Khidmatnya Wisuda Sarjana dan Pasca Sarjana ke-33

Secara serempak, UNIDA Gontor melaksanakan upacara yudisium kelulusan program sarjana dan pasca sarjana ke-33 di Balai Pertemuan Pondok Modern Darussalam Gontor Pusat, Mlarak, Ponorogo, pada Kamis (18/07).

Acara sakral yang berjalan dengan sangat khidmat ini tidak hanya dihadiri oleh dewan guru Universitas Darussalam Gontor, akan tetapi turut hadir pula Rektor Universitas Sains Islam Malaysia dan Rektor Universitas Syarif Ali Brunei Darussalam.

Rapat senat terbuka ini dibuka oleh Rektor Universitas Darussalam Gontor, al-Ustadz Prof. Dr. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A. Adapun pembacaan laporan kegiatan serta prestasi yang telah diukir para mahasiswa UNIDA Gontor baik yang bersifat nasional maupun internasional dibacakan oleh Wakil Rektor 1, al-Ustadz Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M. Phil.

Sementara itu, Ketua Program Studi Hubungan Internasional, al-Ustadz Mohammad Latief, M.A. diberikan kesempatan untuk membacakan daftar wisudawan sarjana dan pasca sarjana dengan skripsi terbaik, yaitu: 1)Nina Rosfianti/ AFI, 2)Indiana Gita/Farmasi, 3)Nidzhom Mahfudi/ PHM dan Tesis terbaik dari program pasca sarjana ialah Ahmad Danis/ PBA.

Alhamdulillah, jumlah wisuda UNIDA Gontor tahun ini mencetak generasi sebanyak 4.644 orang. Diantaranya, terdapat 8 orang mahasiswa dari Program Studi Hubungan Internasional yang telah diwisuda di tahun ini. Semoga acara sakral ini bisa menjadi generator semangat baru untuk terus mencetak generasi mundzirul qoum selanjutnya. (Sarah Jasmine-HI5/ Ed. Wildi)

Harmony Rakorwil Forum Komunikasi Mahasiswa Hubungan Internasional (FKMHII) Se-Indonesia di UNIDA

Peserta Rakorwil melakukan foto bersama

Siman,(19/7/2019). Himpunan Mahasiswa Prodi Hubungan Internasional UNIDA GONTOR ( HMP HIU ) menjadi tuan rumah Rapat Koordinasi Wilayah VI ( Rakorwil ), Forum Komunikasi Mahasiswa Hubungan Internasional Indonesia (FKMHII) yang bertempat di gedung  Siroh Nabawiyah. HI UNIDA GONTOR sendiri tergabung ke dalam koordinator wilayah enam bersama dengan kampus lain yang berada di wilayah Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara. Rakorwil ini merupakan agenda rutin yang diselenggarakan setiap bulan yang dihadiri oleh para delegasi dari lima universitas, diantaranya Universitas Brawijaya 5 orang, Universitas Muhammadiyah Malang 5 orang, Universitas Jember 4 orang, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel sebanyak 6 orang, dan Universitas Darussalam Gontor selaku panitia dan tuan rumah melibatkan seluruh pengurus HMP.

Acara tersebut dibuka pada pukul 10:13 pagi oleh dosen pembina HMP Hubungan Internatsional Universitas Darussalam Gontor, Aprilia Restuning Tunggal M.A. “Seluruh peserta perwakilan mahasiswa yang memiliki kesempatan hadir harus tetap bersemangat dalam pengembangan SDM dan SDA, salah satu caranya dapat dimulai dengan bergerak aktif di himpunan maha siswa, yang jelas-jelas sebagai tempat eksporasi dan potensi untuk menjadi golden generation of nation for the next era,” ujar beliau.

Selain menjadi wadah silaturahmi mahasiswa HI antar universitas, rapat tersebut juga membahas mengenai program-program himpunan mahasiswa Hubungan Internasional baik di tingkat regional maupun nasional. Pembahasannya mencakup International Relations Oliympic Sports (IROS) bagi mahasiswa HI yang memiliki minat dan bakat di bidang olahraga. Bahkan, rakorwil ini juga membahas mengenai persiapan  Pertemuan Nasional Mahasiswa Hubungan Internasional se-Indonesia (PNMHII) yang diadakan enam bulan sekali di universitas yang berbeda-beda yang nantinya akan mempertemukan mahasiswa HI dari seluruh penjuru Indonesia.

Selanjutnya, presiden Forum Komunikasi Mahasiswa Hubungan Internasional VI (FKMHII), Harun Ar, berharap agar silaturahmi antar mahasiswa HI dapat terus terjalin dengan baik, program-program yang telah dirancang bersama pun terselenggara dengan lancar tanpa ada hambatan yang berarti, serta Korwil VI dapat menunjukkan eksistensinya di forum nasional bersaing secara sehat dengan Korwil lainnya.

Tepat pada pukul 18:30, acara ditutup dengan sesi perfotoan antar seluruh peserta. Harapannya, semoga  acara rakorwil berikutnya bisa lebih baik. [Heriaman/Ed.Wildi]

Digitalisasi Seni dan Budaya, Perlukah?

Teknologi dan Manfaatnya

Kemajuan pola pikir manusia telah berhasil membuat perkembangan teknologi menjadi begitu pesat. Dengan akal dan ilmu pengetahuan yang dimiliki, manusia mampu menyelesaikan setiap masalah yang dihadapinya dengan cara menciptakan inovasi teknologi-teknologi baru. Setiap inovasi teknologi diciptakan oleh manusia adalah ditunjukkan untuk memberikan manfaat yang positif bagi kehidupan manusia serta sebagai cara baru dalam melakukan aktivitas manusia.

Bahkan dalam dekade terakhir ini manusia telah menikmati banyak manfaat yang dibawa dari inovasi-inovasi teknologi termasuk diantaranya menjadikan aktivitas manusia menjadi lebih mudah, praktis, cepat dan sebagainya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Martono (2012), bahwa setiap perkembangan teknologi melalui inovasi-inovasinya selalu menjanjikan manfaat positif berupa perubahan, kemajuan, kemudahan, peningkatan produktifitas, kecepatan dan popularitas. Manfaat positif dari perkembangan teknologi tersebut bahkan telah dirasakan dalam berbagai bidang kehidupan, mulai dari bidang ekonomi, sosial, politik dan budaya.

Indonesia Kaya Akan Seni dan Budaya

Sebagaimana diketahui bahwa Indonesia terkenal tidak hanya karena kekayaan sumberdaya alamnya yang melimpah, akan tetapi juga karena kekayaan budaya yang dimiliki. Kekayaan budaya ini tercermin dari banyaknya suku bangsa yang ada di Indonesia dan setiap suku bangsa di Indonesia memiliki lebih dari satu jenis seni budaya. Dengan demikian jumlah seni budaya di Indonesia sangat beragam melebihi jumlah suku bangsa itu sendiri.

Seni budaya di Indonesia sangatlah melimpah mulai dari seni musik, seni teater, seni tari, seni rupa, rumah adat, pakaian adat, bahasa daerah, dan lain sebagainya (Falah dkk, 2013). Aneka ragam seni budaya tersebut merupakan kekayaan bangsa yang tidak ternilai harganya, bahkan realita mengungkapkan bahwa seni budaya atau kearifan lokal Indonesia memiliki daya tarik tersendiri bagi dunia Internasional.

Ketertarikan dunia Internasional ini dapat dimanfaatkan Indonesia sebagai sarana  untuk mempromosikan diri di kancah Internasional agar supaya Indonesia dapat dikenal secara luas di dunia Internasional sebagai Negara yang kaya akan kebudayaan. Oleh sebab itu, memajukan kebudayaan Indonesia dengan cara mengembangkan dan melestarikannya merupakan hal yang mutlak dilakukan oleh bangsa Indonesia.

Melestarikan Seni dan Budaya Indonesia melalui Pemanfaatan Teknologi

Digitalisasi kebudayaan dapat digunakan sebagai salah satu langkah strategis untuk memajukan kebudayaan Indonesia di era yang serba digital. Digitalisasi kebudayaan adalah suatu konsep pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam memajukan kebudayaan terutama dalam hal pengelolaan, pendokumentasian, penyebarluasan informasi dan pengetahuan dari unsur-unsur kebudayaan. Konsep ini tidak lain adalah bertujuan untuk melestarikan dan mengembangkan kebudayaan Indonesia itu sendiri sebagai wujud dari eksistensi bangsa Indonesia di tengah masifnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.

Dengan konsep ini pula, kebudayaan dari setiap suku bangsa dapat diwariskan ke setiap generasi muda yang ada dibawahnya secara lebih mudah karena dilakukan secara digital atau menggunakan teknologi yang canggih. Dengan demikian, Indonesia akan tetap mampu menunjukkan budaya sebagai jati dirinya di mata dunia.

Minimnya Perhatian Digitalisasi Kebudayaan

Namun demikian, sejauh ini konsep digitalisasi kebudayaan masih belum mendapat perhatian yang serius dari masyarakat Indonesia, khususnya para pihak yang bergerak dibidang kebudayaan yang notabene adalah elemen yang paling berperan dalam memajukan kebudayaan Indonesia. Dari sejumlah seni budaya yang ada di Indonesia, hanya sedikit yang sudah didigitalisasi. Oleh karena itu diperlukan kerjasama antar kelompok masyarakat untuk melakukan digitalisasi kebudayaan melalui perkembangan teknologi.

Perkembangan teknologi yang begitu canggih dan pesat dapat memudahkan masyarakat untuk melakukan kreasi apa saja tentang hal-hal yang berkaitan dengan kebudayaan. Sebenarnya ada banyak opsi ide bagi masyarakat untuk melakukan digitalisasi kebudayaan dengan memanfaatkan perkembangan teknologi. Beberapa ide digitalisasi kebudayaan menggunakan perkembangan teknologi diantaranya dapat dilakukan melalui Game, Software Edukasi, Musik Digital, Film Animasi, dan masih banyak lagi.

Sudah siapkah kita meletarikan budaya kita dengan pemandaatan teknologi dan digitalisasi? (Heriaman-HI Smt 3-Kampus Siman)

Berita terkait:

UNIDA Gontor: Universitas dengan Sistem Pesantren

Kuliah? 3.5 Tahun Aja …..

 

Referensi:

Falah, M. W., Nasrudin., Y. Jayanti dan S. Utami. 2013. Rumah Indonesia Bernuansa “Indonesia Negara 1000 Budaya” sebagai Sarana Informasi Sekaligus Untuk Memperkenalkan Budaya Indonesia pada Masyarakat di Perbatasan. Jurnal Neliti. 1 (1): 1-10.

Martono, Nanag. 2012. Sosiologi Perubahan Sosial: Perspektif Klasik, Modern, Postmodern dan Postkolonial. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Tempo.co. 2019. Survei Kepemilikan Smartphone, Indonesia Peringkat ke-24. Diakses pada 19 Juni 2019 pada pukul 23.10 WIB. Tersedia dari https://tekno.tempo.co/read/1181645/survei-kepemilikan-smartphone-indonesia-peringkat-ke-24/full?view=ok

AHLAN WA SAHLAN DI KELUARGA BESAR  HUBUNGAN INTERNASIONAL 2019

Genap telah berganti ganjil, pada tahun ajaran baru kali ini, anggota keluarga besar Progam Studi Hubungan Internasional divisi Mantingan telah bertambah menjadi 186 yang mulanya berjumlah 118. Untuk menyambut mahasiswi baru tersebut, HMP-HI menyelenggarakan kegiatan orientasi pengenalan kampus (OSPEK) prodi di Aula Pertemuan UNIDA Gontor, Senin (08/07/19).

Acara ini digelar guna mengenalkan Prodi HI lebih dekat kepada mahasiswi baru mengenai berbagai kegiatan akademik dan non-akademik Prodi HI. Acara ini dihadiri oleh seluruh dewan guru putra dan putri serta seluruh mahasiswi HI Mantingan.

Sesuai dengan Visi Progam Studi HI yaitu “Menjadi Program Studi Terdepan Yang Menghasilkan Sarjana Kompetitif dalam Integrasi Ilmu Hubungan Internasional dan Ilmu Keislaman Berlandaskan Jiwa Pesantren Pada 2020”, Mahasiswi HI UNIDA Gontor  diharapkan dapat menyatukan ilmu pengetahuan umum dengan ilmu agama sehingga dapat bermanfaat di dunia dan akhirat kelak. Hal inilah yang menjadi ciri khas UNIDA Gontor yang membedakannya dengan Prodi HI di universitas lain.

Acara ini dimulai dengan sambutan dan pengenalan seluruh dosen HI oleh al-Ustadz Dr. Mohammad Latief, MA, selaku Kepala Progam Studi HI. Antusiasme peserta bertambah besar saat mendengar profile lulusan dosen HI serta prestas-prestasi yang di raih oleh mahasiswi HI itu sendiri. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan penyampaian kurikulum Progam Studi HI oleh al-Ustadz Fadhlan Nur Hakiem, M.A.

Tidak hanya sampai disana, kegiatan Usbu’ at-Ta’rif al-Jami’iy ini dilanjutkan dengan pengenalan seluruh divisi Himpunan Mahasiswi Prodi (HMP) HI kepada mahasiswi baru dan perkumpulan panitia dalam mempersiapkan segala rancangan agenda HI kedepannya.

(Lula Kh-HI5/ Ed. Wildi)

 

Kuliah? 3.5 Tahun Aja …..

Unida Siman – Menjadi sarjana merupakan cita-cita yang diimpikan oleh setiap mahasiswa, pun dengan waktu lama perkuliahan. Program normal yang ditawarkan oleh universitas untuk jenjang sarjana di Unida Gontor adalah 4 tahun (8 semester). Lantas, bagaimana apabila kuliah hanya ditempuh selama 3,5 tahun (7 semester)? Tentu merupakan sebuah prestasi yang sangat dapat dibanggakan. Rupanya, HI Unida Siman sudah memiliki kandidat untuk menjadi wisudawan pada tahun 2020 nanti, Inshaa Allah. Dia adalah Muhammad Hasanain, Mahasiswa angkatan 2016 HI Unida Gontor. Namanya memang sudah dikenal oleh banyak orang melalui prestasi yang ia torehkan. Prestasi akademik yang ia torehkan tentu tak lepas dari usaha dan kerja keras yang ia lakukan. Dalam pembuatan proposal skripsi beberapa waktu yang lalu, ia sempat melakukan ‘itikaf’ agar dapat fokus menyelesaikan proposal tersebut.

Muhammad Hassanain, Mahasiswa HI yang menjadi calon wisudawan 3.5 tahun perdana di HI

Beberapa waktu yang lalu, kami melakukan interview bersama pihak yang terkait. Mahasiswa yang bercita-cita untuk melanjutkan studinya di LSE (London School of Economics) ini berpesan kepada angkatan setelah ia, agar tidak malas-malasan kuliah. Terkhusus bagi mahasiswa tahun pertama, agar benar-benar mempelajari mata kuliah Metodologi Hubungan Internasional yang merupakan dasar pedoman bagi penulisan skripsi. Tidak hanya itu, untuk menjadi mahasiswa 3,5 tahun diperlukan niat dan usaha yang kuat. Jadi, barang siapa yang nanti berkeinginan wisuda 3,5 tahun agar memperbaiki niat dan tekad nya di Unida Gontor. Demikian ujarnya kepada kami.

Dan yang terpenting, jangan lupa berdoa, karena usaha yang keras tanpa diiringi doa yang keras juga hanya omong kosong. Berdoa keras, bersabar keras, dan berusaha keras adalah kunci untuk mendapatkan apa yang diinginkan. (amirunnaufal)