Mengupas Pemikiran Politik Islam Bersama Prof. Din Syamsuddin

Pemikiran Politik Islam merupakan aspek penting dalam peradaban Islam. Selama ini pemikiran politik islam banyak dikenal dengan istilah Fiqh As-siyasah. Namun, Sebenarnya pemahaman tersebut tidak bisa disempitkan sebagai Fiqh As-siyasah. Di sisi lain, terdapat aspek selain hukum yang mana merupakan bagian penting bagi pondasinya. Beberapa aspek penting tersebut antara lain: Aspek Kalam, Fiqih, dan Tasawuf.

Dalam sejarahnya, pemikiran politik islam cenderung mengalami perubahan dan pengulangan. Pengulangan tersebut seperti bagaimana konflik antar beberapa fraksi besar berlangsung. Akar perpecahan dalam peradaban Islam adalah peristiwa pemilihan pengganti Rasulullah SAW sebagai pemimpin kaum Muslimin pasca beliau wafat.  Kejadian ini melahirkan tiga faksi besar di kalangan Muslimin yaitu Syi’ah, Sunni dan Khawarij.

Hal inilah yang kemudian dibahas oleh Prof. Dr. Muhammad Sirajuddin Syamsuddin, MA. atau lebih dikenal dengan Prof. Din Syamsuddin dalam kuliah tamunya pada tanggal 17 Desember 2020. Selain aktif dalam organisasi keagamaan, beliau juga merupakan guru besar FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pada kesempatan ini, beliau memberi kuliah tamu pada mata kuliah Pemikiran Politik Islam yang diampu oleh Dr. Rashda Diana, Lc, MA. di program studi Hubungan Internasional, Fakultas Humaniora, Universitas Darussalam Gontor. Kuliah tersebut disampaikan secara daring melalui aplikasi Zoom CloudDalam materinya, beliau membagi tema ini ke dalam dua era yaitu era pra-modern dan era modern.

Pemikiran Politik Islam Era Pra-Modern

Pemikiran politik Sunni pra-modern menjelaskan bahwa hubungan antara agama dan politik bersifat simbiolisme mutualistik sedangkan Syi’ah lebih bersifat integratif atau penyatuan antara agama dan politik. Dalam Syi’ah, format kekuasaan disebut dengan Imamah. Alam Imamah bertumpu pada Al-walayah (kedekatan batin kepada Allah) dan Al-I’sham (terbebas dari perbuatan maksiyat). Dalam konsep berfikir Syi’ah, kedua kriteria tersebut terdapat pada keturunan Rasulullah atau Ahl Al-bayt.

Ayatullah Khomeini merupakan Supreme Leader di Republik Islam Iran yang bercorak Syi’ah.

Negara dalam Syi’ah cenderung bersifat teokratis atau terintegrasi dengan agama. Sedangkan, Sunni menganggap bahwa agama dan negara berjalan bersama dan saling melengkapi satu sama lain. Sistem Politik Sunni memiliki tradisi bai’at dan syuro sehingga dapat dismpulkan bahwa corak yang ada dalam sistem politik Sunni lebih bersifat demokratis. Golongan Khawarij hadir untuk menentang kedua corak yang dimiliki baik oleh Syi’ah maupun Sunni. Dengan kata lain, corak Khawarij seperti ini banyak terdapat pada kelompok ekstrimis yang disebut oleh Prof. Din Syamsuddin sebagai Neo-Khawarij.

Tendensi Politik Islam Era Pra-Modern

Prof. Din Syamsuddin juga menyampaikan bahwa corak yang terdapat dalam era pra-modern adalah pemikiran politik pada saat itu terkhusus Sunni cenderung membangun tendensi-tendensi. Pada era ini, Pemikiran Islam masih belum digunakan sebagai paradigma. Adapun tendensi-tendensi tersebut antaiara lain:

  • Tendensi Yuridistik Formalistik

Tendensi ini banyak membahas dan mencari rumusan konsep mengenai sistem politik, format pemerintahan, dan syarat pemilihan pemimpin. Dikarenakan dalam tendensi ini banyak membahas aspek hukum maka lahirlah Fiqh As-siyasah.

  • Tendensi Administratif Birokratik

Tendensi ini mengacu kepada pemikiran mengenai ketatanegaraan. Ilmuwan yang terkenal dalam hal ini adalah Al-mawardi dengan bukunya Qowaninul Wuzara’ yang  banyak berisi gagasan dan ide-ide mengenai urusan administratif ketatanegaraan.

  • Tendensi Filosofis

Era pra-modern terdapat banyak pemikiran yang bersifat filosofis mengenai politik. Ilmuwan Islam yang terkenal dalam hal ini adalah Al-farabi. Al-farabi memakai istilah madinah untuk menyebut negara karena merujuk kepada peristiwa Hijrah Rasulullah SAW. Kota Yastrib diubah namanya menjadi Al-madinah pasca peristiwa ini.

  • Tendensi Moral

Tokoh yang terkenal dalam hal tendensi moral pada pemikiran politik pada era pra-modern adalah Imam Al-ghazali. Hal ini didasari pada karya yang pernah beliau tulis yang berjudul An-Nashih Al-Mulk. Kitab ini memuat nasihat yang ditujukan kepada seorang pemimpin atau penguasa.

Pemikiran Politik Islam Era Modern

Pada era ini, Islam sudah muncul sebagai paradigma dalam kegiatan politik. Paradigma merupakan bagaimana cara seseorang untuk melihatsehinga memengaruhi cara berfikir, memilih sikap, dan bertidak tanduk.Dalam hal ini, terdapat dua golongan besar dalam paradigma yang terdapat dalam islam yaitu paradigma tradisionalisme dan paradigma modernisme.

  1. Paradigma Tradisionalisme

Cara pandang tradisionalisme bersifat rejeksionis terhadap segala ide atau sistem yang ditulis oleh pemikir barat. Pada masa kolonialisme, pemikiran barat memang banyak disebarkan melalui kolonialisasi dan menyebar ke banyak koloni Eropa. Hal ini kemudian banyak memengaruhi pedirian negara baru yang merupakan bekas jajahan negara-negara Eropa baik pasca Perang Dunia I ataupun pasca Perang Dunia II. Golongan tradisionalis Islam kemudian hadir untuk menolak ide tersebut. Mereka kemudian banyak melakukan kritik terhadap sistem demokrasi yang mereka sebut sebagai produk peradaban Barat yang bertentangan dengan Islam. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya gerakan menentang adanya demokrasi dan mendukung pendirian yang mereka sebut sebagai Khilafah Islamiyah.

  1. Paradigma Modernis

Paradigma modernis sangat bersifat berbeda dengan apa yang telah banyak diterangkan sebelumnya yaitu paradigma tradisionalis. Paradigma modernis lebih bersifat adaptif terhadap sistem yang digagas oleh pemikiran politik barat. Paradigma ini menganggap bahwa tidak semua sistem yang diperkenalkan oleh bangsa barat pada masa klonialisme merupakan hal yang bertentangan dengan Islam. Mereka juga menganggap bahwa apa yang telah diperlihatkan oleh Rasulullah selama masa kenabian dan kepemimpinannya banyak bersifat demokratis.

Baca juga artikel menarik lainnya!

Pendidikan Islam di Era Globalisasi

Islam: Antara Toleransi dan Intoleransi

Kesetaraan Gender dalam Pandangan Islam

 

2 comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *