Semarak Menumbuhkan Mental Juara, HMP HI UNIDA Gontor Putri Gelar IRC yang Ketiga

International Relation Competitions atau yang disingkat IRC sukses digarap mahasiswi HI unida Putri pada Selasa, 26 Desember 2019 lalu. Adapun IRC tahun ini merupakan IRC yang ketiga dari tahun 2017 sejak berlangsungnya IRC perdana.

Kompetisi ini diadakan tidak hanya untuk memberi pengalaman mahasiswi UNIDA Gontor Kampus Putri yang berpartisipasi. Namun, berlangsungnya acara ini juga diharapkan dapat menumbuhkan mental-mental sang juara yang kelak akan bertempur di masa depan.

IRC tahun ini melirik kawasan regional Asia Tenggara yang bersatu dalam ASEAN sebagai tajuk utama perlombaan. Adapun acara ini menyemarakkan tema “The Power of Asean” untuk pengenalannya. IRC kali ini mencoba warna baru dengan mengenalkan organisasi regional tersebut kepada mahasiswi UNIDA Gontor secara umum.

Rangkaian perlombaan diadakan selama tiga hari, yakni dari tanggal 24-26 Desember 2019. Sore hari perlombaan semakin semarak dengan alunan National Anthem negara-negara ASEAN yang juga menjadi upaya pengenalan tema perlombaan ini.

The Agent of Change

“Keikutsertaan dalam perlombaan mencerminkan pribadi yang tidak pantang menyerah dan kemenangan adalah pembuktiannya,” kutipan Aurellia selaku ketua acara ini. Setiap  perlombaan yang diadakan sudah selayaknya menjadi ajang para peserta untuk showing the best. Menyadari kemampuan diri agar lebih bersyukur dengan segala nikmat Allah sebagai karunia terbesar dari-Nya.

Ber-spirit­-kan ‘The Agent of Change’, perlombaan ini mengkonsep keaktifan para mahasiswi yang kelak akan membangun sebuah perubahan. Adapun perlombaan juga dimaksudkan agar dapat memicu sinergi dan semangat dari setiap mahasiswi.

Lihat juga:

Pesan Al-Ustadz Ahmad Hidayatullah Zarkasyi kepada Segenap Civitas Akademika HI UNIDA Gontor di Family Gathering

Semangat ini kelak akan menumbuhkan mental-mental tangguh yang kuat dengan setiap tantangan. Mental-mental yang telah terbentuk dari kebiasaan mengikuti kompetisi akan menjadikan individunya sanggup menggerakkan perubahan. Adapun membangun perubahan bagi kehidupan kedepan tidak akan dimiliki oleh jiwa yang takut tantangan. Dengan demikian, pribadi tersebut akan menjadi penggerak yang mampu menginspirasi dan berkiprah di masyarakat.

Mewakili Negara-Negara ASEAN

11 negara ASEAN menjadi sub-tema perlombaan kepada setiap program studi UNIDA Gontor yang mengikuti perlombaan. Adapun setiap program studi tersebut kelak menjadi delegasi yang mempresentasikan negara yang ia wakili.

Contoh saja negara Thailand yang diwakili oleh program studi Hukum Ekonomi Islam. Program studi ini  menjadi peserta lomba IRC dengan beberapa perlombaan yang berkaitan dengan negara tersebut. Mulai dari choir, mamamia ketua prodi bersama anggota dan Miss Universe yang menjadikan Thailand sebagai tema prodi ini. Dengan konsep demikian, diharapkan peserta lomba bisa lebih mengenal ASEAN secara umum dan menyeluruh.

Mahasiswi HI UNIDA Gontor Ikuti ASEAN Youth General Forum 4.0

Sebanyak 9 mahasiswi HI Unida Gontor mengikuti kegiatan ASEAN Youth General Forum 4.0 di Yogyakarta pada November lalu. ASEAN Youth General Forum ini merupakan merupakan program rutin Hubungan Internasional, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Event ini merupakan sebuah wadah yang dibentuk untuk menumbuhkan minat pemuda ASEAN terhadap isu-isu global yang sedang marak terjadi serta menjadi sarana pembelajaran bagi delegasi untuk menemukan solusi.

Di dalam acara ini, delegasi mengikuti seminar Internasional dengan pembahasan mengenai isu global yang sedang terjadi dan disampaikan oleh seorang pakar. Kegiatan selanjutnya adalah simulasi sidang PBB atau MUN, yaitu kegiatan akademik dimana delegasi belajar tentang diplomasi, hubungan internasional dan lainnya. MUN mengajarkan keterampilan public speaking, debat, menulis, berpikir kritis, kerja sama tim, dan kepemimpinan. Setelah menemukan solusi, para delegasi akan diajak untuk merehatkan pikiran dengan mengunjungi situs bersejarah yang terdapat di kota Yogyakarta.

SEMINAR INTERNASIONAL

Pembawa acara dalam ASEAN Youth General Forum 4.0

Acara ASEAN Youth General Forum 4.0 dibuka dengan seminar internasional dengan mendatangkan pembicara yang kredibel. Adapun pembicara yang hadir dalam seminar internasional ini adalah Mrs. Nguyen Tuong Van selaku General Secretary of ASEAN Inter-parlementary Assembly. Beliau menyampaikan materi mengenai keamanan berkelanjutan serta kesadaran internasional terhadap isu-isu yang berkembang di ASEAN, dan sedikit membahas mengenai AIPA.

Pembicara selanjutnya ialah Mr Riaz J.P Saehu selaku Director of ASEAN Culture and Social Cooperation Ministry of Foreign Affair. Dalam seminarnya, beliau menjelaskan mengenai peran Indonesia dalam menjaga perdamaian serta langkah ASEAN menghadapi masalah yang dihadapi oleh Negara anggotanya.

Pemateri yang terakhir ialah Mrs. Putri Arie Hendra Murti selaku Environment Officer of Environmental Education and Youth Engagement of ASEAN Secretary. Beliau menyampaikan bagaimana cara menjaga lingkungan dan peran anak muda dalam pelestarian lingkungan di ASEAN.

MUN (Model United Nations) AYGF 4.0

Delegasi HI UNIDA menyampaikan argumen nya dalam AGYF 4.0

MUN adalah simulasi sidang atau kegiatan akademik dimana delegasi belajar mengenai diplomasi, hubungan internasional dan lainnya. MUN melibatkan dan mengajarkan dalam meneliti, public speaking, debat, dan keterampilan menulis, berpikir kritis, kerja sama tim, dan kepemimpinan. Partisipasi dalam MUN ini dimaksudkan untuk berlatih negosiasi, berbicara dan keterampilan komunikasi.

MUN ini dibagi menjadi 2 council, yaitu UNSC (United Nation of Security Council) & UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change). Pembahasan yang dijadikan topic dalam MUN kali ini sangat menarik kerena menyangkut isu-isu global yang ada di sekitar kita. UNSC bertemakan “Combating Terrorist Movement in Southeast Asia” dan UNFCCC “Climate Change Mitigation: Building Resilient Agriculture to Ensure Food Security”.

Site Visit ASEAN Youth General Forum 4.0

Pertunjukan wayang golek di Yogyakarta

Site visit atau berkunjung ke situs sejarah di daerah Yogyakarta merupakan rangkaian kegiatan akhir sebelum penutupan. Pada kegiatan ini para delegasi diajak untuk mengunjungi situs bersejarah seperti batik Yogya serta penampilan wayang golek. Para delegasi di kenalakan dengan sejarah batik dan motif batik, serta cara pembuatan pola batik hingga pada tahapan pengeringannya.

Selain itu, delegasi diperkenalkan kepada wayang sebagai salah satu warisan budaya Indonesia yang harus dilestarikan keberadaannya di zaman modern ini. Pada sesi ini para delegasi diceritakan tentang sejarah wayang serta bagaimana silsilah wayang itu sendiri.

Sepenggal harapan pemuda ASEAN

Dari berbagai kegiatan yang kami ikuti, kami berharap dapat meningkatkan kepemimpinan, pemikiran analitis, diplomasi, dan keterampilan berbicara di depan umum. Serta dapat menjadi motivasi bagi teman-teman yang lain untuk dapat berlomba-lomba berpartisipasi dalam membangun dunia yang damai.

“The youths of today are the leader of tomorrow”-Nelson Mandela

(Darmelia Puspita Sari, HI 2018)

 

11 Mahasiswa Amerika Studi Banding ke UNIDA Gontor

Sebanyak 11 mahasiswa Amerika yang tergabung dalam program School of International Training (SIT) telah mengunjungi UNIDA Gontor Kampus Mantingan pada 29/09-01/10. Mahasiswa tersebut datang dari berbagai kampus di Amerika dengan tujuan untuk melatih ketrampilan leadership mereka dan mempromosikan berbagai budaya dunia. SIT ini pertama kali dibuka pada tahun 1964 dan merupakan sekolah pertama yang menekankan pengenalan budaya dengan pada pembelajaran internasional.

Kegiatan yang dilakukan selama di UNIDA Gontor

Kegiatan yang berlangsung selama 2 hari di Mantingan ini merupakan kunjungan yang ke tujuh kalinya bagi rombongan mahasiswa/i Amerika Serikat. Selama program berlangsung, para mahasiswa SIT tersebut ditemani oleh Direktur Akademik SIT yang berasal dari Bali, Dr. Ni Wayan Arianti. Beliau mengungkapkan rasa terima kasihnya untuk UNIDA Gontor yang telah memberikan kesempatan belajar mengenai kebudayaan Indonesia dan pengetahuan seputar Agama Islam.

Agenda yang mereka lakukan di Gontor Putri ini ialah mengenal tentang muslimah, Agama Islam dan kepondokmodernan terutama dengan panca jiwanya. Sebelum berdiskusi mengenai tentang Islam, para peserta SIT diajak untuk menghadiri pembekalan mengenai model pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor. Pembekalan dan diskusi tersebut disampaikan oleh Dekan Kulliyyatu-l-Banat, Dr. Nur Hadi Ihsan, MIRKH. di Gedung Pasca Sarjana pada Ahad, 29/09.

Sinar Cahaya dari Agama Islam

Acara pun dilanjutkan dengan diskusi pada pagi harinya mengenai keislaman dan isu kontemporer baik feminism, divorce, poligami, aurat maupun hal lainnya. Mereka sangat antusias untuk mengenal Islam lebih dalam lagi dengan berbagai hal yang ingin mereka ketahui dalam sesi diskusi tersebut. Beberapa hal yang mereka tanyakan ialah mengapa wanita mengenakan hijab/ niqab/ burqa, bagaimanakah pandangan Islam terhadap feminisme dan lain sebagainya.

Alhamdulillah, dari hasil diskusi bersama ini, mahasiswi UNIDA Gontor mampu membuat para peserta SIT terbuka secara pandangan terhadap Agama Islam. Islam yang sebelumnya diisukan sebagai agama yang keras, tabu, radikal dan teroris telah tergantikan dengan pandangan positif setelah diskusi berlangsung.
Gontor dan School of International Training (SIT).

 

Selanjutnya para peserta SIT diajak berkeliling Kampus Mantingan dan olahraga bersama pada sore harinya ditemani oleh para mahasiswi UNIDA Gontor. Adapun di malam hari, beberapa mahasiswi mengikuti kegiatan simposium yang disampaikan oleh tiga mahasiswi SIT dan satu mahasiswi UNIDA Gontor.

Acara yang telah menginjak angkatan ketujuh ini sejatinya merupakan kerja sama yang telah dibangun lama antara UNIDA Gontor dengan lembaga SIT. Adapun selama 3 bulan para mahasiswi Internasional tersebut melakukan kunjungannya di Indonesia, hanya Gontorlah yang menjadi tempat mereka mengenal Islam. Setelah rampungnya acara di UNIDA Gontor Kampus Mantingan ini, para tamu SIT melanjutkan kunjungannya ke kampus Pusat UNIDA Gontor, Siman, Ponorogo.
(Darmelia, Fiani)

Artikel Terkait:

WISDOM SPEECH: ISLAM IN UNITED STATES OF AMERICA

Kiat-kiat Menulis dengan Mudah

Setelah sesi pertama yang membahas mengenai “ Pemikiran Politik Hukum Negara” berakhir, pukul 14.00 WIB dilanjutkan dengan sesi kedua. Sesi kedua merupakan sesi “Writing Motivation” yang disampaikan oleh Al-Ustadz Nur Rohim Yunus. Dalam acara ini, pembicara akan membagikan kepada hadirin kiat-kiat menulis dengan mudah. Writing Motivation yang diselenggarakan oleh Prodi HI ini berlangsung di Gedung Pascasarjana Lantai 3. Acara ini dihadiri oleh dua dosen putri dan Mahasiswi dari berbagai Program Studi.

Al-Ustadz Nur Rohim merupakan salah satu alumni Pondok Modern Darussalam Gontor tahun 1999. Selain itu, beliau juga meneruskan jenjang S1-nya di ISID dan lulus pada tahun 2002. Meraih gelar Master of Law (LL.M) dari International Islamic University, Pakistan dan kandidat Doktor di Kazan Federal University, Russia. Beliau juga tercatat sebagai dosen tetap di Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Karier beliau sebagai penulis dimulai dengan keisengannya sebagai pimpinan redaksi bulletin ketika studinya di Pakistan. Bulletin tersebut bernama “Kaifa”. Isi Bulletin Kaifa tersebut ialah kumpulan-kumpulan khotbah Jumat teman-teman mahasiswa yang disetting berbentuk selebaran naskah bulletin layaknya artikel. Selain itu beliau juga aktif menjadi Pimpinan Redaktur dan penulis di Majalah IKPM (Ikatan Keluarga Pondok Modern) yang berdomisili di Pakistan. Selain itu, beliau juga aktif menulis puisi setiap hari dari hand phone sederhananya, lalu dikumpulkan menjadi satu dan dibukukan.

“Jika kamu ingin menulis, maka cintai dan sukai apa yang akan kamu tulis. Selalu aktif membaca tulisan orang lain, untuk selanjutnya menulislah”, pesan beliau kepada para hadirin. Dalam acara Writing Motivation ini, beliau juga menyampaikan kiat-kiat menulis dengan mudah.

Kiat-kiat Menulis

Bagaimanakah kiat-kiat menulis dengan mudah itu?

Hal pertama dalam menulis ialah mengetahui model-model tulisan, hal tersebut untuk mengetahui termasuk model apakah tulisan kita? Model tulisan tersebut dibagi menjadi tiga. Pertama; Tulisan sastra yang meliputi Puisi, sajak, pantun, gurindam, cerpen, dan lain-lainnya. Kedua; Tulisan Ilmiah yang meliputi makalah, skripsi, tesis, disertasi, dan lain-lain. Dan yang ketiga; tulisan bebas yang meliputi tulisan lepas, artikel, kolom, resonasi, dan lain sebagainya. Dalam membuat tulisan juga harus memperhatikan mekanisme tata cara penulisan. Tulisan koran misalnya, isi dari tulisan tersebut harus novelty yang berarti tulisan merupakan sesuatu yang baru atau situasi terbaru dan aktual.

Hal kedua yang harus dilakukan ialah menemukan ide, lalu, dari manakah ide itu datang? Ide bisa didapat dari hal kecil yang melintas dalam kehidupan, misalnya saat hujan deras dan rasa sepi. Dari ide tersebut bisa dikembangkan menjadi sebuah puisi. Ide yang didapat dari sesuatu kecil tersebut bisa ditulis dalam sebuah note/bank ide agar tidak terlupakan. Sejatinya, sebuah ide merupakan berlian dalam dunia kepenulisan.

Ketika ide sudah didapat, hal selanjutnya yang harus dilakukan adalah menuliskan ide gagasan. Ide gagasan bisa dimulai dengan coretan-coretan melalui pena (qolam). Sebagaimana Allah memerintahkan hambanya dalam surat al-Qolam ayat 1. Setelah semua ide tertuang dalam coretan, maka dengan mudah kita bisa mendapatkan poin-poin yang dibutuhkan.

Setelah mendapatkan poin-poin penting, maka dilanjutkan dengan pengembangan ide gagasan. Pengembangan gagasan tersebut dilakukan dengan membagi tulisan dalam tiga paragraph besar yaitu Prolog, Isi dan Epilog. Prolog berisi pendahuluan, latar belakang, dan rumusan masalah. Isi dengan substansi monolog yang mengutip tulisan salah satu tokoh, dan dialog yang mengutip 2 tokoh atau lebih yang saling dibenturkan. Epilog sebagai kesimpulan dan penutup dari sebuah tulisan. Selain itu, kita juga harus memasukkan anak kalimat pengembang dari gagasan tersebut. Contohnya, satu pendapat dari sebuah tulisan dikembangkan dengan melihat atau menambahkan pendapat lain.

Tahapan Menulis

Dalam dunia kepenulisan, tahapan menulis ialah Adopsi, Adaptasi, dan Kreasi. Adopsi merupakan kegiatan men-copy paste tulisan orang lain tanpa modifikasi, lalu menyertakan footnote. Hal ini masuk dalam kategori plagiasi rendah, namun sebagai langkah awal sebagai penulis pemula dapat dilakukan, selanjutnya wajib melakukan editing-editing sebagai bentuk adaptasi. Adaptasi merupakan pengubahan Bahasa dan mengembangkannya menjadi lebih luas, kategori ini aman dari plagiasi. Yang terakhir adalah kreasi atau dalam Bahasa inggrisnya disebut creation. Tulisan yang telah di-copy paste tadi diubah dan diberi pendapat sesuai dengan fenomena yang terjadi saat ini. Tulisan tersebut juga bisa ditambah dengan pendapat penulis dengan menyampaikan setuju atau ketidaksetujuannya dengan pendapat tersebut.

Ketika menulis, hal yang juga perlu diperhatikan ialah mengenali kata rantai. Kata rantai tersebut seperti: “apabila, maka, oleh karena itu, sedang, akibatnya, tak heran, sehingga, dan akhirnya.” Contohnya: Apabila 2 negara telah meratifikasi Hukum Laut Internasional UNCLOS 1982, maka negara tersebut terikat dalam pacta sunt servanda UNCLOS 1982. Oleh karena itu, jika satu negara melakukan wanprestasi dalam menjalankan UNCLOS 1982, seperti mengeksploitasi wilayah ZEE negara lain. Sedang akibatnya, akan terjadi konflik antar 2 negara yang bersangkutan. Tak heran, berbagai upaya akan dilakukan guna meredam konflik tersebut, sehingga konflik tidak perlu dibawa kepada International Justice Court. Akhirnya, arbitrase menjadi metode pilihan untuk menyelesaikan konflik tersebut.

Karya Tulis Ilmiah

Sebagai seorang mahasiswa, karya tulis ilmiah merupakan teman dalam menuntut ilmu. Entah itu makalah, essay, opini, skripsi dan lain sebagainya. Untuk mempermudah dalam pembuatan karya tulis ilmiah, Ust Nur Rohim Yunus membagikan kita tipsnya.

Tips pertama, mencari judul yang lebih spesifik dari tema yang telah ditawarkan.

Tips kedua, membuat pertanyaan sebagai rumusan masalah. Dari judul yang sudah ditentukan, maka akan tercipta atau muncul suatu pertanyaan yang akan dibahas dalam pembahasan.

Tips ketiga, gunakan metodologi apa yang hendak dipakai, kualitatif atau kuantitatifkah atau metode yang lain.

Tips keempat, membuat outline. Dengan membuat outline, akan lebih memudahkan penulis dalam menyelesaikan pembuatan karya ilmiahnya.

Dan tips terakhir, membuat asumsi awal. Asumsi awal merupakan penilaian pertama kita dari permasalahan yang kita ambil. Tiga hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan karya tulis ilmiah adalah pendahuluan, Isi, dan Kesimpulan.

Ketika penjelasan tersebut telah mencapai ujungnya, maka sesi tanya jawab menjadi sebuah akhir dari inti acara. Acara yang beranjak sore tersebut ditutup dengan pemberian penghargaan kepada Ust Yunus sebagai sang pembicara. Besar harapan dari acara ini ialah membangkitkan jiwa menulis dalam diri mahasiswi khususnya. Sejatinya, jiwa seorang mahasiswa itu dibuktikan dengan tulisan yang ia buat. Selamat Berkarya!

HI UNIDA Gontor turut peduli terhadap Keberlangsungan Hukum Humaniter Internasional

Tatanan dunia internasional sangat kompleks dan dinamis. Kompleksitas dan dinamisasi ini ditandai dengan banyaknya konflik dan perang. Ketika terjadi perang, tentunya akan banyak sekali pihak yang  dirugikan dan menjadi korban perang, baik dari angkatan bersenjata maupun sipil. Hal ini tentu membutuhkan adanya peraturan dan hukum yang meminimalisir terjadinya perang atau bahkan ketika perang tersebut terjadi dapat membantu meminimalisir korban.

Setelah perang dunia kedua berakhir, muncul sebuah konvensi diplomatic atau sering disebut sebagai “The Diplomatic Conference of the 1949 Geneva Conventions”. Ini adalah sebuah konvensi mengenai hak-hak dan perlindungan warga sipil korban konflik atau peperangan. Konvensi ini merupakan sebuah lanjutan dari konvensi Jenewa sebelumnya dari tahun 1864 (Tentara atau Angkatan Bersenjata yang Terluka dan Sakit di Darat), 1906 (Tentara atau Angkatan Bersenjata yang Terluka, Sakit, dan Karam di Laut), dan 1929 (mengenai Perlakuan Tawanan Perang). Adapun konvensi keempat tahun 1949 yakni membahas Perlindungan Orang Sipil pada Masa perang dan Konflik.

Untuk membantu terwujudnya perlindungan warga sipil pada masa perang dan konflik, diperlukan pihak-pihak yang peduli walaupun bukan dari pemerintahan. Salah satu organisasi yang peduli adalah ICRC (International Committee of the Red Cross). ICRC adalah organisasi yang bertujuan untuk menjamin perlindungan dan bantuan kemanusiaan bagi korban konflik bersenjata yang bersifat independent. Berbagai cara persuasif dilakukan oleh ICRC untuk merangkul banyak pihak baik dari akademisi maupun praktisi dalam menyebarluaskan prinsip-prinsip humaniter untuk mencegah atau membatasi peperangan.

ICRC
Dosen HI UNIDA berpartisipasi dalam seminar ICRC
Certificate Course

Pada 2-5 September 2019, ICRC dan UIN Sunan Ampel Surabaya bekerjasama untuk mengundang para akademisi dan praktisi untuk duduk bersama dan berdiskusi mengenai prinsip-prinsip hukum humaniter. Diskusi yang bertajuk Certificate Course ini dihadiri oleh Charles Dorman-O Gowan Regional Coordinator for Humanitarian Affairs-ICRC, Christian Donny Putranto, Legal Adviser-ICRC Jakarta. Dr. Ahmed Al-Dawoody Legal Adviser (Islamic Law and Jurisprudence)-ICRC Geneva, Amirah Rushaliha Hamidon Legal Advisor-ICRC Kuala Lumpur. Brig. Gen. Dr. Wahyu Wibowo, S.H., M.H. Deputy Head of TNI Legal Agency (Wakil Kepala Babinkum TNI) dan Atty. Parido Rahman Pigkaulan, Member of BIAF-MILF General Staff Cotabato, The Philippines.

Banyaknya pembicara ahli yang hadir memacu para peserta untuk terus belajar melalui masukan dan pengetahuan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan hukum humaniter Internasional. Pada kesempatan itu disampaikan juga bahwa, pihak berkonflik harus bisa membedakan antara penduduk sipil dan combatan (pejuang) untuk menyelamatkan populasi sipil maupun properti sipil. Apabila dengan terpaksa dilakukan serangan, maka serangan tersebut dilakukan semata-mata untuk tujuan militer.

Pihak yang terlibat dalam konflik maupun anggota angkatan bersenjata, sebenarnya tidak mempunyai hak untuk berperang ataupun memiliki strategi untuk perang. Karena, hal tersebut pada dasarnya cenderung menyebabkan kerugian atau penderitaan bagi masyarakat sipil ataupun combatan tersebut. Dan sipil termasuk yang harus dilingung dalam keadaan tersebut dan diperlakukan dengan manusiawi, tanpa ada perbedaan apapun. Aturan-aturan tersebut disusun oleh ICRC, berdasarkan dari rangkuman esensi hukum humaniter internasional.

Sebenarnya ICRC tidak memiliki otoritas instrumen hukum dan sama sekali tidak dapat mengubah perjanjian dan hukum yang berlaku. Namun, ICRC disini sebagai organisasi Internasional dengan mandate (Konferensi Geneva), dirancang untuk memfasilitasi promosi Hukum Humaniter Internasional.

Dan penstudi Hubungan Internasional utamanya harus peduli terhadap hal tersebut karena itu juga termasuk dari kajian studi di prodi  HI UNIDA GOntor, yaitu tentang perdamaian. Selain mengikuti course, kontribusi lain dari Certificate Course adalah turut menandatangani MOU dan kerjasama untuk bantuan penelitian dan pengabdian masyarakat. (Novi Rizka)

Artikel Terkait:

Partisipasi Mahasiswa HI dalam UNIDA Peduli Pacitan

Tak Hanya Berkiprah di Kampus, Mahasiswa HI UNIDA Juga Aktif di Kegiatan Sosial Kemasyarakatan

HI UNIDA Gontor For Palestine