Renaissance Peradaban Eropa

Renaissance Sebagai Tonggak Peradaban Modern di Eropa

Renaissance menjadi pintu gerbang masuknya masyarakat dunia pada kehidupan modern. Implikasi peradabannya masih terasa hingga kini, bahkan banyak dari elemen peradaban yang kita hidupi sekarang merupakan peradaban warisan Eropa, seperti keilmuan, teknologi, seni, dan ideologi. Satu hal utama yang dibawa oleh Renaissance adalah dimensi rasionalitas sehingga membuat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat. Melaluinya, Renaissance juga menjadi tonggak bergesernya teosentrisme ke aliran antroposentrisme sehingga menyebabkan manusia menjadi tolak ukur atas segala sesuatu (homo mensura).

Bermula pada abad ke-14 hingga abad ke-16, Renaissance dianggap sebagai jembatan pemisah antara zaman kegelapan dan zaman pencerahan. Masa peralihan pada saat itu telah melalui berbagai macam polemik yang telah mempengaruhi aspek tatanan sosio-politik. Pengaruh tersebut akan diuraikan secara sederhana di paragraf-paragraf selanjutnya, dari awal mula sejarah, periodisasi, struktur tatanan masyarakat, hingga revolusi perubahan sistem fundamental. Tentunya penjelasan terkait akan tetap berorientasi pada perkembangan benua eropa pada saat itu.

 

Renaissance Peradaban Eropa
Renaissance Peradaban Eropa

 

Mulanya, sebagai pembuka dari objek yang akan diuraikan, penting untuk membahas definisi dari kamus dan dari pendapat para ahli. Secara etimologi Renaissance berasal dari bahasa latin yaitu kata “Re” berarti kembali dan “natire” berarti lahir. Secara terminologi adalah timbulnya revolusi pandangan hidup yang sangat cepat. Agar pengertian terkait definisi lebih intensif, maka di sini akan mengutip pemdapat Prancis Michele De Certau (Hale, 1994) berpendapat bahwa;

“Renaissance muncul karena bubarnya jaringan-jaringan sosial lama dan pertumbuhan elite baru yang terspesialisasi sehingga gereja berusaha untuk kembali mendesak kendali dan menyatukan kembali masyarakat lewat pemakaian berbagai Teknik visual, dengan cara mengadakan pameran untuk mengilhami kepercayaan, khutbah-khutbah bertarget dengan menggunakan pencitraan dan mistisme yang diambil dari pemikiran budaya klasik dengan harapan dapat mempersatukan kembali gereja yang terpecah-belah akibat perang agama.” (Hale, 1994)

Dari pendapat Michele, dapat diasumsikan bahwa Renaissance di Eropa telah merubah struktur tatanan sosial. Dalam artian mendapatkan tekanan dari otoritas gereja dan mengembalikan semangat kebudayaan baru berbasis pemikiran filusuf Romawi dan Yunani klasik. Lantas mengapa demikian?, Theo Hijabers dalam bukunya (Huijbers, 1996)telah mengutarakan pendapat dengan 5 alasan fundamental, yaitu;

  1. Manusia berhasil mencapai prestasi gemilang dalam berbagai bidang seni, filsafat, literatur, sains, politik, pendidikan, agama, perdagangan, dan lain-lain;
  2. Telah membagkitkan kembali cita-cita, alam peikiran, filsafat hidup yang kemudian menstrukturisasi standar-standar dunia modern seperti optimisme, hedonisme, naturalisme, dan individualisme;
  3. Terjadinya kebangkitan kembali minat mendalam terhadap kekayaan warisan Yunani dan Romawi kuno;
  4. Kebangkitan humanisme sekuler yang menggeser orientasi berfikir manusia dari yang bersifat Teosentris menjadi Antroposentris;
  5. Terjadinya pemberontakan terhadap gereja yang menimbulkan kebebasan intelektual dan beragama; dan lain sebagainya.

 

Renaissance Peradaban Eropa
Renaissance Peradaban Eropa

Renaissance telah mempengaruhi seluruh kebudayaan di Eropa. Pada saat itu2 para pemikir mulai mempelajari hakikat manusia dan alam semesta sebagai sumber kebenaran terlepas dari doktrin agama. Orang-orang di Eropa menganggap dirinya tidak lagi sebagai Victor Mundi[1], melainkan sebagai Faber mundi[2]. Slogan itulah yang telah melahirkan faktor-faktor yang mempercepat perkembangan baru pada masa Renaissance, yaitu dengan 3 analogi penemuan teknologi: mesiu, mesin cetak, dan kompas. Mesiu berarti senjata para kaum proletar yang digunakan untuk meruntuhkan kekuasaan feodal. Mesin Cetak berarti kemajuan literasi secara inklusif, tidak hanya dimiliki kaum elite saja, melainkan untuk semua kalangan. Kompas berarti ekspansi dan eksplorasi, yang membuka kemungkinan orang-orang Eropa untuk mengelilingi dunia mencari kekayaan alam. (Asy’ari, 2018)

Dapat disimpulkan bahwa tonggak peradaban modern di Eropa di mulai pada masa Renaissance. Hal ini dibuktikan dengan 3 teknologi yang telah merubah tatanan sosial, alat tersebut adalah mesiu, mesin cetak, dan kompas. Eropa juga telah bangkit dari keterpurukannya (dark age). Perkembangan yang sangat cepat dan signifikan berupa pindah haluan pemikiran, ideologi, struktur sosial, dan budaya. Hasil dari perubahan ini yang telah melahirkan istilah antroposentris, sekularisme, humanisme, budaya modern dan lain-lain sebagaimana yang telah diterangkan sebelumnya. (Fitrah Alfiansyah/HI18)

 

 

Referensi

Hale, J. (1994). The civilization of Europe in The Renaissance. New York: New York Press.

KBBI Daring. (2016). Retrieved from KBBI Daring: https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/sukses

Huijbers, T. (1996). Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Jakarta: kanisius.

Kurnia, D. D. (2013). Konsep Nilai Dalam Peradaban Barat. Tsaqafah Vol. 9, No. 2, 245 – 262.

Saifullah. (2014). Renaissance dan Humanisme Sebagai Jembatan Lahirnya Filsafat Modern. Ushuluddin Vol. XXII No.2, 133 – 144.

Asy’ari, H. (2018). Renaissance Eropa dan Transmisi Keilmuan Islam ke Eropa. JUSPI Vol. 2, No. 1, 1 – 14.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[1] Orang yang berziarah di dunia.

[2] Orang yang menciptakan dunianya.

3 comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *