Ekonomi Islam, Oase ditengah Perang Dagang AS dan Cina

Dampak Perang Dagang AS dan Cina

UNIDA Siman – Donald Trump merupakan presiden Amerika Serikat terpilih pada pemilihan presiden 2017. Sekilas tidak ada yang berbeda dari kebijakan, peraturan ataupun gagasan yang dibawakan Trump untuk dilaksanakan pada masa kepemimpinannya kelak. Semenjak kampanye (tepatnya 2 Mei 2016) pemilihan presiden Amerika Serikat 2017, Trump membandingkan defisit keuangan negara Amerika dengan Cina. Tidak hanya itu, ia juga menyebut bahwa defisit itu merupakan sebuah pencurian pemasukan negara bagi Amerika Serikat. Sejak saat itu kondisi perekonomian serta kebijakan perdagangan antara Washington DC dan Beijing semakin memanas serta menghasilkan berbagai kebijakan-kebijakan yang saling melemahkan satu sama lain.

Kecemasan Perang Dagang

Persaingan tersebut menimbulkan keresahan bagi seluruh negara di dunia, khususnya Indonesia. Bank Indonesia menyebutkan bahwa ancaman terbesar bagi perekonomian Indonesia adalah terhambatnya investasi asing yang disebabkan oleh persaingan dagang dua negara adidaya ini. Berdasarkan permasalahan ini, timbul sebuah pertanyaan untuk mencari solusi alternatif yang mampu membuat perekonomian Indonesia tetap bertahan ditengah pusaran perang dagang AS dan Cina.

Ekonomi Alternatif

Ditengah panasnya konflik perang dagang AS dan Cina, ternyata terdapat salah satu alternatif untuk bertahan agar ekonomi Indonesia tetap stabil. Sebagaimana yang  dikutip dari Bank Indonesia, bahwa kondisi perang dagang tersebut merupakan kesempatan emas bagi muslim (khususnya muslim Indonesia) untuk mengembangkan perekonomian Islam dan berbasis Syariah.

Hal ini dilatarbelakangi oleh kondisi demografis masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim. Alasan demografis rupanya tidak hanya disampaikan oleh Bank Indonesia dalam agenda Festival Ekonomi Syariah (FESYAR) 2019 wilayah timur, akan tetapi kemampuan dari pengembangan ekonomi syariah di Indonesia sangat mungkin untuk terus maju dan dikembangkan.

Sayangnya, sektor ini belum sepenuhnya dimanfaatkan secara maksimal. Hal ini terbukti dari minimnya penerapan serta pelaksanaan ekonomi Syariah di Indonesia yang hanya berjumlah 11% dari keseluruhan aktivitas ekonomi. Meskipun begitu, salah satu perusahan investasi internasional asal Amerika Serikat, Stern Resources, melihat kesempatan besar ini dan tertarik menggarap ekonomi syariah di Indonesia dikarenakan memiliki peluang yang tinggi.

Ditengah hiruk pikuk persaingan dagang, tanpa kita sadari ekonomi Islam menjadi salah satu pilihan yang tepat untuk menjaga imunitas perekonomian Indonesia. Ibarat dua mata koin, ekonomi islam yang mulai dilirik serta diperhitungkan ini menjadi hal yang positif di satu sisi, namun juga memiliki sisi negatif. Hal positif dikarenakan Indonesia akan berpotensi mendatangkan investasi asing dalam bidang perekonomian Syariah, pengembangan moneter Syariah, sukuk (saham) Syariah, dan lain sebagainya. Sementara itu menjadi hal negatif adalah apabila potensi ini tidak dikelola dengan baik oleh kaum muslim, perusahaan atau instansi yang berasal dari kalangan non-Islam akan menjadi penguasa perekonomian syariah di negeri kita sendiri, Indonesia. Semisal demikian, muncul sebuah pertanyaan besar. Sampai dimana peran kita sebagai muslim untuk mengembangkan perekonomian Islam di Indonesia? (amirunnaufal)

Berita terkait:

TENTANG DEMOKRASI DAN CIVIL SOCIETY

Digitalisasi Seni dan Budaya, Perlukah?

Strategi Memaksimalkan Kerjasama Sister City Surabaya-Liverpool