Mengenali Kebudayaan Turki bersama Mahasiswi Universitas Zaim Sabahattin Turki

Ketika mendengar nama negara satu ini, hal pertama yang mungkin akan terlintas di benak kita adalah kebab. Turki juga erat dengaan presidennya, Erdogan, yang terkenal sebagai pemimpin Islam yang dengan gagahnya mengecam dan menentang zionisme Israel. Namun, jika menelisik lebih jauh lagi, ternyata banyak hal yang menarik untuk dibahas, terutama mengenai kebudayaan mereka. Beberapa diantaranya adalah kuliner, fesyen, sampai dengan tempat-tempat traveling yang bisa dijadikan rujukan para sobat traveler.

Forum diskusi dengan tema religion
Joint Forum Sebagai Wadah Bertukar Pendapat

Mahasiswa Hubungan Internasional UNIDA bersama mahasiswi Universitas Zaim, Sahabattin Istanbul mengadakan Joint Forum atau diskusi bersama pada Selasa, (07/13) yang bertempat di hal pertemuan Sirah Nabawi. Kegiatan ini diadakan dalam rangka memperluas wawasan ilmu pengetahuan dan jaringan pertemanan antara mahasiswa UNIDA dengan mahasiswi Istanbul Zaim University (IZU). Acara ini dibagi menjadi tiga rentetan yaitu kuliah umum yang dibawakan langsung oleh dua perwakilan mahasiswi Turki, diskusi bersama dengan tema utama: agama, pendidikan, budaya, kemudian diakhiri dengan penyampaian hasil diskusi.

Kota Pariwisata

Pada sesi kebudayaan kali ini terdapat tiga narasumber utama yakni Azra Gul Orekici, Irem Sena, dan Edanur Gun. Irem memulai berjalannya diskusi dengan memaparkan banyaknya destinasi pariwisata yang dapat dikunjungi. Utamanya yaitu di Istanbul sebagai ibukota mulai dari spot pemandian air panas, snowboard dikala musim dingin, hingga bangunan ikonik Turki peninggalan zaman kekhilafahan Turki Utsmani.

Hal yang menarik lagi dari Istanbul adalah banyaknya populasi kucing di kota tersebut. Karena jumlahnya yang masif, Istanbul terkenal dengan sebutan the city of cats. Bahkan, konon setiap kucing di Istanbul memiliki rumah sendiri. Meskipun begitu, berdasarkan penjelasan Azra, ternyata tidak semua orang di Istanbul menyukai kucing.

Pemandangan di salah satu sudut kota di Istanbul

Selanjutnya, Edanur menambahkan jika Anatlya ( Anatolia ) juga memilki tempat-tempat wisata alam yang tidak kalah indah jika dibandingkan dengan Indonesia. Kemudian ada juga ada kota Izmir yang mempunyai sejarah cukup erat dengan bangsa Yunani karena memang pada awalnya kota ini dibangun oleh bangsa Yunani hingga akhirnya dibebaskan oleh Dinasti Turki Usmani.

Selain itu, Turki ternyata memiliki kuliner khas yang tak kalah terkenal dari kebab. Makanan tersebut disebut Lokma, yaitu berupa kue kering yang dibuat dari ragi dan gorengan berbentuk bulat yang biasanya disajikan dengan madu, sirup dan kayu manis.

Lokma
Saling Lempar Pertanyaan

Dalam diskusi ini, kedua belah pihak baik mahasiswa UNIDA maupun mahasiswi IZU saling bertukar cerita dan pengalaman sehingga keduanya memiliki kesempatan untuk bertanya mengenai kebudayaan negara masing-masing.

Ada hal unik ketika mereka membahas salah satu kota pariwisata teramai di Indonesia, Bali. Menurut para mahasiswi Turki ini, Bali ternyata lebih familiar di telinga mereka dibandingkan ibukota Jakarta, bahkan, dari Indonesia itu sendiri. Hal ini sangat masuk akal mengingat Bali merupakan destinasi utama turis mancanegara yang berkunjung di Indonesia khusunya bagi mereka yang ingin menikmati suasana pantai dan berolahraga selancar. Bali memiliki kriteria spot yang sesuai bagi mereka, tutur salah satu mahasiswi  Turki.

Acara ini diakhiri dengan pemaparan intisari/closing statement dari masing-masing cluster  yang dibimbing oleh pengampu matakuliah studi kawasan Eropa HI UNIDA, Belly Rahmon, MA. [Reyhan/Ed.Wildi]

Berbakti kepada Masyarakat untuk Mewujudkan Negeri yang Madani

Tridharma Perguruan Tinggi

Mahasiswa Universitas Darussalam Gontor mengimplementasikan satu nilai dari tridarma perguruan tinggi yaitu pengabdian masyarakat. Sebagai civitas akademika, mahasiswa mempunyai peran penting dalam membina bangsa dan mempertahankan peradaban umat. Idealnya, seorang mahasiswa tidak boleh hanya menyerap apa yang mereka lihat selama di jenjang pendidikan, akan tetapi mereka juga hendaknya go public untuk mengamalkan apa yang telah mereka serap sebagai bentuk kesadaran sosial-intelektual.

Bakti Sosial

Kali ini, Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat (LPKM) UNIDA Gontor mengadakan kegiatan bakti sosial sebagai wadah bagi mahasiswa untuk memberikan pengalaman dibidang pendidikan dan pengajaran. Hal ini juga bertujuan sebagai serta sebagai problem solver terhadap permasalahan kontemporer di kalangan masyarakat pedesaan.

Bakti sosial berlangsung sejak tanggal 9 Agustus 2019 – 12 Agustus 2019 dan melibatkan 142 mahasiswa semester 1 (peserta) dan 56 mahasiswa semester 3 (panitia pelaksana). Aktivitas yang kaya akan syarat sosial ini diadakan sebagai sarana dakwah jahriyyah dan membumikan nilai-nilai Islam berbasis amr ma’ruf nahi munkar.

Antusiasme Warga

Desa Wates Kec. Jenangan merupakan tempat terlaksananya kegiatan bakti sosial yang terdiri dari Dusun Galuh dan Dusun Krajan. Sesampainya tiba di lokasi, para peserta yang tediri dari mahasiswa UNIDA Gontor lintas prodi disambut meriah oleh para warga. Hal ini dibuktikan dengan antusiasme 12 warga yang menawarkan rumahnya sebagai posko para peserta. Tak hanya itu, di hari pertamanya para mahasantri UNIDA sudah diminta untuk mengajar di madrasah, menghidupkan kembali bi’ah TPA, hingga inisiasi pelatihan penggunaan pupuk organik oleh mahasiswa program studi Agroteknologi.

 

Rangkaian Kegiatan Bakti Sosial

Adapun serangkaian kegiatan sosial yang telah terlaksana di bumi Galuh dan Krajan terdiri dari pelatihan penyembelihan hewan kurban oleh Ust. Noor Syahid, M.Pd, pelatihan penggunaan pupuk organik dan pemasaran hasil panen oleh mahasiswa Agroteknologi, layanan bekam gratis oleh UKM thibbun nabawi, pengajaran ilmu fikih di madrasah, kultum selepas sholat subuh, hingga memeriahkan suasana idul adha dengan mengadakan perlombaan menarik untuk seluruh kalangan masyarakat desa Wates.

Ditutup dengan Serangkaian Pentas Seni

Sebagai akhir atas selesainya acara tersebut, panitia mengadakan pagelaran pentas seni yang dimeriahkan oleh mahasiswa dan masyarakat setempat. Beberapa diantaranya adalah Reog Ponorogo, jatilan, pencak silat SH terate, dan beberapa tarian kombinasi dari teman-teman panitia. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembagian hadiah oleh Pak Suwaji selaku Kepala Desa Wates dan diakhiri dengan sepatah kata terimakasih dari Ust. Hasib Amrullah (kepala staf direktorat kepengasuhan) kepada masyarakat desa setempat.

Memilih Lapar: Diplomasi dan Islam era Kemerdekaan

Hari Bersejarah Bagi Perjuangan Diplomasi Indonesia

Pagi itu, sekira pukul 9 waktu Kairo, delegasi Indonesia yang dipimpin oleh Agus Salim tampak tegang dan cemas menunggu peristiwa maha penting bagi masa depan Republik Indonesia yang baru lahir. Keheningan menyelimuti ruangan depan kantor Perdana Menteri Norkrasyi Pasha, yang telah menyanggupi pertemuan penandatanganan kerjasama internasional pertama Indonesia dengan Mesir. Namun, pintu ruang kerja Perdana Menteri tak kunjung terbuka. Kondisi itu membuat suasana semakin tak karuan.

Tiba-tiba, pintu terbuka dan muncul seorang pria berwajah Eropa keluar tergesa-gesa dengan wajah pucat dan lesu. Rupa-rupanya, ia adalah Graaf van Rechteren, Duta Besar Belanda untuk Mesir yang telah gagal dengan misinya. Menjegal kerjasama Indonesia-Mesir, yang berarti mengakhiri klaim kekuasaan mereka atas Indonesia.

“Menyesal sekali kami harus menolak protes tuan, sebab Mesir selaku negara berdaulat dan sebagai negara yang berdasarkan Islam tidak bisa tidak mendukung perjuangan bangsa Indonesia yang beragama Islam. Ini adalah tradisi bangsa Mesir dan tidak dapat diabaikan!”.

Lugas dan tegas. Rentetan kata-kata yang keluar dari Perdana Menteri Mesir Nokrasyi Pasha kepada Duta Besar Belanda membuat Rechteren tak bisa berbuat apa-apa. Saat itu, tanggal 10 Juni 1947 adalah hari bersejarah bagi perjuangan diplomasi Indonesia. Kerjasama kedua negara sebagai pertanda pengakuan internasional de jure pertama bagi kemerdekaan Indonesia, diteken.

A.R. Baswedan, saksi sekaligus penutur cerita tentang situasi tersebut mengungkapkan perasaan yang menggelora dan tak terlupakan. Betapa perjuangan panjang ini akhirnya mendapat jawaban. Hanya ungkapan syukur kepada Allah yang bisa ia panjatkan atas karunia-Nya dan berkat-Nya.

Perjuangan Pemuda Indonesia di Mesir

Perjuangan pengakuan ini panjang ceritanya. Mesir masa itu, dengan pelajar dan mahasiswa Indonesia di sana adalah salah satu poros penting gerakan kemerdekaan Indonesia di luar negeri, selain di Belanda dengan Indische Vereeniging yang lebih tenar itu tentunya. Gerakan itu telah dimulai bahkan pada awal tahun 1920-an. Ia bergerak sangat agresif. Masif. Tak terbendung. Bahkan, menurut Dr. Sutomo yang berkunjung ke Kairo tahun 1931, “pemuda-pemuda Indonesia yang berada di Kairo terlalu panas dan perlu didinginkan”.

Tak cukup disitu, pelajar dan mahasiswa Indonesia yang kala itu belajar dengan beasiswa dari pemerintah Belanda dengan tegas menolak mengambil hak tunjangan mereka demi memurnikan perjuangan juga sebagai tirakat gerakan kemerdekaan Indonesia di Mesir. Dalam salah satu paragraf petisi yang dikeluarkan oleh warga Indonesia di Mesir kala itu menyatakan dengan keras dan menggetarkan: Menolak secara serentak untuk menandatangani tanda terima tunjangan dan memilih lapar daripada harus mengkhianati Tanah Air dan dikeluarkan dari kebangsaan (Indonesia).

Para pemuda itu rupanya tidak hanya mempromosikan Indonesia kepada masyarakat umum lewat kawat-kawat yang dikirim ke berbagai media nasional di Mesir, gerakan ini bahkan menyentuh elit-elit politik negeri itu. Tak hanya elit Mesir, pertemuan Pan Arab (sekarang Liga Arab) pada 6 September 1944 yang dihadiri oleh para menteri luar negeri negara-negara arab di Alexandria, Mesir pun dibajak dengan beberapa permintaan yang salah satunya adalah dukungan atas kemerdekaan Indonesia. Imbasnya, muncul simpati dari negara-negara Arab atas nasib perjuangan Indonesia.

Sampai-sampai, Abdurrahman Azzam Pasha, Sekjen Liga Arab saat itu, menjadi juru diplomasi utama perjuangan pengakuan kemerdekaan, lewat lobi-lobinya kepada para elit politik di Timur Tengah. Dengan satu kata kunci: Indonesia, yang Islam, membutuhkan bantuan! Maka tak heran, atas dasar persaudaraan Islam, seperti yang dinyatakan oleh Raja Farouq, Mesir mengakui kemerdekaan Indonesia yang kemudian diikuti oleh beberapa negara arab lain seperti Suriah, Lebanon, Yaman dan Arab Saudi. Merdeka! [Sofi Mubarok]

Artikel terkait:

Beasiswa Santri LPDP, Beasiswanya Mahasiswa UNIDA

 

http://hi.unida.gontor.ac.id/2019/09/05/biografi-abu-bakar-assidiq-dan-gaya-diplomasinya/

MEMAKNAI “SDM UNGGUL INDONESIA MAJU” DALAM KONTEKS IDEOLOGI PANCASILA

KEBEBASAN YANG DINANTI-NANTI GUNA MEWUJUDKAN CITA-CITA BANGSA

Budaya Membaca dan Menulis, Ibarat Tanaman yang Tak Terawat