Mari Berkontemplasi Sejenak, Guna Menghindari Sesat Pikir (Logical Fallacy)

 

Kesalahan dalam menyusun dasar logika dengan mengabaikan pola-pola penalaran pada bidang disiplin tertentu, tentunya akan memunculkan suatu konklusi yang tidak sesuai dengan kelaziman berpikir pada disiplin ilmu pada umumnya. Pola pikir yang menyimpang tersebut dikenal dengan istilah “kekacauan dalam bernalar” atau “sesat fikir” yang dalam filsafat ilmu disebut sebagai “fallacy”.

Kendati demikian, penalaran premis-premis secara luas mutlak dipatenkan dalam dua termin yang berbeda demi mencapai kebenaran hakiki, Rasional dan Empiris. Apabila bersumberkan pada rasio dan fakta, maka dikenal sebagai paham Rasionalisme. Sedangkan mereka yang menyatakan fakta yang tertangkap lewat pengalaman merupakan kebenaran, maka mereka mengambangkan paham Empirisme. Kedua hal tersebut tak bisa dipisahkan bahkan harus dikolaborasikan agar menjadi dasar para ilmuan untuk berpikir, bernalar, hingga mengambil kesimpulan yang nantinya akan mudah menempatkan unsur subjektivitas dan objektifitas dalam dunia riset.

Permasalahan subjektifitas dan objektifitas dalam kehidupan ilmiah selalu menjadi perhatian para filsuf, professor, hingga para pakar keilmuan tertentu. Tak hanya itu, para kritikus pun sangat teliti dalam manganalisa unsur subjektivitas dan objektivitas argumen lawan bicaranya. Pemikiran-pemikiran tentang subjektifitas dan objektifitas mulai berkembang semenjak kemunculan Rene Descartes dengan bukunya “Diskursus dan Metodologi.” Dengan mengususng konsep cogito ergo sum nya dalam hal tersebut, maka proses penafsiran (interpretasi) harus merumuskan metodologi yang akan digunakan untuk mengukur seberapa jauh kemungkinan masuknya pengaruh subjektivitas terhadap pencapaian objektivitas sebagaimana yang diarapkan.

Lantas apakah kita sering melakukan “fallacy” dalam berpikir tanpa mengetahuinya ? Atau mungkin kita sering terjerumus dalam doktrin seseorang yang salah dalam berlogika? Untuk mengetahui jawabannya, mari kita lihat beberapa contoh dari “logical fallacy” sebagai berikut:

  1. Hasty Generalization (Generalisasi Berlebihan)

Kesalahan berpikir yang pertama adalah adanya upaya menarik kesimpulan dengan mencoba menggeneralisasi suatu kejadian dari skala kecil menuju skala besar dimana terdapat perbandingan yang tidak seimbang antara kedua objek.

Contoh :

Ada seseorang yang melihat berita di media massa tentang aksi kejahatan terorisme yang katanya didominasi oleh sekelompok ekstrimis Islam, lalu seseorang yang melihat berita tersebut baranggapan bahwa semua orang Islam adalah teroris.

Ini adalah salah satu contoh kesesatan dalam berpikir karena terlalu cepat menggeneralisasi apa yang sekilas dilihatnya, sehingga unsur objektivitasnya perlu dipertanyakan.

  1. Circular Reasoning (Penalaran yang Berputar)

Ini merupakan pengambilan keputusan yang penalarannya berputar-putar, tidak secara induktif maupun deduktif. Hingga akhirnya menghasilkan argumen yang sulit dipahami dan terkadang membuat lawan bicaranya ikut terbawa arus putaran dari si lawan tutur katanya.

Contoh : simak percakapan berikut!

A             : “Kera sakti itu ada”

B             : “Dari mana anda tahu bahwa kera sakti itu ada ?”

A             :  “Dari kitab suci”

B             :  “Kenapa anda mengetahuinya dari kitab ?”

A             :  “Karena kitab tersebut ditulis oleh kera sakti pada 70 tahun sebelum masehi, dan disitu tertulis bahwa dirinya (kera sakti) itu benar-benar ada.”

Contoh percakapan di atas jelas termasuk sesat pikir dan menyesatkan pikiran si penutur kata. Penalaran yang berputar-putar membuat khayalak kebingungan akan kebenaran suatu argumen yang tersampaikan.

  1. Slippery Slope (Lereng Licin)

Kategori ketiga ini adalah langkah kejadian yang mengakibatkan kejadian langkah berikutnya yang sangat panjang. A mengakibatkan B, B mengakibatkan C dan seterusnya. Sehingga pada akhirnya si pembicara membuat kesimpulan akhir bahwa A = C. Langkahnya terlalu panjang dan merujuk pada kesimpulan yang sifatnya simplistik.

Contoh :

Sering tidur > membuat pikiran jadi rileks

Pikiran rileks > mudah menghafal pelajaran

Mudah menghafal > menjadi rangking 1

Rangking 1 > membanggakan orang tua

Sering tidur = membanggakan orang tua

Sejak kapan A berbanding lurus dengan Z? Argumen di atas jelas tidak benar. Alasannya, hasil akhir tidak sama dengan kejadian di awal, kemudian membuat lawan bicaranya kebingungan akan penarikan kesimpulan yang begitu sederhana, dan lain sebagainya.

  1. Strawman (Orang-Orangan Sawah)

Merupakan argumen palsu sebagai pemutar balik pendapat lawan si (A) yang sebenarnya tidak disampaikan, tapi dibalas oleh lawan tutur (B) untuk menyerang dengan mengambil beberapa poin lawan dan memutar balikkannya dengan mengadopsi beberapa kelemahan tertentu.

Contoh :

Pemerintah berkata        : “kami akan memperbesar anggaran infrastruktur pembangunan jalan Trans Jawa”.

Lalu pembicara lainnya berkomentar terkait ungkapan pemerintah di atas

Rakyat                                 : “pemerintah tidak peduli pendidikan di daerah kita, anggaran infrastruktur yang besar adalah tanda tak kepeduliannya.”

Argumen komentar dari salah satu rakyat ini akan menipu orang-orang karena seakan-akan argumen pemerintah telah dipatahkan secara telak.

  1. Ad Hominem

Argumen yang ditujukan untuk lawan bicara namun balasan argumen tersebut tidak menyentuh argumen si lawan bicaranya melainkan mengandung unsur kepribadian / menyentuh ranah pribadinya.

Contoh :

Seseorang mengkritik temannya yang hobi main game.

A             : “tidak usah main game ! main game itu dapat merusak mental.”

B             : “kalau tidak bisa main game lebih baik kamu diam saja!” 

  1. False Dichotomy

Hal ini terjadi jika seseorang berpendapat hanya stagnan pada dua pilihan. Antara positif dan negatif, antonim dan sinonim, baik dan buruk, rajin dan malas, dan lain sebagainya.

Contoh sederhana :

“untuk menjadikan murid pintar, maka diperlukan murid bodoh.”

  1. Complex Cause

Hal ini berararti bahwa suatu kejadian yang bersifat kompleks hanya disebabkan oleh satu kejadian, dan satu sebab kejadian itu benar-benar dianggap sebagai akar permasalahan. Artinya, cara pandang seseorang terhadap sesuatu tidak open-minded.

Contoh :

“kekalahan tim kita disebabkan oleh pemain sayap kanan yang ceroboh pada menit ke 72 yang telah membiarkan bola dari arah lawan melewatinya”.

  1. Equivocation (Pengelakan)

Pengunaan kata yang sama untuk 2 arti yang berbeda dalam 1 atau 2 kalimat baku.

Contoh :

 “How can you face your problem that your problem is your face?

Kesimpulan, dari 8 contoh diatas ada beberapa faktor yang menyebabkan pikiran atau logika seseorang terindikasi sebagai logical fallacy, yaitu (1) dimana argumen memiliki kesan menipu, (2) terdapat kesalahan dalam berlogika, dalam artian tak bernalar secara induktif ataupun deduktif, dan (3) apa yang diutarakan dapat menyatu terhadap argumen.

Dengan adanya pengelompokan variabel logical fallacy, kita sebagai makhluk sosial nan komunikatif dapat berpendapat secara realistis dan mengedepankan objektifitas, dan tidak dapat terpengaruh oleh pendapat orang lain. Hal ini dimaksudkan agar dapat mencerna kalimat informatif dan persuasif dari lawan tutur kata. Dari sini khayalak dapat menentukan keputusan yang baik untuk berkomentar, memberi tanggapan, berorasi, serta bernegosiasi. Inilah aset intangible (insight) atau soft skill yang harus dimiliki oleh para negosiator guna mencapai kepentingan yang ia bawa dalam forum lobbying.

Pen: Fitrah Alfiansyah

Ed: Wildi Adila

24 thoughts on “Mari Berkontemplasi Sejenak, Guna Menghindari Sesat Pikir (Logical Fallacy)”

  1. It is perfect time to make some plans for the future and it is time to be happy.
    I’ve read this post and if I could I desire to suggest you some interesting things or
    suggestions. Maybe you could write next articles referring
    to this article. I desire to read more things about it!

  2. An outstanding share! I’ve just forwarded this onto a co-worker who has been doing
    a little homework on this. And he in fact ordered me dinner due to the fact that I found it for him…
    lol. So let me reword this…. Thanks for the meal!!
    But yeah, thanx for spending time to talk about this matter here on your web site.

  3. Hi! I could have sworn I’ve been to this blog before but after browsing through many of
    the articles I realized it’s new to me. Anyways, I’m definitely happy I
    came across it and I’ll be book-marking it and checking back frequently!

  4. Hello there! This blog post could not be written any better!
    Going through this article reminds me of
    my previous roommate! He constantly kept preaching about this.
    I am going to send this article to him. Pretty sure he will
    have a very good read. I appreciate you for sharing!

  5. Great to end up going to your weblog once more, it has been a very long time for me. Pleasantly this article I’ve been sat tight for so long. I will require this post to add up to my task in the school, and it has identical subject together with your review. Much appreciated, great offer.

    Visit here to my web:: 토토사이트추천

  6. Just desire to say your article is as astounding.
    The clarity on your put up is simply spectacular and i
    could suppose you’re knowledgeable in this subject.
    Well with your permission allow me to seize your RSS feed
    to stay updated with forthcoming post. Thanks a million and please continue the rewarding work.

  7. Thank you so much pertaining to giving everyone an update on this topic on your website.
    Please be aware that if a fresh post appears or in case any variations
    occur to the current submission, I would consider reading
    a lot more and focusing on how to make good use
    of those methods you share. Thanks for your time and consideration of other individuals by making this site
    available.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *