Al-Hambra Perdana Kampus Putri | Dari Gontor, Warnai Dunia dan Bangun Peradaban Baru

Luapan kreatifitas yang dipadukan menjadi satu keharmonisan dalam kesemarakan apresiasi seni menjadi sebuah implikasi menarik dari atmosfer pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor. Kali ini, UNIDA Gontor Kampus Putri menorehkan tinta sejarahnya yakni pegelaran seni Al-Hambra perdana yang diadakan di Lapangan Kairo, Rabu (28/08).

Al-Hambra tahun ini mengusung tema “a Whole New World” yang menggambarkan cita-cita bersama demi mewujudkan UNIDA Gontor sebagai gerbang yang mampu memperbaharui dan mewarnai kehidupan dunia demi menjawab tantangan peradaban.

Tidak hanya itu, acara perdana ini juga memiliki misi bahwa dari Gontorlah kita bangun peradaban baru yang lebih baik dan tetap berlandaskan pada nilai-nilai kepondokmodernan.

Al-Hambra sendiri dahulunya merupakan sebuah istana sebagai lambang kejayaan Islam di Eropa pada masa Bani Umayyah, maka dengan optimis, Gontor mampu mengembalikan kembali kehidupan madani era keemasan tersebut di era revolusi 4.0.

Acara pada malam hari tersebut dibuka oleh Wakil Rektor 2, al-Ustadz Setiawan Bin Lahuri dengan pemotongan pita sebagai simbolis dilanjutkan dengan pesan dan nasihat dari pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, al-Ustadz Hasan Abdullah Sahal.

Meskipun Al-Hambra adalah acara perdana kampus putri, namun tidak mengurangi kesemangatan para mujahidah untuk menutup rentetan acara Khutbatu-l-‘Arsy dengan malam memukau yang edukatif.

Semoga Gontor dapat terus melahirkan generasi pejuang dan mundzirul qaum sebagai jembatan pembina umat menuju peradaban baru yang lebih kokoh sebagaimana kesemangatan para syuhada terdahulu yang rela berkorban demi membangun peradaban Islam yang kuat di tanah Eropa.

Seminar Proposal Skripsi Perdana HI UNIDA Gontor Kampus Putri

 

Salah satu yang menjadi syarat seorang mahasiswa menjadi wisudawan ataupun wisudawati ialah dengan menyelesaikan tugas akhir yaitu sebuah karya ilmiah atau skripsi. Kali ini, Progam Studi Hubungan Internasional UNIDA kampus putri menyelenggarakan Seminar Proposal Skipsi (SPS) perdana pada 25 Agustus 2019 yang dibawakan oleh Putri Arune Setiyawan dengan judul “Amnesty International’s Role toward Operations Sovereign Borders for Refugees and Asylum Seekers in Australia, 2014-2016” di Aula Aisyah Gontor Putri Kampus Satu.

SPS kali ini dihadiri oleh sebagian dosen putri yaitu Usth. Ida Susilowati sebagai Pembimbing, Usth. Zahidiyah Ela Tursina sebagai Penguji dan sebagian dosen putra, Ust. Mohamad Latief dan Ust. Aprilia Restuning Tunggal serta mahasiswi HI semester 5 sebagai saksi.

 

 

Seminar proposal dimulai dengan presentasi dari saudari Putri dengan batas waktu yang telah ditentukan, dan dilanjutkan dengan sesi Tanya jawab oleh penguji. Salah satu pertanyaan yang diajukan ialah mengenai penggunaan Islamic Theory, dengan lugas saudari Putri menjawab bahwa ia memang tidak menggunakan Islamic theory tetapi ia menggunakan Islamic Perspective dalam menjelaskan pelanggaran terhadap hak asasi manusia pada bab ketiga. Hal ini lumrah untuk ditanyakan kerena tujuan dari Universitas Darussalam Gontor adalah Islamisasi Ilmu Pengetahuan.

Pesan

Setelah proses Tanya jawab selesai, dilanjutkan dengan penyampaian pesan dari Al-Ustad Mohamad Latief. Beliau menyampaikan bahwa dalam membuat karya ilmiah seperti skripsi hendaknya memakai Bahasa sendiri bukan Bahasa mesin atau alat translator. Selain itu, beliau juga berpesan agar tidak menggunakan dhauk Indonesia ketika menerjemahkan sesuatu ke dalam Bahasa asing.

Proses menegangkan terjadi pada saat ini, yaitu ketika penguji dan pembimbing diberi waktu untuk mendiskusikan apakah SPS milik Saudari Putri diterima atau tidak. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Usth. Ela sebagai penguji megeluarkan keputusan, beliau mengatakan “Accepted”.

Rasa syukur yang teramat dalam menguar dari berbagai pihak. Bukan hanya dari Saudari Putri, tetapi para saksipun juga mengucap syukur. Serta mendo’akan saudari Putri untuk dipermudah dalam menyelesaikan skipsinya. Semoga hal ini bisa dan dapat memberikan motivasi kepada teman-teman dari saudari Putri serta bagi semua mahasiswi Hubungan Internasional.

artikel terkait:

Sidang Skripsi Perdana Angkatan ke-2 : Drama dan Haru Biru

Sidang Skripsi Perdana Mahasiswa HI UNIDA Gontor

LoA, Surat Sakti Para Pemburu Beasiswa

Jurusan Hubungan Internasional | 100 Tahun HI, Ulang Tahun yang Hampir Terlupa?

jurusan hubungan internasional
jurusan hubungan internasional

Jurusan Hubungan Internasional- Sejuknya kota Malang seakan-akan menamah romantisme perayaan ulang tahun ilmu Hubungan Internasional (HI) yang ke 100. Perkembangan ilmu  HI yang diawali perdebatan teoristik dan cara pandang semenjak tahun 1919 hingga kini telah melahirkan beberapa teori dan prespektif, dari liberalisme, realisme, english school, marxisme, critical theory, postmoderisme, konstruktivisme, feminisme hingga green theory. Sehingga perayaan ulang tahun ilmu HI tanpa menyertakan pembahasan-pembahasan teori-teori tersebut akan terasa kurang istimewa.

Prodi HI Universitas Brawijaya (UB) Malang menginisiasi penyelenggaraan seminar internasional

Kondisi inilah yang menggerakkan Prodi HI Universitas Brawijaya (UB) Malang menginisiasi penyelenggaraan seminar internasional dengan tema “Quo Vadis; a Century of IR: Contemporary Debates in International Relations”.

Kegiatan yang dilaksanakan pada hari senin, tanggal 19 Agustus 2019 tersebut berhasil menghadirkan dua pembicara internasional, mereka adalah Assoc. Prof. Richard Devetak dari University of Queensland & Assoc. Prof. Titus Chih-Chieh Chen dari National Sun Yat-Sen University. Sedangkan narasumber dari dalam negeri diwakili oleh Drs. Muhadi Sugiono, MA dari Universitas Gadjah Mada dan Yusli Effendi, S.IP., MA sebagai tuan rumah.

Pelaksanaan acara yang bertempat di aula Nuswantara Fakultas Sosial dan Politik UB dihadiri oleh seluruh akademisi prodi HI UB beserta beberapa utusan dari universitas-universitas lain, seperti Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor Ponorogo, Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Airlangga Surabaya dan Universitas Jember, dan lain-lain.

“Acara-acara seperti ini sangat bermanfaat dan penting untuk sering diselenggarakan, selain memperdalam kompetensi para dosen dan mahasiswa HI, juga sebagai ajang silaturahmi dan memperkuat jaringan kerjasama antar prodi-prodi HI di Indonesia” ungkap Rudi Candra, utusan dari prodi HI Unida Gontor.

JALANNYA ACARA 

Acara yang dimulai pada pukul 09.15 diawali dengan seremonial pembukaan oleh ketua prodi HI UB, Mr. Aswin Ariyanto Azis, S.IP., M.Devst. dengan mengenalkan kondisi dan perkembangan Prodi HI UB.

Acara inti diawali dengan presentasi Richard Devetak yang memaparkan bahwa tahun 1919 bukanlah tahun kelahiran ilmu HI, melainkan ilmu HI sendiri sudah mulai terbentuk semenjak manusia ada di bumi.

Sejarah perdebatan para pemikir HI lahir dari dua kota; Abersystwyth dan Versailles, untuk kemudian perdebatan tersebut berlangsung dalam tiga periode; pertama perdebatan antara realisme dan idealisme, yang dilanjutkan dengan kalangan saintifik berhadapan dengan para ilmuan ‘klasik’ yang ditutup dengan perdebatan teori kritis berhadapan dengan kalangan positivis.

Presentasi dilanjutkan oleh Muhadi Sugiono yang berbicara terkait “Disiplin Ilmu Hubungan Internasional di Indonesia; Sebuah Refeleksi.” Dalam presentasinya, dosen senior HI UGM ini menjelaskan bahwa ilmu HI hari ini adalah disiplin ilmu yang diminati banyak calon mahasiswa Indonesia. Hal ini ditandai dengan banyaknya prodi HI, baik yang lama maupun yang baru dengan jumlah mahasiswa yang besar. Sayangnya realitas ini tidak sebandinng dengan tingginya penyerapan lulusan di lingkungan kerja, kondisi menjadikan banyaknya lulusan HI terjun profesi baru yang tidak selalu sesuai dengan disiplin ilmu HI.

Sedangkan pada sesi ke dua, presentasi diisi oleh Titus Chih-Chieh Chen yang berbicara terkait “Ilmu Hubungan Internasional dalam prespektif China” dan dilanjutkan oleh Yusli Effendi, S.IP., MA yang berbicara terkait “Ilmu Hubungan Internasional dalam prespektif Jawa”.

Presentasi dari kedua pembicara di sesi kedua mengajak para peserta untuk membuka wawasan mereka, bahwa selain prespektif Barat, ada juga prespektif ‘baru’ non-Barat yang saat ini berkembang dalam kajian HI yang perlu mendapatkan perhatian extra oleh para pemikir ilmu HI.

Acara seminar terkait perdebatan ilmu HI ini dilanjutkan dengan “Workshop Metodologi HI di Era 4.0” yang dilaksanakan pada tanggal 20-21 Agustus 2019.

Semoga kegiatan-kegiatan serupa bisa dilaksanakan kampus-kampus lain, untuk semakin menguatkan pondasi studi HI di Indonesia. [Mr. Chan]

Acara Jurusan Hubungan Internasional

Artikel ini terkait:

HI TINGKATKAN SOLIDARITAS DALAM INTERNATIONAL RELATIONS OLYMPIAD (IRO)
KULIAH BERSAMA USTADZ IDIN FASISAKA,M.A KEPALA PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL UNIVERSITAS UDAYANA BALI MENGENAI PEUBAHAN BUDAYA CULTURE TURN DALAM METODOLOGI HIBUANGAN INTERNASIONAL
HARMONY RAKORWIL FORUM KOMUNIKASI MAHASISWA HUBUNGAN INTERNASIONAL (FKMHII) SE-INDONESIA DI UNIDA
PRODI HUBUNGAN INTERNASIONAL WAKILI UNIDA GONTOR DI LOMBA PIDATO NASIONAL DI UIN SULTAN SYARIEF KASIM RIAU

HI TINGKATKAN SOLIDARITAS DALAM INTERNATIONAL RELATIONS OLYMPIAD (IRO)

 

Dalam memperkuat ikatan persaudaraan serta meningkatkan solidaritas tanpa batas mahasiswi Hubungan Internasional UNIDA Gontor kampus putri, maka terselenggaralah IRO (International Relations Olympiad) pada Jum’at 23 Agustus 2019 di Kampung Karet, Karanganyar, Jawa Tengah. Acara ini dihadiri oleh beberapa dosen putra dan dosen putri serta mahasiswi Hubungan Internasional UNIDA kampus putri terkecuali semester 7 yang sedang menjalankan mandatnya untuk magang di berbagai instasi.

Jalan berkelok-kelok yang dapat menyebabkan pusing dan mual tak mampu menyurutkan semangat dan antusiasme mahasiswi HI dalam acara ini. Acara resmi tersebut dibuka oleh Al-Ustadz Mohamad Latief dan dilanjutkan dengan perfotoan bersama. Adapun untuk acara inti dimulai dengan senam bersama. Selain untuk menyehatkan jasmani, senam juga berguna untuk menyatukan langkah dan gerakan sebagai kesamaan satu tujuan. Dalam istilah “Survival of the Fittest”, proses persaingan dan perjuangan di antara manusia menentukan siapa yang akan bertahan hidup. Sama halnya dengan acara ini, mahasiswi HI dibagi menjadi 10 regu yang saling berkompetisi dalam perlombaan yang diadakan dalam acara tersebut untuk memperoleh arti sebuah kebersamaan.

 

Dalam perlombaan regu tersebut, hubungan individu antar individu tercipta sehingga menghasilkan rasa kepemilikan yang besar dan bersatu dalam satu tujuan, yaitu meraih kebersamaan dalam tiap langkah kekompakan. Selain perlombaan, mahasiswi HI juga diberi banyak ilmu mengenai pohon karet yang berasal dari Brazil.

Setelah selesainya perlombaan, acara ditutup dengan pembagian hadiah dengan kategori The Most Anarchy, The Most Hegemony, The Most Powerful, The Most Fanatic, The Most Patient, The Most Confident, The Most Khusu’, The Most Humble, The Most Cooperative, dan The Most Classic.

Dari acara IRO ini, sangat besar harapan untuk menyatukan hati, pikiran dan tujuan mahasiswi Hubungan Internasional khususnya bagi mahasiswi baru semester satu. Selain itu, acara ini merupakan wadah bagi mahasiswi Hubungan Internasional untuk saling mengenal satu sama lain serta menggali potensi, minat dan bakat mahasiswi.  (Lula-HI5)

 

Artikel terkait:

JURUSAN HUBUNGAN INTERNASIONAL

Kaprodi HI Udayana berkunjung ke UNIDA Gontor

 

Idin Fasiska S.IP., M.A : “CULTURAL TURN” SEBAGAI LANGKAH AWAL ISLAMISASI ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL

Ahad pagi, 25 Agustus 2019, Department Hubungan Internasional Unida Gontor mengadakan acara ‘sharing session and discussion’ dengan Al-ustadz Idin Fasiska S.IP., M.A. Acara ini bertajuk strategi eksklusif dalam islamisasi ilmu hubungan internasional guna mempertahankan peradaban intelektual muslim. Materi yang dibawakan oleh Al-ustadz Idin Fasiska, selaku Kaprodi HI Udayana, adalah konsep cultural turn berdasarkan critical theory. Beliau berharap, dengan penerapan konsep tersebut mahasiswa HI UNIDA dapat mematahkan istilah kebenaran ilmu kontemporer yakni ‘objective and universal knowledge’, sehingga merujuk pada kemudahan dalam mengimplementasikan nilai-nilai islam dalam kajian ilmu hubungan internasional.

Walaupun saya di Udayana, tapi hati saya tetaplah Gontor”, begitulah ujar beliau sebagai alumni gontor tahun 1994, ketika membuka pidatonya dihadapan mahasiswa. Peran beliau sangatlah signifikan terhadap dinamika perkembangan studi HI Universitas Darussalam Gontor. Hal ini terealisasikan ketika keterlibatannya dalam mereview kurikulum Prodi HI tahun 2017.

Acara diawali dengan sambutan wakil Dekan Fakultas Humaniora, Al-ustadz Sofi Mubarok M.A sekaligus apresiasi rasa terimakasih beliau terhadap Al-ustadz Idin Fasiska S.IP., M.A yang sempat meluangkan waktunya untuk berkunjung ke kampus UNIDA Gontor. Selanjutnya, perkenalan singkat beliau kepada audiensi sekaligus penyampaian materi tentang cultural turn. Dengan dihadiri oleh seluruh mahasiswa Hubungan Internasional UNIDA Gontor beserta seluruh jajaran dosen, acara ini berjalan dengan lancar tanpa ada suatu halangan apapun.