Review Buku “100 Tahun Mohammad Natsir Berdamai dengan Sejarah”

“100 Tahun Mohammad Natsir Berdamai dengan Sejarah” merupakan buku yang diterbitkan oleh penerbit Republika. Untuk mengenang kilas balik serta rekam jejak Pak Natsir Pahlawan yang nyaris terlupakan. Buku ini diterbitkan pada tahun 2008 dan berjumlah 479 halaman. Ditengah pandemi Covid-19 ini waktu luang merupakan keniscayaan, membaca buku cukup relevan untuk mengisi kekosongan semasa pandemi. Era globalisasi yang masif seyogyanya tidak serta merta membuat kita melupakan sejarah, karena sejarah menyimpan banyak hal yang menakjubkan. Mohammad Natsir sang guru bangsa sepanjang masa dan salah satu politikus ulung. Sudah tak asing lagi ditelinga kami para penuntut ilmu dan rakyat Indonesia.

PRIBADI NATSIR

Natsir kecil tidak datang dari keluarga bangsawan. Ia datang dari keluarga kecil pencari kayu bakar untuk mencari makan, tapi pekerja keras dan cerdas. Sejak usia belia Natsir sudah menguasai banyak Bahasa yaitu Perancis, Latin, Inggris, Belanda, dan Arab. Natsir remaja terkenal dengan anak yang pemberani dan pekerja keras. Ia mampu mengupas tuntas perihal kapitalis Belanda. Juga dampak buruknya terhadap kemelaratan rakyat Jawa Tengah dan Jawa Timur dan membacakannya didepan guru Belanda. Kecerdasan yang dikaruniakan kepadanya tidak lantas membuatnya menjadi kutu buku yang tak pandai berosialisasi. Beliau menyukai musik dan aktivitas sosial diluar sana.

Natsir juga pemimpi yang hebat, setelah menamatkan studinya di AMS (setara SMA) Natsir tidak ingin melanjutkan kuliah. Natsir ingin merelisasikan mimpinya mendirikan pendidikan anak muda. Natsir merupakan teladan kesederhanaan gaya hidup bagi bangsa Indonesia. Santun dalam pergaulan, ketenangan dalam berdebat, bersih dalam hal keuangan, dan sangat menghormati etika. Bagi anak-anaknya, Natsir merupakan pribadi yang yang bijaksana, tidak memaksakan kehendak, dan teladan seumur hidup. Aba, begitu beliau dipanggil oleh anak-anaknya.

PEMIKIRAN NATSIR

Natsir memiliki pemikiran yang sangat jernih, tutur kata yang rapi dan bersubstansi, dan konstribusi politik yang santun. Natsir telah mengenal ilmu pembaruan islam sejak kecil setelah berguru pada beberapa ulama’ di Padang. Setelah pindah ke Bandung untuk melanjutkan studinya di AMS, keinginannya untuk memperdalam ilmu agama menjadi lebih besar. Natsir mengkaji ilmu agama melalui kajian-kajian yang diselenggarakan oleh Persatuan Islam (Persis) oleh Ahmad Hasan. Natsir muda juga membaca tafsir Fi Dzilalil Qur’an, ibnu Katsir, dan Al-Furqan.

Natsir menciptakan inisiatif lembaga pendidikan, sehingga lahirlah Pendis (Pendidikan Islam) dan mendirikan Pesantren Persatuan Islam. Natsir juga aktif dalam hal kepenulisan ia adalah penulis yang kreatif, baik dalam surat kabar, majalah, dan buku. Dalam proses kaderisasi oleh Ahmad Hasan Natsir menjadi kelompok modernis dengan kejujuran dan intelektualitas tinggi. Bagi Natsir, islam bukan sebagai agama melainkan pandangan hidup yang meliputi ekonomi, sosial, politik, dan budaya. Islam baginya tidak memisahkan antara agama dan kenegaraan, islam adalah primer.

Pemikiran politik Natsir, tidak lepas dari pendidikan dan pembetukan dirinya sendiri. Natsir dibentuk dengan pemikiran modern dan juga pendidikan islam. Hal ini menjadikan Natsir masyhur sebagai intelektual yang tetap membela dan memperjuankan nilai-nilai Islam. Pemikiran Natsir mengenai nasionalisme dan demokrasinya cukup diwarnai pemikiran Barat modern. Bagi Natsir nasionalisme adalah fitrah manusia untuk mencintai tanah airnya. Namun, tetap harus beriringan dengan nilai keagamaan agar tidak ada fanatisme yang berlebihan. Begitupula demokrasi, pemikiran Natsir mengenai ini tren terhadap demokrasi modern dan memakai prinsip keislaman yaitu syura’. Natsir mengintegrasikan teori kedaulatan rakyat dan teori kedaulatan Tuhan. Sehingga bagi Natsir islam menganut sistem politik theistic democracy.

MOSI INTEGRAL NATSIR

Kala itu Indonesia yang sudah merdeka tetap dikungkung sistem federal hasil rekayasa Belanda. Republik Indonesia Serikat (RIS), hasil dari Konferensi Meja Bundar ini tidak membuahkan hasil sebagaimana ekspektasi bangsa sebelumnya. Melainkan menyebabkan negara terlilit hutang dan terjadi keresahan di negara-negara bagian. Di Negara Indonesia Timur (NIT) terjadi krisis militer dan separatisme. NKRI sepertinya hanya menjadi angan bagi rakyat kecil yang menuggu kepastian para pembesar negara.

Sehingga, ditengah situasi dan kondisi nasional yang sangat genting Natsir hadir dengan gagasan mosi integralnya. Yang mana membubarkan Republik Indonesia Serikat (RIS) dan menyatukan kembali NKRI. Dengan cara melobi elite politik dengan perbawanya dan kecakapannya dalam bersosialisasi. NKRI bukan lagi menjadi angan, NKRI merupakan realisasi visi bukan hanya ilusi semata. Proklamasi kedua digaungkan pada pada tahun 1950 dan memakai dasar negara UUD sementara 1950.

Belum tibakah saatnya bangsa ini melupakan dendam masa lalu dan berdamai dengan sejarah?

 

 

 

31 comments

  1. I’m curious to find out what blog platform you have been utilizing? I’m experiencing some minor security problems with my latest site and I would like to find something more secure. Do you have any suggestions?| Car Servicing Reading

  2. We’re a group of volunteers and opening a new scheme in our community. Your site provided us with valuable information to work on. You have done an impressive job and our whole community will be thankful to you. Car Service Reading

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *