PENGORBANAN MENUJU KEBAHAGIAAN DI HARI RAYA IDUL ADHA

Hari raya Idul Adha yang jatuh pada tanggal 10 Dzulhijah tahun hijriah menjadikan hari dimana segenap umat Islam seluruh dunia mengagungkan nama kebesaran Allah SWT, takbir selama hari itu berlangsung. Kendati demikian, perayaan ini terjadi secara rutin tiap tahunnya, yang mana selalu memberikan makna bagi setiap umat Islam. Bahkan dalam batas-batas tertentu memiliki makna juga bagi umat yang lain karena Idul Adha memiliki misi kemanusiaan yang bersifat universal (Dr. H. Rochmat Wahab, 2019). Selain idul adha, biasanya hari raya ini disebut juga Idul qurban. Rasullulah ﷺ bersabda ”Hari raya fitrah (‘Idul Fitri) adalah pada hari manusia berbuka menyudahi puasa ramadhan. Sedangkan hari raya ‘Idul Adha (Idul Adha) adalah pada hari manusia ber-udhiyah (menyembelih hewan)” (HR.Tirmizi). Yang mana pada hari ini umat Islam menunaikan ibadah haji sesuai rukun Islam namun bukan hanya ibadah haji, seorang muslim yang belum mampu untuk menunaikan haji mereka di beri kesempatan untuk berkurban.

Idul Adha menyadarkan umat muslim bahwa semua yang di dunia ini milik Allah SWT. Harta, keluarga dan sebagainya hanya milik Allah SWT semata. Pada suatu hari, Nabi Ibrahim berkata,”kepunyaan Allah, tapi kini masih milikku. Sewaktu-waktu bila Allah menghendaki, aku serahkan semuanya. Jangankan cuma ternak, bila Allah meminta Anak kesayangan anakku Ismail, niscaya akan ku serahkan juga.” Kata ini terucap ketika menjawab pertanyaan seseorang tentang ternaknya yang banyak. Manusia diharuskan untuk melaksanakan ibadah haji dan qurban agar ingat bahwa harta yang mereka miliki bukanlah hak mereka semata melainkan harta yang harus digunakan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, yang mana umat muslim pada hari raya ini di beri cobaan dengan mengorbankan hartanya untuk beribadah kepada-Nya. (Aufal, 2014)

Peringatan tentang peristiwa kurban, yang menggambarkan keikhlasan Nabi Ibrahim untuk mengorbankan putranya, Ismail untuk Allah SWT menyadarkan kita bahwa perintah Allah selalu harus berada di atas segalanya. Kurban yang disyariatkan oleh Islam dimaksudkan guna mengingatkan manusia bahwa jalan menuju kebahagiaan membutuhkan pengorbanan, tetapi yang dikurbankan bukan manusia, bukan nilai-nilai kemanusiaan melainkan hewan kurban sebagai pertanda bahwa pengorbanan harus ditunaikan. Perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih Ismail, kemudian dibatalkan dan Allah menebusnya dengan domba dapat dimaknai bahwa tiada sesuatu yang mahal untuk dikurbankan dikala panggilan ilahi telah datang. (Lumpur, 2014)

Allah telah memberikan banyak nikmat kepada seluruh umat manusia berupa harta, keluarga, kesehatan, dan makanan kepada kita semua oleh karena itu dalam sebuah kehidupan nikmat tersebut bisa saja ditarik kembali, maka kita sebagai manusia tidak bisa berbuat apa-apa dan harus mengikhlaskannya jika diminta kembali oleh sang pencipta. Nikmat yang Allah berikan bukanlah nikmat yang mana hanya kita dapat merasakannya, tapi mereka yang tidak mampu pun harus dapat merasakannya juga. Pengorbanan seperti ini biasanya dilaksanakan dengan cara berkurban yang mana kita dapat berbagi rezeki kepada masyarakat lain yang membutuhkan. Didalam ajaran Islam, qurban disebut juga dengan al-udhhiyah dan adh-dhahiyah yang berarti binatang sembelih, seperti unta, sapi atau kerbau, dan kambing yang disembelih pada hari raya ‘Idul Adha dan hari-hari tasyriq sebagai bentuk taqarrub atau mendekatkan diri kepada Allah, seperti firman Allah Ta’ala: “Inna Rahmatallahi qaribun minal muhsinin” (sesungguhnya rahmat Allah dekat dengan orang-orang yang berbuat baik). (Abdullah, 2016)

Selain menyembelih hewan qurban, seseorang juga dapat berkurban secara lahir dan batin dengan menunaikan ibadah haji. Dimana hal ini sebagai teladan terhadap Nabi Ibrahim dan Ismail dalam pengorbanannya yang sangat besar, yang tak henti-hentinya terus berusaha agar menjadikan negerinya tempat yang aman dan dijauhi dari penyembah berhala. Sehingga membuat sebagian umat muslim ingin memenuhi kerinduan hatinya untuk melaksanakan ibadah haji yang mana harus mengorbankan harta dan merasakan bertahan hidup di rumah besar Allah yang jauh dari rumah mereka. Ibadah haji ini harus dipandang sebagai kebutuhan untuk melakukan pembersihan diri dan meningkatkan ketakwaan, sehingga eksistensi dirinya semakin lebih bermakna, bermartabat, dan terhormat di hadapan Allah SWT.

Sebagian dari kita mungkin ada yang berpendapat bahwa berkorban adalah sesuatu yang tidak rasional, dan tidak logis. Bagaimana mungkin, kita memberikan dan mengorbankan harta kita yang telah kita raih dengan berkerja susah payah. Inilah mungkin logika manusia saat ini yang menjadikan beragam krisis di muka bumi ini. Bagi orang muslim, mu’min, logika tersebut adalah logika yang salah, karena dengan berkorban Allah akan menambahkan rizki kepada kita dan juga memudahkan jalan kita menuju surga-Nya. (Kurnia, 2012) Allah SWT berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا ()

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. (Al-Thalaq [65] 2-3). (Kurnia, 2012)

Dengan begitu, semua yang kita miliki hanyalah sebuah pegangan, tapi pegangan hidup tidak hanya berpacu pada haya dan kesenangan semata. Jadi momentum ‘Idul Adha ini membuat kita dapat merelakan sebagian harta dan menciptakan sebuah harta itu menjadi tabungan kita di akhirat. [Darmelia-HI3 Mantingan/Ed.Wildi]

Referensi

Abdullah, M. (2016). Wujud Kedekatan Seorang Hamba Dengan Tuhannya. Jurnal Pendidikan Agama Islam, 109.

Aufal, M. F. (2014, 1 7). wordpress. Retrieved 2019, from https://mfirdhalaufaltulisankreatifaceh.wordpress.com/2014/01/07/tugas-individu-esai-pengorbanan-sebuah-harta-di-idul-adha/.

Dr. H. Rochmat Wahab, M. (2019). Idul Adha. iedul-adha, 1.

Kurnia, D. R. (2012, Agustus 6). Tigkat Kesejahteraan Rumah Tangga Petani Tembakau di Desa Gaden Gandu Wetan Kecamatan Ngadirejo Kabupaten Temanggung.

Lumpur, K. K. (2014, October). Idul Adha, Pengorbanan Menuju Kebahagiaan. Kuala Lumpur, Malaysia.

 

 

Implementasi Tabungan Kurban Sejak Dini

‘Idul Adha menyadarkan umat muslim bahwa semua yang di dunia ini milik Allah. Harta, kelurga dan sebagainya hanya milik Allah. Pada suatu haru Ibrahim berkata, “kepunyaan Allah, tapi kini masih milikku. Sewaktu-waktu bila Allah menghendaki, aku serahkan semuanya. Jangankan Cuma ternak, bila Allah meminta anak kesayanganku Ismail, niscaya akan aku serahkan juga.” Kata ini terucap ketika menjawab pertanyaan seseorang tentang ternaknya yang banyak. Manusia diharuskan melaksanakan haji dan qurban agar ingat bahwa hartanya yang digunakan itu untuk lebih mendekatkan diri padanya, yang dimana umat Islam diberi cobaan dengan mengorbankan hartanya untuk beribadah. Seperti sebuah ujian, umat muslim akan lulus jika ia dengan ikhlas menggunakannya untuk ibadah haji atau mau menggunakannya untuk ber-udhiyah (menyembelih hewan), baik itu berupa sapi, kerbau, maupun kambing.

Di zaman yang modern ini, ada baik nya kita mengajarkan diri kita untuk menabung untuk bekal masa depan yang cerah. Tanpa terkecuali tabungan qurban. Menabung tidak harus menunggu dewasa untuk paham apa itu tabungan. Akan tetapi, menabung bisa kita mulai dari kecil yang tidak tau apa-apa. Dengan kata lain, menabung dapat berpengaruh positif terhadap orang yang bersangkutan. Tulisan ini akan membahas pertama, manfaat dari penerapan tabungan qurban pada si kecil. Dan kedua, manfaat spiritual dan ketiga, manfaat social yang dimilikinya; diikuti oleh kesimpulan yang beralasan.

Memperkenalkan ber kepada si kecil memiliki pengaruh besar dalam pembentukan jiwa si kecil. Tabungan qurban yang kita terapkan dapat melatih gemar bersedekah sejak dini. Dimulai dari sebuah ajakan dan berkelanjutan menjadi kebiasaan. Melihat dari psikologi anak, bahwa mereka dimulai dari ajakan menjadi kebiasaan dan berakhir dengan mengajak lainnya. Hal kecil seperti menyisakan uang jajan untuk tabungan qurban. Hal ini telah diterapkan oleh tujuh anak asal batam. Mereka menabung setiap hari sejumlah 10 ribu, dan pada tahun ini mereka dapat ber seekor sapi sedang dari hasil tabungan yang mereka kumpulkan. Dari contoh kecil ini kita dapat melihat bahwa anak kecil lebih suka dengan sebuah ajakan yang berakhir dengan sebuah hasil yang dicapai.

Selain melatih gemar bersedekah, tabungan qurban juga mengajarkan si kecil tentang pengetahuan agama Islam seperti kisah-kisah para nabi dan kuasa Allah SWT. Hal ini juga berdampak positif dalam melatih si kecil untuk terjun dan berinteraksi dalam ranah masyarakat, dikarenakan tabungan tersebut mengandung salah satu nilai kemanusiaan yaitu saling tolong menolong antar sesama. Dalam masa pertumbuhan si kecil, kita butuh menanamkan hal yang bersifat positif, karena apa yang didengar, dilihat, yang dilakukan oleh orang yang hidup di sekitar mereka merekam dan mempraktekkannya. Ini sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter dan sifat si kecil yang memicu kepada masa depannya. Kita dapat mengajarkan seperti berkeliling dan membagikan sebagian harta kepada yang membutuhkan. Dan ini sangat jelas dapat dilakukan si kecil di kemudian hari, karena ia telah memahami “apabila ada rezeki lebih maka, berbagilah. Karena semua itu milik Allah.”

Maka, tabungan qurban memiliki banyak manfaat pada si kecil dari aspek psikologis, spiritual, dan social. Maka, marilah kita ajak mereka untuk bersedekah sejak dini, meskipun melalui metode tabungan akhirat yang mudah ini dikarenakan, sebuah harta hanya sebuah pegangan, tapi pegangan hidup tidak hanya berpacu pada harta. Jadi, momentum Idul Adha membuat kita dapat merelakan sebagian harta dan menciptakan sebuah harta itu menjadi pahala atau pembentukan sebuah ketakwaan. [Bestari-HI3 Mantingan/Ed.Wildi]

Malam spektakuler mahasiswa UNIDA bersama Al-Hambra Night

Sebagai universitas yang selalu mengedepankan pendidikan dalam setiap lini kegiatanya, UNIDA selalu menyelanggarakan acara atau program mulai dari seminar, workshop dan lain-lain dimana keseluruhan mahasiswa dituntut untuk berpartisipasi.

Bertepatan dengan malam Jumat ( 07/08 ) bertempat didepan Gedung Terpadu, UNIDA meyelenggarakan malam Al-Hambra Night yang dihadiri langsung oleh Rektor, berserta para dosen. Diadakannya acara ini adalah untuk menggali potensi mahasiswa dari segi non akademik dan juga tentunya adalah syiar dakwah yang menunjukan bahwasannya mahasiswa juga bisa membuat acara pentas seni.

Malam Al-Hambra tahun ini merupakan yang ketiga kalinya setelah diadakan pertama kali pada tahun 2017. Pentas seni ini sendiri juga menampilkan beberapa mahasiswa dari kampus cabang seperti UNIDA kampus Rabithah , kampus Kediri dan juga kampus Magelang. Hal yang baru dan membuat takjub para penonton adalah keseleruhan civitas akademika mulai dari Rektor, dosen sampai kalangan anak-anak dosen tidak hanya ikut menonton bahkan turut tampil menyemarakkan malam Al-hambra.

Acara yang berlangsung selama lima jam mulai dari 20.00 sampai dengan 00.30 ini kemudian ditutup dengan kegiatan bernyanyi bersama seluruh civitas akademika dan evaluasi dari Wakil Rektor satu DR.Hamid Fahmy Zarkasyi,M.ed., M.Pd. [Reyhan-HI3 Siman]