Diplomasi Rasulullah SAW

DIPLOMASI RASULULLAH SAW SEBAGAI MEDIA DAKWAH PEMERSATU BANGSA

 

Perbedaan antara bangsa, suku, kabilah, dan etnis merupakan permasalahan kompleks dalam sistem tatanan sosial. Seringkali terjadi konflik antar bangsa dikarenakan perbedaan tujuan dalam meraih kepentingan. Tidak hanya dari segi kepentingan, tetapi juga dari segi kewibawaan identitas, sehingga menyebabkan kasus okupasi wilayah, aneksasi perniagaan, dan penindasan etnis begitu marak terjadi. Para pemimpin dari tiap bangsa saat itu semakin menyadari, bahwa ketergantungan antar bangsa lain sangatlah penting guna membentuk aliansi, serikat dagang, bilateral, multirateral, dan sampai saat ini kita mengenal istilah tersebut dengan “hubungan diplomatik”. (Widagdo, 2008)

Pembukaan hubungan diplomatik tentunya melalui tahapan panjang, bisa karena nasib yang sama atau kepentingan yang serupa, yang demikian umumnya melalui jalur high politic. Ada juga bentuk diplomasi dilakukan sebagai bentuk interpersepsi terhadap objek negara yang dituju. Interpersepsi yang berupa ajakan dan seruan ini dilakukan tanpa kekerasan atau bisa disebut dengan low politic. Low politic dalam berdiplomasi menurut (Jackson, 2007) dalam bukunya Introduction of International Relations ialah segala hal yang difokuskan kepada masalah keberlangsungan hidup, seperti ekonomi sosial, keamanan manusia, dan kesejahteraan negara. Jika di era globalisasi sekarang low politik merupkan penunjang kesuksesan suatu negara dalam berdiplomasi, lantas bagaimana diplomasi low politik diterapkan di zaman pre-globalisasi?

Untuk menjawab rumusan masalah di atas, penulis akan mengambil contoh hubungan diplomatik bangsa-bangsa arab yang eksis di abad 50 sebagai bentuk studi kasus. Jika kita meninjau kembali tentang bangsa-bangsa arab di abad 50, maka pengaruh terbesar pada saat itu adalah Dakwah Nabi Muhammad SAW. Hal ini dibuktikan dengan pengaruh dakwah Beliau yang makin meluas hingga semenanjung daratan timur tengah, kemudian upaya Beliau dalam mempersatukan bangsa-bangsa dengan satu ikatan akidah ukhuwwah islamiyyah. Dari sini dapat dilihat, bahwa diplomasi low politic telah dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam konsentrasi masalah keberlangsungan hidup dan keamanan manusia. Berbagai upaya yang dilaukukan Rasulullah dapat membuktikan aktivitas diplomasi low politik dengan berdamai begitu kuat dalam dakwah Islam. Rupanya ada korelasi kuat antara diplomasi dan dakwah dalam mempersatukan umat manusia dan membangun peradaban Islami.

Landasan dasar diplomasi islam sebagai media berdakwah adalah Al-Qur’an dan Hadist. Kedua dalil naqli ini telah membentuk keyakinan asasi umat Islam sehingga membentuk satu sitem tatanan kehidupan yang harmonis. Adapun dalil naqli yang digunakan sebagai landasan untuk mempersatukan bangsa-bangsa adalah surat Al-Baqarah: 213. Ayat tersebut menjelaskan tentang masalah perpecahan umat, yang berbunyi;

“manusia itu adalah umat yang satu, (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar , untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.” (QS. Al_Baqarah: 213)

Tafsiran ayat di atas adalah bahwa dahulu kala semua manusia merupakan umat yang satu (Hnafi, Aguk, & Faisal , 2013), setelah mereka berselisih akhirnya terpisah dan membentuk kesatuan sesuai keyakinan yang mereka yakini, hingga membentuk sebuah bangsa, suku, kabilah. Untuk mengembalikan kembali istilah (Ummatan Wahidah) umat yang satu maka Allah mengutus para nabi. Sebagai contoh yang telah dilakukan oleh nabi Muhammad SAW dengan upaya beliau untuk mempersatukan bangsa-bangsa, kerajaan-kerajaan, kabilah-kabilah yang berada disekitar Madinah. Cara terbaik Rasulullah dalam mempersatukan umat yakni dengan Diplomasi, maka tak heran jika Diplomasi Islam merupakan media dakwah dalam mempersatukan umat.

Diplomasi Rasulullah SAW
Diplomasi Rasulullah SAW

 

Kesuksesan Rasulullah dalam memersatukan umat manusia dan memperluas wilayah Islam banyak ditentukan oleh kepiawaian beliau dalam berdiplomasi, daripada melalui peperangan. Karena, kekuatan umat Islam pada saat itu tidak sebanding dengan kekuatan Romawi barat dan Romawi Timur, tetapi dengan segala keterbatasannya Rasulullah mampu menyaingi kedua kerajaan besar tanpa berperang. Cara terbaik beliau dalam berdiplomasi adalah dengan mengirim risalah dakwah yang dibawa oleh diplomat utusan Rasulullah SAW. Mulanya, para diplomat membawa misi dakwah Islam, tetapi keberhasilan dalam dakwah membawakan hasil dari interpersepsi diplomat Rasulullah terhadap suatu kerajaan yang dituju. Diantara kesuksesan Diplomasi Islam Rasulullah SAW adalah sebagai berikut;

  1. Surat Nabi Muhammad kepada Raja Muqauiqis, dibalas dengan hadiah 4 budak perempuan, seekor kuda (Baghal), seekor kedelai (Duldu), dan 20 helai kain sutra Mesir;
  2. Surat Nabi Muhammad kepada Kaisar Heraklius yang isinya “Sesungguhnya aku menyerumu dengan seruan Islam, maka masuklah Islam agar engkau selamat, dan niscaya Allah akan membalasmu dengan ganjaran dua kali lipat. Jika engkau berpaling, maka sesungguhnya bagimu dosa seluruh pengikutmu.”;
  3. Surat Nabi Muhammad kepada Raja Najasyi di Ethiopia;
  4. Surat Nabi Muhammad kepada Raja Gassan, Jaballah bin Aiham, surat tersebut dibalas dengan kesediaan Raja Gassan bersama keluarganya untuk bersyahadat;
  5. Surat Nabi Muhammad kepada Raja Thaif.

Kesimpulan, Diplomasi Islam yang diglakkan oleh Rasulullah adalah media Dakwah dalam mempersatukan umat manusia. Hal ini didasari oleh dalil Naqli surat Al-Baqarah ayat 213 yang bermakna bahwa umat manusia dahulunya merupakan umat yang bersatu, setelah mereka berselisih akhirnya manusia terpecah menjadi beberapa golongan, maka Allah menurunkan para Nabi untuk kembali mempersatukan manusia. Dalam konteks perpecahan umat, konotasi maknanya menjurus kepada bangsa-bangsa besar yang telah lama saling berselisih. Kemudian, para Nabi atau Rasulullah datang kepada mereka menyebarkan nilai-nilai Islam dan berupaya untuk menyatukan bangsa-bangsa dengan cara negosiasi, interpersepsi, dan diplomasi. Sebagai contoh kesuksesan dakwah Rasulullah dalam praktek diplomasi adalah bukti balasan kabar baik dari para diplomat Rasulullah sepulangnya dari tugas menyampaikan Risalah Dakwah Islam.

REFERENSI

Jackson, R. (2007). Introduction of International Relations. New York: Oxford University Press.

Hnafi, M. M., A. I., & F. S. (2013). Enslikopedia Pengetahan Al-Qur’an dan Hadist Jilid 7. Jogjakarta: Kamil Pustaka.

Umar, N. (2019, June 3). Diplomasi Surat Menyurat Nabi. Retrieved from Media Indonesia: https://mediaindonesia.com/read/detail/239218-diplomasi-surat-menyurat-nabi

Umar, N. (2019, May 24). Jihad Nabi: Diplomasi. Retrieved from Media Indonesia: https://mediaindonesia.com/read/detail/239218-diplomasi-surat-menyurat-nabi

Nasrullah, N. (2017, August 25). Diplomasi, Cara bangun peradaban. Retrieved from Replubika: https://republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/17/08/25/ov8di8313-diplomasi-cara-islam-bangun-peradaban

Widagdo, S. (2008). Hukum Diplomatik dan Konsuler. Malang: Bayumedia.

 

 

 

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *