Idul Adha; Momentum Pengorbanan Egosentrik Realis menuju Keikhlasan Hikmatis

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahi Hamd!

Suara takbir menggema di seluruh penjuru dunia, setiap muslim pada hari ini mengucap takbir, memuji nama Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Kuasa.

Idul Adha adalah momentum bagi umat manusia terutama bagi seorang muslim dalam meneladani sosok Nabi Ibrahim AS yang mampu mengorbankan egoisme pribadi, keluarga bahkan materi dunianya demi penghambaan kepada Allah SWT, Tuhan pencipta alam seisinya.

Kecintaan pada dunia dan menomersatukan egoisme pribadi ataupun keluarga adalah sumber utama bencana dunia dan asal muasal dari segala konflik maupun peperangan yang identik dalam pandangan realisme.

Pandangan Realisme

Mayoritas akademisi Hubungan Internasional tentu tidaklah asing dengan perspektif realisme yang memandang dunia dengan sifat konfliktualnya. Manusia digambarkan sebagai serigala bagi manusia lainnya juga rasa egoisme dalam memperjuangkan kepentingannya adalah bara api yang siap membakar apa dan siapa saja yang ada disekelilingnya.

Karena itulah, dalam pandangan ini, manusia harus menjadi kuat agar tidak menjadi mangsa bagi manusia lain. Begitu pula dengan sebuah bangsa, haruslah kuat dan berdaulat agar tidak dikuasai bangsa lainnya.

Kalaupun suatu bangsa tidak mampu menjadi bangsa yang kuat, maka bangsa tersebut haruslah bersahabat bahkan bersekutu dengan negara adidaya. Adapun tujuan yang dicapai hanyalah satu, yaitu menjaga keseimbangan kekuatan atau balance of power yang merupakan poin utama dalam menjaga stabilitas hubungan antar negara.

Pandangan kaum realisme ini kembali mengingatkan kita pada memori Bangsa Arab di era jahiliyah. Dimana pada masa itu, terdapat yang menyatakan bahwa “siapa yang kuat dialah yang berkuasa dan siapa yang lemah dialah yang akan tertindas”. Masa tersebut adalah masa dimana yang kaya adalah yang mulia dan yang miskin adalah yang hina.

Misi Islam

Maka, kedatangan Rasulullah membawa misi utama yaitu mengembalikan manusia pada fitrahnya yang semula, mengenalkan manusia pada Sang Pencipta serta mengajarkan manusia pada tuntunan hidup semasa di dunia demi kehidupan abadi di kehidupan ke-dua nantinya.

Idul Adha bagi umat Islam adalah suatu momentum peniadaan sifat-sifat kebinatangan pada setiap diri manusia dengan selalu berusaha menumbuhkan rasa kemanusiaan. Tidak hanya itu, umat manusia juga akan berusaha meninggalkan egoismenya menuju tenggang rasa dan peduli pada kepentingan bersama.

Alangkah bahagianya jika setiap manusia dapat menemukan esensi kemanusiaannya, berpedoman pada kitab suci Al-Quran dan Sunnah Nabi Muhammad SAW dengan senantiasa meyakini bahwa setiap perintah Allah dan Rasul-Nya adalah kebaikan bagi seluruh kehidupan manusia serta bukanlah logika semata.

Selamat Hari Raya Idul Adha 1440 H! [Rudi Candra]

 

Berita Lainnya

http://hi.unida.gontor.ac.id/2019/09/05/biografi-abu-bakar-assidiq-dan-gaya-diplomasinya/

IDULADHA: TEBARKAN BERKAH, HADIRKAN SENYUM MEREKAH

PENGORBANAN MENUJU KEBAHAGIAAN DI HARI RAYA IDUL ADHA

Implementasi Tabungan Kurban Sejak Dini

IDULADHA: TEBARKAN BERKAH, HADIRKAN SENYUM MEREKAH

Terdapat dua perayaan yang selalu disambut dengan sukacita oleh umat muslim seluruh dunia, yaitu Idul Fitri dan Iduladha. Kedua perayaan umat muslim ini selalu membawa kebahagiaan di setiap event-nya dan di belahan dunia manapun, karena di dalamnya mengandung makna yang sangat dalam dan religius. Seluruh umat muslim seluruh dunia merayakan dua hari besar umat Islam dengan penuh sukacita.

Iduladha dan Idul Fitri di Indonesia memiliki keunikan masing-masing. Jika Idul Fitri kental dengan nuansa Ramadhan berhias kupat dan opor ayam, Iduladha di Indonesia akan ramai dengan kurban sapi dan kambing, yang mana dagingnya nanti akan dimasak menjadi beragam makanan khas Indonesia seperti rendang, sayur sup, dan sate. Hal ini tentunya memberikan banyak kebahagiaan bagi seluruh umat muslim karena mendatangkan berkah yang melimpah.

Bagi orang kaya, kebahagiaan mereka didapatkan karena mereka bisa memberikan sebagian hak dari harta yang dimilikinya baik berupa zakat ataupun hewan kurban. Karena bagi siapa saja yang berzakat ataupun berkurban pada hari Iduladha, ganjaran berlipat ganda akan diberikan oleh Allah sebagai balasannya, Insyaa Allah.

Adapun bagi kaum duafa, kebahagiaan akan didapatkan karena mereka dapat merasakan nikmat dari hasil kurban dan pemberian zakat. Mereka yang tidak memiliki harta cukup dan tidak memiliki kemampuan untuk berkurban akan mendapatkan tunjangan zakat yang biasanya diberikan oleh dewan-dewan masjid setempat.

Hari besar umat Islam tentunya selalu membawakan kebahagiaan dan kesejahteraan bagi para umatnya di seluruh alam karena Islam sendiri adalah agama rahmatan lil-‘alamin yang tidak akan pernah membeda-bedakan derajat manusia hanya dengan ukuran harta melainkan takwa. Selama Iduladha berlangsung, para muslimin berlomba-lomba untuk mendapatkan berkah dan pahala dari Hari Raya Iduladha dengan melakukan qurban dan berzakat.

Sebagai seorang muslim, sudah selayaknya untuk menyambut Hari Raya Iduladha dengan penuh sukacita karena hal tersebut merupakan sifat yang mulia. (Zahra Fahira/HI-3)