Kunjungan ke Biofarma, Pengalaman Berharga tentang Bisnis Internasional

Pada Selasa 4/2, segenap mahasiswi Hubungan Internasional UNIDA Putri mengunjungi PT. Biofarma yang terletak di Kota Bandung. Acara ini diadakan guna menambah pengetahuan dan wawasan akademik para mahasiswi. Biofarma merupakan salah satu dari empat instansi yang dituju mahasiswi Hubungan Internasional UNIDA Gontor untuk Studi Akademik tahun ini.

Tujuan utama dari kunjungan ini adalah untuk mengetahui peran Biofarma sebagai produsen vaksin ke berbagai negara dalam peningkatan ekspor impor. Selain itu, mahasiswi juga diharapkan kelak mengetahui peran Biofarma dalam aksi peduli kesehatan global. Tentunya ilmu-ilmu ini sangat berkaitan erat dengan pelajaran Bisnis dan Keamanan Internasional yang akan ditempuh mahasiswi pada semester berikutnya.

lihat juga:

Belajar Nuklir dan Manfaatnya di Badan Tenaga Nuklir Nasional, Bandung

Sekilas tentang Biofarma

Biofarma merupakan produsen vaksin pertama di Indonesia dan juga pendiri dari International Vaccine Institute. Selain itu, Biofarma juga merupakan badan yang memproduksi vaksin terbesar di Asia Tenggara.

Badan kesehatan yang dibentuk BUMN ini didirikan pada 6 Agustus 1890 di Jakarta. Adapun awal mula didirikannya Biofarma adalah untuk merawat tentara Belanda yang terluka akibat perang. Namun, Biofarma pada tahun 1923 dipindahkan dari Jakarta ke Bandung. Adapun alasannya dikarenakan Bandung masih memiliki banyak lahan kosong yang memudahkan pengoperasian Biofarma.

Peran Biofarma di Forum Internasional

Biofarma yang telah berdiri selama 130 tahun ini sudah banyak berperan di kancah internasional. Biofarma sendiri telah menjalin kerjasama dengan 140 negara di dunia, termasuk di dalamnya negara-negara islam. Diantaranya adalah Yaman, Sudan, Afghanistan, Palestina, dan Azerbaijan. Target negara sasaran kerjasama Biofarma kedepannya adalah Nigeria, Pakistan, Arab Saudi, dan Iran. Namun, dikarenakan faktor politik yang tidak stabil, akhirnya Iran dicoret sementara waktu dari negara sasaran kerjasama Biofarma.

Biofarma sangat berperan penting dalam Organization of Islamic Cooperation dalam menggagas produksi vaksin halal. Halal vaccine sengaja dirancang guna memenuhi standar vaksin yang dapat dikonsumsi oleh masyarakat muslim dunia. Presiden Developing Countries Manufactures Network dari tahun 2012-2016 ini juga berperan aktif di berbagai organisasi naungan PBB. Adapun organisasi tersebut seperti UNICEF, WHO, dan Islamic Development Bank’s Self-Reliance in Vaccine Programs. Keaktifan Biofarma dalam WHO terlihat dari perannya dalam menghadiri pertemuan Third Country Training Programme yang diadakan WHO.

lihat juga:

UNIDA Gontor Terpilih Sebagai Tuan Rumah International Relations Olympic Sports 2020

Tahapan dan Hambatan Proses Ekspor Vaksin oleh Biofarma

Tahapan ekspor vaksin oleh Biofarma dilakukan dengan pantauan dari World Health Organization (WHO) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Biofarma memprodusi vaksin yang sudah siap untuk dikonsumsi dan juga setengah jadi guna dikombinasi dengan unsur lain. Terdapat 13 jenis vaksin jadi, diantaranya adalah vaksin polio dan Hepatitis B. Adapun vaksin setengah jadi berjumlah sekitar 6 vaksin dan telah diekspor ke beberapa negara di dunia. Ekspor Biofarma dilakukan melalui perantara UNICEF, PAHO (Pan American Health Organization), serta hubungan bilateral dengan beberapa negara.

Biofarma adalah lembaga mandiri yang berupaya membangun kepercayaan dari negara lain untuk memproduksi vaksin melalui sertifikasi produk. Selain itu, kualitas produk juga menjadi harga jual tinggi bagi Biofarma. Keanggotaannya dalam WHO paque memberikan keuntungan bagi Biofarma dalam menjalin kerjasama dengan negara lain.

Perjalanan Ekspor Vaksin Biofarma

Biofarma memiliki moto yang menjunjung kualitas produk agar lebih bernilai, yaitu “Dedicated to Improve The Quality of Life.” Motto tersebut menggambarkan bahwa Biofarma memiliki standar High Regulated Product. Proses ekspor menggunakan cold chain system dimana seluruh vaksin akan diletakkan dalam ruangan bersuhu dingin sesuai kebutuhan vaksin. Tujuannya adalah untuk menjaga kualitas vaksin sebelum diekspor.

Hambatan pemasaran vaksin Biofarma terdapat pada beberapa faktor, diantaranya adalah faktor biaya pengiriman yang relatif mahal. Hal ini terjadi di negara Amerika, khususnya wilayah Amerika Latin yang membutuhkan pasokan vaksin yang cukup banyak. Vaksin yang diimpor dari Amerika ternyata dipatok dengan harga yang relatif mahal. Hal ini menyebabkan Amerika Latin mempertimbangkan pasokan impor vaksinnya dari pihak lain, yaitu Biofarma Indonesia.

Selain belahan bumi barat, gesekan kerjasama Biofarma juga terjadi dengan negara-negara anggota OKI. Contohnya pada peristiwa Arab Spring, suasana perpolitikan di kawasan tersebut memanas dengan masyarakat Timur Tengah yang bersikeras menurunkan presidennya. Hal tersebut menjadikan berbagai akses dan dana ekspor cukup susah dicairkan. Selain itu, tingginya daya saing vaksin dengan negara-negara lain juga menjadi salah satu aspek. Seperti Negara Senegal yang secara geografis berdekatan dengan Perancis sehingga  Senegal lebih memilih impor dari negara Perancis karena biaya pengiriman yang terjangkau.

Pen: Nabila Thyra Janitra
Ed: Wildi

 

Belajar Nuklir dan Manfaatnya di Badan Tenaga Nuklir Nasional, Bandung

Udara pagi hari Bandung menyambut kunjungan mahasiswi Hubungan Internasional UNIDA Gontor ke Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) pada Selasa/04/02/2020.  BATAN merupakan lembaga nasional yang khusus bergerak di bidang ketenagaan nuklir.

Tak dapat dipungkiri, tentunya banyak diantara kita yang memiliki persepsi negatif tentang nuklir. Hal ini sangat mendasar mengingat banyak tragedi mengerikan di masa lalu yang mengakibatkan kerugian besar bagi umat manusia. Radiasi yang tak terkendali dari atom dapat menjadi malapetaka bagi seluruh elemen makhluk hidup, mulai dari luka, kemandulan, hingga mutasi gen.

Plus Minus Nuklir

Masih segar diingatan kita jika kejadian-kejadian dahsyat diakibatkan oleh reaksi nuklir. Sebut saja peristiwa peledakan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki yang menewaskan sedikitnya 129.000 jiwa. Ini adalah upaya penggunaan senjata nuklir pada masa perang yang pertama dan terakhir dalam sejarah. Selain itu, meledaknya reaktor nuklir Chernobyl di Ukraina juga tercatat sebagai peristiwa yang mematikan. Menurut salah satu sumber, radiasi yang dihasilkan dari ledakan ini lebih besar daripada bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki. Organisasi lingkungan dunia, Greenpeace, menyebutkaan sekitar 93.000 jiwa meninggal sebagai akibat jangka panjang paparan radiasi nuklir.

Meskipun memiliki dampak yang merusak, nuklir memiliki banyak manfaat bagi umat manusia. Di bidang kesehatan, radiasi nuklir dapat dimanfaatkan untuk rontgen, MRI, terapi kanker payudara dan prostat. Di lini industri, sinar gamma dapat digunakan untuk mengecek sistem beton bertulang pada sebuah gedung, memindai komponen mesin industri, hingga mengetes kebocoran pada bangunan maupun badan pesawat. Tak hanya itu, nuklir juga memiliki andil dalam peningkatan ketahanan pangan. Radiasi sinar gamma dapat dipakai untuk mengawetkan kualitas bahan makanan agar dapat bertahan lebih lama. Dan tentunya masih banyak lagi manfaat-manfaat dari nuklir.

Bak koin yang memiliki dua sisi, nuklir dapat menjadi anugerah bila dikelola dengan baik, dan sebaliknya dapat menjadi musibah jika dikelola oleh mereka yang tidak bertanggung jawab. Hal inilah yang ingin diketahui secara langsung dan mendalam oleh mahasiswi UNIDA Gontor melalui lawatannya ke BATAN, Bandung.

Baca juga:

Kuliah Umum dengan Duta Besar RI untuk Sudan

Sejarah berdirinya BATAN

BATAN (Badan Teknologi Tenaga Nuklir Nasional) didirikan pertama kali pada tahun 1962 oleh Menteri Kesehatan Indonesia, Y.A. Sewabesi. Tujuannya adalah untuk mendeteksi unsur-unsur apa saja yang terdapat pada udara Jakarta tahun 1962. Y.A Sewabesi mengutarakan perihal ketakutannya akan polusi udara karena atom yang beredar di udara.

Lembaga Tenaga Atom merupakan instansi nuklir pertama yang didirikan di Indonesia dengan reaktor 250 KW dan diresmikan oleh Presiden Soekarno. LTA kedua berdiri pada tahun 1970 dan diresmikan oleh Soeharto, sedangkan LTA ketiga berdiri pada tahun 2000 diresmikan oleh Megawati. LTA terbesar di Asia Tenggara terdapat di Serpong dengan raktor 3000 KW.

BATAN dibentuk dengan tujuan supaya Indonesia dapat menguasai teknologi yang telah dikuasai oleh negara-negara maju. Nuklir memancarkan sinar radiasi dan bisa digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat, seperti makanan yang diradiasi akan mencegahnya dari basi. Uranium yang terdapat didalam nuklir dapat digunakan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dengan Uranium sebagai bahan bakarnya. Namun, masih banyak masyarakat Indonesia yang menolak penggunaan nuklir sebaai pembangkit listrik karena kurangnya sosialisasi dari pihak terkait mengenai efesiensi nuklir.

BATAN menjadikan nuklir sebagai objek untuk menyejahterakan rakyat. Nuklir biasanya dikenal memiliki resiko yang sangat besar, akan tetapi terdapat beberapa cara untuk mengendalikannya. BATAN memperkenalkan strategi PEJABAT untuk mengendalikan nuklir, yaitu dengan penahan, jarak dan batas waktu. Penahan, yaitu menggunakan pelindung ketika hendak mendekati reaktor nuklir. Jarak harus dijaga karena semakin dekat bekerja dengan nuklir maka akan semakin besar seseorang terkena radiasi nuklir. Batasi waktu yaitu bekerja dengan batasan waktu, jika sudah banyak terkontaminasi radiasi maka seseorang harus segera menghentikan pekerjaannya.

Baca juga:

Mahasiswi HI UNIDA Gontor Ikuti Simulasi Sidang PBB

Cara Pengolahan Limbah BATAN

Secara umum, limbah terbagi menjadi limbah radioaktif (limbah yang terkontaminasi radiasi nuklir) dan limbah non-radioaktif (limbah pabrik). BATAN sangat teliti dalam mengelola limbah yang dihasilkan setiap harinya. Terdapat pemisahan tong sampah dan wastafel untuk para karyawan agar memudahkan untuk memisahkan jenis limbah tersebut.

Limbah radioaktif yang dihasilkan di BATAN terbagi menjadi dua, yaitu limbah padat dan limbah cair. Limbah tersebut baru bisa dibuang ke alam terbuka jika kadar radiasinya sudah memenuhi kriteria, karena jika dibuang begitu saja akan membahayakan lingkungan. Adapun limbah padat yang biasa dihasilkan di BATAN yaitu berupa baju, masker, jarum suntik, dsb. Sedangkan limbah cair berupa air bekas cuci pekerja yang dialirkan melalui westafel khusus. Air ini ditampung ditabung khusus sehingga kadar radiasinya hilang sebelum dialirkan ke sungai umum.

Kontribusi BATAN terhadap Masyarakat

BATAN banyak berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat seperti radiasi sinar gamma pada tanaman pangan untuk menghasilkan varietas baru. Juga ada proses iradialisasi, yaitu mengawetkan makanan tanpa menggunakan zat kimia lainnya.

Dalam laboratorium analisis aktivitas neutron, kami mendapatkan ilmu baru mengenai peleburan reaksi senyawa kimia terhadap suatu unsur menggunakan reaktor nuklir. Prinsip dasar berdasarkan penyerapan neutron di dalam atom tersebut guna mengaktifkan inti atom yang paling pasif dan menghasilkan sinar gamma. Sempel yang diambil adalah udara, tanah, makanan, sendimen, dan abu. Dalam batasan ini, tugas BATAN hanyalah sebagai peneliti tentang keadaan alam dan memberikan database-database peringatan keadaan darurat kepada kementrian Negara.

Laboratorium Radioisotope bertugas untuk melakukan riset dan penelitian dengan memanfaatkan sinar radiasi yang menghasilkan barang yang bermanfaat bagi manusia. Di dalam laboratorium, terdapat reaktor triga (training research radio isotope production general atom). Salah satu hasil penelitian  dari laboratorium ini adalah RI I.131 untuk membunuh sel kanker tiroid dan cemotherapy-nya. Cara kerjanya dengan menggunakan yodium yang masuk kedalam kelenjar tiroid dan memancarkan sinar beta dan gamma pada tiroid tersebut. Hal ini dapat memberikan efek samping minim terhadap tubuh manusia itu sendiri.

Setelah mengadakan kunjungan ke BATAN, akhirnya para mahasiswi mengetahui bahwa manfaat yang didapatkam dari sinar radiasi yang dihasilkan oleh nuklir ternyata sangat bermanfaat bagi makhluk hidup. Hal tersebut telah mengubah mindset para mahasiswi jika nuklir ternyata memiliki kebermanfaatan yang begitu banyak.

Pen: Hamdani/Dinah

Ed: Wildi

 

Kuliah Umum dengan Duta Besar RI untuk Sudan

Program Studi Hubungan Internasional Universitas Darussalam Gontor dengan segala sistem dan alam pendidikannya kembali sukses mengadakan sebuah acara besar,“Wisdom Speech,”  pada awal tahun 2020. Kali ini, segenap civitas akademika UNIDA Gontor berkesempatan bertemu langsung dan juga menimba ilmu secara langsung dari  seorang mantan Duta Besar, H.E Drs. H. Burhanuddin Badruzzaman.

Duta Besar RI untuk Sudan

Drs. H. Burhanuddin Badruzzaman adalah salah seorang putra kebanggaan Indonesia yang menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Sudan periode 2014-2017 hinga karir profesionalnya dalam kegiatan diplomatik usai. Sebelum memberikan kuliah umum di UNIDA Gontor, pada Ahad sore 02/02/2020 beliau berkunjung terlebih dahulu ke Pondok Modern Darussalam Gontor dan bersilaturahmi dengan Bapak Pimpinan, KH. Hasan Abdullah Sahal.

Silaturahmi dengan Bapak Pimpinan KH Hasan Abdullah Sahal
Silaturahmi dengan Bapak Pimpinan KH Hasan Abdullah Sahal

Sosok KH. Hasan Abdullah Sahal tentunya tidak asing lagi bagi Pak Dubes mengingat Bapak Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor dan Rektor UNIDA Gontor pernah disambut dan dijamu ketika sedang berkunjung ke Sudan pada 2017 lalu. Obrolan sore itupun ditutup seiring berkumandangnya adzan dari menara masjid Gontor.

Baca juga:

Membangun Indonesia Emas 2045 Bersama Sherly Annavita

Selepas perjumpaannya dengan Bapak Pimpinan, Pak Dubes melaksanaan kegiatan shalat berjama’ah di masjid jami’ Pondok Modern Darussalam Gontor dan setelah itu memberikan pesan dan nasehatnya di hadapan ribuan santri Gontor yang hadir. Beliau merasa sangat tersanjung karena mendapatkan kesempatan berharga untuk membagikan ilmunya kepada para pejuang Islam tersebut.

“Anak-anakku semuanya harus belajar dan berusaha semaksimal mungkin. Terkait kita mau jadi apa nantinya di masa depan, kita serahkan semuanya pada Allah swt. Yang terpenting adalah kita memberikan usaha terbaik pada setiap pekerjaan yang kita lakukan. Insya Allah, Allah akan permudah semuanya jika kita ikhlas dan sungguh-sungguh,” pesan beliau kepada para santri.

Tak hanya itu, beliau juga berkesempatan untuk menyapa warga Ponorogo secara on air melalui radio Suargo FM.

Menjelang on air di Suargo FM
Menjelang on air di Suargo FM
Indonesia dan Sudan

Jika ditelaah lebih dekat, Indonesia dan Sudan sejatinya memiliki beberapa kesamaan. Faktanya, Indonesia dan Sudan adalah salah satu negara dengan mayoritas penduduk muslim terbanyak. Keduanya juga sama-sama pernah merasakan perjuangan dalam meraih kemerdekaan dari para bangsa kolonial. Selain itu, kondisi politik dan ekonomi kedua negara yang dinamis menjadikan hal-hal yang berkaitan dengan Sudan dan Indonesia sangat layak untuk diperbincangkan.

“Wisdom Speech, Sudan Diplomacy Updates: Political and Economic Dynamics in Sudan, Lesson Learned for Indonesia with Drs. H. Burhanuddin Badruzzaman” adalah tema yang diusung pada kuliah umum kali ini. Bapak Burhanuddin membuka sesi tersebut dengan mengulas sejarah kemerdekaan Sudan hingga perkembangannya saat ini.

Sudan Diplomacy Updates
Sudan Diplomacy Updates

Baca Juga:

The Man Behind The Scene HI UNIDA Gontor

Awal hubungan Indonesia-Sudan

Beliau yang terhormat menambahkan jika kedekatan kedua negara tersebut dimulai dengan kedatangan ulama Sudan Sheikh Ahmad Sourkaty di Indonesia pada tahun 1911. Selanjutnya, hubungan keduanya diperkuat dengan sambutan istimewa Presiden Soekarno kepaa para delgasi Sudan di Konferensi Asia Afrika di Bandung paa bulan April 1955, beberapa bulan saja sebelum Sudan mendeklarasikan kemerdekaannya. Hingga pada akhirnya negara yang terletak di timur laut benua Afrika ini merdeka, Indonesia adalah salah satu negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan Sudan.

Pada akhir pembicaraanya, Bapak kelahiran Klaten tersebut memberikan kenang-kenangan berupa buku tentang program kerjanya selama menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Sudan dan beberapa pengalaman organisasinya yang diterima oleh Wakil Rektor III Universitas Darussalam Gontor. Acara lalu ditutup dengan sesi perfotoan bersama.

Pen: Haekal & Wildi

The Man Behind The Scene HI UNIDA Gontor

“Wisdom Speech” adalah kegiatan layaknya kuliah umum yang rutin diadakan prodi Hubungan Internasional UNIDA Gontor di setiap semester. Ini adalah salah satu acara yang selalu dinanti publik UNIDA atau bahkan para mahasiswa dari kampus lain karena narasumber yang diundang adalah para pakar yang telah memiliki berjuta pengalaman di bidangnya. Tak hanya berasal dari Indonesia, para keynote speaker juga berasal dari luar negeri seperti, Korea Selatan, Kroasia, hingga Pakistan.

Baca juga:

Seminar internasional mengenai kebijakan Kroasia dalam membawa misi perdamaian di negara Islam

Esensi Kegiatan

Acara ini diinisiasi dengan tujuan untuk meningkatkan wawasan para mahasiswa pada aspek internasional dari interaksi antar para aktor negara atau non-negara, seperti ekonomi, hukum, politik, sosial-budaya, hingga pertahanan dan keamanan. Setelah sukses mendatangkan seorang CEO di perusahaan digital, Ferri Jubair, pada 2019 lalu, kali ini di awal tahun 2020, HI UNIDA Gontor kembali mengadakan acara “Wisdom Speech” dengan menghadirkan mantan Dubes RI untuk Sudan, Drs. H. Burhanuddin Badruzzaman.

Baca juga:

Amati, Tiru, Modifikasi Jadi Rumus Sukses CEO Click Indonesia, Ferri Jubair

Tulisan ini sejatinya tidak akan membahas hal yang berkaitan dengan urgensi kegiatan, namun lebih dikhususkan untuk mengulik persiapan yang dilakukan oleh panitia dalam menyukseskan acara Wisdom Speech yang diselenggaraan esok hari, 02/02/2020.

Zero Mistake

Seperti yang kita ketahui, jika UNIDA Gontor memiliki sebuah acara besar, tentu hal tersebut tidak lepas dari ribuan apresiasi positif karena acara terlaksana dengan sangat lancar. Namun di balik kisah sukses tersebut, tahukah kita jika di sana terdapat puluhan, bahkan ratusan mahasiswa dan dosen yang dengan ikhlas bekerja siang dan malam? Semuanya saling bahu-membahu demi satu tujuan bersama, yaitu “zero mistake.”

 Operator Sound System
Operator Sound System
MC dan Moderator

Hal yang sama juga terjadi dalam acara Wisdom Speech kali ini. Semua divisi bekerja maksimal sesuai dengan tupoksinya, MC (Master of Ceremony) salah satu contohnya. Yang terlihat secara kasat mata, tugas MC hanyalah membacakan susunan acara. Namun, tentunya banyak yang tidak tahu jika seorang MC di prodi HI harus melalui keseluruhan dari rangkaian proses ini, yakni menulis susunan acara dalam bahasa Arab/Inggris, meminta review dosen, merevisi teks (jika ada kesalahan), latihan I, latihan II, gladi kotor, dan gladi bersih.

MC HI UNIDA Gontor
MC HI UNIDA Gontor

Tak kalah berat dari tugas MC, mahasiswa yang ditunjuk sebagai moderator harus melakukan persiapan yang kurang lebih sama dengan MC. Namun karena tugas moderator di atas panggung lebih fleksibel daripada MC, moderator hanya diminta untuk menuliskan keypoints terkait hal-hal yang akan disampaikan di atas panggung. Bahkan, guyonan yang akan dilontarkan di saat acara pun harus diketahui dan di-screening oleh para reviewer agar sesuai dengan alam pendidikan UNIDA Gontor.

Moderator HI UNIDA Gontor
Moderator HI UNIDA Gontor
Orang-Orang di balik Layar

The man behind the scene atau orang-orang di balik layar juga memiliki peranan yang sangat krusial. Untuk mencapai acara yang “zero mistake,” orang-orang ini bekerja dengan penuh kecermatan dalam memasang banner, menyiapkan hiasan, mengecek sound system, mengatur tata letak kursi, mengirim undangan, menyebar flyer, mengecek screen, menjemput narasumber, mempersiapkan jamuan dan penginapannya, menyambut tamu, dan ratusan pekerjaan lain yang membutuhkan ketelitian.

Pemasangan Banner di depan Masjid UNIDA Gontor
Pemasangan Banner di depan Masjid UNIDA Gontor

Berat? Bisa jadi. Tapi inilah yang membedakan UNIDA Gontor dengan kampus-kampus lain. Di kampus pesantren ini, pendidikan tidak hanya dapat diperoleh di ruang kelas saja. Melalui kegiatan yang telah disusun sedemikian rupa, UNIDA Gontor ingin memastikan jika segala hal yang ada di kampus ini adalah pendidikan. Adapun salah satu contoh riil pendidikan di luar perkuliahan itu sendiri adalah dengan penugasan dan pemberian tanggung jawab di acara Wisdom Speech ini.

Pen: Haekal & Wildi

Diplomacy Battle Ala Mahasiswa HI UNIDA Gontor

Rabu (29/01/2020), Prodi Hubungan Internasional sukses menggelar Diplomacy Battle, sebuah acara yang mana belum pernah diadakan sebelumnya. Kegiatan ini adalah pengembangan matakuliah Diplomasi yang diampu oleh Ust. Belly Rahmon, M.A., dan Usth. Novi Rizka Amalia, M.A. Jika biasanya perkuliahan tersekat dalam dimensi kelas, maka kali ini kuliah Diplomasi digelar di ruang publik di mana mahasiswa lain lintas prodi dapat menyaksikan dan berpartisipasi.

Tujuan

Diplomacy Battle adalah sebuah acara yang dilasanakan di luar pembelajaran kelas untuk merangsang pemahaman para mahasiswa. Inti dari kegiatan ini dimaksudkan untuk menginternalisasi dinamika matakuliah diplomasi dan mengaplikasikan konsep dan teori diplomasi ke dalam bentuk praktik.

Meskipun Diplomacy Battle ini hanya diperuntukkan untuk mahasiswa Hubungan Internasional semester 4, namun acara ini juga turut dimeriahkan oleh mahasiswa HI lintas semester dan bahkan mahasiswa lintas prodi. Menariknya, dosen pengampu di sini hanya berperan sebagai audience saja. Penanggung jawab, juri, dan dewan pertimbangan dalam perlombaan ini kesemuanya adalah dari mahasiswa.

baca juga:

Unida dan Perannya dalam Diplomasi Budaya

Dua Sesi

Diplomacy Battle yang diadakan di lobby lantai I Gedung Terpadu UNIDA Gontor terbagi menjadi dua sesi, yaitu cerdas cermat dan role play. Dalam cerdas cermat, mahasiswa diberikan beberapa pertanyaan wajib dan soal rebutan. Adapun role play difungsikan untuk memberikan kesempatan pada para mahasiswa untuk melakukan simulasi sidang organisasi internasional.

Pertanyaan dalam sesi pertama, cerdas cermat, mencakup tentang isu-isu dunia internasional masa lampau maupun kontemporer, seperti:

  • Ancient diplomacy.
  • Modern diplomacy.
  • Public diplomacy.
  • Dll
diplomacy battle HI Unida Gontor
diplomacy battle HI Unida Gontor

Dalam babak penyisihan ini juga membahas tentang isu-isu dunia internasional yang bermunculan seperti kemungkinan meletusnya perang dunia ketiga, munculnya virus corona yang membuat kecemasan di berbagai negara, serta pelanggaran kedaulatan yang dilakukan negara China di laut Natuna.

Acara tersebut berlangsung dari jam 08-00 s/d 12.00 dan mengundang reaksi positif dari para audience. Keseruan dari acara tersebut terlihat dari antusiasme peserta dan penonton yang hadir.

Acara Diplomacy Battle ini dimenangkan oleh kelompok Tarumanegara yang beranggotakan lima orang, diantaranya :

  1. Abdul Aziz Ramadhan
  2. Athaya Salsabila
  3. Elang Surya Maulana
  4. Farhan Riswanda Jhuswanto,dan
  5. Muhammad Daffa Fadhullah.

Dengan diadakannya acara Diplomacy Battle, dua dosen pengampu matakuliah ini berharap agar para mahasiswa dapat meningkatkan value akademik mereka di bidang diplomasi. Mengingat respon dan output dari kegiatan ini sangat positif, semoga Diplomacy Battle dapat diadakan setiap tahun guna menjadi wadah praktik sekaligus latihan berdiplomasi para mahasiswa.

 

Artikel lain terkait:

Memilih Lapar: Diplomasi dan Islam era Kemerdekaan