noble lie

Noble Lie, Kebohongan yang Mulia?

Ada sebuah pernyataan yang cukup menarik dari mantan perdana menteri Britania Raya, Winston Churchill, yang berkata bahwa kebenaran sangatlah berharga sehingga harus dikelilingi oleh pengawal-pengawal kebohongan. Lalu muncul pertanyaan yang diajukan oleh Glen Newey seorang pakar filsafat politik dari Leiden University, “Sejauh mana nilai kebenaran bisa sejalan dengan politik demokratis?”

Catatan Glen Newey

Dalam tulisannya yang berjudul the People Versus the Truth: Democratic Illusions, Newey berpendapat bahwa kebenaran tidak bisa berjalan terlampau jauh dengan politik demokratis. Hal ini berkaitan dengan struktur kelembagaan demokrasi itu sendiri, yang bergantung pada nilai kebenaran, yang dalam bahasa Churchill membutuhkan pengawal-pengawal kebohongan. Catatan Glen Newey bisa dibaca lebih lanjut dalam buku Does Truth Matter? Democracy and Public Space dengan editor Ronald Tinnevelt dan Raf Geenens.

Baca juga:

Sejarah Kopi dan Keutamaannya dalam Ibadah

Apa yang diungkap oleh Churchill dengan sebutan pengawal-pengawal kebohongan merupakan kepanjangan dari apa yang diungkapkan oleh Plato dalam bukunya The Republic. Plato menyebutnya dengan “gennaion pseudos” yang artinya kebohongan asal-usul. Lambat laun istilah ini bergeser menjadi the noble lie, atau kebohongan yang mulia.

cerita plato

Dalam bukunya, Plato menjelaskan bahwa manusia berasal dari Ibu yang sama yaitu bumi. Semua anak dari Ibu tersebut bersaudara meski berbeda nasib karena mereka yang dicampur emas oleh Tuhan akan menjadi pemimpin, campuran perak menjadikan mereka pembantu, dan campuran kuningan atau besi menjadikan manusia petani.

Cerita yang diungkapkan Plato ini dikenal dengan the Myth of Metals. Cerita ini menurut Socrates, menjaga kestabilan negara dan persaudaraan sesama, meski hal ini adalah kebohongan. Peter Oborne dalam bukunya berjudul the Rise of Political Lying menambahkan penjelasan Socrates tentang noble lie yang merupakan bagian dari proporsi bahwa kebohongan tidak hanya bisa dimaafkan, tetapi sebenarnya mengagumkan selama hal itu dilakukan untuk tujuan moral.

Baca juga:

Simulasi Sidang PBB Perdana dengan Dua Bahasa di Universitas Darussalam Gontor

noble lie menurut leo strauss

Menurut Leo Strauss dalam bukunya The City and Man, noble lie memiliki dua bagian yang paling penting untuk dikritik. Pertama adalah noble lie dimaksudkan untuk membuat para warga negara lupa akan jati diri dan karakter mereka masing-masing. Kedua, jika perbedaan bersifat alami yang tidak bisa disamakan, sehingga kemampuan menerima perbedaan lebih baik daripada mencari persamaan yang bersifat ilusif. Dalam bahasa lain, noble lie hanyalah sebatas alat yang digunakan penguasa untuk menjaga keharmonisan dan memuluskan agenda politik mereka.

Noble lie merupakan sebuah jalan untuk membungkus sesuatu yang too dangerous to be true (terlalu berbahaya untuk menjadi kenyataan). Jika kita melihat suatu bangsa dalam posisi yang terpuruk, lalu negara tersebut masih tetap pada pendiriannya bahwa tidak ada yang bermasalah, bisa jadi ini adalah noble lie, demi terciptanya dua hal, keharmonisan suatu bangsa atau agenda politik di belakangnya.

Sayangnya, saat semua terungkap, mayoritas berpikir seperti Socrates, bahwa kebohongan bisa dimaafkan, asal tujuannya baik. Walaupun sebagain kecil mengetahui bahwa ada pengawal-pengawal kebohongan yang mengelilingi kebenaran, sebagaimana Churchill jelaskan di atas.

Hal yang perlu kita tahu adalah pesan dari Aristoteles dalam bukunya Politik bahwa jika ada warga negara yang baik namun tinggal di negara yang buruk, maka dia akan hidup dengan aturan yang buruk, lalu menjelma menjadi manusia buruk pada akhirnya.

Akhirnya kata-kata dari Harold Pinter yang dikutip dari bukunya berjudul Art, Truth and Politics bisa menjelaskan bahwa politik adalah drama. Jika sebagai warga negara kita masih mencari mana yang benar atau mana yang salah, ketahuilah bahwa kebenaran dalam drama selamanya sulit dipahami. Kita tidak pernah benar-benar bisa menemukannya. Wallahu a’lam bishawab.

Pen: Fardana Khirzul Haq

Ed: Wildi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *