konflik dalam International Law Humanitarian Roleplay

Menerka kondisi konflik peperangan dalam acara International Humanitarian Law Roleplay

Dalam sejarahnya dinamika perpolitikan internasional tidak pernah lepas dari yang namanya konflik. Mulai dari perang dunia pertama dan kedua sampai dengan perang dingin. Dalam kondisi konflik biasanya terdapat sekelompok relawan kemanusiaan. Dimana mereka berperan memberikan pertolongan kepada korban maupun masyarakat sipil yang terluka. Mereka juga dituntut untuk dapat berdiplomasi dengan tentara dari kedua belah pihak untuk dapat memberikan bantuan kemanusiaan. Bahkan diantaranya ditugaskan untuk mendapatkan beberapa info penting dari korban tersebut berhubungan dengan suasana peperangan yang sedang terjadi.

Peserta berdiplomasi dengan tentara

Pada Selasa (09/15) bertempat di lapangan depan gedung terpadu Program Reinforcement Magang mengadakan International Humanitarian Law Roleplay  Sesuai dengan namanya yaitu roleplay dimana para peserta sendiri bermain peran sebagai kelompok relawan kemanusiaan. Tujuan diadakannya agenda ini untuk memberikan edukasi dan memperkenalkan kondisi peperangan. Khususnya sikap yang perlu dilakukan oleh relawan kemanusiaan ketika menjalankan misinya dalam situasi tersebut. Sehingga nantinya para peserta pun bisa menerka bagaimana kondisi konflik dalam peperangan meskipun tidak secara langsung.

Acara yang berlangsung selama empat jam ini sendiri diikuti mayoritas Mahasiswa Prodi HI kelas politik internasional. Para peserta dibagi kedalam Lima kelompok yang nantinya mereka diharuskan untuk mencari beberapa informasi dalam empat posko. Informasi tersebut meliputi kondisi peperangan, jumlah tawanan sampai dengan apa saja yang dibutuhkan oleh korban perang yang terluka. Hal ini pun tidak mudah, dikarenakan mereka harus berdiplomasi dengan pemeran tentara demi bisa memberikan bantuan . Disaat yang bersamaan mereka juga perlu menanyakan hal penting kepada para korban maupun tentara yang ditawan.

relawan kemanusiaan membantu korban terluka

Jikalau gagal dalam menjalankan misi dan mengali informasi, maka kelompok tersebut akan mengalami kesulitan ketika melanjutkan ke pos selanjutnya. relawan kemanusiaan pun tetap mendapatkan jaminan hukum agar tidak diserang oleh tentara dengan syarat mengkenakan logo IHCR di pakaiannya. para peserta sendiri diharuskan untuk menggunakan bahasa internasional yaitu Arab dan Inggris dalam bernegosiasi. Dalam International Humanitarian Law Roleplay sendiri terdapat empat peran yaitu tentara penawan dan yang ditawan, korban perang. Dimana tiga peran tersebut diperagakan panitia. Sedangkan untuk peran terakhir relawan kemanusiaan diperankan oleh peserta.

Output maupun hasil yang diharapkan dari adanya roleplay ini adalah Mahasiswa dapat memahami secara jelas mengenai kondisi konflik melalui roleplay dam bertugas sebagai relawan kemanusiaan. Mereka pun juga tidak hanya belajar mengenai politik internasional dalam ranah teori namun juga mengetahui langsung keadaan peperangan.

oleh: Byan

4 comments

  1. Please let me know if you’re looking for a article author for your blog. You have some really good posts and I feel I would be a good asset. If you ever want to take some of the load off, I’d really like to write some content for your blog in exchange for a link back to mine. Please send me an e-mail if interested. Thanks!|

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *