11 Mahasiswa Amerika Studi Banding ke UNIDA Gontor

Sebanyak 11 mahasiswa Amerika yang tergabung dalam program School of International Training (SIT) telah mengunjungi UNIDA Gontor Kampus Mantingan pada 29/09-01/10. Mahasiswa tersebut datang dari berbagai kampus di Amerika dengan tujuan untuk melatih ketrampilan leadership mereka dan mempromosikan berbagai budaya dunia. SIT ini pertama kali dibuka pada tahun 1964 dan merupakan sekolah pertama yang menekankan pengenalan budaya dengan pada pembelajaran internasional.

Kegiatan yang dilakukan selama di UNIDA Gontor

Kegiatan yang berlangsung selama 2 hari di Mantingan ini merupakan kunjungan yang ke tujuh kalinya bagi rombongan mahasiswa/i Amerika Serikat. Selama program berlangsung, para mahasiswa SIT tersebut ditemani oleh Direktur Akademik SIT yang berasal dari Bali, Dr. Ni Wayan Arianti. Beliau mengungkapkan rasa terima kasihnya untuk UNIDA Gontor yang telah memberikan kesempatan belajar mengenai kebudayaan Indonesia dan pengetahuan seputar Agama Islam.

Agenda yang mereka lakukan di Gontor Putri ini ialah mengenal tentang muslimah, Agama Islam dan kepondokmodernan terutama dengan panca jiwanya. Sebelum berdiskusi mengenai tentang Islam, para peserta SIT diajak untuk menghadiri pembekalan mengenai model pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor. Pembekalan dan diskusi tersebut disampaikan oleh Dekan Kulliyyatu-l-Banat, Dr. Nur Hadi Ihsan, MIRKH. di Gedung Pasca Sarjana pada Ahad, 29/09.

Sinar Cahaya dari Agama Islam

Acara pun dilanjutkan dengan diskusi pada pagi harinya mengenai keislaman dan isu kontemporer baik feminism, divorce, poligami, aurat maupun hal lainnya. Mereka sangat antusias untuk mengenal Islam lebih dalam lagi dengan berbagai hal yang ingin mereka ketahui dalam sesi diskusi tersebut. Beberapa hal yang mereka tanyakan ialah mengapa wanita mengenakan hijab/ niqab/ burqa, bagaimanakah pandangan Islam terhadap feminisme dan lain sebagainya.

Alhamdulillah, dari hasil diskusi bersama ini, mahasiswi UNIDA Gontor mampu membuat para peserta SIT terbuka secara pandangan terhadap Agama Islam. Islam yang sebelumnya diisukan sebagai agama yang keras, tabu, radikal dan teroris telah tergantikan dengan pandangan positif setelah diskusi berlangsung.
Gontor dan School of International Training (SIT).

 

Selanjutnya para peserta SIT diajak berkeliling Kampus Mantingan dan olahraga bersama pada sore harinya ditemani oleh para mahasiswi UNIDA Gontor. Adapun di malam hari, beberapa mahasiswi mengikuti kegiatan simposium yang disampaikan oleh tiga mahasiswi SIT dan satu mahasiswi UNIDA Gontor.

Acara yang telah menginjak angkatan ketujuh ini sejatinya merupakan kerja sama yang telah dibangun lama antara UNIDA Gontor dengan lembaga SIT. Adapun selama 3 bulan para mahasiswi Internasional tersebut melakukan kunjungannya di Indonesia, hanya Gontorlah yang menjadi tempat mereka mengenal Islam. Setelah rampungnya acara di UNIDA Gontor Kampus Mantingan ini, para tamu SIT melanjutkan kunjungannya ke kampus Pusat UNIDA Gontor, Siman, Ponorogo.
(Darmelia, Fiani)

Artikel Terkait:

WISDOM SPEECH: ISLAM IN UNITED STATES OF AMERICA

Kiat-kiat Menulis dengan Mudah

Setelah sesi pertama yang membahas mengenai “ Pemikiran Politik Hukum Negara” berakhir, pukul 14.00 WIB dilanjutkan dengan sesi kedua. Sesi kedua merupakan sesi “Writing Motivation” yang disampaikan oleh Al-Ustadz Nur Rohim Yunus. Dalam acara ini, pembicara akan membagikan kepada hadirin kiat-kiat menulis dengan mudah. Writing Motivation yang diselenggarakan oleh Prodi HI ini berlangsung di Gedung Pascasarjana Lantai 3. Acara ini dihadiri oleh dua dosen putri dan Mahasiswi dari berbagai Program Studi.

Al-Ustadz Nur Rohim merupakan salah satu alumni Pondok Modern Darussalam Gontor tahun 1999. Selain itu, beliau juga meneruskan jenjang S1-nya di ISID dan lulus pada tahun 2002. Meraih gelar Master of Law (LL.M) dari International Islamic University, Pakistan dan kandidat Doktor di Kazan Federal University, Russia. Beliau juga tercatat sebagai dosen tetap di Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Karier beliau sebagai penulis dimulai dengan keisengannya sebagai pimpinan redaksi bulletin ketika studinya di Pakistan. Bulletin tersebut bernama “Kaifa”. Isi Bulletin Kaifa tersebut ialah kumpulan-kumpulan khotbah Jumat teman-teman mahasiswa yang disetting berbentuk selebaran naskah bulletin layaknya artikel. Selain itu beliau juga aktif menjadi Pimpinan Redaktur dan penulis di Majalah IKPM (Ikatan Keluarga Pondok Modern) yang berdomisili di Pakistan. Selain itu, beliau juga aktif menulis puisi setiap hari dari hand phone sederhananya, lalu dikumpulkan menjadi satu dan dibukukan.

“Jika kamu ingin menulis, maka cintai dan sukai apa yang akan kamu tulis. Selalu aktif membaca tulisan orang lain, untuk selanjutnya menulislah”, pesan beliau kepada para hadirin. Dalam acara Writing Motivation ini, beliau juga menyampaikan kiat-kiat menulis dengan mudah.

Kiat-kiat Menulis

Bagaimanakah kiat-kiat menulis dengan mudah itu?

Hal pertama dalam menulis ialah mengetahui model-model tulisan, hal tersebut untuk mengetahui termasuk model apakah tulisan kita? Model tulisan tersebut dibagi menjadi tiga. Pertama; Tulisan sastra yang meliputi Puisi, sajak, pantun, gurindam, cerpen, dan lain-lainnya. Kedua; Tulisan Ilmiah yang meliputi makalah, skripsi, tesis, disertasi, dan lain-lain. Dan yang ketiga; tulisan bebas yang meliputi tulisan lepas, artikel, kolom, resonasi, dan lain sebagainya. Dalam membuat tulisan juga harus memperhatikan mekanisme tata cara penulisan. Tulisan koran misalnya, isi dari tulisan tersebut harus novelty yang berarti tulisan merupakan sesuatu yang baru atau situasi terbaru dan aktual.

Hal kedua yang harus dilakukan ialah menemukan ide, lalu, dari manakah ide itu datang? Ide bisa didapat dari hal kecil yang melintas dalam kehidupan, misalnya saat hujan deras dan rasa sepi. Dari ide tersebut bisa dikembangkan menjadi sebuah puisi. Ide yang didapat dari sesuatu kecil tersebut bisa ditulis dalam sebuah note/bank ide agar tidak terlupakan. Sejatinya, sebuah ide merupakan berlian dalam dunia kepenulisan.

Ketika ide sudah didapat, hal selanjutnya yang harus dilakukan adalah menuliskan ide gagasan. Ide gagasan bisa dimulai dengan coretan-coretan melalui pena (qolam). Sebagaimana Allah memerintahkan hambanya dalam surat al-Qolam ayat 1. Setelah semua ide tertuang dalam coretan, maka dengan mudah kita bisa mendapatkan poin-poin yang dibutuhkan.

Setelah mendapatkan poin-poin penting, maka dilanjutkan dengan pengembangan ide gagasan. Pengembangan gagasan tersebut dilakukan dengan membagi tulisan dalam tiga paragraph besar yaitu Prolog, Isi dan Epilog. Prolog berisi pendahuluan, latar belakang, dan rumusan masalah. Isi dengan substansi monolog yang mengutip tulisan salah satu tokoh, dan dialog yang mengutip 2 tokoh atau lebih yang saling dibenturkan. Epilog sebagai kesimpulan dan penutup dari sebuah tulisan. Selain itu, kita juga harus memasukkan anak kalimat pengembang dari gagasan tersebut. Contohnya, satu pendapat dari sebuah tulisan dikembangkan dengan melihat atau menambahkan pendapat lain.

Tahapan Menulis

Dalam dunia kepenulisan, tahapan menulis ialah Adopsi, Adaptasi, dan Kreasi. Adopsi merupakan kegiatan men-copy paste tulisan orang lain tanpa modifikasi, lalu menyertakan footnote. Hal ini masuk dalam kategori plagiasi rendah, namun sebagai langkah awal sebagai penulis pemula dapat dilakukan, selanjutnya wajib melakukan editing-editing sebagai bentuk adaptasi. Adaptasi merupakan pengubahan Bahasa dan mengembangkannya menjadi lebih luas, kategori ini aman dari plagiasi. Yang terakhir adalah kreasi atau dalam Bahasa inggrisnya disebut creation. Tulisan yang telah di-copy paste tadi diubah dan diberi pendapat sesuai dengan fenomena yang terjadi saat ini. Tulisan tersebut juga bisa ditambah dengan pendapat penulis dengan menyampaikan setuju atau ketidaksetujuannya dengan pendapat tersebut.

Ketika menulis, hal yang juga perlu diperhatikan ialah mengenali kata rantai. Kata rantai tersebut seperti: “apabila, maka, oleh karena itu, sedang, akibatnya, tak heran, sehingga, dan akhirnya.” Contohnya: Apabila 2 negara telah meratifikasi Hukum Laut Internasional UNCLOS 1982, maka negara tersebut terikat dalam pacta sunt servanda UNCLOS 1982. Oleh karena itu, jika satu negara melakukan wanprestasi dalam menjalankan UNCLOS 1982, seperti mengeksploitasi wilayah ZEE negara lain. Sedang akibatnya, akan terjadi konflik antar 2 negara yang bersangkutan. Tak heran, berbagai upaya akan dilakukan guna meredam konflik tersebut, sehingga konflik tidak perlu dibawa kepada International Justice Court. Akhirnya, arbitrase menjadi metode pilihan untuk menyelesaikan konflik tersebut.

Karya Tulis Ilmiah

Sebagai seorang mahasiswa, karya tulis ilmiah merupakan teman dalam menuntut ilmu. Entah itu makalah, essay, opini, skripsi dan lain sebagainya. Untuk mempermudah dalam pembuatan karya tulis ilmiah, Ust Nur Rohim Yunus membagikan kita tipsnya.

Tips pertama, mencari judul yang lebih spesifik dari tema yang telah ditawarkan.

Tips kedua, membuat pertanyaan sebagai rumusan masalah. Dari judul yang sudah ditentukan, maka akan tercipta atau muncul suatu pertanyaan yang akan dibahas dalam pembahasan.

Tips ketiga, gunakan metodologi apa yang hendak dipakai, kualitatif atau kuantitatifkah atau metode yang lain.

Tips keempat, membuat outline. Dengan membuat outline, akan lebih memudahkan penulis dalam menyelesaikan pembuatan karya ilmiahnya.

Dan tips terakhir, membuat asumsi awal. Asumsi awal merupakan penilaian pertama kita dari permasalahan yang kita ambil. Tiga hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan karya tulis ilmiah adalah pendahuluan, Isi, dan Kesimpulan.

Ketika penjelasan tersebut telah mencapai ujungnya, maka sesi tanya jawab menjadi sebuah akhir dari inti acara. Acara yang beranjak sore tersebut ditutup dengan pemberian penghargaan kepada Ust Yunus sebagai sang pembicara. Besar harapan dari acara ini ialah membangkitkan jiwa menulis dalam diri mahasiswi khususnya. Sejatinya, jiwa seorang mahasiswa itu dibuktikan dengan tulisan yang ia buat. Selamat Berkarya!

HI UNIDA Gontor turut peduli terhadap Keberlangsungan Hukum Humaniter Internasional

Tatanan dunia internasional sangat kompleks dan dinamis. Kompleksitas dan dinamisasi ini ditandai dengan banyaknya konflik dan perang. Ketika terjadi perang, tentunya akan banyak sekali pihak yang  dirugikan dan menjadi korban perang, baik dari angkatan bersenjata maupun sipil. Hal ini tentu membutuhkan adanya peraturan dan hukum yang meminimalisir terjadinya perang atau bahkan ketika perang tersebut terjadi dapat membantu meminimalisir korban.

Setelah perang dunia kedua berakhir, muncul sebuah konvensi diplomatic atau sering disebut sebagai “The Diplomatic Conference of the 1949 Geneva Conventions”. Ini adalah sebuah konvensi mengenai hak-hak dan perlindungan warga sipil korban konflik atau peperangan. Konvensi ini merupakan sebuah lanjutan dari konvensi Jenewa sebelumnya dari tahun 1864 (Tentara atau Angkatan Bersenjata yang Terluka dan Sakit di Darat), 1906 (Tentara atau Angkatan Bersenjata yang Terluka, Sakit, dan Karam di Laut), dan 1929 (mengenai Perlakuan Tawanan Perang). Adapun konvensi keempat tahun 1949 yakni membahas Perlindungan Orang Sipil pada Masa perang dan Konflik.

Untuk membantu terwujudnya perlindungan warga sipil pada masa perang dan konflik, diperlukan pihak-pihak yang peduli walaupun bukan dari pemerintahan. Salah satu organisasi yang peduli adalah ICRC (International Committee of the Red Cross). ICRC adalah organisasi yang bertujuan untuk menjamin perlindungan dan bantuan kemanusiaan bagi korban konflik bersenjata yang bersifat independent. Berbagai cara persuasif dilakukan oleh ICRC untuk merangkul banyak pihak baik dari akademisi maupun praktisi dalam menyebarluaskan prinsip-prinsip humaniter untuk mencegah atau membatasi peperangan.

ICRC
Dosen HI UNIDA berpartisipasi dalam seminar ICRC
Certificate Course

Pada 2-5 September 2019, ICRC dan UIN Sunan Ampel Surabaya bekerjasama untuk mengundang para akademisi dan praktisi untuk duduk bersama dan berdiskusi mengenai prinsip-prinsip hukum humaniter. Diskusi yang bertajuk Certificate Course ini dihadiri oleh Charles Dorman-O Gowan Regional Coordinator for Humanitarian Affairs-ICRC, Christian Donny Putranto, Legal Adviser-ICRC Jakarta. Dr. Ahmed Al-Dawoody Legal Adviser (Islamic Law and Jurisprudence)-ICRC Geneva, Amirah Rushaliha Hamidon Legal Advisor-ICRC Kuala Lumpur. Brig. Gen. Dr. Wahyu Wibowo, S.H., M.H. Deputy Head of TNI Legal Agency (Wakil Kepala Babinkum TNI) dan Atty. Parido Rahman Pigkaulan, Member of BIAF-MILF General Staff Cotabato, The Philippines.

Banyaknya pembicara ahli yang hadir memacu para peserta untuk terus belajar melalui masukan dan pengetahuan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan hukum humaniter Internasional. Pada kesempatan itu disampaikan juga bahwa, pihak berkonflik harus bisa membedakan antara penduduk sipil dan combatan (pejuang) untuk menyelamatkan populasi sipil maupun properti sipil. Apabila dengan terpaksa dilakukan serangan, maka serangan tersebut dilakukan semata-mata untuk tujuan militer.

Pihak yang terlibat dalam konflik maupun anggota angkatan bersenjata, sebenarnya tidak mempunyai hak untuk berperang ataupun memiliki strategi untuk perang. Karena, hal tersebut pada dasarnya cenderung menyebabkan kerugian atau penderitaan bagi masyarakat sipil ataupun combatan tersebut. Dan sipil termasuk yang harus dilingung dalam keadaan tersebut dan diperlakukan dengan manusiawi, tanpa ada perbedaan apapun. Aturan-aturan tersebut disusun oleh ICRC, berdasarkan dari rangkuman esensi hukum humaniter internasional.

Sebenarnya ICRC tidak memiliki otoritas instrumen hukum dan sama sekali tidak dapat mengubah perjanjian dan hukum yang berlaku. Namun, ICRC disini sebagai organisasi Internasional dengan mandate (Konferensi Geneva), dirancang untuk memfasilitasi promosi Hukum Humaniter Internasional.

Dan penstudi Hubungan Internasional utamanya harus peduli terhadap hal tersebut karena itu juga termasuk dari kajian studi di prodi  HI UNIDA GOntor, yaitu tentang perdamaian. Selain mengikuti course, kontribusi lain dari Certificate Course adalah turut menandatangani MOU dan kerjasama untuk bantuan penelitian dan pengabdian masyarakat. (Novi Rizka)

Artikel Terkait:

Partisipasi Mahasiswa HI dalam UNIDA Peduli Pacitan

Tak Hanya Berkiprah di Kampus, Mahasiswa HI UNIDA Juga Aktif di Kegiatan Sosial Kemasyarakatan

HI UNIDA Gontor For Palestine

 

Peluang dan Tantangan Dakwah di Era Revolusi Industri 4.0

Tantangan revolusi industri 4.0…

Tahun ini, Program Studi Pendidikan Agama Islam UNIDA Gontor telah sukses menyelenggarakan Seminar Nasional EYOFEST (Education Youth Festival) yang diselenggarakan di Gedung Kulliyyatu-l-Banat Gontor Putri Kampus 1, Ahad pagi (15/9/19).

Seminar nasional yang digelar pertama kalinya oleh para mahasiswi PAI Kampus Mantingan tersebut telah diikuti oleh lebih dari 600 peserta yang datang dari berbagai kalangan. Peserta kegiatan ini berasal dari murid tingkat sekolah dasar dan menengah, mahasiswi, hingga dosen. Adapun tema yang diusung kali ini ialah “Peluang dan Tantangan Dakwah di Era Revolusi Industri 4.0” dengan menghadirkan narasumber yang aktif berdakwah melalui media sosial baik Youtube maupun Intagram.

Narasumber

Perhatian dan antusiasme para peserta dalam menyambut ilmu yang diberikan Kak Fuad Bakh dan al-Ustadz Taufiq Affandi, M.Sc.Fin. mampu menyemarakan suasana yang berlangsung hingga tengah hari tiba. Adapun tujuan dari kegiatan ini ialah untuk menginspirasi para millennial Islamic youth agar lebih kreatif dan aktif untuk berdakwah melalui media sosial yang mendominasi di era modern kali ini.

Sosok Islamic influencer di Instagram dapat mempengaruhi jiwa anak millenial dengan segala kreativitasnya. Selain bekerja sebagai editor di berbagai saluran TV di Indonesia, Kak Fuad Bakh sangat aktif dalam dalam menyajikan konten yang edukatif dan bermanfaat dalam menguak kebenaran sejarah hingga ia mampu mengobarkan kembali semangat pemuda dalam berhijrah dan menjadi lebih baik.

Dengan media yang saat ini dapat dengan mudah diakses, Kak Fuad beserta timnya memiliki inovasi untuk mencari peluang dari tantangan media sosial yang telah berkembang dewasa ini. Ditinjau dari medsos yang sangat mendominasi kalangan millennial, ia beinisiatif untuk memanfaatkan internet sebagai sarana dalam menyebarkan pesan-pesan agama Islam. Di tahun 2015 Kak Fuad mulai merangkul media sosial sebagai sarana berdakwah di era yang didominasi oleh ketergantungan terhadap internet.
“…dahulu orang terkenal dengan prestasinya seperti B.J. Habibie, sekarang orang terkenal dengan sensasinya,“ ujarnya.

Mengingat virus K-POP yang melekat dengan generasi muda, virus tersebut mampu menjadi sumber negatif bagi mereka. Mereka terlena dengan kehadiran entertainment tersebut hingga mampu melupakan jati diri mereka yang sebenarnya. Maka inilah tantangan yang harus dihadapi bagi umat muslim khususnya.

Harus Kreatif

Beliau menambahkan tentang bagaimana kita dapat memanfaatkan mudahnya akses internet dalam menyari dan menyebarkan motivasi positif bukan malah kita yang dimanfaatkan oleh medsos? Hanya ada satu cara yang sangat ampuh dan efektif dalam memanfaatkan media sosial sendiri, yaitu dengan “kreatifitas“.
“Kreatifitas tidak akan mati meskipun dihancurkan, melainkan ia pasti akan mencari cara lain bagaimanapun keadaannya,“ pesannya.

Kalimat tersebut merupakan kalimat yang paling membekas di hati para hadirin. Inilah ramuan ampuh yang dianut oleh Kak Fuad sendiri dalam dakwahnya di media sosial. Ia melanjutkan bahwa “…perkembangan zaman tidak dapat ditahan lagi dan tidak dapat pula dihindari. Siapapun akan menjadi bagian dalam perkembangan zaman dan kita tidak sekadar menerima perubahan yang terjadi, namun juga menghadapinya”

Selain Kak Fuad, al-Ustadz Taufiq Affandi selaku Direktur Gontor TV juga turut diundang untuk berbagi pengalaman dan ilmunya. Adapun tema perbincangan yang dijamu oleh Sekretaris Rektorat UNIDA Gontor ini ialah “Dakwah in the Digital Age”.

Dalam pemaparannya, beliau menyampaikan tentang 7 tips dalam berdakwah, yaitu: “1) get closer Allah and don’t get distracted, 2) understand what the ummah need, 3) state a clear objective, 4) build a network, 5) read more, 6) start from your closer friend and relatives, 7) optimize social media for da’wah,”

Dipenghujung acara, panitia mengumumkan pemenang dari perlombaan yang telah diselenggarakan mulai dari Hari Jum’at s/d Sabtu (13-14/19). Kategori tingkat sekolah dasar sekitar Mantingan yakni lomba Pildacil, selain itu ada juga LKTI, Poster dan Video Maker yang masuk dalam kategori perlombaan nasional.

Acara yang ditutup sedemikian rupa mampu meninggalkan kesan dan pesan tersendiri bagi para hadirin bahwa yang dibutuhkan pemuda Islam saat ini adalah kreatifitas dalam penyampaian pesan-pesan keislaman tidak hanya untuk muslimin melainkan juga bagi seluruh umat manusia di era digital dan revolusi 4.0. (Rahmadina Andini/ HI-3)

Membangun Indonesia Emas 2045 Bersama Sherly Annavita

Rabu, (11/10) 2019 mahasiswi universitas Darussalam Gontor Kampus Puteri Mantingan sangat antusias dengan datangnya seorang young millennial influencer yang bertalenta, cerdas, dan berbakat. Ia adalah Sherly Annavita, sosok generasi muda bangsa yang terkenal dengan nalar kritisnya terhadap berbagai fenomena yang terjadi di Indonesia saat ini.

Segudang prestasi telah ditorehkan olehnya mulai dari menjadi perwakilan Indonesia di ajang Australian conference for international development pada tahun 2017. Juara dua dalam kompetisi I’m President. Delegasi terbaik di Asian world model united nations, Korea Selatan tahun 2018 dan masih banyak prestasi lainnya. Wanita kelahiran Lhokseumawe, Aceh ini mulai dikenal publik saat mengikuti ajang Pemilihan Dai Cilik IV di salah satu stasiun pada tahun 2007 untuk mewakili Provinsi Aceh.

Lama tak mendengar kabarnya, nama Sherly kembali ramai di perbincangkan saat gadis berhijab lulusan Master of Social Impact Investment dari Swinburne University of Technology, Melbourne, Australia ini tampil di acara diskusi ILC (Indonesia Lawyers Club). Dalam ILC tersebut, Sherly mengungkapkan ketidaksetujuannya terhadap pemindahan Ibu Kota dari Jakarta ke Kalimantan.

Seminar yang mengusung tema ” Preparing Millennial Generation For Being Sharia, Politics, And Legal Expert To Achieve Golden Indonesia In 2045”, ini di adakan di gedung kuliyatull-banat Gontor Putri Kampus 1 dan dibuka dengan sebuah quote ”yang kecil tak usah sebut nama, yang tua tak usah sebut gelar” kalimat yang disampaikanya ini memiliki arti untuk saling mengenal satu sama lain karena manusia merupakan makhluk sosial yang saling membutuhkan.

4 Tipe Manusia

Dalam kesempatan kali ini, Sherly Annavita lebih banyak memberikan motivasi-motivasi agar bisa menjadi generasi muda yang lebih maju di masa depan. Seperti yang disampaikan Sherly mengenai empat tipe manusia yang ada di muka bumi ini:

Yang pertama ialah manusia pesimis. Manusia ini merupakan manusia yang selalu berpikiran sempit dan apabila ditanya mengenai masa depan, maka ia akan menjawab dengan kata “ah”.

Yang kedua ialah, manusia realistis. Karakter manusia realistis ini dibentuk oleh pengaruh lingkungan, bukan ia yang membentuk lingkungan. Jika lingkungannya baik, maka ia akan baik dan juga sebaliknya. Tipe manusia ini apabila ditanya mengenai masa depan maka ia akan menjawab dengan kata “ya sudahlah”.

Yang ketiga ialah jenis manusia optimis. Manusia dengan tipe ini melihat sudut pandang segala suatu dari sisi optimisnya, memiliki goals, visi dan misi. Sherly juga berpesan agar setidaknya kita masuk dalam tipe manusia ini.

Dan yang keempat merupakan jenis manusia progresif, selalu punya cara yang kreatif, cerdas dan inovatif untuk menghadapi tantangan zaman. Selanjutnya ia juga menyampaikan bahwa sebagai anak muda kita harus memiliki visi dan misi dalam hidup. Karena, mereka yang tidak punya visi dalam hidup akan menjadi bawahan orang-orang yang memiliki visi tadi.

4 Kualitas Anak Muda

Bukan hanya itu, ia juga menyampaikan 4 kualitas anak muda yang harus dimiliki guna menghadapi tantangan zaman, yaitu:
Pertama, “be a good one” memberikan segala yang terbaik di setiap kegiatan yang dilakukan.

Kedua, “be a better one” hiduplah dengan target dan goals. Maka, kalian akan selalu berusaha dengan apa yang telah di targetkan.

Ketiga, “be the best one” jadilah seseorang baik, sebaik yang kalian bisa. Jadikan kritikan orang lain sebagai masukan untuk membuat kita menjadi lebih baik. Selain itu, Sherly juga berpesan untuk mengenali passion diri kita sendiri guna memudahkan untuk meraih target yang telah ditentukan.

Keempat,”be an excellent one” karena sejarah akan mencatat orang-orang bermanfaat bagi bangsa. Setidaknya, tinggalkan satu karyamu untuk bangsa ini sebelum kematian menjemputmu.

Acara ini pun dilanjutkan dengan sesi tanya jawab antara audience dan Sherly. Menjadi sebuah kebanggaan tersendiri yaitu 6 orang dari 10 penanya adalah mahasiswi Hubungan Internasional. Dan di akhir kalimatnya Sherly menyampaikan pedoman hidupnya ”jadikanlah Allah sebagai tujuan, maka dunia akan mengikutimu”.

Dari seminar singkat yang disampaikan oleh Sherly Annavita ini, banyak mahasiswi UNIDA meneteskan air mata sebagai wujud kelalaian akan tugasnya menjadi anak bangsa Indonesia dan sebagai mahasiswi khususnya. Selain itu, Sherly juga menyadarkan kita agar tahu dan paham makna kalimat “hidup sekali, hiduplah yang berarti”, serta mengapresiasi sesuatu yang baik dan mengkritisi sesuatu yang tidak baik. (Darmelia/HI3)

Artikel Terkait:

Peluang dan Tantangan Dakwah di Era Revolusi Industri 4.0