UNIDA Gontor utus Delegasi dalam Arabfest 2019 di UNPAD Bandung

Arabfest 2019….

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjajaran menyelenggarakan sebuah event perlombaan yakni “Arabfest”. Arabfest diselenggarakan 2 tahun sekali dan sudah dimulai sejak tahun 2013 silam. Adapun Arabfest 2019 kali ini mengangkat “Mahakarya Festival Arab Nusantara” sebagai tema utama. Kegiatan ini merupakan wadah untuk mengembangkan minat dan bakat para pelajar se-Indonesia serta masyarakat umum dengan batasan umur 25 tahun.

Doktrin yang berkembang di masyarakat ialah mempelajari Bahasa Arab hanya kewajiban untuk mereka yang belajar di pesantren saja. Tidak hanya itu, sebagian dari mereka pun beranggapan bahwa Bahasa Arab hanya dipelajari oleh orang-orang yang beragama Islam. Maka dari itu, Arabfest 2019 dilaksanakan melalui berbagai macam perlombaan guna mendekatkan Bahasa Arab pada masyarakat luas.

Mendekatkan diri dengan Bahasa Arab

Arabfest yang diselenggarakan di UNPAD Bandung ini dilaksanakan guna mendekatkan kecintaan masyarakat luas terhadap Bahasa Arab. Tidak hanya itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk menularkan semangat mempelajari budaya dan Bahasa Arab. Arabfest merupakan suatu acara untuk memperkenalkan dan membuka wawasan masyarakat Indonesia terhadap bahasa dan budaya dunia Arab melalui kegiatan perlombaan.

Adapun salah satu di antara lomba yang diselenggarakan dalam Arabfest adalah Lomba Essay Presentation. Lomba esai kali ini mengusung tema “Khazanah Budaya Arab untuk Kearifan Budaya Nusantara” dengan berbagai sub temanya. Sub tema tersebut di antaranya adalah Pendidikan, Ekonomi, Teknologi, Sosio-Politik, dan Budaya. Sistematika perlombaan esai ini melalui penyeleksian tulisan yang masuk dari berbagai tingkatan pelajar di Indonesia.

Terpilih karena Cintanya pada Bahasa Arab

Dari sekian banyaknya peserta lomba, hanya 10 finalis yang mendapatkan undangan dan berhak mempresentasikan gagasannya di hadapan para juri. Finalis essay presentation tersebut terdiri dari 10 finalis, 3 di antaranya adalah mahasiswa dari Universitas Padjajaran. Selain itu, finalis juga ada yang berasal dari Universitas Pasundan, STAI Siliwangi, Universitas Persatuan Islam, UIN SGD Bandung, dan UIN Malang.

Dinah Alifia Ainaya, mahasiswi Program Studi Hubungan Internasional 2018 juga terpilih untuk mempresentasikan gagasannya mewakili UNIDA Gontor. Sebagai mahasiswi program studi Hubungan Internasional, tentu ia tak mau kalah untuk turut berkontribusi dalam event ini. Meskipun fokus pembelajarannya bukan pada bahasa Arab, tapi ia sangat mencintai bahasa al-Qur’an tersebut dan ingin terus melatih kemampuan berbahasanya.

Karena itu, Dinah mengisahkan bahwa mempelajari Bahasa Arab merupakan salah satu cara untuk lebih mempermudah kita dalam memahami bahasa al-Qur’an. Maka, dari titik tersebutlah dapat menjadi jihad kita guna menyebarluaskan dakwah Islam.

Mengangkat Tema “Jasus”

Kemahiran berbicara merupakan salah satu tujuan dalam pembelajaran bahasa modern. Mengingat fungsi utama bahasa sebagai alat komunikasi, maka pembelajaran kemahiran berbicara bahasa Arab menjadi sangat penting. Akan tetapi pada kenyataannya, masih banyak siswa yang kesulitan dalam berbicara bahasa Arab. Penyebab kesulitan tersebut di antaranya karena metode yang diterapkan tidak menarik sehingga para siswa enggan berpartisipasi aktif dalam berbicara Arab. Hal ini juga diakibatkan bahasa Arab hanya digunakan ketika penyampaian materi dikelas saja tanpa digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan hal tersebut, lembaga pendidikan sudah seharusnya menciptakan strategi alternatif, salah satunya dengan cara membenahi sistem pendidikan dengan menggunakan metode yang relevan, yaitu dengan diterapkannya metode active learning. Metode salah satunya dapat diwujudkan dengan membangun lingkungan wajib berbahasa atau language area yang nantinya akan dikontrol oleh keberadaan Jasus.

Jasus berasal dari kata jassa-yajussu yang berarti menyelidiki atau memata-matai. Peran Jasus disini adalah membuat para siswa lebih berhati-hati agar selalu berbicara menggunakan bahasa Arab. Maka, siswa akan berusaha untuk berbicara menggunakan bahasa Arab dan terus mengasah keterampilannya dalam berbicara bahasa Arab. Language area, lingkungan belajar bahasa yang dibentuk untuk mengoptimalkan penggunaan bahasa Arab, tersebut lalu didukung dan dikontrol oleh keberadaan Jasus.

Metode pembelajaran di atas merupakan metode pembelajaran yang bisa diterapkan untuk siswa pembelajar bahasa tingkat pemula (beginner) mengingat mereka cenderung belum sadar akan pentingnya mempelajari dan menggunakan bahasa. Dengan adanya pembaharuan metode active learning, didukung oleh peran Jasus, lalu di support oleh penggunaan teknologi, pengimplementasian language learning yang optimal sepertinya akan mudah terwujud.

Manfaat

Dari kegiatan ArabFest 2019 ini, Dinah merasakan banyak sekali manfaat yang didapat. Salah satunya ialah peningkatan keterampilan menulis dan berbicara di depan umum. Dinah berharap agar nantinya akan ada lebih banyak lagi para mahasiswa yang menaruh perhatian tinggi terhadap bahasa dan budaya Arab, terlepas dari jurusan yang mereka ambil. Semoga bahasa umat Islam ini semakin membumi tak hanya di dunia pertiwi, tapi juga di mata dunia. Amin (Dinah Alifia Ainaya/ HI-3)

Artikel Terkait:

HI UNIDA Raih Juara 2 Lomba Story Telling Bahasa Prancis di Yogyakarta

Elaborasi Pemikiran Politik Hukum Negara dari Tiga Aliansi Kampus Indonesia

Politik hukum pada hakikatnya ada dan berkembang tidak semata-mata untuk melegalkan kekuasaan akan tetapi untuk menyejahterakan rakyat dan menegakkan keadilan. Namun saat ini, apakah yang sedang ramai terjadi di tanah air? Bukan lagi penegakkan “Politik Hukum” akan tetapi “Politisasi Hukum”. lalu, bagaimanakah Pemikiran Politik Hukum Negara?.

Bertepatan dengan hal tersebut, mahasiswi Hubungan Internasional mendapatkan kesempatan emas untuk mengeruk berbagai ilmu dari para alumni keluarga IIUI Pakistan. Ketiga narasumber dari acara tersebut ialah al-Ustadz Nur Rohim Yunus, LLM., al-Ustadzah Ida Susilowati, M.A. dan al-Ustadz Muhammad Shaleh, LLM. Acara tersebut berlangsung di Aula Pasca Sarjana Kampus Mantingan, Rabu (02/10) yang dihadiri oleh Ketua Prodi HI, Dr. Mohammad Latief, M.A.

Elaborasi dan Harmonisasi Tiga Kampus

Buku Elaborasi Pemikiran Politik dan Hukum Negara tersebut lahir dari proses belajar para penulis yang terus menyelami dalam keilmuan Allah.
Al-Ustadz Yunus menyampaikan bahwa buku ini merupakan buah pemikiran dan pembelajaran penulis yang berasal dari tiga aliansi kampus di Indonesia. Adapun aliansi kampus tersebut ialah al-Ustadz Yunus berasal dari UIN Jakarta, al-Ustadz Shaleh (PTIQ Jakarta) dan al-Ustadzah Ida (UNIDA Gontor).

Buku ini merupakan kumpulan artikel yang sebelumnya telah disebarkan oleh penulis di berbagai jurnal dan telah dikolaborasikan menjadi sebuah buku. Beliau yang tengah menyelesaikan program doktoralnya di Kazan Federal University of Russia tersebut pun menjelaskan beberapa hal terkait penyusunan buku ini.

Pola buku ini menggunakan pola tematik atau disusun menurut menurut temanya yang jika digambarkan adalah susunan tiang-tiang yang berdiri kokoh. Tiang-tiang tersebut berfungsi untuk saling menguatkan yang mana jika satu tiang hilang, maka tiang yang lain akan tetap kuat dalam posisinya.

Lahir dari Proses Belajar

Kali ini Ustadzah Ida menerangkan bahwa buku Pemikiran Politik Hukum Negara merupakan proses dari pembelajaran menulis serta menuntut ilmu yang tidak ada batasnya. Buku tersebut merupakan pengembangan artikel yang disusun bersama oleh Ustadzah Ida dan Ustadz Sholeh dengan Ustadz Yunus sebagai penyunting terakhir.
Dari 6 tema buku ini, 3 diantaranya adalah karya Ustadzah Ida yaitu Terorisme oleh Amerika, Gerakan 212 dan Maritim Indonesia.

Maritim yang telah dicanangkan oleh Pemerintah Indonesia memang sangatlah berharga bagi Indonesia dan dunia jika ditetapkan dengan cara yang baik. Dahulu, Kerajaan Sriwijaya sangatlah berjaya karena mereka mampu memanfaatkan keadaan laut Indonesia baik demi kepentingan pelayaran maupun untuk keuntungan perdagangannya. Laut adalah jalur utama arus perdagangan yang harus diberi ketetapan-ketetapan hukum yang tegas dan jelas supaya tidak terjadi perebutan kekuasaan.

Siapakah Teroris Sebenarnya?

Demikianlah pertanyaan yang banyak terpatri dalam benak setiap individu saat ini dan Dosen Fakultas Syari’ah PTIQ, Ustadz Sholeh pun memaparkan penjelasannya. Sebenarnya untuk apakah perang itu dilaksanakan? Perang dilaksanakan untuk menjaga keberlangsungan agama karena itu dalam Islam terdapat Adabu-l-Qital dan ‘Illatu-l-Qital. Karena terjadi pendzaliman dimana-mana, maka pelaksanaan perang sebagai jalan terakhir diplomasi diperbolehkan untuk menghilangkan kedzaliman itu “tamna’u min ayyi adzlima”.

Melirik perkembangan Islam yang sejalan dengan Hukum Humaniter, maka perang bukanlah sebuah ambisi kekuasaan akan tetapi misi untuk menghilangkan kedzoliman. Adapun Ustadz Sholeh pernah menulis sebuah karya “Why do People Hate American?” Karena memang mereka tidak mempunyai standar yang jelas mengenai terorisme.

Tidak mengherankan, banyak permasalahan yang terjadi dimana-mana tidak hanya di Irak, Afganistan dan Yaman yang mana dilakukan oleh aktor yang sama. Berkaitan dengan hal tersebut, lalu siapakah teroris pertama? Ialah Amerika Serikat dan who is the real terrorist? It is Israel. Tidak hanya mengenai terorisme, Ustadz Sholeh juga banyak mengemukakan pendapatnya mengenai money politics dalam hal pemilu dan tumbuhnya politik identitas.

Bagaimanakah Sikap Kita Menanggapi Demonstrasi yang Marak Terjadi?

Demikianlah pertanyaan yang diajukan oleh Noor Cahyaningrum, mahasiswi Teknik Informatika sebagai salah satu peserta yang sangat antusias mengikuti jalannya acara. Adapun menurut Ustadz Sholeh, sebelum kita bertindak, seharusnya kita mampu memahami berbagai inti permasalahan yang melanda negeri kita saat ini. Beliau juga menambahkan bahwa terjadinya berbagai permasalahan tersebut tidak harus diselesaikan dengan cara demo seperti yang marak terjadi dewasa ini.

“..wa jadilhum billati hiya ahsan” benar apa yang disampaikan oleh Pak Kiayi Pondok Modern bahwa politik tertinggi adalah politik pendidikan. Seperti halnya RUU Pesantren yang sangat signifikan tersebut dapat terealisasi dengan jalan yang elegan dan tanpa demonstrasi.

Adapun Ustadzah Ida memberikan keterangannya yakni jangan sampai kita hanya terikut arus berita, maka dari itu alangkah baiknya kita berpacu pada sumber yang terpercaya. Dari tulisan tersebut kita masukan ke media yang bisa menyampaikan gagasan kita dan hal tersebut merupakan cara yang lebih elegan.
Banyak hal yang bisa kita lakukan dengan cara yang baik dan carilah kebenaran infonya dengan banyak membaca dari literature terpercaya. Setelah banyak membaca, maka tuangkanlah ide tersebut ke dalam sebuah tulisan yang insya Allah hal tersebut dapat lebih bermanfaat dan lebih elegan.

Bagaimanakah Sebaiknya Kita Berpartisipasi dalam Politik?

Tidak hanya itu, Ustadz Sholeh juga menambahkan bahwa terdapat cara yang lebih baik lagi yaitu dengan kita berpartisipasi dalam pemilu. Bagaimanakah cara kita memilih calon legislatif atau calon wakil rakyat tersebut? Maka pilihlah dengan melihat dari partai manakah ia berasal.

Terdapat individu calon wakil rakyat yang sholeh akan tetapi ketika memutuskan suatu kebijakan tersebut ia akan kalah dengan kemauan partainya. Oleh karena itu, kita diwajibkan untuk melihat, mengamati dan memahami bagaimana platform partai yang mencalonkan wakil rakyat tersebut terlebih dahulu.

Demikianlah kiranya kita dapat berpartisipasi dalam perpolitikan yang mana kita dapat memilih wakil yang konsen dalam menangani permasalahan umat dan ulama. Kita juga dapat melihat bagaimana sepak terjang parpol tersebut, apakah ia menjadikannya sebagai alat penguasa untuk menekan politik atau tidak?

Politik Hukum Lebih Cenderung kepada Politik atau Hukum?

Kepala Editor Jurnal Citra Hukum, al-Ustadz Yunus menerangkan terkait pertanyaan tersebut bahwa politik hukum lebih cenderung kepada politik daripada hukum. Kebijakan dan keberlangsungan negara tentunya lebih cenderung kepada politik sebagai alat negara daripada hukum dalam menentukan bagaimana kesejahteraan negara tersebut. Maksud dari politik hukum ialah bagaimana ketetapan tersebut dilegal formalkan secara hukum dan dilakukan oleh pemerintah sebagai aktor pemeran utamanya.

Beberapa contoh dari politik hukum ialah bagaimana dahulu sistem pemilihan wakil rakyat dilakukan dengan cara tidak langsung menjadi pemilu langsung. Adapun gerakan 212 bukanlah merupakan suatu politik hukum karena ia merupakan gerakan yang dilakukan oleh masyarakat karena adanya persatuan identitas

Mahasiswi HI UNIDA Gontor Ikuti Simulasi Sidang PBB

Model United Nations…

Model United Nations (MUN) merupakan salah satu ajang bergengsi yang tidak asing bagi para pelajar, khususnya bagi mahasiswa Hubungan Internasional. Ajang ini merupakan salah satu alternatif kita untuk dapat mengembangkan soft skill dalam hal  kepenulisan serta hard skill dalam keterampilan mengutarakan pendapat. MUN, atau yang biasa kita kenal dengan Model Perserikatan Bangsa-bangsa adalah simulasi sidang Majelis Jenderal PBB, atau sidang PBB lainnya.

Dalam Model UN, peserta sidang bertindak sebagai perwakilan suara dari negara anggota di dewan untuk berdebat tentang topik yang ditugaskan. Delegasi akan menyuarakan suaranya dengan berpidato, membuat draft resolusi, dan bernegosiasi dengan delegasi lain sesuai modul yang menjadi prosedur PBB. Hal tersebut tentu dilakukan tidak lain untuk mencapai tujuan akhir dalam diplomasi internasional yakni pencapaian national interest dan kerja sama.

Diskusi

Veteran Conference Festival 2019 | UNSC: The Situation in Ukraine

Model United Nations kali ini, terdapat 4 council PBB yang dapat diwakili oleh peserta yaitu, UN Women, UNHCR, SOSHUM, dan UNSC. Adapun delegasi UNIDA Gontor mendapatkan UNSC dengan  pembahasan utama “Situation in Ukraine” yang diadakan di Universitas Pembangunan Negeri “Veteran” Jakarta. Adapun delegasi UNIDA Gontor yang diutus dalam acara yang diadakan di Pondok Labu UPM Jakarta pada 27-28/09 adalah sejumlah 5 delegasi.

Dalam badan UNSC ini terdapat 26 peserta dari berbagai universitas di Indonesia yang telah dibagi tugaskan ke dalam 13 negara dunia.  Negara-negara tersebut mencakup negara Rusia, China, Perancis, Kerajaan Inggris, Amerika Serikat, Belgia, Polandia, Peru, Kuwait, Afrika Selatan, Indonesia dan Jerman.  Beberapa peserta yang hadir dalam Model UN tersebut datang dari berbagai kampus seperti UI, Universitas Atma Jaya, Universitas Presiden, UNPAD.

Pembahasan Dewan Keamanan  PBB kali ini cukup menarik dan menjadi isu hangat dunia yakni mengenai penanganan situasi konflik yang melanda Ukraina. Konflik ini telah berlangsung sejak tahun 2013 dan telah memupuk perhatian global baik bagi negeri berkembang maupun negeri maju sekalipun. Salah satu hal yang menjadi indikator utama dalam relevansi masalah tersebut adalah keterlibatan berbagai pemangku kebijakan dan kepentingan tiap negara. Beberapa hambatan yang perlu diatasi dalam konflik tersebut yaitu keterlibatan aktor asing dan komplikasi yang saling terkait melalui klaim hukum.

Pengalaman untuk Pengamalan

Dari pengalaman MUN kali ini para delegasi dapat merasakan suasana menjadi perwakilan yang sedang mengemban amanat dari negara yang diwakili. Tidak hanya itu, kegiatan ini juga bermanfaat untuk dapat membuka wawasan, memperluas jaringan pertemanan dan bertukar pikiran ilmu serta pengalaman.

Kita juga akan dibimbing untuk dapat mengasah kemampuan diri baik dalam keberanian berbicara, berbahasa, dan mempertahankan argumen kita sebagai perwakilan. MUN ini sangat bermanfaat tidak hanya untuk mahasiswa Hubungan Internasional sendiri tetapi dapat bermanfaat juga untuk mahasiswa dari Prodi lainnya.

Dari acara ini, para delegasi sangat berharap untuk dapat mengembangkan soft skill dan hard skill sehingga dapat diamalkan di lingkungan almamater tercinta. Salah satu yang dapat dilakukan para delegasi ialah melaksanakan simulasi pelatihan kepada teman-teman yang hendak mengikuti MUN di kampus lain.

Mereka akan membantu calon delegasi UNIDA Gontor agar dapat mempersiapkan diri seoptimal mungkin baik itu dari sisi mental, materi maupun pengetahuan. Hal lain yang dapat mempermudah calon delegasi yaitu membantu segala persiapan apa saja yang dibutuhkan saat MUN tersebut berlangsung.

Esensi terpenting dalam MUN ialah pengembangan kemampuan berbahasa asing, karena bahasa menjadi salah satu instrumen utama untuk menunjang keberlangsungan acara.

(Sarah, Fiani)

Berita Terkait:

Kiprah Delegasi HI UNIDA di Ajang Model United Nations (MUN) | Universitas Katolik Parahyangan Bandung

UNIDA Gontor Utus Delegasi Asia Youth International Model United Nation (AYIMUN) 2019

28 Mahasiswa Hubungan Internasional Mengikuti Pelatihan School of MUN

SEINMUN 2019, Ajang Penyatuan Niat dan Perubahan Lebih Baik di Era Revolusi 4.0

 

 

SEINMUN 2019, Ajang Penyatuan Niat dan Perubahan Lebih Baik di Era Revolusi 4.0

Model United Nations adalah salah satu kegiatan favorit yang saat ini begitu digandrungi bagi generasi muda. Tidak hanya untuk para mahasiswa HI, melainkan juga telah diminati oleh mahasiswa dari berbagai program studi. Disini, para mahasiswa terus diasah kemampuannya terutama ketika dihadapkan sebagai utusan negara pada simulasi sidang PBB. Dari simulasi tersebutlah sang diplomat yang menjadi perwakilan negara dituntut untuk dapat mempertahankan kedaulatan negara dan memperjuangkan national interest-nya.

Selama mengikuti proses penyeleksian, para mahasiswa dituntut untuk jeli dan teliti dalam mencari referensi terpercaya. Hal tersebut dilakukan demi mengetahui isu-isu terbaru sehingga memudahkan mereka dalam pembuatan position paper. Maka dari itu, tidaklah mudah bagi para mahasiswa yang dapat lolos mengikuti ajang bergengsi tersebut.

Adalah Nur Azizah dan Shafa Arif, dua mahasiswi Hubungan Internasional yang turut serta menjadi peserta dalam salah satu kegiatan MUN. Kegiatan ini secara resmi diselenggarakan di Universitas Diponegoro dengan nama SEINMUN 2019 atau Semarang International Model United Nations.

Tentang SEINMUN 2019

Adapun SEINMUN kali ini mengusung tema “Embracing Alteration: Unifying Intentions, Enhancing Awareness Toward Peace and Justice 4.0”. Acara tersebut telah berlangsung tepat di Grand Candi Hotel, Semarang, Jawa Tengah (19-21/09).

SEINMUN adalah simulasi sidang dimana peserta berdiri sebagai delegasi dari negara-negara yang ada di dunia. Salah satu tujuannya adalah untuk menangani berbagai masalah yang ada di dunia dengan politik dan perspektif negaranya masing-masing. Setiap peserta dituntut untuk memikul peran sebagai perwakilan dari negara anggota PBB dan SEINMUN akan mengajarkan setiap pesertanya bagaimana cara berdiplomasi dengan baik. Serta, kegiatan ini berguna untuk menstimulus para millenial dalam berpikir kritis, sehingga mampu menyampaikan gagasan mereka dengan jelas dan ringkas.

Tidak hanya itu, mereka juga dipandu untuk memahami isu kontemporer mengenai masalah council yang telah ditentukan sebelumnya. Adapun council tersebut  ialah UNESCO  dalam Utilizing Education and Local Culture as Means of Peace Building. ILO dalam isu Automation in the Disruption Era| Challenges or Opportunities. UNSC dalam hal Dilemma of Contemporary Security the Usage of Autonomous Weapons System in Modern Warfare. Acara ini diharapkan mampu mencetak generasi yang peka dan tanggap dalam mengatasi isu-isu internasional. Hal ini guna mewujudkan perdamaian dan perubahan dunia ke arah yang lebih baik.

MUN

-MUN-
Tak Hanya Menjadi Delegasi

Shafa, salah satu delegasi mengisahkan bahwa dengan mengikuti MUN, ia dapat membangun jaringan dengan teman-teman baru dengan pengalaman unik dan menarik. Dari sanalah, Shafa semakin termotivasi untuk terus memetik dan menebarkan manfaat yang telah mereka dapatkan dari pengalaman mengikuti MUN.

Lain halnya dengan Shafa, dalam pandangan Azizah, mengikuti kegiatan MUN adalah hal yang tidak sulit untuk digapai jika kita ingin berdoa dan berusaha dengan sebaik-baiknya. Ia juga bercerita bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk dapat meraih apa yang menjadi passion serta mengasah skill yang ada pada jiwanya.

Maka dari itu, semua orang memiliki kesempatan yang sama besar untuk mengikuti kegiatan ini, tidak hanya mahasiswa HI saja. Azizah berharap, keikutsertaannya dalam acara ini dapat terus memotivasi para mahasiswi lainnya untuk terus belajar dan berjelajah di bumi Allah yang luas ini. [Fiani]

Artikel Terkait:

28 Mahasiswa Hubungan Internasional Mengikuti Pelatihan School of MUN

UNIDA Gontor Utus Delegasi Asia Youth International Model United Nation (AYIMUN) 2019

Kiprah Delegasi HI UNIDA di Ajang Model United Nations (MUN) | Universitas Katolik Parahyangan Bandung

AKPAM, bukan hanya sekedar syarat UAS

Angka Kredit Penunjang Akademik Mahasiswa …

Hari Jumat, (20/9/19) Staf Angka Kredit Penunjang Akademik Mahasiswa (AKPAM) berkumpul untuk melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor). Rakor ini dihadiri oleh perwakilan Staf AKPAM dari kampus pusat dan seluruh kampus cabang. Acara dilaksanakan di gedung Sirah Nabawi Universitas Darussalam Gontor Kampus Siman. Acara dimulai pukul 07.30.WIB, dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an, dilanjutkan dengan sambutan dan sesi penjelasan.

Sambutan acara disampaikan oleh Al-Ustadz Hasib Amrullah, M.Ud, Direktor Kepengasuhan Universitas Darussalam Gontor. Beliau menyampaikan pesan singkat mengenai jabatan dan amanat. Bahwa pentingnya sesorang bukan dilihat dari jabatan, namun apa yang telah ia kerjakan. Staf tidak hanya sebagai pengurus, namun sekaligus mengemban amanah. Meski kebanyakan amanat terasa sulit harus dijalankan dengan sebaik mungkin.

AKPAM (Angka Kredit Penunjang Akademik Mahasiswi) merupakan hal yang tidak asing lagi bagi para mahasiswa Universitas Darussalam Gontor. AKPAM menjadi salah satu persyaratan mengikuti Ujian Akhir Semester (UAS). Batas skor yang harus dicapai yaitu 200. Mengapa AKPAM menjadi hal yang penting? Dalam sesi penjelasaan, AL-Ustadz Asad Arsya Brilliant Fani, S.M dari bagian BAAK Unida Pusat menjabarkan jawaban atas pertanyaan ini.

Penjelasan SKPI

AKPAM menjadi salah satu komponen yang akan mengisi Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI). SKPI bertujuan menjadi dokumen yang menyatakan kemampuan kerja, penguasaan pengetahuan, dan sikap/ moral pemegang. Hasil skor AKPAM kumulatif dari semester satu hingga semester akhir inilah yang akan mengisi SKPI. Sejak 2018 kemarin, Unida sudah menyertakan SKPI kepada alumninya. Demikian penjelasan Ustadz Asad kepada para mahasiswa-mahasiwi, sembari mempresentasikan materinya dengan power point.

Sesi selanjutnya yaitu penjelasan mengenai SIAKAD Unida. Rencana untuk kedepannya AKPAM akan diinput secara online melalui SIAKAD Unida. Para Staf diberikan pengarahan dan mempraktekan langsung menggunakan notebook masing-masing. Sesi ini sebagai pengenalan sebelum diterapkannya sistem AKPAM  SIAKAD. Selain itu diharapkan untuk dapat disosialisasikan kepada seluruh mahasiswa Unida di masing-masing kampus.

Rakor dilanjutkan dengan penjelasan mengenai sistem input AKPAM manual. Salah satu Staf AKPAM dari kampus Gontor 1 menjelaskan tahapan input dengan media Microsoft Excel. Meski sebagian besar Staf yang hadir adalah Staf lama yang sudah mengenal mekanismenya, namun penjelasan ini perlu agar seluruh staf mampu melaksanakan kewajiaban dengan baik dan sesuai prosedur.

Selanjutnya sharing session yang berisikan Question and Answer (QnA) dan beberapa evaluasi umum. Beberapa pertanyaan dilontarkan oleh pesrta Rakor, dan dijawab bergantian oleh  Ustadz Asad dan para Staf AKPAM Pusat. Seusai QnA, masing-masing Staf dari tiap kampus diberikan waktu untuk menjelaskan mekanisme yang telah diterapkan di kampus masing-masing. Acara ditutup dengan conclusion dan berakhir puku 10.20 WIB.

Setelah diadakannya Rakor ini, diharapkan seluruh Staf AKPAM mampu menyamakan persepsi, meski Unida terdiri dari kampus-kampus yang terpisah. Semoga dapat menjadi evaluasi seluruh kampus agar lebih baik dalam menjalankan tugas. (Salsabila Safri/HI-5)