Anime 'Attack on Titan'

Anime ‘Attack on Titan’ dalam Perspektif Filsafat Politik

Anime ‘Attack on Titan’ mungkin menjadi salah satu anime terbaik sepanjang masa. Pasalnya, anime ini banyak menarik perhatian penonton di penjuru dunia selama masa penayangannya.

Anime ini merupakan adaptasi dari seri manga yang berjudul asli Shingeki no Kyojin dan diciptakan oleh Hajime Isayama. Shingeki no Kyojin juga tercatat sebagai seri manga terlaris dalam sejarah. Prestasi tersebut ada karena konlfik dalam komik ini dikemas dengan sangat menarik dan tak terduga sehingga pembaca selalu dibuat penasaran dengan apa yang akan terjadi di cerita selanjutnya. Hajime Isayama pun cukup berani dalam memvisualisasikan ceritanya bahkan terkadang dianggap terlalu sadis untuk diberi rating remaja.

Beberapa judul anime yang telah diproduksi oleh Studio MAPPA.

Seri manga tersebut kemudian diadaptasi menjadi seri anime yang digarap oleh MAPPA Studio. Anime ‘Attack on Titan’ pun mengawali musim pertamanya pada tahun 2013. Total anime ini terdiri dari empat musim dan sedang menjalani musim terkahirnya pada tahun 2021.Dari AoT kita dapat banyak mendapat wawasan mengenai psikologi, keamanan, hingga sejarah. Sambil menunggu episode terakhir AoT, mari kita membahas anime ini dari tinjauan filsafat politik!

Sinopsis Anime ‘Attack on Titan’

Anime ini mengisahkan tentang perujuangan Eren Yeager dalam membasmi Titan yang berusaha menyerang umat manusia. Titan sendiri merupakan sebutan bagi raksasa yang sangat misterius mengenai asal usulnya. Cerita bermula ketika kampung Eren yaitu distrik Shiganshina di serang oleh Colossal titan dan Armor Titan yang kemudian menyebabkan ibu Eren tewas ditelan Titan. Semenjak peristiwa itu, Eren Yeager bersama kedua temannya yaitu Armin Arlert dan Mikasa Ackerman memutuskan untuk mendaftar sebagai pasukan militer dan bergabung dalam Survey Corps.

Sayap Kebebasan yang menjadi lambang Survey Corps.

Survey Corps merupakan unit khusus yang bertugas untuk melakukan riset mengenai Titan dan segala misteri dibalik makhluk besar tersebut. Unit ini dipimpin oleh Erwin Smith. Namun setelah kematiannya selama merebut distrik Shiganshina, jabatan komandan diambil alih oleh Hange Zoë. Di kemudian hari terungkap bahwa Titan yang menyerang Kerajaan Eldia selama ini berasal dari negara rivalnya yaitu bangsa Marley yang terletak di seberang pulau Paradis. Maka dari itu menjadi jelas bahwa anime ini bukan mengisahkan pertarungan umat manusia melawan Titan melainkan pertarungan umat manusia melawan umat manusia yang lain.

AoT dan Teori Realisme Klasik

Teori Realisme Klasik mungkin sudah tidak asing lagi bagi mahasiswa yang sedang menjalani studi Ilmu Hubungan Internasional. Dalam asumsi dasarnya, teori ini mempercayai bahwa hubungan antar negara bersifat konfliktual dan membantah gagasan dari teori Utopianisme yang menganggap bahwa kedamaian abadi dapat tercapai. Beberapa tokoh dari teori ini antara lain Thucydides dengan bukunya “The History of Peloponnesian War”, Thomas Hobes dengan bukunya “Leviathan”, dan Niccolo Machiavelli dengan bukunya “The Prince”. Dari asumsi dasarnya kita dapat langsung menemukan keterkaitan antara teori ini dengan alur cerita Attack on Titan.

 

Beast Titan menjadi salah satu kekuatan penting dari Kerajaan Marley dalam berperang dengan negara lain.

Bahkan Thomas Hobes mengandaikan penguasa sebagai Leviathan atau monster raksasa yang mengerikan dalam mitologi Ibrani. Dalam AoT monster besar tersebut bukan hanya metafora namun merupakan kekuatan manusia itu sendiri. Dalam episode ketika bangsa Marley menginvansi negara Timur Tengah contohnya, mereka menggunakan Beast Titan dan Titan lain sebagai senjatanya.

Eldia, Marley, dan Dunia yang Anarki

Para filsuf realis memandang bahwa dunia berada dalam keadaan anarki. Anarki dalam studi Hubungan Internasional diterjemahkan sebagai kondisi dimana tidak ada hirearki yang jelas dalam perpolitikan internasional. Kekuasaan tertinggi berada pada level negara dan negara tersebut berdaulat atas wilayahnya masing-masing. Kondisi ini menyebabkan suatu negara memiliki potensi untuk berkonflik dengan negara lain. Kondisi ini juga yang menyebabkan Bangsa Merley berupaya menyerang Kerajaan Eldia untuk merebut sumber daya alam yang terdapat di wilayahnya.

Hajime Isayama secara tidak langsung telah banyak memberi kita banyak pelajaran menarik melalui mahakaryanya ini. Alur cerita serta penokohan karakternya disajikan dengan sangat matang. Ditambah lagi grafis dalam anime ini cukup bagus dan memanjakan mata. Oleh karena itu, selamat menonton!

Baca juga artikel menarik lainnya!

“Monoteisme Agama Hindu: Ketuhanan Yang Maha Esa”

“Tiga Hadist Mungkar Tentang Bulan Rajab”

“Membincang Aspek Kreatif Periklanan dalam Manajemen Periklanan”

5 comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *