Mengenal Centre for Strategic and International Studies

Sebagai akademisi, para mahasiswi Hubungan Internasional UNIDA Gontor tidak hanya berkutat terkait praktisi diplomasi namun juga sebagai seorang ahli strategi. Kesempatan belajar tersebut berlangsung di Kantor Pusat Studi Strategis Internasional Indonesia, Gedung Pakarti Centre, Tanah Abang tepatnya pada Jum’at (14/01). Lembaga yang berdiri sejak September 1971 silam ini adalah sebuah badan pemikir atau think tank yang berfokus pada orientasi kebijakan.

Peran Centre for Strategic and International Studies

CSIS memiliki 3 departemen yakni Departemen Hubungan Internasional, Departemen Politik – Sosial dan Departemen Ekonomi yang masing-masing memiliki tujuh peneliti. Uniknya, lembaga ini mengabdi kepada negara secara mandiri atau independen tanpa terikat dengan salah satu instansi dan kepentingan pihak manapun.

Beberapa peran CSIS adalah menjadi bahan pemikir yang berorientasi pada kebijakan, melaksanakan clearing house bagi cendikiawan dan mengadakan penjabaran pendidikan. Tidak hanya itu, CSIS juga berperan secara langsung dalam menganalisis pemikiran untuk semua kalangan baik masyarakat maupun elit tanpa terkecuali.

Berbagai monograf, jurnal, buku dan publikasi ilmiah karya para peneliti telah diterbitkan CSIS baik kedalam Bahasa Inggris maupun Bahasa Indonesia. Selain kegiatan publikasi jurnal ilmiah, CSIS juga memberikan sumbangsih berupa kliping peristiwa dan juga diskusi ilmiah melalui ceramah, seminar, konferensi.

Pusat strategi tersebut memang memilki kegiatan penelitian dan program yang sangat aktif ditambah dengan kualitas kajian dan kapablitas para penelitinya. Tidak mengherankan bahwa CSIS pernah dinobatkan sebagai lembaga think tank terdepan di regional ASEAN dan Pasifik dalam beberapa tahun terakhir.

Dialog dengan Sang Ahli Peneliti Departemen Hubungan Internasional

Para mahasiswi HI semester 6 disambut langsung oleh Bapak Andrew Mantong dan Bapak Gilang Kembara sebagai peneliti Departemen HI CSIS. Pak Andrew melihat bahwa fokus dunia dewasa ini telah berubah yakni berpindahnya haluan global kepada peperangan atas kepentingan antara negara-negara. ‎

Dahulu, dunia hanya ditandai dengan dominasi unilateral yang dalam perkembangan selanjutnya, kekuasaan ‎bipolar menjadi fenomena persaingan kekuatan terbesar di dunia.‎ Dewasa ini, manusia lebih menerima dengan tangan terbuka kerjasama urusan jangka panjang dan cenderung egois dalam mencapai tujuan jangka pendek.

Dosen HI Universitas Indonesia tersebut menambahkan bahwa saat ini fenomena  globalisasi akan semakin berkembang pesat dan tidak dapat dihindari pergerakannya. Isu globalisasi mampu memengaruhi kegiatan industri yang berakibat rentan terhadap perubahan struktur ekonomi dunia seperti halnya kegiatan industri Amerika Serikat.

Dewasa ini, globalisasi memengaruhi kondisi Amerika yang dibuktikan dengan hampir tidak ada industri besar yang bertempat di tanah Indian tersebut. Sebagian besar pabrik raksasa milik pemerintah dan pengusaha USA tersebut telah ditempatkan di luar kawasan Amerika, seperti di benua Asia.

CSIS

Jika Pak Andrew lebih melihat kondisi dunia dari sisi teoritis, lain halnya dengan Pak Gilang yang condong pada sisi praktikal. Beliau lebih mengedepankan resolusi konflik dengan tiga isu utama yakni terorisme, women peace and security, juga dukungan Indonesia untuk Palestina.

Berbicara soal resolusi konflik, Indonesia lebih condong pada sektor regional yang tidak bisa ‎dilepaskan dari regional Asia Tenggara atau ASEAN. ASEAN diharapkan mampu meredam konflik wilayah dengan cara yang lebih damai ditambah ‎dengan pembinaan kawasan dan pengembangan kerjasama diluar regional.

Tipe pemerintahan setiap negara anggota ASEAN tersebut sangat ‎bervariasi dan secara bersamaan mampu memengaruhi hubungan national interest dengan collective ‎goods. Berangkat dari hal itu, tercerminlah bahwa ASEAN berperan sebagai ‎penengah atas berbagai macam pandangan demi menjaga sentralitas di Asia Tenggara.

Koordinator ASEAN juga  sangat berjasa dalam menyambung hubungan dilomatik dan kerjasama yang baik dengan wilayah regional di belahan dunia lainnya. Oleh karena itu, ASEAN dipercaya mampu meredam konflik dan mengurangi biaya penjagaan perdamian mengingat ongkos perbaikan konflik sangatlah mahal. ‎

Nalar Ajar Terusan Budi

Dilain sisi, lembaga penelitian dan strategi ini juga sangat terbuka bagi mereka yang ingin melaksanakan program magang dan fellownya. Untuk mendukung lancarnya penelitian, CSIS juga menyediakan fasilitas lainnya seperti perpustakaan dengan buku dan publikasi ilmiah yang cukup lengkap.

Perpustakaan yang dibuka untuk umum tersebut sengaja disediakan agar bisa dinikmati tidak hanya untuk para peneliti namun juga untuk masyarakat. Meskipun buku tersebut hanya dapat dibaca langsung oleh para pembaca di tempat, namun CSIS telah menyediakan pelayanan fotokopi sebagai solusinya.

Sebagai lembaga paling berpegaruh di tingkat internasional, CSIS juga sangat mengapresiasi tradisi intelektual yang diperankan oleh peneliti generasi muda Indonesia. Tidak mengherankan jika banyak calon ilmuan yang bekerjasama dengan lembaga penelitian strategi bergengsi ini untuk kemajuan Indonesia yang lebih baik.

 

Mengunjungi Sang Pembela Hak Perempuan

Kamis (13/02/20) Mahasiswi Hubungan Internasional UNIDA Gontor mengunjungi Kantor Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan). Kunjungan tersebut merupakan rentetan dari acara Studi Akademik 2020 bagi Mahasiswi HI Semester 6 dengan tujuan ibukota Jakarta.

Instansi yang beralamat di Jl. Latuharhary No.4B, Menteng, Jakarta Pusat merupakan objek ketiga dari empat institusi tujuan para mahasiswi. Pukul 13.00 WIB rombongan telah disambut oleh Staf Komnas Perempuan, dilanjutkan dengan meeting session di aula Komnas Perempuan.

Meeting session dan perkenalan mengenai Komnas Perempuan disampaikan oleh tiga narasumber utama. Mereka adalah Alimatul Qibtiyah, dari bagain akademisi, Nahe’I MHI, seorang Kyai, dan Olivia Chadidjah Salampessy, seorang politisi mantan walikota Ambon. Komnas Perempuan merupakan lembaga yang menerapkan Paris Principle, yaitu lembaga dengan anggota yang memiliki latar belakang yang beragam. Ketiga narasumber tersebut adalah contoh aktualisasi prinsip tersebut.

Alimah menyampaikan bahwa Komnas Perempuan adalah lembaga negara yang independen untuk menegakkan hak asasi manusia perempuan Indonesia. Lembaga ini sejenis  dengan Komisi Nasional Perlindungan Hak Asasi Manusia, dan Komisi Nasional Perlindungan Anak. Bahkan ketiga lembaga tersebut sering disebut sebagai tiga bersaudara. Lokasi Komnas HAM sendiri bersebelahan dengan Komnas Perempuan.

Sejarah Komnas Perempuan

Komnas Perempuan lahir ketika terjadi diskriminasi perempuan pada masa Reformasi, Oktober 1998. Masyarakat sipil menuntut keadilan dan tanggung jawab negara atas perlakuan terhadap perempuan yang tidak manusiawi. Kasus-kasus kekerasan seksual terjadi di kota-kota besar di Indonesia dengan menjadikan perempuan sebagai korban, khususnya etnis Tionghoa.

Tuntutan masyarakat tersebut akhirnya didengar oleh pemerintah Indonesia, dan terbentuklah Komnas Perempuan melalui Keputusan Presiden No. 181 Tahun 1998. Komnas Perempuan kemudian tumbuh menjadi salah satu Lembaga Nasional Hak Asasi Manusia (LNHAM). Terbentuknya lembaga ini merupakan wujud usaha pemerintah dalam meneguhkan dan mengembangkan HAM terhadap perempuan, serta menghapuskan kekerasan terhadap perempuan.

Peran, Tugas, dan Cara Kerja

Komnas Perempuan memiliki peran sebagai pemantau dan pelapor tentang pelanggaran HAM berbasis gender dan kondisi pemenuhan hak perempuan. Selain itu, lembaga ini juga berperan sebagai pusat pengetahuan (resource centre) tentang hak asasi perempuan. Komnas Perempuan turut andil merumuskan kebijakan negara, serta menjadi negosiator dan mediator antara pemerintah dengan komunitas korban/  pejuang hak perempuan.

Tugas selanjutnya yaitu sebagai fasilitator pengembangan dan penguatan jaringan di tingkat lokal, nasional, regional dan internasional. Hal ini bertujuan untuk kepentingan pencegahan, peningkatan kapasitas penanganan dan penghapusan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan.

Dalam Komnas Perempuan terdapat beberapa mekanisme dalam menjalankan tugasnya. Komnas Perempuan tidak membuka kantor cabang, hanya berada di ibukota. Hal ini dikarenakan lembaga tersebut memiliki peran mengkritik dan memberikan apresiasi kepada pemerintah mengenai hal-hal terkait HAM Perempuan.

Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan
Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan
kiprah Sang Pembela Hak Asasi Perempuan

Tidak hanya itu, lembaga ini juga aktif mengembangkan dan menguatkan jaringan lokal maupun nasional, melalui dukungan berupa finansial dan berbagai aspek lain. Komnas Perempuan memang bertugas membela hak-hak perempuan, namun lembaga ini tidak mendampingi atau melayani keluhan atau pengaduan secara langsung. Segala bentuk pengaduan akan dirujuk kepada mitra Komnas Perempuan (psikolog, pakar hukum, pengacara dll). Pengaduan dapat melalui telepon, email, ataupun mendatangi langsung Kantor Komnas Perempuan

Sebelum pertemuan ditutup, para mahasiswi dipersilahkan bertanya kepada para narasumber. Beberapa mahasiswi melontarkan pertanyaan-pertanyaan seputar penjelasan yang telah disampaikan, dan dijawab bergantian oleh tiga staf Komnas Perempuan tersebut. Salah satu pertanyaan yaitu seputar kontribusi Komnas Perempuan dalam aktifitas pebelaan Hak Asasi Perempuan di tingkat Internasional.

Komnas Perempuan tahun ini telah mengirim tiga delegasi untuk mengikuti acara di New York, yang bertema pembelaan HAM perempuan. Kiprah Komnas Perempuan terbukti melalui berbagai aktifitas tahunan maupun harian. Seperti Kampanye Pundi Perempuan, Mari Bicara Kebenaran, Kampanye Bhineka Tunggal Ika, dan berbagai acara lain di tingkat lokal dan internasional.

Acara ditutup dengan sesi penyerahan cinderamata dan perfotoan bersama. Diharapkan kunjungan ini mampu menyadarkan kita, bahwa perempuan memiliki hak yang perlu dilindungi, aga kekerasan apapun terhadap perempuan dapat terhapuskan. Semoga mahasiswi-mahasiswi di masa yang akan datang mampu memegang tegus dan mewujudkan cita-cita tersebut.

 

Penulis: Salsabila Safri Fitriani (HI-6)

Cerita dari UN Resident Coordinator in Indonesia

Hilir mudik kendaraan pagi hari khas kota megapolitan Jakarta telah mengiringi ‎perjalanan mahasiswi HI ke ‎kantor perwakilan UN di Indonesia. Kali ini, mereka berkesempatan emas untuk menyambangi kantor ‎perwakilan PBB di Indonesia atau the Resident Coordinator Office of United ‎Nations.‎ Mereka banyak memanen ilmu dari staf UNIC atau United Nations Information Centres tepatnya di Gedung Thamrin lantai 7, Kamis (13/02/20).

Sekilas tentang UNDSS

Jika penumpang pesawat mendapatkan sesi safety briefing oleh pramugari, maka ‎para mahasiswi juga mendapatkan sesi tersebut dari staf keamanan Residen PBB. ‎Sosialisasi mengenai “Safety Briefing for UN Visitor in UN Offices at Menara ‎Thamrin” tersebut berlangsung sebelum acara inti kunjungan dimulai. ‎
Sebagai lembaga perwakilan PBB, UNDSS (United Nations Departmen of Safety ‎and Security) selalu menyediakan pelayanan keamanan dan keselamatan secara ‎profesional.

Lembaga ini sengaja ditugaskan untuk mengelola riset dan jaringan ‎koordinator dengan mandatnya untuk melindungi seluruh personel PBB di seluruh ‎dunia. Safety briefing tersebut disampaikan langsung oleh kepala keamanan ‎Kantor PBB demi menghindari keadaan genting seperti halnya gempa bumi dan ‎kebakaran.‎

Mandat Misi Perdamaian Dunia ‎

Perserikatan Bangsa-Bangsa berdiri sebagai tonggak baru pencipta perdamaian ‎dunia dan menggantikan posisi LBB yang dianggap telah gagal melaksanakan ‎mandat perdamiannya. PBB telah berdiri sejak 26 Juni 1945 dan diresmikan pada ‎‎24 Oktober 1945 di San Fransisko, United State of America. ‎

Adapun lima mandat PBB adalah memelihara perdamaian internasional, ‎melindungi keamanan manusia, menyampaikan kemananusiaan, mempromosikan ‎pembangunan berkelanjutan dan mempertegas hukum internasional.‎

Hingga saat ini, sebanyak 193 negara telah tercatat sebagai negara anggota PBB ‎dengan lebih dari 24 perwakilan di beberapa daerah. Tidak hanya itu, UN Office ‎juga telah berada hampir di setiap negara anggota PBB seperti halnya UNIC di ‎Ibukota Jakarta. ‎Staf PBB sendiri telah mencapai angka 44.000 jiwa pegawai dari seluruh ‎penduduk dunia yang tersebar di berbagai negara anggota PBB.

Dilain sisi, ‎sebanyak 97.000 orang telah tercatat sebagai pasukan keamanan yang ‎mengabdikan dirinya sebagai agen peacekeeper demi melindungi stabilisasi dunia. ‎Seluruh kelengkapan UN tersebut dipimpin oleh Antonio Guterres sebagai ‎Secretary General yang mendapatkan amanat besar sebagai aktor utama dan ‎representator.‎

United Nations dan Indonesia

Indonesia yang berpopulasi lebih dari 250 juta jiwa ini telah menjadi anggota UN ‎ke 60 sejak 28 September 1950 silam. Saat ini dan esok, UN dan Indonesia selalu ‎berkomitmen untuk bekerjasama dalam mencapai tujaun Sustainable Development ‎Goals (SDGs) hingga 2030.‎

Sejak tahun 1950 tersebut, Indonesia juga sangat berjasa sebagai kontributor ‎terbesar ke-8 untuk operasi penjaga perdamian dunia atau UN Peacekeeping. ‎Disamping itu, Indonesia juga telah aktif dalam upaya membantu memulihkan ‎keadaan bencana baik di wilayah regional maupun di tingkat internasional.‎

Saat ini, negara dengan lebih dari 17.508 pulau ini telah dimandati dunia sebagai ‎Dewan Keamanan Tidak Tetap PBB tahun 2019-2020. Oleh karena itu, tidak ‎mengherankan bahwa Indonesia selalu berupaya dalam mengaktifkan 23 lembaga ‎PBB di Indonesia dalam mewujudkan mandatnya masing-masing.‎

Shaping Our Future Together

Bagi sebuah negara yang aktif bergerak seperti Indonesia, tentu saja memiliki ‎banyak rintangan dalam mewujudkan 17 sasaran tujuan SDGs 2030. Namun, hal ‎tersebut tentu saja tidak lantas membuat negara Indonesia menjadi pesimis dan ‎berkecil hati dalam mewujudkan cita-cita mulia tersebut. Maka dari itu, marilah ‎kita bergerak bersama dalam mewujudkan komitmen pembangunan berkelanjutan ‎hingga terciptanya dunia bebas kemiskinan di tahun 2030. ‎

‎“We’re counting on you! Karena tanpa kontribusi kita, tujuan SDGs hanyalah ‎mimpi belaka”‎

Kementerian Perdagangan Jadi Sumur Ilmu Mahasiswi UNIDA Gontor

Kementerian Perdagangan menjadi salah satu tujuan utama untuk pelaksanaan Studi Akademik Mahasiswi HI semester 6. Dalam Progam Studi Hubungan Internasional UNIDA Gontor, terdapat dua konsentrasi yang diadopsi, yaitu Studi Keamanan Global dan Bisnis Internasional. Untuk membantu penguasaan kedua konsentrasi tersebut, dilaksanakanlah Studi Akademik (SA) ke berbagai Instansi Pemerintah. Pada kesempatan ini, mahasiswi HI 6 berkesempatan untuk melaksanakan Studi Akademik ke Kementerian Perdagangan Republik Indonesia (Kemendag). Kunjungan pertama ini berlangsung pada 12 Februari 2020.

SA semester 6 yang didampingi oleh Usth. Novi Rizka dan Usth. Afni disambut baik oleh pihak Kemendag. Sambutan diberikan oleh Ibu Sri Nastiti, selaku Sekertaris Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan Internasional (BPPPI). Dalam sambutan tersebut Ibu Nastiti menjelalaskan sedikit mengenai Kementerian Perdagangan. Kemendag merupakan kementerian dalam Pemerintah Indonesia yang membidangi urusan perdagangan. Target sasaran kabinet pada tahun ini ialah menstabilkan harga serta meningkatkan ekspor dan mengamankan/meminimalkan impor. Sementara BPPPI merupakan merupakan pendukung unit-unit yang membantu didalam Kementerian Perdagangan. BPPPI ini tidak merumuskan suatu kebijakan, melainkan pihak yang merekomendasikan/mengusulkan kebijakan.

Setelah sambutan selesai dilanjutkan dengan kuliah umum oleh Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan, Bapak Djatmiko Bris Witjaksono, S.E., MSIE. Beliau disini menyampaikan mengenai kinerja perdagangan luar negeri Indonesia dan kebijakan Kementrian Perdagangan.

Bapak Djatmiko
Bapak Djatmiko
Perkembangan Makro Ekonomi Global

Indonesia merupakan salah satu negara yang mempraktikan ekonomi terbuka, yang mana saling mempengaruhi dan dipengaruhi oleh pihak eksternal dan internal, namun tingkatnya berbeda-beda. Jika membahas mengenai makro ekonomi, maka tak akan jauh-jauh dengan interdependensi yang terjadi antara negara-negara. Tetapi, kenyataannya kinerja ekonomi dan perdagangan global saat ini sedang melambat.

Pertumbuhan ekonomi dunia mengalami perlambatan, di mana pada tahun 2019 diperkirakan hanya tumbuh 2,9%, dari sebelumnya 3,6% pada tahun 2018. Pertumbuhan volume perdagangan dunia yang meliputi barang dan jasa juga mengalami penurunan. Pada tahun 2019 dikoreksi dari 1,1% menjadi 1,0% pada Januari 2020. Namun demikian, di awal 2020 sebelum adanya wabah virus Corona, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia akan mengalami perbaikan menjadi 3,3%. Serta, volume perdagangan dunia menjadi 2,9%.

Selain itu, kinerja perdagangan beberapa negara juga mengalami penurunan. Dengan kata lain, neraca perdagangan di berbagai negara pada tahun 2019 mengalami defisit. Negara tersebut antara lain Amerika Serikat, Inggris, Perancis, India, Spanyol, dan Jepang.  Surplus beberapa negara juga mengalami penurunan dari tahun 2019, seperti surplus Jerman, Belanda, dan Korea Selatan. Sementara kinerja ekspor beberapa negara yang masih tumbuh di tahun 2019, antara lain Australia dan India.

Tantangan Ekonomi dan Perdagangan Global

Tantangan Ekonomi dan Perdagangan Global saat ini semakin berat. Pertama, adanya sentimen terhadap globalisasi, yang mana lebih mementingkan unilateral daripada multilateral, seperti Amerika. Kedua, adanya isu-isu perdagangan bilateral yang berdampak global, seperti masalah Brexit antara UE dan UK. Hal tersebut dikaarenakan keduanya merupakan mitra dagang dan mitra investasi yang bisa mempengaruhi negara diluar dan anggota UE. Ketiga, sistem perdagangan multilateral yang dipertanyakan, yaitu WTO.

Keempat, adanya isu non-perdagangan, seperti wabah corona dan ketegangan geopolitik. Baru-baru ini nama virus corona diubah menjadi covid-19 oleh WHO. Hal tersebut dilakukan untuk mengindari nama virus corona disamakan dengan suatu entitas, nama hewan, dan negara.

Strategi Perdagangan Luar negeri Kementerian Perdagangan

Dalam kuliah umum singkat tersebut, bapak Djatmiko juga memaparkan tentang strategi perdagangan luar negeri kementrian perdagangan.  Diantara strategi-strategi tersebut yaitu pemanfaatan E- Commerce untuk produk domestik. E-Commerce sendri merupakan kegiatan jual beli barang/jasa atau transmisi dana/data melalui jaringan elektronik, terutama internet. Dengan perkembangan teknologi informasi dan software, hal ini membuat transaksi konvensional menjadi mungkin untuk dilakukan secara elektronik.

Selain itu, strategi lainnya adalah menggiatkan promosi ekspor dan penguatan pencitraan Indonesia. Dalam hal ini, kemendag mengadakan kegiatan tahunan, yaitu Trade Expo Indonesia. Expo mendatangkan pelaku usaha dari seluruh Indonesia, serta mnghadirkan pihak asing demi mempromosikan kegiatan ini.

Sesi Pertanyaaan
Sesi Pertanyaaan
Sesi Akhir

Setelah selasai penjelasan dari bapak Djatmiko, peserta dipersilahkan untuk mengutarakan pertanyaan. Farida, salah satu mahasiswi HI 6 dengan konsentrasi Bisnis Internasional menanyakan tentang UKM (Usaha Kecil Menengah). “Apa tantangan terbesar Kemendag dalam mengoptimalisasi seluruh UKM di Indonesia?”

Pertanyaan tersebut dijawab oleh Bapak Djatmiko dengan jelas dan terperinci. Pertama, hal ini mengenai kapasitas dan kapabilitas UKM sendiri, contohnya UKM tersebut masih kalah dibandingkan dengan industri lain yang lebih maju. Kedua, masalah finansial. Masih banyak diantara para pelaku UKM ini yang bermodalkan kecil, akibatnya sulit untuk bersaing. Ketiga, masalah legalitas. Dan terakir adalah masalah pengetahuan dan pendidikan. Pendidikan ini menjadi modal atau basic utama untuk menjalankan sebuah bisnis.

Setelah beberapa pertanyaan yang diajukan terjawab semua, acarapun sampai pada ujungnya. Acara ditutup dengan pemberian kenang-kenangan untuk Kemendag dan perfotoan bersama.

Diharapkan dengan kunjungan HI UNIDA Gontor ke Kemendag dapat menjalin kerjasama antar dua instansi tersebut. Selain itu, harapan terbesar bagi Mahasiswi HI adalah menjadi salah satu aktor yang membangun perekonomian bangsa melalui perdagangan.

Mahasiswi UNIDA Gontor Studi Akademik ke Konsulat Jendral Amerika

Pada Kamis 30/01/2020, Mahasiswi Semester 2 Program Studi Hubungan Internasional mengunjungi Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya. Kunjungan tersebut merupakan salah satu rangkaian dalam kegiatan Studi Akademik ( SA ) Program Studi Hubungan Internasional.

Aktivitas belajar di luar ruangan memang sangat dibutuhkan sebagai sarana untuk meningkatkan pemahaman dan internalisasi ilmu yang secara teoritik telah banyak disampaikan dalam kelas. Studi Akademik menjadi kegiatan yang dapat memperkaya pemahaman praktis tentang ilmu yang selama ini mahasiswi pelajari, sekaligus menjadi momen mahasiswi belajar dan memperoleh pengalaman dari para praktisi yang bergerak dalam bidang Hubungan Internasional.

Dalam kunjungan ke Konsulat Jenderal Amerika Serikat, mahasiswi memperoleh banyak sekali pengalaman. Mulai dari mengetahui sekaligus mengalami prosedur keamanan memasuki Kantor Konsulat, sampai dengan berbincang langsung dengan Diplomat dan Staf Lokal di Konsulat AS tentang diplomasi dan beasiswa. Sementara mereka banyak belajar dan memperoleh pengalaman baru, ternyata ada hal yang tersirat dan menarik untuk dibahas dalam artikel singkat kali ini. Apa itu?

Hal Menarik

Memasuki Kantor  Konsulat Jenderal AS ( Konjen AS ) tidaklah mudah, harus melalui beberapa pengecekkan kartu identitas, barang bawaan yang tidak boleh dibawa masuk, sampai dengan mematikan semua alat elektronik dan menitipkan pada pihak keamanan.

Saat melewati serangkaian proses tersebut, ada yang menarik perhatian, yakni seorang kepala keamanan Konjen yang merupakan seorang perempuan dan mengenakan kerudung. Tak hanya itu, begitu memasuki lingkungan Konjen dan bertemu dengan segenap staf dan diplomat yang ada, ternyata banyak sekali staf lokal yang mengenakan kerudung. Lantas apa yang menarik?

#NoMuslimBan

Jika pembaca mengikuti rangkaian isu tentang Amerika Serikat belakangan ini, tentu tidak asing dengan tagar yang sedang viral di dunia maya, yaitu #NoMuslimBan. Tagar ini merupakan respon terhadap tagar yang berlawanan yakni, #MuslimBan  yang muncul setelah kebijakan kontroversial Donald Trump yang melarang masuknya wisatawan dan pendatang dari negara Muslim ke Amerika Serikat.

Larangan tersebut menimbulkan kontroversi dalam lingkup domestik Amerika Serikat, mengingat tak sedikit masyarakat Amerika Serikat yang juga merupakan seorang Muslim. Selain itu, negara yang dikenal sangat heterogen dan menghormati diversitas dan hak asasi manusia ini, sebagian masyarakatnya justru merasa aneh dengan berbagai larangan bersifat rasis dan diskriminatif  Presidennya.

Ditengah kondisi domestik yang menjadi sorotan internasional tersebut, hal berbeda justru dijumpai di kantor perwakilan AS, salah satunya di Konjen AS, Surabaya tadi. Banyak staf lokal yang mengenakan kerudung, diplomat – diplomat yang ternyata bukan merupakan penduduk Amerika asli, bahkan sambutan hangat pada mahasiswi UNIDA Gontor yang jelas merupakan bagian dari  masyarakat Muslim dunia.

National Branding

Dalam studi diplomasi, kita mengenal yang disebut dengan national branding, yaitu strategi yang dirumuskan dengan tujuan untuk membangun dan mewujudkan reputasi yang baik ( citra baik ) suatu negara. Apa yang kita lihat di Konjen AS tersebut, merupakan upaya pembentukan dan pembangunan citra baik Amerika Serikat yang dilakukan oleh perwakilan pemerintahannya di Indonesia. Dengan kondisi domestik AS yang saat ini kerap bersinggungan dengan isu – isu rasis dan anti muslim, perwakilan AS di negara lain salah satunya Indonesia, justru menunjukkan gambaran lain tentang bagaimana AS sesungguhnya.

Hal tersebut penting, guna menimbulkan kesan pada publik Indonesia dan internasional, bahwa Amerika Serikat memang merupakan negara yang heterogen dan sangat menghargai dan menghormati perbedaan, baik agama, ras, maupun lainnya. Sehingga, hal ini memudahkan bagi Amerika Serikat ketika hendak menjalin kooperasi dengan Indonesia yang juga sangat heterogen dan mayoritas merupakan Muslim.

Fakta ini jelas berbeda dengan yang terjadi di Amerika Serikat sekarang, bukan? Mungkinkah  fakta di Konjen AS kemarin, justru menunjukkan bahwa ada ketidaksinambungan dan perbedaan perspektif antara pemimpin negara dan rakyatnya?

Sambutan dari pihak Konsulat Jendral Amerika Serikat

Aula pertemuan Konsulat Jendral Amerika sore itu penuh sesak dengan kehadiran mahasiswi UNIDA Gontor. Yehenskiel Tumiwa selaku moderator langsung memberikan sambutan dan salam hangat yang mewakili Konsulat Jendral Amerika. Mereka sangat berterima kasih atas kedatangan para rombongan mahasiswi UNIDA Gontor yang telah menyempatkan waktu untuk mengunjungi

Kemudian moderator mempersilahkan Mr. Mark McGovern, pimpinan Konsul Jenderal AS Surabaya, untuk memberikan sambutan kepada para peserta. Ia mampu berdialog dengan berbagai bahasa, dan salah satu bahasa yang dikuasainya adalah bahasa Indonesia. Menurutnya, Indonesia adalah negara dengan berbagai kesan, jika sudah tinggal di Indonesia pasti akan betah.

What is US  embassy vision for Indonesia ?

Setelah mendengar berbagai sambutan, moderator mempersilahkan Andrew Kelly  dan Marya Kelly selaku tutor yang akan mengisi forum pendidikan ini. Forum dimulai dengan cerita Andrew tentang perjalan hidupnya sebelum menjadi diplomat. Mulanya ia menggeluti dunia kemiliteran Amerika Serikat dan kemudian menjadi diplomat yang diutus bersama istrinya di Indonesia. Marya Kelly adalah diplomat Amerika Serikat dibidang public affair officer. Adapun Andrew Kelly adalah diplomat Amerika Serikat dibidang politic and economic.

Menurut Andrew, Amerika dan Indonesia memiliki kesamaan jika dilihat dari sistem politiknya. Demokrasi adalah sistem politik yang sama-sama dianut oleh kedua negara, yaitu Indonesia dan Amerika. Meskipun demikian, perbedaan terlihat pada bentuk negaranya. Indonesia adalah negara kesatuan sedangkan Amerika Serikat berbentuk federal yaitu terdiri dari banyak negara.

Indonesia adalah negara besar. Populasi masyarakat Indonesia berada pada urutan ke-4 terbanyak di dunia setelah Amerika Serikat. Selain itu, negara penganut demokrasi terbesar ke-3 di dunia setelah Amerika Serikat adalah Indonesia. Maka dari itu, Amerika Serikat dan Indonesia memiliki ikatan tersendiri.

Tujuan Amerika Serikat dalam berdiplomasi dengan Indonesia adalah untuk lebih saling memahami antara satu sama lain. Ada empat tujuan spesifik yang dicanangkan Amerika Serikat kepada Indonesia, yaitu partnership, democracy, security, and economic engagement.

Program Konsulat Jendral Amerika Serikat diBidang Pendidikan

Salah satu forum yang diselenggarakan  pemerintah Amerika Serikat dalam meningkatkan pendidikan di Indonesia adalah YSEALI (Young Southeast Asian Leader Inititive). Forum ini bertujuan untuk memperkuat kemitraan dengan pemimpin muda di Asia Tenggara, mengembangkan keterampilan sebagai pemimpin sipil, ekonomi dan non-pemerintah. Kegiatan ini juga bertujuan untuk mendorong mereka untuk bekerja sama lintas batas negara untuk menyelesaikan tantangan regional.

YSEALI tidak hanya mencakup Indonesia saja, namun seluruh anggota ASEAN dan terbuka bagi kaum muda yang berusia 18-35 tahun. Karena program ini memprioritaskan pemuda wilayah ASEAN, YSEALI memfokuskan pada empat tema : Civic Engagement, Sustainable Development and the Environment, Governance and Society, and Economic Empowerment. Adapun alasan dibentuknya YSEALI adalah karena menurut persentase, 60 % penduduk dunia adalah seorang yang berumur dibawah 50 tahun. Program ini lalu hadir untuk membuka peluang besar kepada pemuda untuk mengembangkan diri dalam menghadapi bonus demografi.

Mengatahui peluang emas untuk magang di Amerika, para mahasiswi sangat antusias dalam menyambut kabar baik ini dan berharap bahwa akan ada perwakilan dari mereka yang dapat terbang ke US segera. Alfatihah.

Pen: Dini, Lokita

Ed: Wildi