Neo-Liberal Institusionalisme Dalam Pendekatan Regionalisasi dan Interdependensi Tatanan Internasional

Pendekatan teoritis terkait regionalisme dalam studi hubungan internasional didasari oleh tingkat analisa (Level of Analyses). Setiap para peneliti isu-isu global harus menetapkan masalah yang harus diteliti dan masalah yang harus diamati. Penetapan masalah ini perlu dilakukann guna memisahkan antara unit eksplanasi dan unit analisa, supaya diakhir penelitiannya dapat menemukan spesialisasi objek kajian yang telah dibahas. Menurut (Rourke, 2005, pp. 57-94) dalam bukunya “international politics on the world stages”, bahwa indikator-indikator yang dilihat dalam setiap tahap peringkat analisis adalah:

  1. Tingkat sistem internasional; akan menganalisis karaketeristik struktural, hubungan power, norma-norma perlikau sistem, dan hubungan ekonomi timbal balik.
  2. Tingkat negara dan organisasi internasional; akan menganalisis kebijakan, karakteristik pemerintah, aktor pembuat kebijakan, situasi, dan budaya politik.
  3. Tingkat individu; akan menganalisis perilaku atau sifat dasar menusia dalam berinteraksi dan berperilaku dalam sebuah organisasi.

Berbicara mengenai regionalisasi dan interdependensi, kedua hal ini sangat identik dengan poin indikator pertama tentang tingkat sistem internasional. Dengan rasionalisasi bahwa regionalisme akan manganalisis norma-norma perilaku sistem internasional, serta hubungan ekonomi yang akan membentuk sebuah kawasan struktural. Pada level sistem internasional, pendekatan teoritis akan dinaungi oleh teori neo-realisme, neo-liberalisme, dan konstruktivisme (Nuraeni, Silvya, & Sudirman, 2010). Ketiga landasan cara pandang ini dipengaruhi oleh tuntutan zaman yang silih berganti. Neo-realisme yang beorientasi pada old-regionalism menekankan pentingnya sistem internasional yang anarki serta pentingnya persaingan power secara politis dan ekonomis. Beda halnya dengan neo-liberalisme dan konstruktivisme yang menekankan pada perubahan sistem internasional, dan pengaruh perubahan secara ekonomi dan teknologi, 1 bidang Kerjasama juga dapat memepengaruhi regionalisme dalam pembahasan ini (new-regionalism).

Signifikansi subjek pembahasan dalam tulisan ini sangat erta kaitannya dengan era globalisasi yang saat ini kita rasakan. Dengan ditandai oleh momentum berakhirnya perang dingin, proses regionalisasi terbentuk akibat ketergantungan ekonomi. Ketergantungan ini semakin membesar seperti efek bola salju (Spill Over), proses terbentuknya tidak hanya melalui tekanan sistem internasional, tetapi juga kesinambungan antara aktor-aktor yang tumbuh di wilayah tertentu. Pembahasan mengenai interdependensi, neo-liberali institusionalisme melihatnya dengan suatu respon negara terhadap berbagai permasalahan yang diciptakan oleh interdependensi regional dan menekankan peran kritis dari intitusi-intitusi dalam menghadapi dan megembangkan kohesi regional (Andrew, 1995). Neo-liberalisme mendasarkan asusmsi teorinya kepada teori Liberalisme dengan menekankan pada rasionalitas, tujuan kesejahteraan yang praktis, serta pandangan pluralis tentang masyarakat internasional, kemudian dilengkapi dengan konsep “manusia makhluk ekonomi” oleh Adam Smith.

 

 

Neo-Liberalisme merupakan teori terbesar dalam studi hubungan internasional. Teori ini hadir dari perdebatan kerja sama antar negara dalam satu wadah intitusi atau organisasi internasional. Di saat yang bersamaan perdebatan “neo-neo” (great debate) muncul sebagai akumulasi situasi pada saat itu. Robert Keohane dan Josep Nye selaku pemikir yang berpengaruh besar pada teori ini, keduanya berpendapat bahwa negara-bangsa akan membentuk institusi kolektif untuk memperoleh kepentingan mereka sendiri. Setelah terbentuknya institusi, negara-negara akan mengubah tingkah laku dengan mendirikan dan menegakkan norma (Petersen, 2009). Asumsi Dasar Neo-Liberal Institusionalisme adalah: (Nuraeni, Silvya, & Sudirman, 2010)

  • Semakin tinggi interdependensi semakin tinggi juga tuntutan untuk malakukan kerja sama, institusi dianggap mampu memberikan solusi terhadap berbagai jenis permasalahan.
  • State sentris, negara dipandang sebagai aktor utama dalam membuat keputusan, meski negara dipandang sebagai egois rasional, tetapi negara juga dapat mempertimbangkan untung ruginya.
  • Institusi mempunyai arti penting dalam memberikan keuntungan terhadap aktor lainnya, keuntungan tersebut berupa informasi, transparansi, monitoring,dan fasilitas penggunaan produksi.

Beranjak dari asumsi dasar neo-liberal institusionalisme sebagaimana yang dipaparkan dalam paragraf sebelumnya, dapat kita temukan suatu bidik fokus analisa neo-liberal institusionalisme terhadap regionalisasi dan ketergantungan ekonomi berupa;

  1. siapa saja aktor yang ikut serta ?
  2. bagaimana tingkah laku negara saat berlangsungnya proses kerja sama ?
  3. sejauh mana efektivitas mekanisme bagi pihak pihak yang curang ?

seluruh titik fokus analisa diatas dapat menentukan hasil analisa proses regionalisme di era kontemporer, terlebih jika elemen pendukungnya menggunakan soft diplomacy dan low politics. Lantas, bagaimana neo-liberal institusionalisme bekerja dalam terapan proses-proses regionalisme ?.

Dalam buku “Interdependence and Co-ordinations of Policies”, (Cooper, 1986) berpendapat bahwa teori neo-liberal institusionalisme terhadap regionalisasi dan integrasi ekonomi regional dapat menciptakan 2 kemungkinan; Pertama, eksternalitas kebijakan internasional yang membutuhkan manajemen kolektif, dan Kedua, pengurangan biaya transaksi secara intensif dan memfasilitasi berbagai hubungan intra-regional. Dari kedua kemungkinan ini, regionalisme diharapkan dapat membentuk inter-state cooperation secara formal maupun non-formal yang mana pembentukan inter-state cooperation merupakan tujuan akhir kesuksesan peran neo-liberal institusionalisme dalam kohesi regional. Kohesi regional sendiri terbentuk bukan karena suatu gagasan kerangka kerja atau proposal perjanjian, tetapi timbul dari cara hubungan individu dan hubungan masalah yang semakin menguatkan hubungan Kerjasama untuk bersama-sama menghadapi permasalahan kedepan yang lebih kompleks. (Andrew, 1995)

Faktor yang paling mendominasi terbentuknya kohesi regional adalah dengan terbentuknya institusi internasional. Institusi dalam neo-liberal institusionalisme menjadi tempat harapan bersama untuk mencapai tujuan. Selama proses berjalannya kinerja operasional, institusi neo-liberal memiliki aturan main yang jelas dan terdapat aturan yang harus dipatuhi oleh negara-negara anggota di dalamnya. Menurut Robert Keohane dalam bukunya “International Institution and State Power” (Keohane R. , 1989), institusi internasional adalah seperangkat aturan yang akan menentukan tingkah laku suatu negara. Institusi internasional dapat dikategorikan oleh teori neo-liberal apabila memenuhi salah satu bentuk sebagai berikut;

  1. Formal Intergovernmental / Cross National Nongovermental Organization

Sebagai sebuah organisasi yang memiliki tujuan khusus, organisasi ini bisa mengawasi aktivitas dan beberapa respon terhadap aktivitas tersebut. Organisasi ini dibentuk oleh negara-negara, yang mana mereka memiliki organisasi birokratis dengan aturan yang jelas dan aturan serta tugas yang spesifik untuk individu dan kelompok yang tergabung di dalamnya. Sebagai contoh, dapat kita lihat bagaimana perkembangan proses regionalisasi di kawasan Eropa. Penjelasan diatas dapat menyimpulkan bahwa UNI EROPA termasuk dalam intitusi Neo-Liberalisme. Dengan demikian, UNI EROPA memiliki aturan institusi yang harus dipatuhi oleh negara-negara anggota melalui perjanjian dan kesepakatan yang telah ditetapkan.

  1. International Regime

Rezim adalah institusi yang memiliki peraturan-peraturan eksplisit yang disetujui oleh negara-negara. Terbentuknya Peraturan-peraturan tersebut dihubungkan oleh dengan beberapa isu-isu internasional. Menurut Neo-Liberal Institusionalisme, munculnya rezim-rezim keamanan regional (seperti CSCE atau ASEAN Regional Forum) tidak dipandang sebagai aliansi balance of power, tetapi lebih melihat bagaimana rezim tersebut telah terbentuk dan akankah negara-negara bertahan seiring dengan keuntungan-keuntungan yang mampu diberikan oleh rezim tersebut. Contoh lainnya, Rezim keuangan dunia IMF yang dibentukpada tahun 1944, serta rezim hukum laut yang dipimpin oleh hukum UNCLOS PBB pada tahun 1970.

  1. Convention

Konvensi adalah institusi informal yang memiliki peraturan dan pemahaman bersama secara implisit yang membentuk harapan dari peserta aktor yang terlibat. Konvensi memungkinkan aktor-aktor tersebut untuk memahami aktor lain tanpa adanya peraturan yang eksplisit, guna mengkoordinasikan Tindakan-tindakan aktor lainnya. Contohnya, konvensi Jenewa di Swiss tahun 1949 tentang hukum humaniter internasional yang diperakasai oleh ICRC, kemudian konvensi wina pada tahun 1961 tentang kekebalan diplomatik.

Kesimpulan, Neo-Liberal Institusionalisme mengedepankan aspek efektivitas kegunaan institusi internasional dalam memandang regionalisasme. Institusi diharapkan mampu menjaga stabilitas ekonomi dan keamanan antar negara yang telah menyepakati perjanjian. Ketika negara telah bekerjasama atas dasar pencapaian kepentingan nasional, Neo-Liberalisme memandang regionalisme bukan sebagai pembentukan aliansi keamanan akbiat tekanan polarisasi sistem tatanan internasional, tetapi lebih memandang kepada bagaimana negara-negara akan bertahan atas keuntungan yang didapat. Demi mengejar keuntungan negara dalam sebuah institusi, maka diperlukannya sebuah manajemen kolektif. Sebagaimana identifikasi 3 macam institusi internasional menurut pandangan Neo-Liberal Institusionalisme; adalah konvensi internasional, rezim internasional, dan formalitas hubungan antar pemerintah. (Fitrah Alfiansyah/HI 18)

Referensi

Keohane, R. O. (1995). Institutionalist Theory and Realist Challange After Cold War.

Rourke, J. T. (2005). International Politics on the World Stage. Dushkin: McGraw-Hill Education.

Andrew, H. (1995). Regionalism in World Politics. USA: Oxford University Press.

Keohane, R. O. (1992). Institutionalist Theory and Realist Challenge After Cold War. California: Center for International Affairs, Harvard University.

Nuraeni, Silvya, D., & Sudirman, A. (2010). Regionalisme dalam Studi Hubungan Internasional. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Cooper, R. N. (1986). Interdependence and Co-ordination of Policies. Cambridge: MIT Press.

Petersen, J. (2009). Decision-Making under Pillars Two and Three. Pilsen: epartment of Political Science and International Relations University of West Bohemia.

Keohane, R. (1989). International Institutions and State Power. London: Westview Press.

 

 

 

 

 

 

2 comments

  1. I do not even understand how I ended up right here, however I believed this submit was once great. I don’t recognise who you’re but certainly you are going to a well-known blogger if you happen to are not already. Cheers!|

  2. Наша компания занимается расскруткой продвижение сайта буржунет совершенно не дорого. В случае, если у вас существует свой бизнес, тогда рано или поздно вы лично осознаете, что без оптимизация и продвижение сайтов сшау вас нет возможности работать дальше. Сейчас фирма, которая подумывают о собственном будущем развитии, должна иметь веб-сайт для seo продвижение сайтов google. продвижение англоязычного сайта в google- способ, используя который возможно приобретать новых покупателей, и дополнительно получить проценты, с тем чтобы рассказать об наличии вашей собственной производственной компании, её продуктах, функциях. Специализированная международная фирма сделать для вашей фирмы инструмент, с помощью которого вы сможете залучать правильных партнеров, получать прибыль и расти.Продающийся сайт- лицо фирмы, в связи с этим имеет значение, кому вы доверяете создание своего веб страницы. Мы – команда профи, которые имеют обширный практический опыт конструирования электронную коммерцию с нуля, направления, разработанного типа. Сотрудники нашей фирмы неизменно действуем по результатом. Международная компания сумеет предоставить всем нашим заказчикам профессиональное сопровождение по доступной антикризисной расценке.Вы можете сделать заказ онлайн-визитку, рекламный сайт. Не сомневайтесь, что ваш портал будет разработан высококлассно, с разными самыми новыми технологиями.

    продвижение больших сайтов

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *