Amati, Tiru, Modifikasi Jadi Rumus Sukses CEO Click Indonesia, Ferri Jubair

Setelah sukses menyelenggarakan Wisdom Speech di Kampus Puteri Mantingan, kali ini giliran HI UNIDA Gontor Kampus Siman yang mengadakan event serupa (28/9). Wisdom Speech (WS) yang mengusung tema “Youth Career Talk; Unleash Your Potential and Reach Success” ini resmi dibuka oleh Bapak Rektor UNIDA Gontor, Prof. Dr. KH. Amal Fathullah Zarkasyi, MA pada pukul 09.00 di Main Hall lt. 4. WS tak hanya dihadiri oleh kalangan UNIDA saja, tapi juga oleh mahasiswa dari berbagai universitas, seperti UNAIR, UPN Veteran Jawa Timur, Universitas Bojonegoro, UNMUH Ponorogo, dan IAIN Ponorogo. Bahkan, 2 dosen dari UPN Veteran Jawa Timur pun turut berpartisipasi.

Pada kesempatan ini, Ferri Jubair berkenan hadir untuk menjadi keynote speaker. Bagi yang belum tahu, Ferri adalah seorang lulusan Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang yang kini bertransformasi menjadi salah satu pengusaha muda sukses Indonesia. Ia adalah CEO sekaligus communication consultant di perusahaan digitalnya, Click Indonesia.

Click Indonesia

Click Indonesia adalah perusahaan yang bergerak di bidang manajemen konten dan media social yang secara spesial membuat konten yang disesuaikan dengan target pasarnya dan turut memastikan keterlibatan jangka panjang  melalui social platform tersebut. Click Indonesia memanfaatkan social media sebagai platform untuk membangun self -branding bagi para public figure dari berbagai kalangan pemerintah maupun swasta.

penampilan sout er rijal
penampilan sout er rijal

Acara pagi ini turut dimeriahkan oleh kehadiran Shout er Rijal. Ini adalah sebuah kelompok paduan suara yang terdiri dari beberapa mahasiswa HI UNIDA dari semester 1-7. Tak hanya itu, penampilan memukau Band Dimensi yang berada di atas panggung utama selama acara berlangsung juga mampu membuat suasana hall lantai 4 semakin cair dan intimate.

Dimensi Band
Dimensi Band

Ferri mengawali paparannya dengan menampilkan angka statistik pengangguran di Indonesia yang mencapai 6,82 juta jiwa. Menurutnya, penting sekali bagi para mahasiswa untuk mempersiapkan segala sesuatu sejak dini agar nantinya tidak menambah jumlah pengangguran di Indonesia. Selanjutnya, ia menyoroti sebuah fenomena terkait penggunaan internet di Indonesia. Ternyata, mayoritas masyarakat Indonesia menghabiskan 8 jam 36 menit untuk online dan secara khusus 3 jam 26 menit untuk bermain media social. “Angka ini bisa menjadi petaka bagi kita. Tapi di lain sisi, ini juga bisa menjadi sebuah peluang usaha jika kita jeli melihatnya,” lanjut Ferri.

wisdom speech
wisdom speech
Jalan Terjal

Kisah perjalanannya ternyata tidak dilalui dengan mudah. Awalnya, ia sempat menjajal peruntungannya di bidang kuliner. Sayangnya, dua kali mencoba, dua kali juga ia menemui kegagalan. Dari pengalaman inilah lantas ia mantap hijrah ke Jakarta dan berguru pada orang-orang sukses yang dianggap sesuai dengan minatnya.

Di Jakarta, ia tercatat pernah bekerja pada sebuah proyek milik Mark Winkle dan perusahaan digital milik Ilham Habibie, putera pertama BJ. Habibie. Orang terakhir inilah yang menurutnya memiliki andil besar terhadap kesuksesannya sekarang ini. Bahkan, Ilham pernah memuji Ferri sebagai orang yang memiliki potensi besar untuk mengembangkan kreativitasnya. Ia bekerja dengan orang-orang hebat tersebut bukan didasari oleh gaji, melainkan pengalaman dan ilmu yang dapat diambil. Tak lupa, ia mengimplementasikan ATM (amati, tiru, modifikasi) dari apa yang mentornya kerjakan.

SEBUAH RAHASIA KESUKSESAN

Ada dua tips yang dibagikan Ferri bagi mereka yang ingin sukses sebagai entrepreneur di era disrupsi digital. Pertama, find a problem and solve it. Kita harus peka melihat permasalahan yang ada dan kreatif dalam menyelesaikannya. Kedua, find a need and fill it.  Penting bagi calon wirausahawan untuk menemukan apa yang sekiranya dibutuhkan masyarakat lalu mengisi celah/kesempatan itu.

Dia mencotohkan sebagai mana Netflixwebsite streaming film, berkembang sangat pesat walaupun sampai sekarang tidak memiliki sebuah studio film besar seperti perusahaan film lainnya. “Dimana ada kesempatan yang bisa dimanfaatkan, maka manfaatkanlah semaksimal mungkin utuk hasil yang memuaskan,” tegasnya.

Tak lupa, ia juga memaparkan 3 rumus kesuksesan dalam bersaing sebagai berikut;

3 kunci sukses
3 kunci sukses
  • MINDSET

Dalam hal ini  terdapat kiat “ATM” (Amati, Tiru, Modifikasi). Kita harus pandai untuk menyerap informasi dan skills dari orang lain sehingga kita dapat membuat model yang berbeda dari sebelum-sebelumnya dengan hasil yang lebih bagus.

  • SKILLSET

“KKM”(Komunikasi, Kolaborasi, Motivasi) penting untuk diimplementasikan. Komunikasi  sangat dibutuhkan dalam menjalin hubungan di dunia pekerjaan. Setelah itu dibutuhkan kolaborasi antar pihak lain yang lebih maju sehingga meningkatkan kualitas kita sendiri. Motivasi sendiri dibutuhkan untuk memacu diri kita agar terus tetap semangat dalam meningkatkan produktiftas tujuan kita.

  • SOULSET

Ia lalu menyoroti urgensi BII (Berdoa, Istiqomah, Ikhlas). Dalam suatu pekerjaan, berdoa adalah hal urgen yang membedakan kita dengan mereka yang tidak beriman. Kalau kita persentasekan, 90% untukdoa dan 10% nya adalah usaha. Setelah usaha maksimal dan doa tanpa lelah,  kita perlu istiqomah dan senantiasa mengikhlaskan apa yang ada.

Demikian merupakan paparan Ferri Jubair mengenai tantangan generasi muda dalam era disrupsi digital. Acara dilanjutkan dengan Question and Answer (QnA) dengan para mahasiswa dan dosen yang hadir.  Setelah QnA tersebut selesai, acara ditutup dengan do’a dan foto bersama. [Wildi/Hanif]

Berita terkait:

Tips Menulis Skripsi dalam Hitungan Hari!

HI UNIDA Raih Juara 2 Lomba Story Telling Bahasa Prancis di Yogyakarta

WISDOM SPEECH: ISLAM IN UNITED STATES OF AMERICA

SEINMUN 2019, Ajang Penyatuan Niat dan Perubahan Lebih Baik di Era Revolusi 4.0

Model United Nations adalah salah satu kegiatan favorit yang saat ini begitu digandrungi bagi generasi muda. Tidak hanya untuk para mahasiswa HI, melainkan juga telah diminati oleh mahasiswa dari berbagai program studi. Disini, para mahasiswa terus diasah kemampuannya terutama ketika dihadapkan sebagai utusan negara pada simulasi sidang PBB. Dari simulasi tersebutlah sang diplomat yang menjadi perwakilan negara dituntut untuk dapat mempertahankan kedaulatan negara dan memperjuangkan national interest-nya.

Selama mengikuti proses penyeleksian, para mahasiswa dituntut untuk jeli dan teliti dalam mencari referensi terpercaya. Hal tersebut dilakukan demi mengetahui isu-isu terbaru sehingga memudahkan mereka dalam pembuatan position paper. Maka dari itu, tidaklah mudah bagi para mahasiswa yang dapat lolos mengikuti ajang bergengsi tersebut.

Adalah Nur Azizah dan Shafa Arif, dua mahasiswi Hubungan Internasional yang turut serta menjadi peserta dalam salah satu kegiatan MUN. Kegiatan ini secara resmi diselenggarakan di Universitas Diponegoro dengan nama SEINMUN 2019 atau Semarang International Model United Nations.

Tentang SEINMUN 2019

Adapun SEINMUN kali ini mengusung tema “Embracing Alteration: Unifying Intentions, Enhancing Awareness Toward Peace and Justice 4.0”. Acara tersebut telah berlangsung tepat di Grand Candi Hotel, Semarang, Jawa Tengah (19-21/09).

SEINMUN adalah simulasi sidang dimana peserta berdiri sebagai delegasi dari negara-negara yang ada di dunia. Salah satu tujuannya adalah untuk menangani berbagai masalah yang ada di dunia dengan politik dan perspektif negaranya masing-masing. Setiap peserta dituntut untuk memikul peran sebagai perwakilan dari negara anggota PBB dan SEINMUN akan mengajarkan setiap pesertanya bagaimana cara berdiplomasi dengan baik. Serta, kegiatan ini berguna untuk menstimulus para millenial dalam berpikir kritis, sehingga mampu menyampaikan gagasan mereka dengan jelas dan ringkas.

Tidak hanya itu, mereka juga dipandu untuk memahami isu kontemporer mengenai masalah council yang telah ditentukan sebelumnya. Adapun council tersebut  ialah UNESCO  dalam Utilizing Education and Local Culture as Means of Peace Building. ILO dalam isu Automation in the Disruption Era| Challenges or Opportunities. UNSC dalam hal Dilemma of Contemporary Security the Usage of Autonomous Weapons System in Modern Warfare. Acara ini diharapkan mampu mencetak generasi yang peka dan tanggap dalam mengatasi isu-isu internasional. Hal ini guna mewujudkan perdamaian dan perubahan dunia ke arah yang lebih baik.

MUN

-MUN-
Tak Hanya Menjadi Delegasi

Shafa, salah satu delegasi mengisahkan bahwa dengan mengikuti MUN, ia dapat membangun jaringan dengan teman-teman baru dengan pengalaman unik dan menarik. Dari sanalah, Shafa semakin termotivasi untuk terus memetik dan menebarkan manfaat yang telah mereka dapatkan dari pengalaman mengikuti MUN.

Lain halnya dengan Shafa, dalam pandangan Azizah, mengikuti kegiatan MUN adalah hal yang tidak sulit untuk digapai jika kita ingin berdoa dan berusaha dengan sebaik-baiknya. Ia juga bercerita bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk dapat meraih apa yang menjadi passion serta mengasah skill yang ada pada jiwanya.

Maka dari itu, semua orang memiliki kesempatan yang sama besar untuk mengikuti kegiatan ini, tidak hanya mahasiswa HI saja. Azizah berharap, keikutsertaannya dalam acara ini dapat terus memotivasi para mahasiswi lainnya untuk terus belajar dan berjelajah di bumi Allah yang luas ini. [Fiani]

Artikel Terkait:

28 Mahasiswa Hubungan Internasional Mengikuti Pelatihan School of MUN

UNIDA Gontor Utus Delegasi Asia Youth International Model United Nation (AYIMUN) 2019

Kiprah Delegasi HI UNIDA di Ajang Model United Nations (MUN) | Universitas Katolik Parahyangan Bandung

Tips Menulis Skripsi dalam Hitungan Hari!

Skripsi adalah sebuah kata yang dinanti ataupun sebaliknya ditakuti oleh mahasiswa. Dinanti karena dengan skripsi, berarti tugas utama sebagai mahasiswa hampir purna. Sebaliknya, skripsi juga bisa menjadi mimpi buruk karena tidak sedikit mahasiswa yang harus menghabiskan umur mereka, karena tidak berdaya merampungkan skripsinya tepat pada waktunya.

Tulisan ini ditulis berdasarkan pengalaman pribadi saat menyelesaikan tugas akhir (tesis) di Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Jurusan Hubungan Internasional, dengan tema: “Peranan people to people diplomasi dalam hubungan diplomatik Indonesia-Mesir”. Tesis ini rampung tersusun kurang dari 60 hari saja.

Sungguh mengesankan! Karya tulis ilmiah untuk jenjang master ternyata mampu diselesaikan dalam kurun waktu 2 bulan saja, tentunya dengan tidak mengabaikan prosedur penelitian ilmiah yang berlaku. Padahal penelitian tersebut menggunakan perpaduan dua metodologi (mixed methods); kuantitatif dan kualitatif.

Untuk kuantitatif, sampling data diambil dari angket yang disebarkan kepada komunitas masyarakat Indonesia di Mesir. Sedangkan akses data kualitatif, diperoleh setelah melakukan perjalanan ke luar kota, untuk menemui beberapa nara sumber utama, yang mayoritas pejabat negara. Terbayang kan bagaimana keseruan penelitian ini lakukan?

Untuk itu, bagi para mahasiswa yang penelitiannya hanya menggunakan satu dari kedua metodologi tersebut, tentunya tantangan yang dihadapi lebih ringan bukan? Sehingga karya tulis para mahasantri UNIDA seharusnya bisa kelar kurang dari 60 hari saja.

Lalu bagaimana caranya agar tugas penelitian kita selesai dalam waktu singkat? Berikut beberapa tipsnya:

  1. Pilih tema yang paling disuka dan data yang paling mudah didapat

Tema dan data adalah dua kata kunci yang menentukan perjalanan penelitian yang akan kita lakukan. Tema yang sesuai dengan minat membantu kita untuk menguasai materi relatif lebih cepat dan senantiasa mengobarkan semangat kita dalam menganalisa.

Tapi minat saja tidak cukup, dalam sebuah penelitian, data adalah komponen utama, sehingga ketersediaan dan kemudahan dalam mengakses data harus menjadi pertimbangan awal sebelum kita menentukan tema penelitian yang akan kita lakukan.

  1. Cerdas mengatur waktu

Agar perjalanan penelitian yang kita lakukan bisa berjalan pada track yang benar, kita harus bijak menentukan berapa lama waktu yang kita miliki sebagai target dalam menyelesaikan penelitian tersebut. Setelah kita menentukan waktu, bagilah rentang waktu tersebut menjadi dua periode; Pertama, gunakan alokasi waktu sepenuhnya hanya untuk mencari dan memverifikasi data. Sedangkan sisa waktu kedua hanya digunakan untuk menganalisa dan menuliskannya.

Sebagai contoh, jika kita memiliki waktu 60 hari saja, gunakan 30 hari pertama khusus hanya untuk mencari sebanyak-banyaknya data penelian yang diperlukan, untuk kemudian kita verifikasi kevalidan data tersebut. Jangan memulai dengan analisa, karena analisa hanya kita lakukan setelah lengkapnya data. Setelah data yang kita miliki terasa cukup dan proses validasi rampung, maka kita beranjak pada step yang kedua dari 30 hari sisa waktu sisa untuk menganalisa dan menuliskan laporan penelitian/skripsi tersebut.

  1. Fungsikan pembimbing sebagai patner, bukan penguji!

Ingat, dalam setiap penelitian, kita membutuhkan seorang patner untuk berdiskusi atau bahkan berbagi keluh kesah. Dalam menuliskan tugas akhir, seorang mahasiswa diberikan fasilitas bimbingan, yaitu seorang dosen yang dianggap memiliki kepakaran dalam tema yang ia teliti. Kesalahan dalam bersikap dengan dosen pembimbing, bisa berdampak negatif.

Dalam beberapa kasus, kegagalan skripsi bukan dikarenakan minimnya kemampuan akademik mahasiswa, melainkan kesalahan dalam proses interaksi dengan pembimbingnya. Untuk itu, penting kiranya kita bisa menjadikan pembimbing sebagai patner. Sehingga dari awal, dosen pembimbing mampu mengerti karakteristik diri kita. Sebagai hasilnya, arahan-arahan yang mereka berikan menjadi solusi dari segala problematika yang kita hadapi dan bukan sebaliknya.

  1. Tingkatkan ibadah, perbanyak doa!

Langkah terakhir dan yang paling menentukan dalam menyelesaikan tugas akhir adalah ketenangan hati dan pikiran. Hati yang gundah dan pikiran yang kurang fokus bisa jadi menjadi penghalang bagi kelancaran penelitian yang kita lakukan. Untuk itu, tidak ada solusi lain untuk sebuah ketenangan hati melainkan mendekatkan diri kepada sang Pencipta. Adapun cara-cara yang bisa kita lakukan untuk ber-taqarrub dengan-Nya adalah dengan meningkatkan ibadah, memperbanyak doa, menjaga sholat berjamaah lima waktu, mengaji di setiap waktu, sekaligus menyisihkan rejeki untuk berbagi. Hal-hal tersebut penting untuk kita jalani, karena itu semua adalah asupan gizi bagi jiwa-jiwa manusia.

Semoga tips-tips tersebut bermanfaat, selamat mencoba! [MR. CHAN]

AKPAM, bukan hanya sekedar syarat UAS

Angka Kredit Penunjang Akademik Mahasiswa …

Hari Jumat, (20/9/19) Staf Angka Kredit Penunjang Akademik Mahasiswa (AKPAM) berkumpul untuk melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor). Rakor ini dihadiri oleh perwakilan Staf AKPAM dari kampus pusat dan seluruh kampus cabang. Acara dilaksanakan di gedung Sirah Nabawi Universitas Darussalam Gontor Kampus Siman. Acara dimulai pukul 07.30.WIB, dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an, dilanjutkan dengan sambutan dan sesi penjelasan.

Sambutan acara disampaikan oleh Al-Ustadz Hasib Amrullah, M.Ud, Direktor Kepengasuhan Universitas Darussalam Gontor. Beliau menyampaikan pesan singkat mengenai jabatan dan amanat. Bahwa pentingnya sesorang bukan dilihat dari jabatan, namun apa yang telah ia kerjakan. Staf tidak hanya sebagai pengurus, namun sekaligus mengemban amanah. Meski kebanyakan amanat terasa sulit harus dijalankan dengan sebaik mungkin.

AKPAM (Angka Kredit Penunjang Akademik Mahasiswi) merupakan hal yang tidak asing lagi bagi para mahasiswa Universitas Darussalam Gontor. AKPAM menjadi salah satu persyaratan mengikuti Ujian Akhir Semester (UAS). Batas skor yang harus dicapai yaitu 200. Mengapa AKPAM menjadi hal yang penting? Dalam sesi penjelasaan, AL-Ustadz Asad Arsya Brilliant Fani, S.M dari bagian BAAK Unida Pusat menjabarkan jawaban atas pertanyaan ini.

Penjelasan SKPI

AKPAM menjadi salah satu komponen yang akan mengisi Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI). SKPI bertujuan menjadi dokumen yang menyatakan kemampuan kerja, penguasaan pengetahuan, dan sikap/ moral pemegang. Hasil skor AKPAM kumulatif dari semester satu hingga semester akhir inilah yang akan mengisi SKPI. Sejak 2018 kemarin, Unida sudah menyertakan SKPI kepada alumninya. Demikian penjelasan Ustadz Asad kepada para mahasiswa-mahasiwi, sembari mempresentasikan materinya dengan power point.

Sesi selanjutnya yaitu penjelasan mengenai SIAKAD Unida. Rencana untuk kedepannya AKPAM akan diinput secara online melalui SIAKAD Unida. Para Staf diberikan pengarahan dan mempraktekan langsung menggunakan notebook masing-masing. Sesi ini sebagai pengenalan sebelum diterapkannya sistem AKPAM  SIAKAD. Selain itu diharapkan untuk dapat disosialisasikan kepada seluruh mahasiswa Unida di masing-masing kampus.

Rakor dilanjutkan dengan penjelasan mengenai sistem input AKPAM manual. Salah satu Staf AKPAM dari kampus Gontor 1 menjelaskan tahapan input dengan media Microsoft Excel. Meski sebagian besar Staf yang hadir adalah Staf lama yang sudah mengenal mekanismenya, namun penjelasan ini perlu agar seluruh staf mampu melaksanakan kewajiaban dengan baik dan sesuai prosedur.

Selanjutnya sharing session yang berisikan Question and Answer (QnA) dan beberapa evaluasi umum. Beberapa pertanyaan dilontarkan oleh pesrta Rakor, dan dijawab bergantian oleh  Ustadz Asad dan para Staf AKPAM Pusat. Seusai QnA, masing-masing Staf dari tiap kampus diberikan waktu untuk menjelaskan mekanisme yang telah diterapkan di kampus masing-masing. Acara ditutup dengan conclusion dan berakhir puku 10.20 WIB.

Setelah diadakannya Rakor ini, diharapkan seluruh Staf AKPAM mampu menyamakan persepsi, meski Unida terdiri dari kampus-kampus yang terpisah. Semoga dapat menjadi evaluasi seluruh kampus agar lebih baik dalam menjalankan tugas. (Salsabila Safri/HI-5)

HI UNIDA Raih Juara 2 Lomba Story Telling Bahasa Prancis di Yogyakarta

UNIDA Gontor adalah lembaga perguruan tinggi yang terkenal dengan standar bahasa Inggris dan Arabnya yang baik. Dua bahasa internasional tersebut secara aktif digunakan di beberapa kegiatan kampus, seperti proses belajar mengajar di kelas, seminar nasional dan internasional, bimbingan, hingga pengasuhan. Penguasaan bahasa Arab dan Inggris yang baik ini diharapkan dapat memudahkan para mahasantri untuk membuka tabir ilmu di berbagai belahan dunia Timur dan Barat.

Modal Bahasa Arab dan Inggris ini ternyara mampu menjadi stepping-stone para mahasiswa UNIDA Gontor untuk menguasai bahasa asing lain, Prancis contohnya. Tak tanggung-tanggung, beberapa mahasantri inipun berani unjuk kebolehan dengan mengikuti kompetisi Bahasa Prancis di luar UNIDA.

Beberapa waktu lalu, 5 mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional semester 1 menjadi delegasi Universitas Darussalam Gontor dalam lomba yang diadakan oleh Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Perlombaan yang diadakan pada tanggal 19 September sampai 21 September ini mendapat antusias dari berbagai kalangan pelajar, baik dari SMA/sederajat hingga mahasiswa. Tercatat ada 4 macam cabang yang dilombakan, yaitu Debat, Pidato, Story Telling, dan Puisi.

Lomba yang menggunakan tema “Budaya” dan “Bahasa” ini menjadikan seluruh perlombaannya sarat akan bahasa dan budaya lintas negara. Hal ini terlihat dari atribut dan pakaian yang bervariasi, hingga kegiatan yang seluruhnya dilaksanakan dengan bahasa Arab, Inggris, dan Prancis.

story telling -
story telling –

Pada perlombaan ini, kelima mahasiswa HI UNIDA Gontor mengikuti cabang Story Telling berbahasa Prancis. Mereka membawakan sebuah cerita klasik karya Charles Perrault. Judulnya adalah “Le Chat Botte” atau dalam versi inggris “Puss in Boots”. Cerita ini mengisahkan tentang anak bungsu dari seorang petani tua. Ketika ayahnya meninggal, ia hanya meninggalkan seekor kucing untuk si bungsu. Ternyata kucing itu bukan sembarang kucing. Dia adalah seekor kucing yg bisa berbicara dan cerdas (licik). Atas bantuan si kucing, si anak ini mampu merubah kehidupannya 180 derajat. Yang sebelumnya hidup serba kekurangan, akhirnya anak bungsu tersebut dapat hidup bahagia dan mendapatkan semua keinginannya.

Alhamdulillah, delegasi Universitas Darussalam Gontor berhasil menjadi juara 2.  Zakir, Zulfadhillah, Ragil, Aditya, dan Arif berhasil mengalahkan beberapa delegasi yang juga ikut serta dalam cabang lomba ini. Keberhasilan ini tak lepas dari kedisiplinan dalam latihan, usaha yang tak kenal lelah, hingga do’a dan support dari semua dosen HI yang tak pernah putus.

Sang ketua delegasi, Zakir, mengaku bahwa proses latihan timnya memang tidak bisa dikatakan mudah. “Tim kami hampir semua personelnya belum lancar berbahasa Prancis. Jadi kita mulai dari paling dasar, yaitu pengucapan alfabet dan kata. Syukurnnya, kami diuntungkan dengan kemampuan bahasa Inggris teman-teman yang lumayan baik. Banyak kosa kata bahasa Prancis yg memiliki kesamaan dengan bahasa Inggris. Yang membedakan hanya pengucapannya saja. Alhamdulillah, dalam waktu seminggu kami sudah cukup menguasai cerita yang kami tampilkan untuk lomba kemarin, tegas Zakir.

Harapannya, keberhasilan mereka ini dapat menjadi sebuah pengalaman beharga. Pengalaman yang dapat melecut semangat mahasiswa lainnya untuk terus berprestasi dan aktif di dalam kegiatan masing-masing, baik itu kegiatan akademik ataupun non-akademik. [Haekal/Ed.Wildi]

 

Berita terkait:

Beasiswa Santri LPDP, Beasiswanya Mahasiswa UNIDA

LoA, Surat Sakti Para Pemburu Beasiswa

Beberapa Contoh Teks MC Bahasa Inggris