak mengenal sandaran moral yang hakiki (agama)?

Demokrasi Tanpa Nilai

Demokrasi memiliki catatan sejarah perkembangan yang berubah-ubah. Ia juga merupakan sebuah ideologi yang rentan terhadap segala macam perubahan sosial sehingga seringkali diartikan secara bias oleh individu berdasar kehendak zaman. Hal ini sejalan dengan semangat keilmiahan Barat yang cenderung menyangsikan sebuah kemapanan. Kesangsian yang kemudian diikuti tindakan evaluatif kritis dan diakhiri dengan penemuan teori-teori baru yang seringkali mengeliminir teori-teori lama.

Inilah salah satu ciri khas masyarakat progresif ala Barat, sebuah paradigma yang menitikberatkan superioritas rasio atau inderawi terhadap pencarian hakekat kebenaran. Karena berasal dari olah pikir inderawi, maka orientasi civil society ala Barat adalah struktur kemasyarakatan yang dibangun di atas pilar-pilar pemikiran yang bersifat empirik, positif dan logis namun rentan terhadap perubahan temporal atau bahkan total (revolusi). Karenanya, problem relatifitas dan aplikabilitas civil society ini sering dipertanyakan.

Demokrasi Barat

Demokrasi Barat merupakan salah satu konsepsi pemikiran politik modern yang berupaya memberikan arahan-arahan teoritis disertai elemen-elemen pendukung lainnya. Hal tersebut guna menciptakan civil society yang bermuara pada satu proposisi yang menyatakan bahwa rakyat merupakan unsur tunggal pemilik dan penentu kekuasaan (power). Jargon yang sering diteriakkan adalah; pemerintahan dari, oleh dan untuk rakyat. Ini berarti bahwa rakyat adalah elemen terpenting dalam setiap pemerintahan demokratis, suara rakyat adalah suara Tuhan.

Nampaknya konsep demokrasi Barat ini sejalan parallel dengan semangat pendekatan perpolitikan yang ditawarkan oleh kaum realis dan idealis. Titik terpentingnya adalah pertama, asumsi yang menyatakan bahwa kekuasaan (power) merupakan tujuan akhir dari setiap aktifitas perpolitikan dan karenanya harus diraih dengan segala cara. Kedua; manusia mampu menentukan kebaikan untuk diri mereka sendiri tanpa pertolongan dari unsur apapun dan manapun.

Sikap pertama menegaskan betapa kotor ranah perpolitikan dunia. Ini karena setiap individu dituntut untuk megejar dan mempertahankan kepentingan (interest) kekuasaanya tanpa mengindahkan norma-norma kemanusian. Sikap kedua –(over) confidence- ini menandaskan kemampuan individual manusia untuk mengklasifikasikan yang baik dari yang tidak baik dan menafikan worldview  (pandangan hidup) teologis sebagai format rujukan tertinggi.

Maka sekali lagi kita boleh bertanya, sejauh manakah kekuatan individu, yang rentan terhadap bermacam perubahan yang diakibatkan oleh faktor-faktor psikologis, afektif, dan lain-lain, mampu menentukan moralitas pribadi dan masyarakatnya? Maka paradigma demokrasi Barat diatas layak untuk dikritisi (disalahkan). Kekhawatiran yang muncul kemudian adalah bahwa sebuah struktur worldview  yang salah akan melahirkan person yang memiliki cara pandang dan tindakan yang salah pula. Demokrasi tanpa nilai (religi) tentu akan melahirkan civil society yang kosong akan orientasi nilai pula, naudzubillah.

Rasulullah dan Civil Society

Realita di atas sangat kontras dengan paradigma Islam yang mengakui konsep kemapanan tauhid sebagai satu-satunya landasan nilai dan worldview  yang mampu menegaskan dirinya selalu relevan, tidak terbatas ruang dan waktu. Konsepsi civil society pada hakikatnya memiliki preseden historis dalam sejarah peradaban Islam. Hal tersebut juga telah diaplikasikan secara gamblang oleh Nabi Muhammad SAW ketika beliau melaksanakan hijrah dari Mekkah ke Madinah. Beberapa struktur fundamental Masyarakat Madani telah diinisiasikan secara sistematis oleh Rasullullah SAW. Beberapa diantaranya adalah Bai’at (social contract), penandatanganan Piagam Madinah, dan konsolidasi internal kaum muslimin.

Konsep Bai’at mirip dengan konsep kontrak sosial. Ketika itu, beberapa orang dari kaum muslimin Madinah menyatakan keislaman. Mereka juga membaiat Nabi sebagai seorang pemimpin yang harus dilindungi dari setiap ancaman dan bahaya. Piagam Madinah secara eksplisit mengakui dimensi persamaan seluruh individu dihadapan hukum Islam, kebebasan beragama, dan pakta persekutuan dengan masyarakat non-muslim (Yahudi dan Arab Paganisme).

Kemudian konsolidasi internal kaum muslim ditunjukkan dengan integrasi kaum Muhajirin dan Anshar dalam satu kesatuan Ukhuwwah Islamiyyah. Inilah pioneer institusi politik dan sosial masyarakat madani yang pernah tercatat dalam sejarah manusia 14 abad yang lalu. Sekali lagi, sistem kemasyarakatan dengan pondasi tauhid ini memformulasikan beberapa elemen asasi diantaranya persamaan, kebebasan dan persaudaraan. Pada poin ini, Islam dan demokrasi menemukan titik korelasi yang harmonis. Keduanya mengakui ketiga elemen diatas sebagai bagian dari unsur-unsur terpenting bagi pembentukan civil society.

Penutup

Islam sebagai referensi worldview umat semestinya diposisikan di atas segala macam dan bentuk ideologi, maka diskursus semacam “Kompatibilitas Islam terhadap Demokrasi” seharusnya dirubah menjadi “Kompatibilitas Demokrasi terhadap Islam”. Sehingga paradigma yang muncul adalah bagaimana perspektif Islam tentang Demokrasi, dan bukan sebaliknya. Islam yang menjelma menjadi sebuah manhaj al-hayat menunjukkan koridor-koridor kebaikan yang dapat dicapai, salah satunya, melalui kebebasan berpikir. Namun, pada saat yang sama menunjukkan betapa terbatasnya kemampuan berpikir tersebut. Wallahu a’lam. [Latief/Ed.Wildi]

 

Referensi:

  1. Donald Eugene Smith, Religion and Political Development, University of Pennsylvania, Little, Brown and Company, Boston, 1970
  2. D.R. Bhandari, History of European Political Philosophy, 14th Edition, the Bangalore Printing and Publishing. co. ltd. Bangalore Press
  3. Hamid Fahmy Zarkasyi, Liberalisasi Pemikiran Islam (Gerakan bersama Missionaris, Orientalis dan Kolonialis), Center for Islamic and Occidental Studies (CIOS)-ISID-Gontor, Agustus 2008.
  4. Joshua S. Goldstein, International Relations, fifth edition, American University, Washington DC, 2003
  5. Muhammad Hussain Haikal, Hayyah Muhammad, cet ke-19, Dar al-Ma’arif, Kairo, 1993.
  6. Musdah Mulia, Disertasi; Negara Islam (Pemikiran Politik Hussain Haikal), Program Pasca Sarjana, IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. 1996.

Berita terkait:

Sistem Politik Demokrasi Meminimalisir Praktik Korupsi, Mungkinkah? (Bag. 1)

Sistem Politik Demokrasi Meminimalisir Praktik Korupsi, Mungkinkah? (Bag. 2)

MEMAKNAI “SDM UNGGUL INDONESIA MAJU” DALAM KONTEKS IDEOLOGI PANCASILA

http://hi.unida.gontor.ac.id/2019/08/31/loa-unconditional-adalah/

 

 

Mengenal Lebih Dekat Abu Bakar Ash-Shiddiq, Sang Diplomat Teladan

Biografi Abu Bakar

Abu Bakar Ash-Shiddiq lahir di Makkah dari seorang ayah bernama Utsman bin Abu Quhafah dan seorang ibu Salamah, yang bergelar Ummul Khair. Nama asli Abu Bakar adalah Abdul Ka’bah, namun setelah memeluk Islam, namanya berganti menjadi Abdullah. Sedangkan nama Abu Bakar sendiri sejatinya diberikan langsung oleh Rasulullah SAW yang artinya “Bapak anak unta muda”. Gelar tersebut diberikan oleh Rasul karena Abu Bakar adalah orang yang bersegera memeluk agama Islam, setelah sampai kepadanya risalah dakwah.

Lahir dari keluarga bangsawan, Abu Bakar sejak muda berprofesi sebagai pedagang. Bahkan di umur yang ke-18, beliau sudah melakukan perjalanan ke Suriah dan Yaman untuk misi perdagangan, sehingga tidak mengherankan jika Abu Bakar termasuk sahabat Nabi yang dikenal kaya dan dermawan.

Kedermawanan Abu Bakar menjadikan beliau bergelar ‘Atiq, yang berarti orang yang paling dermawan. Ringan tangannya Abu Bakar dibuktikan dengan menginfakkan seluruh harta yang ia miliki untuk membiayai pasukan muslimin dalam perang Tabuk. Selain bergelar ‘Atiq, Abu Bakar juga bergelar Ash-shiddiq, yang berarti orang yang terpercaya. Gelar tersebut disematkan ke beliau setelah Abu Bakar membenarkan peristiwa Isra’ & Mi’raj Rasul, disaat mayoritas penduduk Makkah meragukan kebenaran tersebut. Semenjak peristiwa tersebut, gelar “Ash-Shiddiq” senantiasa melekat padanya.

Keistimewaan Abu Bakar

Abu Bakar adalah sahabat terdekat Rasulullah SAW. Sebagai orang yang pertama memeluk Islam dan berkorban harta serta jiwa untuk melepaskan beberapa sahabat dari siksaan yang datang dari kalangan kafir Quraish atas keislaman yang mereka peluk, seolah-olah meletakkan Abu Bakar sebagai sahabat termulia di hadapan Allah dan Rasul-Nya. Selain itu, beliau juga menjadi satu-satunya sahabat yang menemani Rasul saat Hijrah ke Madinah.

Kemuliaan tersebut dikuatkan dengan loyalitas dan totalitas perjuangan menegakkan agama Allah bersama Rasul semenjak awal era keislaman. Bahkan, dalam setiap perang yang dipimpin oleh Nabi, nama Abu Bakar senantiasa ada. Ketegaran dan semangat jihad Abu Bakar pulalah yang menjadikannya tidak ragu untuk menghunuskan pedang melawan Abdullah, putra Abu Bakar sendiri yang berperang dalam barisan kafir Quraisy pada perang Badar. Nama Abu Bakar juga tercatat sebagai sahabat yang berjasa besar melindungi Rasul pada saat terjadi serangan bertubi-tubi dalam perang Uhud. Keistimewaan lain dari Abu Bakar adalah satu-satunya orang yang dipercayai Rasul menggantikan beliau untuk mengimami sholat, pada saat beliau sakit.

Dari segala keistimewaan tersebut, wajar jika akhirnya beliau terpilih menjadi khalifah pertama bagi kaum muslimin, setelah wafatnya Rasulullah Saw.

Problematika Muhajirin dan Anshar

Kepiwaian Abu Bakar dalam berdiplomasi sudah terlihat nyata bahkan sebelum terpilih menjadi khalifah. Perdebatan antara dua kelompok; Muhajirin dan Anshar terkait kelompok mana yang paling berhak memegang legitimasi kekuasaan setelah wafatnya Rasul, mampu beliau selesaikan.

Kelompok Anshar merasa bahwa mereka adalah kelompok yang paling berhak untuk memimpin. Menurut mereka, Madinah adalah negeri yang mereka miliki sedangkan kalangan Muhajirin hanya pendatang. Sehingga pasca wafatnya Rasul, sangat wajar jika mereka kembali berkuasa. Kondisi ini yang mendorong kalangan Anshar memilih Sa’ad bin Ubadah, pimpinan bani Khazraj sebagai pimpinan baru kaum muslimin.

Sebaliknya, kondisi lebih rumit jika melihat pada realitas bahwa bangsa Arab pada waktu itu sulit menerima. Bahkan, akan menolak dan tidak segan-segan untuk mengangkat senjata jika dipimpin oleh suku di luar Quraisy. Situasi ini telah meletakkan umat Islam pada jurang perpecahan dimana dua argumentasi yang diusung oleh Muhajirin dan Anshar sama-sama kuat, hanyalah kebijakan netral yang dapat memberikan solusi dari permasalahan pelik tersebut. Disinilah kebijakan Abu Bakar terlihat dan dapat diterima oleh dua kelompok yang bersengketa.

Abu Bakar dengan kebesaran hatinya bangga dan menghargai pengorbanan serta loyalitas Anshar yang berjuang menegakkan Islam, sehingga kaum muslimin menjadi kelompok yang diperhitungkan. Dedikasi tanpa henti dan kesetiaan pada Rasul hingga beliau meninggal adalah bukti tingginya akhlak para Anshar. Sehingga secara logika, kaum Anshar berhak mendapatkan kemuliaan menjadi pimpinan kaum muslimin.

Tawaran Solusi Abu Bakar

Akan tetapi, Abu Bakar meminta kalangan Anshar untuk berfikir dengan jernih dan hati yang bersih. Hal ini terkait realitas bahwa bangsa Arab adalah bangsa yang sulit menerima kepemimpinan di luar Quraisy. Jika dipaksakan, bisa jadi umat Islam akan terpecah, dan itu adalah kerugian bahkan bencana. Sebagai solusi dari permasalahan ini, Abu Bakar meminta para pembesar dari kalangan Anshar yang berkumpul di Tsaqifah Bani Saidah untuk memilih satu diantara dua orang Quraisy yang hadir pada pertemuan tersebut, yaitu Umar bin Khattab atau Abu Ubaidah bin Jarrah sebagai khalifah yang baru.

Karendahan hati Abu Bakar dalam memberikan solusi dengan tidak menyatakan dirinya sebagai calon khalifah. Padahal sangat nyata bahwa keistimewaan Abu Bakar di antara para sahabat Muhajirin adalah realitas yang tidak terbantahkan. Hal inilah yang kemudian menggerakkan hati para pembesar Anshar untuk kemudian membaiat Abu Bakar menjadi khalifah, yang juga disetujui oleh kalangan Muhajirin tentunya.

Praktik Lain dari Diplomasi Abu Bakar

Kepiawaian Abu Bakar dalam berdiplomasi juga terlihat nyata dalam menghadapi beberapa problematika. Khususnya pada beberapa kelompok muslimin yang enggan membayar zakat pasca meninggalnya Rasul. Sikap Abu Bakar yang tegas di satu sisi dan lunak di sisi yang lain menjadikan kurang dari dua tahun permasalahan tersebut bisa terselesaikan dengan baik. Ketegasan Abu Bakar terlihat nyata dengan memerangi mereka yang tidak mentaati perintah Allah. Namun sebaliknya sikap pemurahnya terlihat di kala dengan sangat ringan hati menerima kembali beberapa kelompok yang bertaubat dan kembali ke jalan Allah. Padahal sebelumnya telah nyata-nyata memberontak.

Diplomasi nyata Abu Bakar juga terlihat saat beliau dapat meyakinkan suku-suku yang hidup di sekitar Madinah, yang secara keyakinan agama berbeda. Suku Najran yang berlatar belakang Kristen, yang semenjak kepemimpinan Rasul diberikan kebebasan untuk menjalankan agama mereka, di era kepemimpinan Abu Bakar situasi ini tidak berubah, dengan konsekuensi tetap membayar jizyah (upeti) sebagai jaminan perlindungan.

Begitu pula kabilah Hiran yang ditaklukkan oleh Khalid bin Walid sebagai komandan pasukan muslimin yang diangkat oleh Abu Bakar, juga diberikan kebebasan menjalankan perintah agama yang mereka yakini, dengan syarat menjalankan kewajiban membayar jizyah.

Kondisi yang sama juga berlaku kepada penduduk Basrah. Artinya, masa kepemimpinan Abu Bakar bisa berjalan dengan baik di kala perdamaian antar kabilah-kabilah yang berada di dalam dan luar Madinah dapat terjaga,dan perdamaian hanya tercipta dari kesuksesan proses diplomasi.

Penutup

Abu Bakar adalah tokoh panutan bagi setiap muslim. Keimanan yang tinggi hingga menembus langit dan kesederhanaan yang membumi menjadikannya sahabat terdekat Rasul sekaligus khalifah pertama bagi kaum muslimin.

Kurang dari dua tahun kepemimpinan Abu Bakar, segala rintang dan tantangan yang dapat manghancurkan umat Islam dapat diselesaikan dengan baik. Perundingan di Tsaqifah Bani Saidah, pemberontakan kelompok penentang pembayaran zakat dan beberapa kesepakatan damai juga ditanda tangani, seperti perjanjian dengan penduduk Najran, Hiran, dan Basrah adalah bukti nyata bagaimana proses diplomasi berjalan pada track yang benar.

Sebagai khalifah pertama pasca wafatnya Rasul, Abu Bakar benar-benar meletakkan pondasi yang kokoh bagi berlangsungnya khilafah islamiyyah pada era-era setelahnya.

Semoga kita semua bisa meniru dan mengikuti jejak kemuliaan dan kepiawaian Abu Bakar dalam berdiplomasi, insyaa Allah. [Mr. Chan/Ed. Wildi]

(Disadur dari buku “Diplomasi Islam”, karya Afzal Iqbal)

 

Berita terkait:

Politik dan Pemerintahan di Masa Rasulullah

Idul Adha; Momentum Pengorbanan Egosentrik Realis menuju Keikhlasan Hikmatis

PERINGATAN TAHUN BARU ISLAM 1441 H UNIDA GONTOR KAMPUS PUTRI

Memilih Lapar: Diplomasi dan Islam era Kemerdekaan

 

LoA, Surat Sakti Para Pemburu Beasiswa

LoA Unconditional…

Kuliah ke jenjang yang lebih tinggi, terutama ke luar negeri merupakan satu hal yang diimpikan oleh banyak orang. Kini, mimpi itu kian nyata dan tidak melulu berakhir pada angan semata. Pasalnya, saat ini sudah banyak sekali lembaga beasiswa yang menawarkan beasiswa penuh bagi mereka yang berminat mendaftar. Beberapa beasiswa yang tersedia itu adalah LPDP, Beasiswa 5000 Doktor, Chevening, DAAD, AAS, Erasmus, Fullbright, Monbukagakusho, dan masih banyak lagi.

Nah, adapun salah satu syarat pendukung (bisa wajib, tergantung jenis beasiswa yang diminati) yang diminta oleh si pemberi beasiswa itu adalah Letter of Acceptance (LOA). Apa itu LoA? Bagaimana cara mendapatkannya? Apa bedanya LoA Conditional dan LoA Unconditional? Mari kita coba bahas bersama.

Mengenal LoA

Letter of Acceptance (LoA) atau biasa disebut juga Letter of Guarantee adalah surat yang dikeluarkan oleh universitas yang menyatakan bahwa kita telah diterima di universitas tersebut. LoA itu sendiri terdiri dari dua jenis, yaitu LoA Conditional dan LoA Unconditional. LoA Conditional berarti dengan syarat, sedangkan LoA Unconditional mengandung arti tanpa syarat. Agar bisa kuliah di kampus yang diinginkan, calon mahasiswa harus bisa mendapatkan LoA yang bersifat Unconditional.

Jika seseorang mendapatkan LoA Conditional, artinya dia telah diterima di salah satu kampus dengan syarat. Dengan kata lain, si kandidat harus memenuhi syarat yang belum lengkap yang tertulis pada LoA Conditional-nya seperti sertifikat IELTS, terjemahan ijazah, preparatory course, dan sebagainya.

loa_conditional_wildi
Contoh LoA Conditional (sebelum menyerahkan sertifikat IELST)

Setelah semua syarat itu bisa dilengkapi, maka otoritas kampus akan meng-upgrade LoA yang sebelumnya bersifat Conditional, menjadi Unconditional.

LoA Unconditional
LoA Unconditional
LoA Unconditional
Beberapa Contoh LoA Unconditional (setelah menyertakan sertifikat IELTS)
Opsi Mendaftar

Untuk mendapatkan LoA dari kampus luar negeri, kita bisa mendaftar secara mandiri melalui portal online admission yang disediakan masing-masing kampus. Seluruh berkas yang menjadi syarat nantinya juga harus diunggah dalam portal tersebut. Saat ini, mayoritas kampus di luar negeri tidak lagi mengakomodir pengumpulan berkas via pos karena keseluruhannya telah berbasis online. It’s time for the digital era, right?

loa unconditional
Contoh Portal Online Application

Opsi lain untuk apply universitas tujuan adalah melalui bantuan agen pendidikan. Di Indonesia sendiri sudah banyak sekali agen pendidikan yang siap memberikan bantuan mulai dari mengirimkan application, menguruskan visa, hingga mencarikan akomodasi di negara tujuan. Kalau ada yang merasa takut jika dalam proses mendaftar nantinya akan mengalami kesulitan atau bahkan kesalahan, meminta bantuan kepada si agen bisa menjadi salah satu opsi. Namun, jika anda adalah seorang penyuka tantangan, mencoba apply sendiri adalah pilihan yang baik. Toh juga tidak sulit.

Syarat Mendapatkan LoA

Secara umum, tidak ada perbedaan persyaratan yang signifikan di antara kampus-kampus di Eropa maupun Australia. Dengan kata lain, jenis dan jumlah berkas yang harus dikumpulkan ke the University of Manchester dan the Australian National University kurang lebih sama. Lalu, apa saja yang perlu dipersiapkan untuk mendapatkan LoA?

Menentukan Program Studi dan Universitas

Ini adalah salah satu step terpenting dalam proses pencarian universitas karena akan menjadi faktor yang paling menentukan ketika anda nanti berkarir pasca studi. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan jurusan dan kampus adalah linearitas bidang studi, minat, pengalaman kerja, kurikulum, matakuliah yang ditawarkan, serta ranking dunia untuk prodi dan kampus tersebut.

Untuk melihat daftar ranking program studi dan kampus ternama bisa merujuk ke QS World University Rankings, Times Higher Education, dan 4ICU.

loa unconditional
QS World University Rankings

Paspor

Paspor adalah barang yang wajib dimiliki oleh seseorang yang ingin bepergian ke luar negeri, tak terkecuali kuliah. Universitas-universitas di luar negeri pasti akan meminta paspor kepada calon mahasiswa sebagai bukti identitas legal yang diakui dunia internasional.

Tak perlu menunggu hingga lulus S1, anda yang masih aktif kuliah sekalipun sangat disarankan untuk memiliki paspor. Pasalnya, kesempatan emas anda untuk mengikuti konferensi, seminar, pertukaran pelajar, short course, atau summer school di luar negeri akan tertutup jika tidak memiliki paspor. Jadi, tunggu apa lagi?

loa unconditional
paspor_indonesia

Ijazah dan Transkrip Nilai dalam Bahasa Inggris

Beberapa universitas di Indonesia sudah banyak yang mengeluarkan ijazah dalam dua bahasa, yakni Indonesia dan Inggris. Namun, bila ijazah anda masih berbahasa Indonesia, maka sekiranya perlu sekali untuk diterjemahkan melalui penerjemah tersumpah atau sworn translator.

Surat Rekomendasi

Seorang kandidat perlu menyerahkan (biasanya) dua surat rekomendasi agar aplikasinya bisa diterima. Rekomendasi ini bisa diminta ke dosen, tapi pastikan bahwa beliau adalah orang yang mengenal rekam jejak anda dengan baik selama kuliah. Surat rekomendasi juga bisa didapat dari atasan kantor yang tahu kinerja anda selama bekerja di tempat tersebut. All in all, surat rekomendasi bisa diminta dari dua orang dosen sekaligus (dosen pembimbing akademik/skripsi, dekan, rektor), atau mix and match, yaitu satu rekomendasi dari dosen dan satu lagi dari atasan kerja.

loa unconditional
Recomendation Letter

Motivation Letter / Personal Statement

Ini merupakan essay singkat yang berisi latar belakang, serta alasan mengapa pelamar memutuskan memilih program studi di universitas tersebut. Membuat motivation letter sebenarnya tidaklah begitu susah. Hanya saja membutuhkan ekstra ketelitian, ketekunan, dan kesabaran agar hasilnya maksimal.

Namun demikian, tidak jarang ditemukan calon mahasiswa yang kesulitan dalam menyampaikan maksud dan tujuannya untuk melanjutkan studi. Salah satu solusinya adalah dengan cara sering melihat contoh tulisan orang lain dan menganalis cara penulisannya. Jangan lupa juga untuk sering-sering meminta bantuan orang lain untuk memberikan feedback dari tulisan anda.

Motivation Letter
Motivation Letter

CV

Assessor universitas terkait biasanya akan memanfaatkan CV sebagai langkah awal dalam mengenal calon mahasiswanya. Untuk itu, penting sekali untuk mengirimkan CV terbaik yang paling tidak mencakup hal-hal berikut, personal detail, educational background, internship and work experience, organizational experience, published articles, seminar, workshop, dan conferences.

cv-beasiswa
CV

Sertifikat Kemampuan Bahasa Inggris

Akhirnya, sampailah kita dipersyaratan akhir yang banyak menggugurkan calon mahasiswa atau penerima beasiswa. Jika kita menilik ke persyaratan 1-6, ke semuanya bisa diselesaikan dalam waktu yang pasti dan relatif singkat. Sangat memungkinkan sekali bagi seseorang untuk melengkapi syarat ke 1-6 dalam waktu 1 bulan saja.

Tapi, bagi sebagian orang, hal ini tidak berlaku dalam melengkapi persyaratan yang terakhir ini. Mereka yang tidak terbiasa menggunakan bahasa Inggris secara aktif (berbicara, menulis) maupun pasif (mendengar, membaca), tentu untuk mendapatkan skor bahasa Inggris yang disyaratkan kampus tujuan akan sangat time-consuming.

Yang cukup disayangkan adalah, ternyata, banyak calon pelajar yang IPK-nya bagus hingga memiliki segudang prestasi pada akhirnya gagal kuliah di luar negeri karena tidak memiliki kemampuan bahasa Inggris yang mumpuni. Extremely speaking, average people with excellent English will have more opportunities to study abroad than brilliant people with poor English. So, mari persiapkan diri kita dengan maksimal.

Lalu, sertifikat bahasa Inggris apa yang dibutuhkan?

Beda tujuan, beda pula jenis sertifikat yang diminta. Jika tujuan kampus anda adalah Indonesia dan beberapa negara Asia, TOEFL ITP biasanya masih bisa digunakan. Namun, agar bisa diterima di kampus-kampus Australia, Eropa, dan Amerika, seseorang perlu memiliki sertifikat IELTS dengan skor keseluruhan 6.5 dengan setiap skill (listening, reading, writing, speaking) tidak boleh kurang dari 6.0.

ielts-sertifikat
Sertifikat IELTS
Mengapa IELTS

IELTS (International English Language Testing System) saat ini menjadi salah satu jenis tes kemampuan bahasa Inggris yang paling banyak digunakan di dunia dalam bidang pendidikan, pekerjaan, maupun migrasi. Oleh karenanya, tak heran jika hampir seluruh kampus di dunia menerima sertifikat IELTS sebagai dokumen sah yang menunjukkan level kemampuan bahasa Inggris seseorang. Selain IELTS, TOEFL IBT dan PTE Academic sebenarnya juga lumrah digunakan di dunia akademik, tapi peminatnya tak sebanyak IELTS.

Dari paparan di atas, kita sekarang tahu apa saja kekurangan yang harus dikejar demi mewujudkan mimpi kuliah di luar negeri. Tidak ada yang mustahil bagi Allah selagi kita mau berusaha, berdo’a, dan bertawakkal. man ‘arofa bu’das safari ista’adda. Barang siapa tahu jauhnya perjalanan, bersiap-siaplah ia. [Wildi Adila]

Berita terkait:

Beasiswa Santri LPDP, Beasiswanya Mahasiswa UNIDA

 

British Diplomacy | Sister City Liverpool-Surabaya dan Chevening Programs

Internship , We Love It – Kiat-kiat Persiapan Magang

S2 di Inggris dengan Beasiswa Chevening? Mengapa Tidak

Eratkan Kerjasama ” Sister City ” Liverpool & Surabaya