MAHASISWI HI UNIDA JUARA FAVORIT “ALCOM 2020”

Program studi pendidikan Bahasa Arab mengadakan acara tahunan wajib UNIDA Gontor dengan tajuk ALCOM (Arabic Language Competition) 2020. Kegiatan ini berupa perlombaan yang mengharuskan para pesertanya untuk menggunakan bahasa Arab dalam setiap perlombaan yang diadakan.

Ada 11 cabang lomba yang diperlombakan dalam kompetisi ini. Berikut perlombaannya adalah Ghina ‘Araby, Debat, Tasji’ Lughah, Qul Billughoh, Puisi, Iklan, Orasi, Qiro’atul Akbar, Essay, poster dan Vlog. Kompetisi ini diadakan dengan harapan mampu mewujudkan mahasiswi santri yang muslimah dan Sitti-l-Kull dan berakhlak karimah.

Perlombaaan ini berlangsung selama seminggu, dibuka pada hari Jum’at pagi  di gedung Pascasarjana. Pagi itu para peserta mendapat arahan dari panitia tentang peraturan dan tata tertib perlombaan. Hari berikutnya perlombaan dimulai dengan sportif dan berakhir pada hari Rabu (26/02/2020).

Penutupan ALCOM 2020 diadakan dengan mengundang semua mahasiswi UNIDA yang berpartisipasi dalam acara tersebut. Pengumuman para pemenang pada acara ALCOM 2020 berlangsung meriah dan mendapat partisipasi penuh dari para peserta.

Pada kegiatan yang bergengsi ini, syukur Alhamdulillah mahasiswi HI UNIDA mendapatkan juara favorit. Adapun rincian perlombaan yang diraih adalah Juara 2 Iklan, Juara 3 Puisi, Juara 2 Poster dan Juara 2 sing a song.

Mahasiswi HI UNIDA Gontor Jadi Salah Satu Narasumber International Symposium

Sejumlah Mahasiswa dan Mahasiswi dari berbagai Universitas di Amerika kembali mengunjungi UNIDA Gontor kampus Putri Mantingan. Kedatangan mereka ke UNIDA Gontor ini merupakan salah satu kegiatan dalam Program School of International Training.

Program ini dibentuk untuk mengedukasi para perserta program terkait pendidikan, social budaya, dan keagamaan di Indonesia. Universitas Darussalam Gontor sebagai salah satu lembaga pendidikan yang berbasis pesantren turut berkontribusi untuk memperkenalkan pendidikan berbasis Islam dan dari sudut pandang Islam.

Setelah melewati beberapa rangkaian acara selama kurang lebih 2 hari, sampailah program ini pada puncaknya. Adapun malam puncak dari kegiatan SIT di UNIDA Gontor kampus Putri ialah International Symposium pada Senin, 24 Februari 2020. International Symposium ini diselenggarakan di Aula Pascasarjana lantai 3. Acara ini dihadiri oleh seluruh perserta SIT serta sebagaian mahasiswi UNIDA Gontor yang mengirimkan essay-nya untuk syarat mengahadiri International Symposium.

Miavania, salah satu mahasiswi HI Semester 6 berkesempatan untuk menjadi narasumber dalam International Symposium kali ini. Acara ini mengangkat tema The Role of Women in Education and Socio-Economics. Miavania mengambil studi kasus Women’s Contribution for Economic Growth in Indonesia.

Peran Wanita Menurut Islam

Melalui acara ini, Mia mengawali presentasinya dengan menjelaskan peran wanita menurut Islam. Terdapat 3 peran penting wanita dalam islam, yaitu peran natural, peran domestic, dan peran social.

Pertama, peran natural atau natural duty ialah peran yang hanya bisa dilakukan oleh wanita yang bisa disebut kodrat wanita. Kodrat wanita ini seperti mengandung, melahirkan hingga menyusui dan mendidik anaknya.

Kedua, peran domestik atau domestic duty ialah peran seorang wanita sebagai istri dan orang tua. Di sini, Islam mengajarkan seorang istri untuk menaati seorang suami dalam mengamalkan ajaran Islam. Seorang istri boleh untuk tidak menaati suaminya hanya ketika sang suami melanggar ajaran Islam.

Ketiga, peran sosial atau social duty ialah peran di lingkungan sosial kemasyarakatan yang mencakup aktivitas ekonomi, social budaya, dan masyarakat itu sendiri. Jadi, wanita disini bebas beraktivitas untuk meningkatkan kualitasnya dengan syarat tidak meninggalkan dua peran, natural dan domestic.

Baca Juga:

Kunjungan 19 Mahasiswi Amerika ke UNIDA Gontor Kampus Putri dalam rangka School for International Training (SIT) 2020

Kiprah Wanita Indonesia

Di Indonesia, wanita tidak diberi batasan dalam beraktivitas, khususnya dibidang ekonomi, politik dan social budaya. Hal ini dapat di buktikan dengan banyaknya jumlah wanita Indonesia yang berkontribusi aktif dalam membangun Indonesia. Ada Ibu Megawati Soekarno Putri yang menjabat sebagai mantan Presiden ke-5 RI. Sherly Annavita, sebagai Influencer muda berbakat yang berpikir kritis juga ikut menghiasi panggung politik Indonesia. Selain itu, ada juga Elizabeth Diana, diplomat wanita yang merupakan alumni dari Gontor Putri.

Dalam bidang Ekonomi, ada juga peran dari pengusaha besar seperti Blue Bird Corporation untuk meningkatkan peran wanita di dunia kerja. PT. Blue Bird ini berhasil meluncurkan buku dengan judul Kartini Blue Bird: The Spirit of Emak-Emak. Selain itu, PT. Blue Bird juga membentuk program bernama Kartini Blue Bird (KBB). Program ini memberikan kesempatan kepada para wanita untuk memperoleh pelatihan dalam bidang tata-boga, menjahit, serta pendidikan untuk mengembankan bisnis.

Diharapkan dari acara ini bisa memotivasi para mahasiswi, khususnya mahasiswi HI untuk terus berprestasi. Berprestasi dalam bidang akademik dan non-akademik, seperti yang dilakukan oleh saudari Miavania. Kepercayaan diri dan penguasaan Bahasa Inggris yang dimiliki Miavania inilah yang mengantarkannya untuk menjadi narasumber dalam acara International Symposium.

Penulis: Darmelia dan Miavania

INTERNATIONAL RELATIONS DAY: PERAN SANTRI SEBAGAI AGEN DIPLOMASI

Diplomat, sebuah istilah yang identik dengan seseorang yang ditunjuk oleh negara untuk melakukan diplomasi dengan negara lain atau organisasi internasional. Ia mengemban amanat besar untuk mempresentasikan citra tanah airnya dan melindungi kepentingan warga negaranya yang berada di teritori negara lain. Hal terpenting sebagai diplomat adalah bagaimana wujud pengabdiannya kepada negara yang mewajibkannya untuk memiliki mental kuat dalam menghadapai tantangan apapun.

Salah satu kemampuan yang harus dimiliki diplomat adalah pandai bercakap-cakap dengan berbagai macam bahasa internasional terutama 5 bahasa Perserikatan Bangsa-Bangsa. Hal inilah yang telah memotivasi santri yang sudah mendalami belajar bahasa asing dan  pengetahuan dalam negeri dan luar negeri.

Hal tersebut menunjukkan bahwa diplomat memiliki benang merah dengan seorang santri terutama dalam hal tempaan akhlak, mental, pendidikan dan pengalamannya.  Diplomat dan santri telah menjelma sebagai salah satu harapan bangsa untuk dapat membawa perubahan negara ke arah yang lebih baik.

Oleh karena itu, seorang alumni Pondok Modern Darussalam Gontor, al-Ustadz Muhammad Aji Surya telah berkenan untuk berbagi ilmu dan pengalamannya. IRD 2020 merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh HMP-HI UNIDA Gontor di Aula Kulliyyatu-l-Banat Gontor Putri Kampus 1, Rabu (26/01/20).

Kuliah Umum International Relations Day tahun 2020 kali ini telah mengangakat tema “Peluang dan Tantangan Santri Sebagai Agen Diplomasi Internasional”. Acara ini dihadiri oleh para dosen Hubungan Internasional UNIDA Gontor serta peserta kuliah umum yang hadir dari berbagai program studi.

Adapun al-Ustadzah Ida Susilowati, M.A. merupakan moderator pada kuliah umum ini dan mengenalkan Ustadz Aji kepada para peserta sebagai permulaan. Beliau mengawali karir sebagai seorang jurnalis di Koran Tempo dilanjutkan dengan amanat sebagai seorang Dubes perwakilan RI di berbagai negara. Adapun negara yang beliau lindungi WNI-nya ialah Jerman, Perancis, Rusia, Korea Selatan dan saat ini beliau tengah bertugas di Mesir.

Menjadi diplomat dan TKI itu sama-sama berjasanya untuk negara, bukanlah menjadi sesuatu yang wah namun tidak juga bisa dibilang sederhana. Banyak perspektif yang salah bahwa diplomat identik dengan hal jalan-jalan, namun lebih dari itu, diplomat memiliki banyak tantangan besar tersendiri.

Pakde Aji
Pakde Aji
Memahami Pekerjaan Diplomasi

Seorang diplomat diharapkan mampu memahami daerah yang menjadi tugasnya, memahami negara yang diwakilinya, memiliki inisiatif untuk menjalankan tugas dengan baik. Tidak hanya itu, ia juga dituntut untuk menyelesaikan konflik dan menjembatani peran negara di bidang sosial, ekonomi, politik, dan keamanan.

Beberapa tugas utama pekerjaan diplomasi menurut Pasal 3 Konvensi Wina tahun 1961 yakni protecting, negotiating, representing, reporting dan juga promoting. Adapun persyaratan umum internasional yang harus dipenuhi untuk menjadi seorang diplomat papan atas yakni smart, suka membaca dan terakhir, fleksibel.

Tidak hanya itu, beberapa proses menjadi diplomat Indonesia yakni seleksi administrasi, kompetensi dasar, kompetensi bidang, tes kesehatan juga tes psikologi. Adapun untuk seleksi tahap ketiga yaitu seleksi kompetensi bidang meliputi lulus tes Bahasa, ujian tulis substansi, ujian essay dan wawancara. Tidak sedikit dari calon diplomat yang gagal untuk melewati seleksi tahap 4 dan ternyata lebih cocok untuk menjadi seorang dosen.

Kekuatan Santri Diplomat

Santri memiliki banyak kekuatan yang bersemayam dalam jiwa raganya seperti dalam hal protecting yakni ikhlas, loyal, berbadan sehat dan tangguh. Adapun dari sisi reporting yang dimiliki oleh seorang santri yakni selalu berakhlak jujur, amanah, memiliki kecepatan, ketepatan dan juga ketekunan.

Demikian merupakan paparan dari Pakde Aji, sapaan akrab Ustadz Aji Surya mengenai pengalaman, tips dan trik beliau untuk menjadi diplomat. Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi Question and Answer (QnA) antara narasumber, dosen dan mahasiswi yang hadir dilanjutkan dengan perfotoan bersama.

Masih yakin mau jadi diplomat? Tentukan pilihanmu dan persiapkan dari sekarang!

Besar harapan setelah IRD ini, mahasiswi UNIDA Gontor bisa lebih percaya diri untuk  menentukan pilihan hidupnya tanpa melupakan tugas utamanya. Maka untuk menggapai cita-cita tersebut dibutuhkan persiapan yang matang dan harus selalu mengutamakan kewajibannya baik sebagai seorang perempuan maupun muslimah.

Maka dari itu, al-Ustadzah Ida Susilowati menyimpulkan bahwa apapun sesuatu yang kita pilih harus selalu diniatkan untuk ibadah dan dakwah. Oleh karena itu, tidak diragukan lagi bahwa kehidupan pesantren telah memberikan santri hikmah besar yang bisa diamalkan untuk kemaslahatan bangsa.

Seorang perempuan dibolehkan untuk menjadi ahli sosial-ekonomi dengan syarat tanpa melupakan kewajiban utamanya dalam hal natural duty dan domestic duty. Beliau juga menambahkan bahwa diplomat memiliki peran yang tidak berbeda dengan tentara karena sama-sama mengabdi dan mewujudkan kepentingan tanah air.

 

Mengenal Centre for Strategic and International Studies

Sebagai akademisi, para mahasiswi Hubungan Internasional UNIDA Gontor tidak hanya berkutat terkait praktisi diplomasi namun juga sebagai seorang ahli strategi. Kesempatan belajar tersebut berlangsung di Kantor Pusat Studi Strategis Internasional Indonesia, Gedung Pakarti Centre, Tanah Abang tepatnya pada Jum’at (14/01). Lembaga yang berdiri sejak September 1971 silam ini adalah sebuah badan pemikir atau think tank yang berfokus pada orientasi kebijakan.

Peran Centre for Strategic and International Studies

CSIS memiliki 3 departemen yakni Departemen Hubungan Internasional, Departemen Politik – Sosial dan Departemen Ekonomi yang masing-masing memiliki tujuh peneliti. Uniknya, lembaga ini mengabdi kepada negara secara mandiri atau independen tanpa terikat dengan salah satu instansi dan kepentingan pihak manapun.

Beberapa peran CSIS adalah menjadi bahan pemikir yang berorientasi pada kebijakan, melaksanakan clearing house bagi cendikiawan dan mengadakan penjabaran pendidikan. Tidak hanya itu, CSIS juga berperan secara langsung dalam menganalisis pemikiran untuk semua kalangan baik masyarakat maupun elit tanpa terkecuali.

Berbagai monograf, jurnal, buku dan publikasi ilmiah karya para peneliti telah diterbitkan CSIS baik kedalam Bahasa Inggris maupun Bahasa Indonesia. Selain kegiatan publikasi jurnal ilmiah, CSIS juga memberikan sumbangsih berupa kliping peristiwa dan juga diskusi ilmiah melalui ceramah, seminar, konferensi.

Pusat strategi tersebut memang memilki kegiatan penelitian dan program yang sangat aktif ditambah dengan kualitas kajian dan kapablitas para penelitinya. Tidak mengherankan bahwa CSIS pernah dinobatkan sebagai lembaga think tank terdepan di regional ASEAN dan Pasifik dalam beberapa tahun terakhir.

Dialog dengan Sang Ahli Peneliti Departemen Hubungan Internasional

Para mahasiswi HI semester 6 disambut langsung oleh Bapak Andrew Mantong dan Bapak Gilang Kembara sebagai peneliti Departemen HI CSIS. Pak Andrew melihat bahwa fokus dunia dewasa ini telah berubah yakni berpindahnya haluan global kepada peperangan atas kepentingan antara negara-negara. ‎

Dahulu, dunia hanya ditandai dengan dominasi unilateral yang dalam perkembangan selanjutnya, kekuasaan ‎bipolar menjadi fenomena persaingan kekuatan terbesar di dunia.‎ Dewasa ini, manusia lebih menerima dengan tangan terbuka kerjasama urusan jangka panjang dan cenderung egois dalam mencapai tujuan jangka pendek.

Dosen HI Universitas Indonesia tersebut menambahkan bahwa saat ini fenomena  globalisasi akan semakin berkembang pesat dan tidak dapat dihindari pergerakannya. Isu globalisasi mampu memengaruhi kegiatan industri yang berakibat rentan terhadap perubahan struktur ekonomi dunia seperti halnya kegiatan industri Amerika Serikat.

Dewasa ini, globalisasi memengaruhi kondisi Amerika yang dibuktikan dengan hampir tidak ada industri besar yang bertempat di tanah Indian tersebut. Sebagian besar pabrik raksasa milik pemerintah dan pengusaha USA tersebut telah ditempatkan di luar kawasan Amerika, seperti di benua Asia.

CSIS

Jika Pak Andrew lebih melihat kondisi dunia dari sisi teoritis, lain halnya dengan Pak Gilang yang condong pada sisi praktikal. Beliau lebih mengedepankan resolusi konflik dengan tiga isu utama yakni terorisme, women peace and security, juga dukungan Indonesia untuk Palestina.

Berbicara soal resolusi konflik, Indonesia lebih condong pada sektor regional yang tidak bisa ‎dilepaskan dari regional Asia Tenggara atau ASEAN. ASEAN diharapkan mampu meredam konflik wilayah dengan cara yang lebih damai ditambah ‎dengan pembinaan kawasan dan pengembangan kerjasama diluar regional.

Tipe pemerintahan setiap negara anggota ASEAN tersebut sangat ‎bervariasi dan secara bersamaan mampu memengaruhi hubungan national interest dengan collective ‎goods. Berangkat dari hal itu, tercerminlah bahwa ASEAN berperan sebagai ‎penengah atas berbagai macam pandangan demi menjaga sentralitas di Asia Tenggara.

Koordinator ASEAN juga  sangat berjasa dalam menyambung hubungan dilomatik dan kerjasama yang baik dengan wilayah regional di belahan dunia lainnya. Oleh karena itu, ASEAN dipercaya mampu meredam konflik dan mengurangi biaya penjagaan perdamian mengingat ongkos perbaikan konflik sangatlah mahal. ‎

Nalar Ajar Terusan Budi

Dilain sisi, lembaga penelitian dan strategi ini juga sangat terbuka bagi mereka yang ingin melaksanakan program magang dan fellownya. Untuk mendukung lancarnya penelitian, CSIS juga menyediakan fasilitas lainnya seperti perpustakaan dengan buku dan publikasi ilmiah yang cukup lengkap.

Perpustakaan yang dibuka untuk umum tersebut sengaja disediakan agar bisa dinikmati tidak hanya untuk para peneliti namun juga untuk masyarakat. Meskipun buku tersebut hanya dapat dibaca langsung oleh para pembaca di tempat, namun CSIS telah menyediakan pelayanan fotokopi sebagai solusinya.

Sebagai lembaga paling berpegaruh di tingkat internasional, CSIS juga sangat mengapresiasi tradisi intelektual yang diperankan oleh peneliti generasi muda Indonesia. Tidak mengherankan jika banyak calon ilmuan yang bekerjasama dengan lembaga penelitian strategi bergengsi ini untuk kemajuan Indonesia yang lebih baik.

 

Mengunjungi Sang Pembela Hak Perempuan

Kamis (13/02/20) Mahasiswi Hubungan Internasional UNIDA Gontor mengunjungi Kantor Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan). Kunjungan tersebut merupakan rentetan dari acara Studi Akademik 2020 bagi Mahasiswi HI Semester 6 dengan tujuan ibukota Jakarta.

Instansi yang beralamat di Jl. Latuharhary No.4B, Menteng, Jakarta Pusat merupakan objek ketiga dari empat institusi tujuan para mahasiswi. Pukul 13.00 WIB rombongan telah disambut oleh Staf Komnas Perempuan, dilanjutkan dengan meeting session di aula Komnas Perempuan.

Meeting session dan perkenalan mengenai Komnas Perempuan disampaikan oleh tiga narasumber utama. Mereka adalah Alimatul Qibtiyah, dari bagain akademisi, Nahe’I MHI, seorang Kyai, dan Olivia Chadidjah Salampessy, seorang politisi mantan walikota Ambon. Komnas Perempuan merupakan lembaga yang menerapkan Paris Principle, yaitu lembaga dengan anggota yang memiliki latar belakang yang beragam. Ketiga narasumber tersebut adalah contoh aktualisasi prinsip tersebut.

Alimah menyampaikan bahwa Komnas Perempuan adalah lembaga negara yang independen untuk menegakkan hak asasi manusia perempuan Indonesia. Lembaga ini sejenis  dengan Komisi Nasional Perlindungan Hak Asasi Manusia, dan Komisi Nasional Perlindungan Anak. Bahkan ketiga lembaga tersebut sering disebut sebagai tiga bersaudara. Lokasi Komnas HAM sendiri bersebelahan dengan Komnas Perempuan.

Sejarah Komnas Perempuan

Komnas Perempuan lahir ketika terjadi diskriminasi perempuan pada masa Reformasi, Oktober 1998. Masyarakat sipil menuntut keadilan dan tanggung jawab negara atas perlakuan terhadap perempuan yang tidak manusiawi. Kasus-kasus kekerasan seksual terjadi di kota-kota besar di Indonesia dengan menjadikan perempuan sebagai korban, khususnya etnis Tionghoa.

Tuntutan masyarakat tersebut akhirnya didengar oleh pemerintah Indonesia, dan terbentuklah Komnas Perempuan melalui Keputusan Presiden No. 181 Tahun 1998. Komnas Perempuan kemudian tumbuh menjadi salah satu Lembaga Nasional Hak Asasi Manusia (LNHAM). Terbentuknya lembaga ini merupakan wujud usaha pemerintah dalam meneguhkan dan mengembangkan HAM terhadap perempuan, serta menghapuskan kekerasan terhadap perempuan.

Peran, Tugas, dan Cara Kerja

Komnas Perempuan memiliki peran sebagai pemantau dan pelapor tentang pelanggaran HAM berbasis gender dan kondisi pemenuhan hak perempuan. Selain itu, lembaga ini juga berperan sebagai pusat pengetahuan (resource centre) tentang hak asasi perempuan. Komnas Perempuan turut andil merumuskan kebijakan negara, serta menjadi negosiator dan mediator antara pemerintah dengan komunitas korban/  pejuang hak perempuan.

Tugas selanjutnya yaitu sebagai fasilitator pengembangan dan penguatan jaringan di tingkat lokal, nasional, regional dan internasional. Hal ini bertujuan untuk kepentingan pencegahan, peningkatan kapasitas penanganan dan penghapusan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan.

Dalam Komnas Perempuan terdapat beberapa mekanisme dalam menjalankan tugasnya. Komnas Perempuan tidak membuka kantor cabang, hanya berada di ibukota. Hal ini dikarenakan lembaga tersebut memiliki peran mengkritik dan memberikan apresiasi kepada pemerintah mengenai hal-hal terkait HAM Perempuan.

Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan
Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan
kiprah Sang Pembela Hak Asasi Perempuan

Tidak hanya itu, lembaga ini juga aktif mengembangkan dan menguatkan jaringan lokal maupun nasional, melalui dukungan berupa finansial dan berbagai aspek lain. Komnas Perempuan memang bertugas membela hak-hak perempuan, namun lembaga ini tidak mendampingi atau melayani keluhan atau pengaduan secara langsung. Segala bentuk pengaduan akan dirujuk kepada mitra Komnas Perempuan (psikolog, pakar hukum, pengacara dll). Pengaduan dapat melalui telepon, email, ataupun mendatangi langsung Kantor Komnas Perempuan

Sebelum pertemuan ditutup, para mahasiswi dipersilahkan bertanya kepada para narasumber. Beberapa mahasiswi melontarkan pertanyaan-pertanyaan seputar penjelasan yang telah disampaikan, dan dijawab bergantian oleh tiga staf Komnas Perempuan tersebut. Salah satu pertanyaan yaitu seputar kontribusi Komnas Perempuan dalam aktifitas pebelaan Hak Asasi Perempuan di tingkat Internasional.

Komnas Perempuan tahun ini telah mengirim tiga delegasi untuk mengikuti acara di New York, yang bertema pembelaan HAM perempuan. Kiprah Komnas Perempuan terbukti melalui berbagai aktifitas tahunan maupun harian. Seperti Kampanye Pundi Perempuan, Mari Bicara Kebenaran, Kampanye Bhineka Tunggal Ika, dan berbagai acara lain di tingkat lokal dan internasional.

Acara ditutup dengan sesi penyerahan cinderamata dan perfotoan bersama. Diharapkan kunjungan ini mampu menyadarkan kita, bahwa perempuan memiliki hak yang perlu dilindungi, aga kekerasan apapun terhadap perempuan dapat terhapuskan. Semoga mahasiswi-mahasiswi di masa yang akan datang mampu memegang tegus dan mewujudkan cita-cita tersebut.

 

Penulis: Salsabila Safri Fitriani (HI-6)